
Kepala Gea seakan mau pecah rasanya sejak tadi terus saja merecokinya untuk segera pergi kantor salah satu artis untuk melakukan podcast, padahal Gea malas melakukannya.
Dret ....
Ponsel Gea kembali bergetr, nama Yesi muncul dilayar ponselnya membuatnya memutar bola mata malas.
Mau tidak mau Gea harua menerima panggilan dari Yesi, jika tidak ... perempuan itu akan terus menghubunginya seperti rentenir.
"Gue OTW Yes!" Seru Gea kesal.
"OTW kemana emangnya loe?" Tanya Yesi dengan nada hebohnya.
Gea memutar bola matanya malas, "loe mulai tadi nguber gue ubtuk pergi ke podcast ..."
"NO!" Teriak Yesi memotong ucapan Gea.
Tangan Gea mengepal setir mobilnya, dia benar-benar merasa kesal demgan Yesi.
"Loe puter balik sekarang ke hotel Raja"
"Ngapain?, ogah."
"Ih ... Gea ..." seru Yesi, "gue kirim video yang baru viral beberapa jam lalu."
"Haduh ... ngapain juga, gak usah. Gue gak kayak loe yang ..."
"Gue gak mungkin kepo kalau itu gak menyangkut orang yang gue sayang."
Tut ...
Yesi langsung memutuskan sambungan telepon merekan.
Beberapa detik setelahnya ada pesan yang masuk diponsel Gea.
Gea tidak langsung membuka pesan dari Yesi, yang pastinya adalah video yang dia bicarakan barusan entah itu video apa.
Sampai di lampu merah, Gea baru membuka pesan itu.
Terlihat jelas wajah pria dalam video itu adalah wajah javir, sedangkan perempuan yanh berlari kearah Javir dan memeluknya seperti koala tidak dapat Gea lihat dengan jelas karena tertutup rambut.
Tit ...
Tit ...
Bunyi klakson dari belakang membuat gea tersentak, cepat-cepat dia menjalankan mobilnya dan putar balik setelahnya.
Urusan yang satu belum selesai, Javir malah kembali berulah lagi.
Gea yang sudab terlanjur kesal sampai menghentikan mobilnya didepan lobby bukan di basement. Saat security berteriak untuk memindahkan mobilnya, Gea malah melempar kunci mobilnya dan terus saja melangkah.
"DIAN" panggil Gea dengan berteriak nyaring menghentikan Dian yang akan masuk kedalam lift.
Melihat Gea berjalan kearahnya, Dia tersenyum lebar.
"Javir mana?" Tanya Gea to the poin.
"Itu ..."
"Anter gue kesana sekarang" ucap Gea dengan nada perintah bukan nada meminta yolong seperti yanv kalian harapkan.
"Tapi mbak ..."
"Loe mau burung loe yang gue potong?"
Tangan Dian langsung menutupi selangkangnya, berjalan masuk kedlaam lift disusul Gea setelahnya.
Lantai dua puluh sembilan.
Kening Gea mengerut melihat angka yang dipencet Dian. Setahu Gea, lantai para exlusive hotel beradi dilantai tiga puluh.
"Jangan bilang saya yang nganter mbak" ucap Dian.
Gea menoleh pada Dian dengan kening mengerut.
"Pak Javir bilangnya jangan ganggu" cicit Dian.
Gea berdecak, melipat kedua tangannya didepan dada, semakin kesal rasanya dia pada Javir.
Pintu lift terbuka, Gea keluar lebih dulu dari dalam lift.
"Kamar dua sembilan dua mbak" ucap Dian.
Gea berbalik badan hendak mengatakan sesuatu, tetapi Dian sudah buru-buru memencet tombol tutup.
__ADS_1
Pria itu sepertinya benar-benar takut pada Javir.
Setelah menghembuskan nafas beberapa kali, barulah Gea melangkahkan kakinya dengan mantap dan melihat satu persatu angka kamar.
^-^
Javir mengangkat kepalanya dari pundak Gea, menatap lekat perempuan didepannya itu.
Kaki Gea melangkah mundur, memiringkan kepalanya menatap pintu dengan nomer dua sembilan dua, Javir keluar dari kamar itu.
"Ada apa An?" Tanya Javir.
Detik itu juga Gea langsung gelagapan.
Saat Javir membuka pintu dan terlihat tatapan matanya kosong, saat itu juga otak Gea serasa blank seketika.
Secara bergantian Gea menatap pintu itu dan Javir, pintu dua sembilan dua.
Tangan Javir terulur hendak menyentuh pipi Gea namun Gea tepis kasar memebuat Javir mengeruykan keningnya.
"Bukankah ini lantai untuk kamar Presidential Suite?" Tanya Gea dengan nada datarnya.
Kening Javir semakin mengerut dalam, "ya" jawabnya singkat.
Kepala Gea langsung menoleh pada Jabir, menatapnya tajam dnegan mata mengkilat. "Waw ..." seru Gea dengan da datarnya.
Javir benar-benar tidak mengerti, bahkan tatapan mata Gea memancarkan kemarahan padanya.
"Berapa wanita yang udah loe bawa kekamar ini?" Tanya Gea dengan senyim sarkasnya.
Perlahan senyum Javir terukir, dia mulai mengerti kemana arah bicara Gea.
Melihat Javir tersenyim, tatapan mata Gea semakin menajam, membuat Javir tidak kuasa untuk semakin tersenyum lebar.
"Apa senyum-senyum?" Tanya Gea garang.
Javir melangkah kedepan mengikis jarak diantara mereka, tangan Gea menyebtuh dada Javir dan mendorongnya menjauh. "Kenapa loe kesini?" Tanya Javir lirih.
Kepala Gea mendongak kembali menatap Javir, "karena loe gila" jawab Gea sepontan.
Javir tertawa kecil mendengarnya, "gue nanya serius Angel."
"Gue juga serius" desis Gea.
Gea mendorong tubuh Javir menjauh dan melangakh kesamping menhindar agaf tidak terjebak oleh tubuh Javir dan dinding dibelakangnya.
"Gue masih belum meluruskan video kita, loe malah gendong perempuan dilobby, ada yang memvideo kalian dan itu tersebar. Kenapa loe gak ..."
"Hei" Javir menyentak tangan Gea hingga tubuh Gea ikut tersentak dan hampir menabrah dada bidangnya.
Gea yang gelagapan kembali hendak menjauh tetapi sebelah tangan Javir melingkari pinggangnya.
"Jadi loe kesini karena liat video yang tersebar itu dan loe cemburu" ucap Javir begith lirih dan lembut, "Am I right?."
Mata Gea langsung membola mendengarnya.
Javir terkekeh melihatnya.
"Gue gak cemburu Je" desis Gea.
"Oh ya? ... terus kenapa loe natap gue dengan tatapan marah gini?"
Tangan Javir yang senula melingkar di pinggang Gea, terulur untuk menyentuh pipi Gea namun Gea tepis dengan kasar.
"Gue marah karena loe nambahin kerjaan gue" bantah Gea, "gue belum selesai ngelurusin video kita Je. Dan loe malah ngedendong perempuan lain didepan umum sampai ada yang vidioin dan ... OH MY GOD JE!"
Javir menggigit bibir bawah bagian dalam, melihat Gea yang marah terbakar cemburu membuatnya gemas sendiri.
"Vidio kalian tersebar" Gea mengeluarkan ponselnya, menjulurkannya pada Javir, "dan gue kembali ramai diperbincangkan, gue males."
Tangan kanan Javir kembaki terulur, kali ini menyentuh puncak kepala Gea. Mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka berdua sesajar.
Tatapan mata mereka bertautan begitu dekat hanya berjarak sejangkal.
"Tinggal loe matikan aja kolom komentar, jangan baca atau jangan buka ..."
"Gak sederhana itu Javir" potong Gea lirih.
Jabir tersenyum, menjauhkan tubuhnya dari Gea dan berjalan membuka pintu dua sembilan dua, kamar Resa.
"Ayo masuk" ajak Javir.
"Ogah" tolak Gea.
__ADS_1
Gea balik badan hendak pergi dari saja.
Tangan Javir dengan cepat melingkari pinggangnya dan mengangkat tubuh Gea,embawanya masuk kedalam kamar denhan paksa meski Gea berteriak memberontak tidak mau.
"Gue gak mau satu kamar sama selingkuhan loe!" Teriak Gea berang.
Javir mengunci pintu kamar sambil memelkk Gea dari belakang, mencegahnya untik membuka pintu kamar.
Gea terus aja memberontak hendak keluar.
Javir yang melau kesal memojokkan Gea kepintu, tangannya mencengkram kedua pergelangan tangan Gea sehingga Gea tidak bisa lagi memberontak.
Tatapan mata mereka beryautan sangat dekat.
Gea dengan tatapan marah yang terpancar sangat jelas dimatanya.
Sesangkan Javir menatapnya dengan tatapan gemas.
"Selingkuh?" Tanya Javir lirih, "emangnya gue selingkuh dari siapa?. Perasaan gue masih belum punya pacar sampai sekarang."
Raut wajah Gea berubah seketika, Gea memutuskan tautan mata mereka dengan membuang muka menatap kelain arah.
Matanya terjepam dan meringis, mebuat Javir semakin gemas dan mencium pipinya.
Sontak saja mata Gea terbelalak.
"Loe gemesin" ungkap Javir.
Tangan Javir yang memegang pergelangan tangan Gea berubah melingkari pinggang Gea dan menarik tubuhnya hingga dia bisa memeluknya erat.
"Waw ... What's going on!"
Seakan tersadar, Gea mendorong dada Javir sekuat tenaga sehingga dia melepaskan pelukannya.
Tatapan mata Gea langsung tertuju kesumber suara tadi.
Resa berdiri disana, tidak jauh dari mereka dengan tubuh terbungkus bathrobe dan rambut dililit handuk.
"Dia selingkuhan gue yang loe maksud?" tanya Javir.
Tangannya kembali hendak memeluk Gea tetapi dnegan cepat Gea mengjindar dan menjauh.
Wajah Gea memerah.
Javir memberi isyarat pada Resa untuk kembali masuk kedalam kamar mandi.
Resa tersenyum lebar menatap keduanya secara bergantian, sebelum berjalan mundur, mengambil paperbag dan berlari masuk kedalam kamar mandi.
Gea menutup wajahnya dnegan kedua tangannya, mendengus kesal sebelum menyeka rambutnya dengan jemarinya.
Javir tertawa kecil, megelus rambut Gea lembit.
Lagi-lahi Gea menepis tangannya, berbalik badan menghadap dindig menghindar dari tatapa mata Javir.
Tangan Javir malah melingkari di pinggang Gea memeluk Gea dari belakang, wajahnya berada tepat di samping wajah Gea.
"Loe tahu?" Tanya Javir.
Gea diam tidak menjawab.
"Gue bahagia loe cemburuin" bisik Javir.
"Gue gak cemburu" bantah Gea.
Javir terkekeh kecil, semakin mempererat pelukannya. "Ok ... Terus maksud loe gue selingkuh dari siapa?."
"Je" rengek Gea.
Kali ini Javir tertawa lepas, mencijm pipo Gea dsri samping. "Terima kasih sudah dateng" bisiknya, "I will always be here waiting for you."
Terasa tubuh tegang Gea perlahan melemas, kepala Gea bahkan bersandar pada Javir.
"Gue bener-bener bahagia loe cemburuin."
"Je...." seru Gea.
Gea melepaskan diri dari pelukan Javir, berbalik badan menatap Javir dengan tatapan sangarnya.
Melihah tatapan iti, Javir malah terkekeh dengan wajah berbinarnya.
Perasaan sesaknya yang tadi dia rasakan entah kapan menghklang begitu saja, tergantikan perasaan bahagia mengetahui Gea cemburu.
Masih ada harapan.
__ADS_1
Setidaknya masih ada harapan, meski Javir tidak tahu kapan Gea akan benar-benar membuka diri untuknya, seperti dulu.
^-^