
Anak itu keluar dari rumahnya dengan seragam puhih dan merah layaknya anak Sekolah Dasar pada Umumnya.
Bintik-bintuk merah diwajahnya sudah tidak begitu terlihat jelas lagi.
Dia berjalan denban jawah lesu, terlihat sedang memikiraka. Sesuatu dibenaknya hingga dia tidak melihat seseorang berdiri didepannya dan nemabrak orang itu.
"Maaf" cicitnya sambil mengangkat wajah takut-takut.
" Hai"
Senyumnya tiba-tiba merekah, "Ayah" ucapnya penuh semangat.
Ya ... Javir berdiri didepannya dengan kaos dan celana milik Nanda.
Dia berhasil keluar dari rumah sakit diam-diam, untung saja dia melihat mobil Nanda yang masih terparkir di parkiran rumah sakit, dengan Nanda yang sedang tidur didalamnya.
"Mau aku antar?" Tawar Javir.
Anak itu diam berfikir sejenak meski pada akhirnya mengangguk, "meski sekolah Enil deket tapi Enil bisa nunjukin kalau Enil punya Ayah."
Hati Javir nelangsa mendengarnya.
"Ayo Yah" ajaknya.
"Tunggu" cegah Javir sebelum anak itu melangkah, "kita pakai mobil ya ... Karena sedang terburu-buru."
Secara tenang-terangan anak itu menghela nafas dan menatap Javir dengan tayapan yang sulit Javir mengerti. "Bialng saja jika tidak mau panas-panasan, dasar orang kaya, padahal masih pagi."
Anak itu mendumel tetapi berjalan kearah mobil yang terparkir didekat mereka, membuka pintu dan masuk begitu saja.
Javir tersenyum melihatnya.
Selama perjalanan Javir memilih diam memperhatikan anak itu dari samping, dan anak itu ternyata juga diam tidak mengatakan apapun hanya menatap keluar jendela.
Bajunya terlihat sedikit berwara kekuningan, warna celanyanya juga memudar, dan rambut yang tidak tertata rapi.
"Berhenti didepan" ucapnya.
Karena memperhatikan anak itu, Javir sampai lupa jika sekolahnya dekat.
Javir menghentikan mobilnya, anak itu duduk menghadap kearah Jabir, menatap Javir dalam membuat Javir mengangkat sebelah alisnya menatapnya aneh.
"Apa anda masih belum percaya jika aku anak anda?" Tanyanya lirih.
Ingin menjawab Iya secara gamblang, tetapi Javir memilih diam.
Sorot mata bahagia yang terlihat dimata anak itu tadi, terlihat meredup sekarang. Bahkan meski bibir anak itu tersenyum lebar padanya.
"Terima kasih sudah mengantar" ucapnya sopan.
Anak itu hendak membuka pintu mobil tetapi Javir menahan lengannya, "tunggu" ucapnya.
Tangan Javir dengan cepat membuka dashboard mobil dan mengeluarkan sisir dan gel rambut.
"Nama kamu siapa?" Tanya Javir terdengar terputus-putus.
"Danil" jawab anak itu singkat.
Kepala Javir manggut-manghut sambil membuka tutup cream yang berada ditangannya.
__ADS_1
"Kalau sekolah harus rapi" ucap Javir, mengoleskan cream rambut milik Nanda ketangannya sebelum mengusapnya ke kepala Danil. "Rambut harus ditata juga, bukan hanya memakai seragam yang hatus rapi."
Tangan Javir dengan telaten menyisir rambut Danil.
Sedangkan Danil menatap Javir dalam diam, memperhayiakan Javir yang menata rambutnya sedemikian ruapa hingga terlihat rapi.
"Itu gel agar rambut tidak berantakan ya Yah?" Tanya Daniel dengan nada polos.
Javir mengangguk membenarkan, "kalau kamu mau bawah saja."
"Boleh?" Tanyanya dengan nada girang.
"Iya bawa saja."
Danil mengambil cream rambut itu dan memasukkannya kedalam tas. "Terima kasih" ucapnya dengan sorot mata yang kembali berbinar.
"Sama-sama."
"Enil masuk dulu, terima kasih sudah mengantar, dada Ayah."
Danil keluar dari dalam mobil Javir dan berlari memasuki halaman sekolahnya dengan senyum lebar.
Senyum segaris Javir hilang setelah Danil menghilang dibalik tembok sekolah. Dia menatap tangannya lalu beralih pada kursi tempat Danil duduk tadi, terdapat beberapa helai rambut disana.
^-^
"Katakan pada Pak Joni jika kita bisa mengawal para petinggi itu pada tanggal tersebut" ucap Malvin pada asatennya yang berjalan dibelakangnya.
"Baik Pak"
Langkah Malvin terhenti didepan ruangannya, dia tidak langsung masuk kedalam, tetapi masih berdiri dan menoleh kebelakang.
"Baik Pak."
"Ok"
Malvin membuka pintu ruangannya dan masuk sambil memijit keningnya.
Salah satu klien perusahaan ASG berhasil membuatnya frustasi sehingga membuatnya hatus mengadakan pertemuan dengan para petinggi perusahaan secara mendadak.
Baru saja hendak duduk dikursinya, Malvin mengurungkan niatnya kala melihat Javir yang terlentang disofa ruangannya.
"Kenapa dia malah disini?" Tanyanya dengan nada mengeluh menghampiri Javir.
Dengan langkah lebarnya Malvin menghampiri Javir dan menggerak-gerakkan lengannya.
"Hei nak kenapa malah disini?" Ucap Malvin mencoba membangunkan Javir.
Perlahan Javir membuka mata, menatap Malvin sejenak sebelum duduk.
Malvin duduk disamping Javir, tangannya langsung mengecek kening Javir yang masih terasa hangat.
"Kabur dari rumah sakit" tebak Malvin.
Javir menyengir mendengarnya.
"Kenapa?, bukannya seneng ditemenin Gea disana."
Senyum Javir perlahan menghilang, dia mengambil sesuatu dari dalam saku kemejanya dan meletakkannya diatas meja tepat didepan Malvin.
__ADS_1
Malvin yang melihat rambut didalam plastik bening mengerutkan keningnya.
"Namanya Danil" ucap Javir dengan suara seraknya, "usianya kurang lebih sama seperti si kembar."
Sampai disini terlihat jika Javir menghela nafasnya sebelum melanjutkan perkatannya.
"Dia memanggil Je Ayah, dan Ibunya mengatakan dia anak Je" sampai disini Javir terdiam sejenak. "Bisa Papa membantu Je malakukan tes DNA?, meaki sebenarnya Je bisa saja melakukannya sendiri. Tetapi tidak ada satupun yang dapat Je sembunyikan dari Papa."
^-^
Javir tidak akan bisa mennyembunyikan apapun, karena dia dan Malvin sama-sama seorang Hecker, dan sama-sama pemikir.
Jadi percuma saja menyembunyikannya.
Meski sebenarnya berat untuk mengatakan apa yang sedang terjadi, Javir harus melakukannya.
Dia menjelaskan semua secara detail pertemuannya dengan Danil sampai apa yang dikatakan oleh Liza padanya yang membuatnya harus memutar otak karenanya.
"Ini alasan kamu sakit?" Tanya Malvin dingin.
Kepala Javir mengangguk, "pikiranku sedang kacau Pap. Tiba-tiba Gea menelfon dan kepala Je terasa sangat sakit," Javir menghela nafas pelan. "Terlebih saat Gea perhatian pada Je and ... she said if she loved me" suara Je terdengar mencicit. "And it scared me to death. If she knows about this matter but K haven't proved it, if that kid is not my son. She would definitely leave me without a second thought Dad."
"Lalu kamu tidak berfikir jika Papa bisa saja akan meninggalkanmu juga seperti ketakutanmu pada Gea ?" Tanya Malvin dengan tatapan cukup seriusnya. "Have you forgotten that your father was kicked out by the family when he had you before marriage?."
Javir tersenyum mendengarnya.
"Papa tidak akan melakukan hal yang sama padaku, terlebih ... Papa pasti percaya Je tidak akan begitu" ucapnya penuh keyakinan.
Ruangan menjadi sepi.
Tidak ada yang mengatakan apapun, mereka hanya saling tatap satu sama lain tamba kata.
Tangan Malvin tiba-tiba terulur dan menepuk-neluk puncak kepala Javir dengan senyum yang terukir lebar di bibirnya. "Dulu Papa tidak seberani kamu" ungkap Malvin.
"Je tidak mau kehilangan Gea Pap."
Malvin tertawa kecil, mengambil plastik berisi rambut itu dan tersenyum lebar pada Javir.
"Tujuan utamamu nekat mengatakan langsung pada Papa karena Gea?."
Kepala Javir mengangguk cepat, "dia prioritasku Pap."
"Kembali lah ke rumah sakit, ini Papa yang mengatasi."
"Terima kasih"
Angela Lovita
Hanya wanita itu yang sekarang ini menjadi prioritas Javir.
Tidak akan pernah Javir melepas Gea, tidak akan pernah sedikitpun Javir akan membiarkan masalah ini membuat wanita itu pergi dari sisinya.
Sekuat tenaga dia akan mempertahankan Gea disisinya, meski jika nanti Danil terbukti sebagai anaknya. Javir akan tetap memastikan perempuan itu disisinya.
Selalu dan Selamanya.
Karena Javir hanya mencintai Gea, sejak dulu, sekarang ataupun nanti.
^-^
__ADS_1