
"Ah ..."
Sontak saja Javir menarik tangannya agar Gea berhenti menggigitnya.
Mereka baru masuk lift, dan pintu lif belum juga lima detik menutup Gea langsung menggigit tangan Javir.
Melihat Regan, Aslan dan Alaric tersenyum kearahnya dan Javir membuat Gea semakin kesal pada Javir.
Gea berbalik badan menghadap Javir dan memukul-mukulnya secara membabi buta, bahkan tangannya juga tidak tinggal diam, dia menginjak-nginjak kaki Javir yang hanya memakai sandal jepit dan mengaduh kesakitan.
"Sakit An" seru Javir kesakitan.
"GAK PERDULI GUE!" Teriaknya dengan suara menggelegar seisi Lift.
"AN!!!" Javir bahkan ikut berteriak.
Dia menangkap kedua tangan Gea yang memukulinya, memitar badan mereka sehingga Gea yang menyandar pada dinding live.
Tatapan mata mereka saling bertautan, dada Gea naik turun penuh emosi.
Tangan Javir menyatukan kedua tangan Gea dam satu genggaman, dan menggunakan sebelah tangannya yang lain mengekus puncak kepala Gea.
Suasana hening ...
Sangat hening ...
Mereka bahkan bisa mendengar degup jantung mereka sendiri yang bertalu-talu tidak beraturan.
"Udah tenang?" Tanya Javir lembut.
Meski Gea tidak seberutal tadi memukulinya, tatapan matanya masih menatap marah pada Javir.
"Akhirnya kita bisa saling tatapan lama" ucap Javir dengan suara rendah dan segenap hati, "gue bisa nyentuh loe gini. I realy ...."
Buk ...
Gea membeturkan jidatnya dengan jidat Javir cukup keras.
"Aw" seru Javir melangkah mundur, tangannya menggapai-gapai dinding lift mencari pegangan. "Gur baru sembuh dari sakit loh An, kepala gue masih pening."
Plak ..
Plak ...
Plak ..
Tangan Gea mengelus jidat Javir dengan sedikit tenaga hingga menimbulkan bunyi.
Dengan kasar Javir menepis tangan Gea dan berjalan menjauh.
Wajah Gea berubah khawatir, "beneran sakit?" tanyanya sembari melangkah mendekat tetapi Javir menjauh, "maaf gue lupa sumpah."
"Loe mah selalau begitu, gak ada perdulinya sama gue" gerutunya.
"Gak gitu Je."
"Emang gitu" ucap Javir kasar.
Ting ...
Pintu lift terbuka dan Javir melangkahkan kakinya keluar lift terlebih dahulu tampa mengajak Gea.
Lantai tiga pulih tujuh, kepala Gea mengerut.
Melangkahkan kaki keluar dari lift sambil menoleh kekanan dan kekiri, dia belum pernah menginjak lantai ini.
"Ini lantai kok ..."
"Lantai meeting para manager dan exlusive hotel" potong Javir, "ruangan para exlusif juga disini."
"Oh pantes gue ..."
__ADS_1
"Yang bisa naik sampai kelantai ini juga orang-orang tertentu, gak sembarangan orang bisa masuk."
Kesal demgan nada suara Javir yang terkesan dingin, Gea menarik kerah belakang Javir sekuat tenaga.
Hampir saja Javir terjatuh seandainya dia tidak memegang pinggiran meja Dian.
"Ini kenapa loe sih yang marah?" Tanya Gea keheranan, "seharusnya gue dong ... karena loe yang salah disini."
Javir hanya mampu menyengir.
Perlahan berdiri tegap didepan Gea, menggengham tangan Gea tetapi dengan Kasar Gea tepis.
Tanhan Javir kembali menggengham tangan Gea cukup erat dan menariknya masuk kedalam ruangannya.
Javir mendudukkan disofa Gea tepat didepannya, dengan dia yang duduk dimeja.
"Ok My An mau nanyak darimana?" Tanya Javir denban senyum lebarnya.
Gea langsung meringis melihat senyumnya, "dari awal tentunya."
Kepala Javir mengangguk paham. "Dari awal ... Em ... Gue lupa kapan tepatnya" ucap Javir sambil mengerutkan kening mencoba mengingat-ingat.
"Kalau loe gak mau jawab gue ga ..."
"Bisa gak sih jangan keburu-buru" keluh Javir memotong ucapan Gea dan semakin erat menggenggam kedua tangan Gea. "Gue beneran lupa dari kapan, pokoknya yang intens setelah gue nyusul As dan Ar meluar negeri gue mulai memperhatiin loe dari berbagai cctv dimanapun dan kapanpun. Especially when i miss you, gue bisa duduk merhatiin loe berjam-jam dari leptop gue."
"Merhatiin atau mengawasi?" Tanya Gea dengan nada terkesan dingin.
Javir mengulum bibirnya, "lebih sering merhatiin dari pada mengawasi."
"Emangnya apa bedanya?"
"Lain An" sebelah tangan Javir mengelus rambut Gea dan menatapnya dengan tatapan tajam dan senyum. "Kalau gue merhatiin loe, gue hanya akan duduk natap loe, tapi kalau mengawasi loe gue akan meminta siapapun untuk melindungin loe, membantu loe atau ... Menjauhi loe dari pria manapun."
"What?"
Mata Gea terbelalak tak percaya, pantas saja dia hanya memiliki segerintil teman laki-laki.
"Gue merasa ada yang mengawasi gue sejak semua serasa mudah, saat kesusaha tiba-tiba ada yang bantu" ucap Gea lirih. "Tapi kalau sampai menjauhkan gue dari pria manapun ... Yang bener aja Je!"
Alasan terakhir itu seakan tidak bisa akal sehat Gea terima.
Javir tidak menjawab dia hanya menghela nafas, menundukkan kepala dan krmbali menggenggam kedua tangan Gea dengan erat.
Meskipun tautan mata mereka sudah terputus, Gea masih saja menatapnya, bahkan membalas genggaman tangan Javir sehingga perlahan Javir mengangkat wajahnya kembali menautkan tatapan mata mereka.
"I love you from a long time" ucap Javir lirih namun terdengar sungguh-sungguh, "gue akan menyingkirkan siapapun disekitar loe yang mempunyai kemungkinan bisa meraih loe, sebelum gue mengatakan secara langsung perasaan gue ke loe."
Yang pada awalnya Gea duduk tegap kali ini perlahan bahu Gea merosot dan bersandar pada sandaran sofat.
Tidak ada yang mengatakan apapun, mereka hanya saling tatap seakan tidak tahu mau berbicara apa dan saling menggenggamkan tangan satu sama lain.
Keheningan tercipta cukup lama diantara mereka.
"Mangkanya loe pergi saat Sebastian mengajak gue menikah?" Tanya Gea lirih mencoba memastikan tebakannya.
Kepala Javir mengangguk pelan, "ya" ucapnya lirih.
"Je"
Senyum Javir kembali terukir, "terlebih loe pasti berat memutuskan bagaimana kelanjutan hubungan kita setelah gue menjadi seorang pria beranak satu" ucap Javir sambil terkekeh diakhir kalimat.
Kepala Gea menggeleng cepat, dia kembali duduk dengan tegap. "Bukan berat untuk menerima loe dengan adanya Danil sekarang. Gue hanya butuh waktu untuk menerima semuanya, gue butuh waktu untuk berfikir bagaimana bersikap sama Danil yang sama kayak gue."
"Apa waktu sebulan belum cukup An?" Tanya Javir lirih.
Gea yang akan mengatakan sesuatu hanya bisa membuka mulutnya tetapi tidak bisa mengeluarkan suaranya.
"Loe tahu gue gak bisa untuk gak genggam tangan loe atau meluk loe, dan sebulan itu lebih berat dari pada saat gue tinggal di negeri orang dengan jarak ribuan kilo meter jauhnya dari loe."
Gea hanya terdiam bingung untuk mengatakan apapun.
__ADS_1
"Gue gak mau loe banyak pikiran sampai kurang tidur dan akhirnya jatuh sakit" ucap Javir memutuskan tautan mata mereka. "Lagi pula Sebastian cukup baik dan kalian sudah berteman sejak SMA jadi dia ..."
"Terus ngapain loe marah saat di restauran waktu itu?" Tanya Gea menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman tangan Javir. "kalau loe emang ngelepas gue untuk Sebastian ngapain marah gue akrab dengan dia?."
Javir menatap tangannya yang tidak lagi menggenggam tangan Gea dengan tatapan kosong.
Gea mengerutkan kening menatap Javir yang tidak lagi tersenyum, bahkan raut wajahnya terlihat dingin.
Terlihat Javir tiba-toba akan berdiri, sehingga dengan cepat dan kekuatan penuh Gea menarik kaos Javir membuatnya kembali duduk didepannya.
"Kita belum selesai bicara, jangan kebiasaan main pergi" desis Gea.
Kepala Javir langsung menoleh menatap Gea dengan tajam, "apa loe gak sadar kalau loe juga sering main pergi?."
Rahang Gea mengetat, dia menatap Javir dengan tatapan semakin tajam dan kesal.
^-^
Krek ...
Tampa ada ketukan terlebih dulu, Regan membuka pintu ruangan Javir dan masuk begitu saja membuat tautan mata Javir dan Gea terputus.
Sejak tadi Regan, Aslan dan Alaric memperhatikan mereka dari kamera yang memang terpasang disetiap ruangan para eklusif dan manager hotel.
Saat Rehan merasakan ketegangan diantara mereka berdua, tampa pikir panjang dia masuk begitu saja tidak mendengarkan larangan Aslan atau Alaric.
Meski melarang dia masuk, nyatanya mereka berdua juga ikut masuk mengekori Regan.
"Apa kalian belum selesai?" Tanya Regan.
Semua menatap kearah Regan secara bersamaan.
Bahkan Aslan menatapnya dengan tatapan tak mengerti kenapa pertanyaan yang tidak terkira itu malah Regan ucapkan untuk pertama kali.
"Gue mau tidur" ucapnya semakin membuat semua orang ternganga.
"Ya tidur aja, siapa yang nyuruh loe buat nungguin kita!" Omel Gea berang. "Tidur gih sana, main masuk aja!."
Regan menghela nafas, "pintu masuknya disini yang harus masuk kesini lah" uvap Regan dengan santainya.
Plak ...
Aslan memukul lengan Regan, "ngapain loe kasih tahu jalan ke Crown?" Desis Aslan.
Dengan santainya Regan mengangkat bahunya melirik Gea dengan senyuman sarkasme, "lagi pula dia gak akan bisa masuk juga" ucapnya.
Regan melangkah dnegan santai semakin memasuki ruangan Javir.
Tangannya menggeser minuatur dan meletakkan jempolnya lalu lemari itu bergeser perlahan memperlihatkan lift sehingga Regan masuk disusul Aslan dan Alalric setelahnya.
"Loe gak akan bisa masuk kesana" ucap Javir lirih.
Kepala Gea langsung menoleh menatap Javir lagi.
"Raja Crown lebih perifat lagi dari pada lantai ini, untuk menggerakkan lif itu bukan lagi butuh ID card atau sidik jari, tapi kornea mata juga" jelas Javir.
Gea hanya bisa terdiam mendengarnya.
Ruangan kembali hening seperti tadi.
Javir menghela nafas menatap kelain arah, tangannya saling bertautan.
"Apa lagi yang harus gue jelasin dan selesikan?" Tanya Javir lirih.
"Hubungan kita" jawab Gea lirih.
"Gue udah bilang kalu keputusan ada ditangan loe"
Mereka kembali terdiam beberpaa saat, dan ruangan kembali hening.
"Kalau gue mau kita lanjut gimana?"
__ADS_1
^-^