
"Ke rumah sakit sekarang"
Kalimat itu sudah diucapkan Gea berkali-kali, tetapi Javir terus saja menggeleng.
"Terus sampai kapan bahu kamu begitu terus?" omel Gea dengan nada yang mulai meninggi.
"Udah ke rumah sakit An, jadi jangan cerewet. Nanti juga pasti sembuh, jangan ..."
"BOHONG!" Teriak Gea kalab, "kalau udah kerumah sakit, emangnya apa kata Dokter?."
"Shoulder dislocation" jawab Javir santai sambil melangkah menaiki tangga setelah mengecup puncak kepala Danil dan memintanya untuk kembali melanjutkan makan.
"Shoulder dislocation itu apa?" Tanya Gea.
"Menurut citra keluarga, cedera ketika tulang le ..." itu suara google.
Secepat kilat Javir berbalik badan, merampaa ponsel Gea dan mengecilkan ponsel Gea.
Javir pikir Gea bertanya padanya, sehingga dia terus melanjkah menaiki tangga memilih untuk tidak menjawab pertanyaannya. Untung saja dia tidak cepat-cepat melangkahkan kakinya menaiki tangga.
Mata Gea melotot tajam penuh amarah.
"Kompres aja pakai air hangat nanti mendingan kok" ucap Javir mencoba menenangkan.
Perlahan tangan Javir mengeluz puncak kepala Gea sambil tersenyum kecil.
Tatapan wajah Gea perlahan berubah, meski masih tersirat kekesalan disana.
Dari puncak kepala Gea, tangan kanan Javir turun menggenggam tangan Gea dan menariknya untuk mengikuti Javir melangkah menaiki tangga kelantai tiga.
"Gue kan udah bilang harus kembali dengan selamat, itu artinya tampa cedera, luka atau apapun."
Sesampai dilantai tiga, Gea kembali mengomel, melepas genghaman tangan Javir dan berjalan kearah dapur untuk membuat air hangat, Javir sangat yakin omelan Gea akan panjang kali ini.
Tampa banyak bicara perlahan Javir duduk di sofa, dengan santainya dia menghidupkan tv dan mulai mengemil cemilan yang tersedia diatas meja.
Omelan Gea terus saja terdengar, sesekali dia meresponnya dengan tiga kata maaf, iya dan tidak.
Tak
Gea meletakkan sebak air hangat di meja depan Javir dan menatapnya dnegan tatapan tajam melotot marah.
"Loe gak dengerin omongan gue?" Tebak Gea.
Kepala Jabir menggeleng pelan.
Ge aberdecak tidak percaya, duduk di ujung sofa panjang yang diduduki Javir.
Dengan tatapan polosnya, Javir menatap bak berisi air hangat didepannya dengan Gea secara bergantian.
"Gue gak dikompreain?" Tanyanya lirih.
Gea berdecak sambil memalingkan mukanya.
Sadar jika dia sudah membuat Gea keaal, Jabir membuka bajunya dan merebahkan kepalanya di pangkuan Gea, tidur miring kekanan menatap kearah tv dengan bahu kiri yang memang dibiarkan tebuka agar Gea melihatnya.
Terdengar Gea lagi-lagi menghela nafas.
Tangannya meraih bak air hangat dan handuk kecil dia atas meja, perlahan mulai mengompres bahu kiri Javir hang mulai memerah.
"Jangan ke negara itu lagi" ucap Gea lirih, "negar aitu menakutkan Je. Meski loe gak sayang atau gak perduli dengan gue, loe masih ada Danil."
"Gue amat snagat perduli perasaan loe" ucap Javir lirih.
Tangan kairi Gea memegang handuk kecil di bahunya, sedangkan tangan kanannya mengelus rambut Javir.
Sehingga perlahan, mata Javir yeng memang kurang tidue terpejam dan tertidur diatas pangkuan Gea.
^-^
Saat kita mengatakan sesuatu atau sedang berbicara dengan orang lain, tetapi orang itu malah tidur ... Jangan ditanya seberapa kesal dan ingin meledakkan amarah saat itu juga.
__ADS_1
Tetapi saat melihat Javir seakan tidur begitu nyenyak, mana mampu Gea membangunkannya.
Bukan niat Gea ingin mengomel panjanng lebar dan marah-marah disaat Javir kesalitan.
Bukan juga karena Gea tidak kasihan.
Omelen panjang Gea adalah pelarian agar dia tidak menangis disaat Javir mengaduh kesakitan sampai terduduk dilantai memegangi bahu kirinya.
Saat Abra mengatakan kemana tujuan Jabir dan ketiga sahabatnya, Gea sudah memiliki perasaan tidak enak, maka dari itu dia berbicara sendiri di lantai tiga An Angel agar Javir tahu jika dia mengkhawatirkannya.
Trek ...
Bunyi pintu yang terbuka lebar.
Gea memang sengaja tidak merapatkan pintu untuk kelantai tiga karena dia tidak ingin orang-orang berfikir negatif akan dirinya dan Javir.
"Dia kenapa?" Tanya Regan masuk dengan Danil yang membuntutinya.
"Katanya shoulder dislocation" jawab Gea sambil mengangjat handuk hangat dari bahu kiri Javir.
Regan menyentuh bahu Javir, membuat Javir meringis dan membuka matanya.
Tatapan mata mereka bertemu, Regan menatap Javir dengan tatapan marahnya, membuat Javir menyengir dan perlahan mengangkag kepalanya dari pangkuan Gea dan duduk dengan tegap seolah-olah sedang tidak sakit.
"Gue udah tanya loe baik-baik aja?, jawab loe malah oke oke doang" kali ini giliran Regan yang mengonelinya.
"Loe kan tahu gue takut jarus suntik, waktu itu aja masuk runah sakit untung karena gua gak sadar, kalau gue masih sadar mana mau gue kalian masukin ..."
Plak ...
Sangat cepat Regan menggeplak kepala Javir, "An keluar" ucap Regan dengan nada memerintah.
"Gak usah" cegah Javir.
Javir mengcengkram pergelangan tangan Gea yang akan berdiri dsri duduknya, mencegahnya untuk keluar.
Karena terlalu erat, Gea sampai meringis kesakitan.
"Jangan melakukan malpraktek Ar, gue belum nikah sama An" seru Javir.
Regan ngakak mendengarnya.
Tangan Regan menepis tangan Javir yang menggenggam tangan Gea dengan erat, memberi isyarat pada saudaranya itu untuk keluar bersama Danil.
"Ayah mau Abang Ar apain?" Tanya Danil polos pada Gea.
"Ayah mau disembuhin dulu" jawab Gea lembut, "Danil smaa Kak Gea, Bilqis dan Chaka dulu dibawah."
Kepala Danil mengangguk patuh.
Gea menggenggam tangan Dani dan melangkah menuruni gangga setelah menutup rapat pintu latai tiga.
"Ah ..." teriakan Javir menggema hingga terdengar kelantai dua.
Danil menghentikan langkahnya dan menoleh keatas, "Ayah gak papa kan Kak?" Tanyanya dengan nada lirih penuh kekhawatiran.
Gea semakin erat emnggenggam tangan Danil, "percaya aja sama Bang Ar" ucap Gea penuh keyakinan.
Sebenarnya bukan ubtuk meyakinkan Danil, tetapi juga untuk menyakinkan dirinya jika Javir akan baik-baik saja ditangani Regan.
^-^
Mela terburu-buru keluar dari ruang ganti, dia hampir saja bertabrakan dengan Resa yang akan berganti baju juga karena shifnya sudah selesai seperti Mela.
"Mau kemana buru-buru banget?" Tanya Resa.
Dia tidak jadi masuk kedalam ruang ganti, tapi malah mengekori Mela.
"Ar memintaku mengambil sesuatu di apotik dan segera ke An Angel" helas Mela sambil terus melangkah.
"Emangnya dia An Angel ada apa?."
__ADS_1
"Abangmu mengalami Shoulder Dislocation dna tidak amu dibawa kesini"
"Whattt???"
Karena tidak percaya dengan apa yang baru saja Mela katakan, Resa sampai berhenti beberapa detik sebelum akhirnya melepas jas putihnya dan berlari menyusul Mela.
Baru saja seminggu menghilang tampa kabar, dia malah mendapat berita buruk seperti ini.
^-^
Bilqis dan Chaka sedang menemani Danil yang terdiam duduk tidak mau mengatakan apapun atau melakukan apapun setelah mereka mengerjakan tigas rumah mereka.
Sesekali terdengar jeritan Javir dari lantai tiga membuat Danil menoleh kearah tangga lalu pada Gea dan kembali menundukkan kepalanya dalam.
Gea sendiri sedang bingung mau bagaimana, dia khawatir dan juga takut mendengar jeritan Javir.
Ingin rasanya dia menarik Regan dan menendangnya untuk pulang saja, tapi ... Ah ... Semua perasaan seakan bercampur aduk jadi satu saat ini.
"Mereka dilantai tiga bukan?"
Tiba-tiba saja Mela berjalan menaiki tangga dengan sebuah tas di tangannya, melewati Gea yang berjalan mondar mandi sejak tadi.
Resa yang akan menaiki tangga menyusul Mela langsung Gea cegah dengan mencengram lengannya.
"Shoulder Dislocation itu apa?" Tanya Gea dengan wajah khawatir.
Resa yang sebenarnya ingin melepaskan cengkraman Gea jadi merasa kasihan melihat raut wajah Gea.
"Huwaaa ..."
Terdengar suara tangis Danil yang membuat semua menileh kearahnya.
Danil berlari kecil kearah Resa sambil menangis, Resa merendahkan tubuhnya dan memeluk Danil erat.
Tangan Resa emnepuk punggung Danil pelan menenangkan anak itu, Gea menatapnya dengab tatapan sedih. Sejak tadi Danil pasti menahan diri untuk tidak naik dan menangis didepannya karena takut membuat Gea semakin panik.
"Ayah gak papa kan Aunty?" Tanya Danil disela-sela tangisnya.
"Gak papa kok" Resa meregangkan pelukan mereka berdua, "Ayah hanya cedera saja" Resa melirih Gea.
"Tapi kenapa teriak-teriak?" Tanya Gea masih belum puas dengan jawaban Resa.
"Tulang lengan atasnya keluar dari tempat yang seharusnya, Abang Ar mungkin mengembalikan lagi posisi tulangnya."
"Apa sangat sakit dampai Ayah teriak?".
Kepala Resa mengangguk pelan menatap Danil dengan senyum segarisnya mencoba menenangkan anak didepannya.
Tetapi Gea dapat merlihat dengan jelas, jika Resa sebenarnya juga khawatir dengan keadaan Javir.
Tap Tap Tap
Suara langkah kaki menuruni tangga membuat semua orang berkumpul di bawah tangga.
Regan turun dengan Mela sambil meregangkan otot tangan dan lehernya.
"Ar" panggil Gea.
"Gak papa" ucap Regan, "hanya cedera ringan. Dia pasti kelelahan habis kesakitan dan teriak-teriak, jadi biarkan dia istirahat sebentar diatas."
Syaraf tegas Gea seakan melemas seketika.
Dia bersandar pada dinding dan menghela nafas lega.
"Itu gara-gara dia ngehajar orang tapi gak pernah pemanasan" ucap Regan sambil melirik Gea, "sok-sok bisa ngatasin gak perlu bantuan tita, sok kuat eh ... Malah cidera."
Setelah mengatakan hal itu pada Gea, Regan malah berjalan menghampiri si kembar dan duduk didekat mereka dengan tenang.
Tangan Gea mengepal menahan diri untuk tidak bertanya pada Regan. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar negeri sana hingga Javir cidera dan Gea tahu jika Regan bukannya akan menjawab pertanyaanya tetapi akan semakin membuatnya penasaran.
^-^
__ADS_1