Watching You

Watching You
Amarah Yang Meluap


__ADS_3

"Hei Faris ... loe kan suka gue, gimana kalau kita pacaran"


Langkah Javir terhenti seketika, tidak jauh darinya Gea berdiri didepan pria yang dia kenal sebagai drumer band Gea.


Tangannya mengepal melihat mereka, kurang ajar setelah marah-marah gak jelas loe malah ngajakin cowok pacaran, batin Javir menata Gea kesal.


"Gue udah lama jomblo ini" lanjut Gea lagi.


Orang-orang yang ada disana langsung bersorak heboh, bahkan siulan dan tepuk tangan juga.


Alaric yang ada disampingnya tertawa ngakak mendengar ucapan Gea.


Dari belakang Aslan datang dengan terburu-buru menyeret Gea pergi, "lupain ya ... lupain ... dia lagi gak serius kok" teriak Aslan.


Jika saja Aslan membiarkan Gea berbicara satu kali lagi maka tidak ada yang jamin, Javir yang akan menyeretnya paska.


"Apaan sih As, lepas gak" berontak Gea.


"Sholat-sholat ... bentar lagi mangrib ilang, mangkanya loe kerasukan setan marah-marah, nagis, tiba-tiba ngajak orang pacaran sembarangan."


Javir dan Alaric mengikuti mereka dari belakang menuju mushollah Hotel.


Sebisa mungkin Javir menghindar dari Gea, dia tidak mau membuka mulut bahkan menghadap Gea karena takut amarah yang dia tahan akan meledak.


Selesai sholat, biasanya mereka akan salaman, Gea malah berdiri dan pergi begitu saja.


Kesal, amat sangat kesal ...


Hampir saja Javir akan menyeret Gea untuk bicara berdua tetapi Regan datang mengatakan ada sepuluh pengawal yang datang untuk menjemput Regan dan Belda, sehingga Javir harus menahan diri kembali.


^-^


Tok tok tok ...


Gea menoleh pada pintu kamarnya.


Jika Yesi, dia akan langsung masuk, karena dia juga mempunyai key card pintu kamar mereka.


Tok tok tok ....


"Iya bentar gue lagi ..."


Suaranya seakan tercekat saat melihat Javir didepannya.


Tangan Gea dengam cepat akan menutup pibtu tetapi Javir menahannya, mendorong pintu agar semakin terbuka lebar.


"Kita butuh bicara" tekan Javir.


"Tidak ada yang harus kita bicarakan."


Javir semakin kuat mendorong punti agar terbuka hingga Gea kewalahan, menyerah dan melangkah mundur.


Javir masuk kedalam kamar Gea dan membanting pintu dengan keras, menunjukkan kemarannya yang tidak bisa dia bendung lagi.


Tatapan matanya bahkan menatap tajam pada Gea, "apa yang salah sebenarnya?, kenapa loe tadi marah-marah gak jelas?, emangnya gue salah apa?."


Gea diam, memalingkan muka tidak menatap balik Javir yang terus saja menatapnya.


"Kenapa hanya diam?" Tanya Javir, "jawab!" Kali ini suara Javir sedikit meninggi.


"Karena gue gak suka mendengar setiap kata yang loe ucapin" dalam satu kali tarikan nafas Gea mengatakannya.


Kali ini tatapan mereka saling bertautan, sama-sama memancarkan amarah dalam diri mereka.


"Memangnya apa yang salah dari setiap ucapan gue?."


Gea tertawa sumbang, "loe masih gak sadar?."


"Sadar apa?."


Tangan Gea menyeka rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya, sambil menghela nafas seakan lelah dengan semua.


Gea melangkah semakin mendekati Javir, menarik tangan Javir untuh menyentuh dadanya. "Gue gak bisa nahan kegilaan disini, disini semakin menggila" tatapannya begitu dalam menatap Javir.


"Aku merindukanmu ... sangat" lanjut Gea tetap dengan tatapan mata mereka yang bertautan, "tidak bisakah malah ini saja kita seperti dulu?."


Javir terdiam, seakan-akan hanyut dalam tatapan Gea dan setiap kata yang dia ucapkan sengan lembut.


Gea menggengham tangan kanan Javir yang tadi dia letakkan didadanya.


Gea menunduk, memutuskan tautan mata mereka, menatap tangan Javir yang berada dalam genggamannya dan menyentuh jari manis Javir. "Tahun depan, giliran cincin yang melingkar disini" ucapnya sangat lebut.


"An"


"Emang loe gak cinta sama gue?"

__ADS_1


"An gue ..."


"Gak pernah deg dekan gitu?."


Javir bungkam tidak bisa berkata-kata, otaknya blank seketika.


Perlahan raut wajah Gea berubah datar, mundur selangkah menjauh dari Javir.


Melepaskan genggaman gangannya, mengangkat wajah kembali menatapa Javir, kali ini tatapan matanya kosong namun terkesan dingin.


"What do you feel?" Tanya.


Javir tersenyum lebar, bahkan dia mengulum bibirnya. Matanya berbinar menatap Gea yang masih menatap datar padanya.


Terlihat jelas jika Javir merasa bahagia mendengarnya.


"Gak pernah sedikitpun gue merasa lega, senang apalagi merasa bersyukur. Merasakan perasaan bahagiapun secuilpun enggak"


Senyum dibibir Javir perlahan menghilang seketika mendengar rentetakan kalimat yang diucapkan Gea barusan.


"Gue emang maafin loe dari dulu, tapi untuk kembali berteman, apalagi seperti dulu ... enggak."


"Terus ... tadi loe ... kenapa ..."


Nafas Javir memburu, amarahnya mulai terpancing sehingga dia sulit untuk berkata-kata, otaknya masih belum bisa mencernah semuanya.


Gea menjauh, membuka kulkas kecil mengeluarkan sebotol minuman dari dalam sana dan menegakknya.


"Terus apa maksud loe dengan degup jantung loe yang menggila?, merindukan gue, tahun depan menikah?."


"Wahahahaa ...."


Gea tertawa lepas, berjalan keberanda kamar seakan mencari udara untuk bernafas.


Javir mengikutinya, menatap Gea dengan tatapan tak mengerti.


"Apa loe lupa kalau itu kata-kata yang loe ucapin kegue?" Tanya Gea disela-sela tawanya.


Javir terdiam mencoba mengingat-ingat.


Gea dengan santai duduk dikursi, mengenakan kaca mata yang sejak tadi menggantung di kerah bajunya dan kembali menegak minumannya.


"Gue inget, tapi gue masih belum mengerti dimana kesalahannya An" ucap Javir.


"Semua An, jelasin semua apa dan dimana letak kesalahan gue, sampek loe marah besar kayak tadi ke Ar?. I don't understand what is my fault!."


"For the first, what do you feel? ... saat gue mengatakan apa yang pernah loe katakan ke gue tadi?."


Javir diam, terlihat ragu ubtuk menjawab.


"You feel I still love you?"


Seakan salah tingkah, Javir membuang muka menatap kelain arah, "ya" jawabnya singkat.


"Dan itu yang gue rasaan saat loe bilang begitu kegue" ucap Gea.


Mereka terdiam selama beberapa detik, bahkan Javir memejamkan matanya menghela nafas dalam mulai memahami dimana letak permasalahnnya.


"But in the end everything you say refers to the word just as a friend" ucap Gea, "waw ... amazing ..."


Javir menoleh kembali menatap Gea, dan tangannya terkepal melihat Gea tersenyum seakan biasa saja.


"You make me fly and .... BOOM!" Seru Gea heboh, "menjatuhkan gue, seperti biasa sifat seorang Javir Erlangga sang ladykiller. Apa sampai disini loe belum paham?."


Javir melangkah marah menghampiri Gea, kedua tangannya mencengkram sandaran kursi dikedua sisi kepala Gea, mengurung Gea lebih tepatnya.


Sebelah tangannya melepas kaca mata hitam yang Gea kenakan dan melemparnya sembarangan, membuat tatapan mereka bertautan tampa halangan.


"Jadi loe marah karena gue hanya meminta loe nganggep gue temen?" Tanya Javir dengan suara mendesis.


Gea diam, balas menatap Javir dengan tatapan Tajam. "Enggak, karna meski loe minta kita berteman gue gak mau."


"Tapi kalau gue minta loe beneran jadi Angel gue yang dulu, apa loe mau?."


"No" tolok Gea, "karena gue bukan Angela yang bodoh dan tolol yang bisa loe bodoh-bodohi."


Mereka kembali terdiam beberpa detik, masih dengan posisi Javir yang mengurung Gea.


Perlahan wajah Javir, mendekat hingga menyisakan jarak sejengkal diantara mereka.


"Bagaimana kalau gue bilang gue cinta sama loe tapi gue takut untuk bilang secara langsung, karena loe pasti gak akan mau."


Gea tersenyum perlahan, tatapan matanya begitu lembut enatap Javir. "Gue gak suka berandai-andai Je" uvap Gea lembut.


Tatapan mata Javirpun berubah, "tapi coba saja berandai, dan jika loe ..."

__ADS_1


Tok tok tok ...


Suara ketikan pintu menghentikan kalimat Javir.


Gea menghela nafas, mendorong dada Javir menjauh darinya.


Javir berdiri, menatap Gea yang perlahan berdiri dan berjalan kearah pintu kamar.


Tok tok tok ....


Pintu kembali diketuk dsri luar.


"Iya bentar" teriak Gea.


Javir beranda menatap kelaut lepas didrpannya, menghembuskan nafas dan menarik nafas bergantian beberpa kali.


"Hai Faris"


Kepala Javir seakan ditarik untuk menoleh menghadap kearah Gea yang masih berdiri pintu kamar yang dia buka setengah.


Faris?


Jabir yang merasa penasaran apa yang akan mereka bicarakan langsung melangkahkan kakinya dengan lebar mendekat.


"Gue mau tanya keseriusan loe tentang apa yang loe katakan tadi" ucap Fariz, "boleh gue masuk?."


Tangan Javir langsung mengepal kuat, otalnya berputar seketika, membuka bajunya dengan cepat.


"Maaf lagi berantakan didalem" tolak Gea, "dan untuk yang tadi ...."


"Hai Honey"


"Hah"


Gea tercekat seketika, Javir memeluknya dari belakang.


Jabir bahkan meletakkan wajahnya sejejer denga wajah Gea, menatap tajam pada Faris namun tersenyum lebar.


"Oh ... dia drumer yang tadi kamu ajak pacaran" ucap Javir sambil tertawa kecil, "maaf tadi kami ada sedikit masalah dan dia memancing amarah gue dengan ngajak loe pacaran."


Faris yang tadinya menatap tajam pada Jabir melirik pada Gea menuntuk jawaban, tetapi Gea yang terkejut dengan ulah Javir hanya bisa mematung.


"Jika kalian gak ada urusan lagi, bisa loe pergi?" Pinta Javir, "karena kita mau ngelanjutin urusan kita."


Javir semakin memper erat pelukannya.


"Je"


Gea mulai tersadar, tatapan Faris menatap kearah tangan Jabir yang memeluk pinggang Gea daro belakang.


Tangan Gea ingin melepaskan diri dari belitan tangan Javir tetapi Javir semakin memeluknya erat menarik Gea mundur, menutup pintu dengan menendangnya.


"JE!" Teriak Gea marah.


Memberontak meleoaskan diri dari pelukan Javir.


Matanya menatap Javir nyalang, menuh amarah yang terpancar.


Javir sendiri malah tersenyum lebar, berjalan dengan santai menghampiri Gea, merentangkan tangan ingin memeluk Gea lagi.


Gea mengambil guling dan memukul-mukul Javir dengan brutal. "Kalo ngomong jangan ambigu gitu Je ... kurang ajar ... gimana kalau dia mikir yang aneh-aneh" teriak Gea berang.


Javir hanya tertawa, menangkap guling yang Gea pukulkan padanya, menariknya sehingga Gea ikut tertarik dan memeluk Gea.


"Kalau dia mikir aneh-aneh, berarti otaknya ada yang gak beres" uvap Javir.


Javir menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Gea, perlahan melanglah kesamping hingga tampa sadar Gea ikut melangkah.


Mereka terjatuh diatas kasur, Gea menahan nafas, mendorong Javir menjauh.


Javir tersenyum lebar, menatapnya dengan tatapan mata memicing. "Jangan-jangan loe yang lagi mikir aneh-aneh sekarang."


"Javir!" Teriak Gea berang.


Gea duduk, akan turun dari kasur, tetapi Javir menyentak lengannya agar Gea kembali terlentang di kasur, dan memeluk Gea dari samping.


"Gue ngantuk An, kemarin banyak kerjaan kurang tidur" ucap Javir lirih. "Pagi-pagi dipusingin loe ilang, di pesawat gak bisa tikur mikirin loe, nyampek sini loe malah marah-marah. Gue capek lahir batin" suara Jabir semakin lirih.


Gea berbalik badan.


Javir memeluknya dari belakan, tangan kirinya begitu erat memeluk pinggang Gea, tangan kanannya melingkar di leher Gea.


"Gue mau tidur bentar aja, jangan pergi."


^-^

__ADS_1


__ADS_2