Watching You

Watching You
Danil


__ADS_3

Mata Liza memanas, semalaman dia susah untuk tidur.


Bahkan setelah subuhpun dia yang biasanya kembali tidur susah untuk tidur lagi.


Tidak sengaja Liza melewati kamar Danil yang terbuka, anak itu masih tidur dengan pulas padahal sudah jam setengah enam.


"Tumben belum bangun" ucapnya.


Liza melangkah masuk hendak membangunkan Danil. Tangannua memukul pelan lengan Danil mencoba membangun kannya.


"Hei bangun sudah jam setengah enam hei Enil" Liza semakin mengguncang tubuh kecil Danil.


Perlahan Danil duduk sambil mengucek-ngucek matanya, "maaf bu" ucapnya lirih.


"Bangun, mandi lalu sarapan sebelum berangkat sekolah" ucap Liza.


"Tumben Ibu masak pagi-pagi" Danil turun dari kasurnya.


"Udah jangan banyak omong" ketus Liza.


Danil tersenyum kecil dan berjalan keluar kamar dengan mata mengantuknya.


Tidak sengaja ekor mata Liza melihat sesuatu yabg asing diatas meja belajar Danil, membuatnya penasaran dan mendekat.


Keningnya mengerut melihat benda ditangannya dan berjalan keluar kamar dengan cepat.


Danil ternyata duduk diruang tamu sedang memakan sarapannya, dada Liza mulai naik turuh menahan diri agar tidak membentak anak itu.


"Ibu sudah bilang, mandi dulu baru makan, siapa yang menyuruhmu makan duluan?" Tanya Liza dengan nada sekit meninggi.


Danil tersenyum kecil, "habisnya masakan Ibu harum" jawabnya polos.


"Dasar anak jorok!" Bentaknya.


Senyum dibibir Danil menghilang seketika, dia meminum air didepannya dan buru-buru hendak pergi kekamar mandi tetapi pergelangan tangannya lebih dulu dicekal Liza.


Danil meringis keskitan sambil memegangi tangan Liza yang mencekal erat pergelangan tangannya.


"Ibu masih belum selesai bicara" desis Liza, "kamu dapat dari mana cream rambut mahal ini?, apa kamu mencuri?."


Kepala Danil menggeleng cepat, "enggak kok Bu, Danil gak mencuri" cicitnya.


"BOHONG!" Bentak Liza menggelegar, mendorong Danil hingga terjatuh dan mengambil sapu didekatnya. "Ngaku atau Ibu pukul kamu" ancamnya.


"Enil gak mencuri Bu" ucapnya dengan suara ketakutan.


Buk ...


Gangang sapu mengenai lengan Danil, tidak berteriak kesakitan, dia hanya meringis saja.


"Ibu gak pernah ngajarin kamu berbohong apa lahi mencuri, ayo ngaku kamu dapet dari mana."


Buk ...


Lisa kembali melayangkan gangangbsapunya kearah Danil, mengenai pergelangan anak itu.


Danil berdiri mencoba menghindar dari pukulan Laiza.


"Danil gak bohong, Danil gak mencuri. Itu dikasih Ayah."


Setetes air mata mulai menetes dipipinya, tangan Liza yang sejak tadi melayang ke tubuh Danil terhenti diudara.


"Kamu dapat dari siapa?" Tanya Liza seakan memastikan pendengarannya.


"Dari Ayah, Ayah yang kasih."


Danil pikir dengan mengaku jika cream rambut itu dari Ayahnya, Ibunya akan berhenti memukulinya, ternyata salah.


Liza semakin berang melempar cream itu ke dinding samping kepala Danil hingga pecah dan mengenai pelipis Danil.


Tangan Liza kembali melayangkan gagang sapu sambil memarahinya, sehingga Danil berlari masuk kedalam kamar, mengunci pintu dan menangis sejadi-jadinya.


^-^


Javir baru saja keluar dari ruang rapat dengan para manager hotel, dia berjalan dengan Dian disisinya.


"Apa ada hal penting lain selain berkas-berkas yang harus saya periksa dan tandatangani?" Tanya Javir sambil terus berjalan kearah lift.


"Tidak ada Pak" jawab Dian.


Langkah Jabir terhenti seketika, dia berbalik badan menghadap Dian dengan senyum lebar penuh arti.


Dian yang melihatnya menghela nafas paham dengan senyuman itu.


"Baik" ucap Dian dengan pasrah, "saya akan mengurus semua selama anda mengunjungi kekasih anda."


Senyum Javir semakin lebar.

__ADS_1


Javir kembali berbalik badan tetapi tidak lagi kearah Lift melainkan kearah lobby.


Dia mengeluarkan ponselnya untuk memesan taxi online agar tidak usah naik ke Raja Crown untuk mengambil kunci mobilnya.


Panggilan masuk Gea tiba-tiba muncul dilayar ponselnya membuat Javir tersenyum bahagia.


"Hai sayang" sapanya.


"Ini Yesi Bang"


Kening Javir langsung mengerut mendengar suara Yesi bukan Gea.


"Ada apa?" Tanyanya dengan nada suata yang berbeda.


"Em ... ada anak kecil ngaku anak loe" ucap Yesi dalam satu kali tarikan nafas.


Sontak raut wajah Javir berubah seketika.


"Dia di An Angel dnegan Gea sekarang."


Tidak ada satu katapun yang keluar dari dalam mulut Javir.


Lehernya serasa ada yang mencekik hingga satu katapun tidak bisa keluar dari tenggerokannya.


Bahkan saat ada satpam mendekatinya, Jabir masih saja diam menunggu Yesi mengatakan sesuatu.


"Taxi online pesanan anda sudah datang Pak" ucap Satpam itu.


Kepala Javir menbangguk dan kembali melangkahkan kakinya keluar lobby masuk kedalam taxi pesanannya.


"Jangan biarkan Gea pergi dari sana, gue otw kesana" ucap Javir memutuskan komunikasi.


"Sesuai alamat tujuan di aplikasi ga Pak?" Tanya supir taxi itu.


"Ya" jawab Javir singkat.


Kepalanya mulai berdenyut.


Apa yang harus dia katakan pada Gea?


Darimana dia harus memulai?


Sedangkan dia sendiri masih bingung dan tidak tahu bagaimana bisa Danil hadir didunia ini.


^-^


Terasa ada tangan yang menyentuh pundaknya, sehingga Gea mengalihkan perhatian menoleh kesamping.


Yesi tersenyum segaris padanya, "jangan berfikir yang bukan-bukan dulu, dengerin penjelasan Bang Je dulu."


Gea mengangguk pelan.


Perlahan dia berjalan kearah Danil dengan kotak P3K dan duduk disampingnya, "kenapa minuman dan makanannya gak diapa-apain?" Tanya Gea.


Danil menoleh pada Gea, "karena Kakak gak mempersilahkan."


Gea melirik pada Yeai yang meringis mendengarnya.


"Makan aja gak papa" ucap Gea.


Dengan senyum dan penuh semangat Danil mengambil kue didepannya dan memakannya.


"Ah ..." pekiknya.


Tangannya memegangi sudut bibirnya yang terluka.


Buru-buru Gea mengambil segelas susu strowberi yang Yesi sediakan untuk Danil, "pelan-pelan" ucap Gea.


"Ini apa?" Tanya Danil setelah meminum susunya.


"Susu strowbery, memangnya kamu gak pernah minum?" Tanya Gea.


Kepala Danil menggeleng pelan, "enak" ucapnya.


Dia kembali meminum minumannya.


Gea meraih tangan Danil melihat-lihat lebamnya.


Danil menarik tangannya menjauh dari Gea.


"Kakak obatin boleh?" Tanya Gea.


Danil beringsunt membuang muka.


"Kakak gak akan mengatakan apapun kok, hanya mau ngobatin boleh?" Tanya Gea lagi.


Danil melirik Gea dan menganggukkan kepala pelan membaut Gea tersenyum lega karenanya.

__ADS_1


Melihat Danil dia seperti melihat si kembar, terutama Chaka.


Sehingga dengan begitu telaten dia mengobati luka dibibir Danil, dipelipisnya dan lengannya yang terluka.


^-^


Nafas Javir putus-putus karwna ngos-ngosan naik kelantai tiga An Angel.


Javir tidak langsung menerobos masuk begitu saja, dia malah terdiam melihat Gea yang dengan telaten mengobayi Daniel dna terkadang juga bercengkramah dengan Danil.


Perasaan bahagian melihat Gea yang tersenyum dan perasaan sedih entah karena apa berkecamuk begitu saja dalam dadanya.


"Kenapa kamu disini?" Tanya Jabir melangkahkan kaki masuk.


Semua menoleh kearah Javir.


Mata Javir menatap tajam pada Danil, raut wajahnya bahkan tampak begitu dingin.


Senyum Danil tiba-tiba menghilang.


Gea yang duduk disebelahnya kembali menatap kearah Danil, yang menundukkan kepalanya dalam.


Gea berdiri dari duduknya, "kamu makan kuenya dulu kakak mau nyiapin makanan, kamu belum makan bukan?."


Kepala Danil mengangguk pelan, dia tidak mengatakan apapun.


Gea berjalan tampa menunggu jawabannya, taapan matanya tidak menatap Javir yang memperhatiakannya.


Sebelum Gea melewatinya, Javir mencekal pergelangan tangan Gea menghentikan langkahnya.


"Bisa kuta bicara sebentar?" Tanya Javir.


Gea menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman tangan Javir, "kita bicara nanti, loe urus anak loe dulu."


Gea kembali berjalan melewatinya menuju dapur.


Yesi yang berada didapur langsung berjalan dengan cepat menjauh tidak ingin ikut campur urusan mereka.


Benar saja, Javir melangkahkahkan kakinya mendekati Gea yang menyibukkan dirinya didapur.


"An gue bisa jelasin a ..."


"Gue gak minta oenjelasan loe sekarang" potong Gea tampa menatap Javir sibuk menyiapkana makanan untuk Danil. "Anak loe sedang luka dan lebam-lebam bawa dia ke dokter atau rumah sakit."


"An, dia itu bu ..."


"Please Je" potong Gea lagi, kali ini dia menghada Javir dan menatap matanya dnegan tatapan sendu. "Please jangan kali ini" cicit Gea.


Javir menghela nafas pasrah, melangkah mundur memberikan ruang untuk Gea berjalan melewatinya.


Gea kembali menghampiri Danil dan meletakkan makanan didepannya, tersenyum lebar dan mendekatkan segelas air putih.


"Silahkan makan" ucap Gea lembut.


Tangan Danil menggaruk-garuk lehernya lalu lengannya sebelum mengambil sendok dan memakan makanannya.


Javir menatap mereka berdua dalam diam, dia bingung mau melakukan apa kali ini. Tidak ... lebih tepatnya dia takut serba salah nantinya.


"Hah"


Tiba-tiba saja Danil menghembuskan nafas sambil emmegangi dadanya dengan tangan kirinya, srdangkan tangan kanannya menggaruk lengan kirinya.


Membuat Gea menatapnya khawatir, "kamu ke ..."


"Danil"


Javir duduk disamping Danil dengan wajah kahawatir.


"Sesak Yah" uvap Danil lirih.


Javir mengangkat wajhanya menatap Gea dan makan diatas meja bergantian.


"Gue gak ngasih apa-apa" bantah Gea tampa harus Javir bertanya apa yang dia berikan pada Danil.


"Bawa dia kerumah sakit" ucap Yesi sambil keluar dari kamar Gea membawa kunci mobilnya.


Javir menatap Gea dengan sorotan mata sedih.


Kepala Gea menggeleng pelan, "gue gak ngapa-ngapain."


"Ya, loe gak mungkin ngapa-ngapain dia" ucap Javir sebelum menggendong Danil dan membawanya pergi.


Setelah Javir pergi, tampa bisa dicegah air mata Gea terjatuh, buru-buru dia menghapusnya.


Gea mengambil ponselnya dan menghubungi Resan sambil berlari menuruni tangga menyusul Yesi dan Javir.


"Please tolong gue" ucapnya setelah Regan mengangkat panggilannya.

__ADS_1


^-^


__ADS_2