
Meja makan panjang dipenuhi dengan berbagai macam makanan yang memenuhinya.
Diujung meja ada seorang pria berumur namun masih memiliki tubuh yang tegap duduk dengan ponsel ditanganya sedang mengamati sesuatu.
Meski sebagian kursi yang mengelilingi meja itu sudah terisi, masih ada beberapa kursi yang kosong sehingga dia masih belum mau memulai makan malam keluarga besarnya.
Pak Lutfi Yasa, tidak menghiraukan istri, anak, menantu bahkan cucu dan cicitnya yang sedang bercanda dan bergurau sebelum makan malam keluarga besar mereka dimulai. Pak Lutfi malah fokus dengan laporan yang diberikan oleh salah satu orang suruhannya untuk memantau keluarga Malvin.
Sejak Malvin mengembalikan saham yang dibeli oleh Javir, Pak Lutfi sangat penasaran dengan keluarga Malvin.
Tidak pernah terfikirkan Malvin akan memiliki rumah yang masih bisa masuk dalam kategori mewah, memiliki anak sekaya Javir di usia muda, bahkan memiliki anak seorang calon dokter yang menjanjikan.
Pak Lutfi bahkan mencari tahu dari mana asal mula kesuksesan Malvin, dia berfikir jika itu dari Abraham Ganendra sang sahabat Malvin, tetapi setelah Malvin diusir dari keluarga Yasa mereka tidak berhububgan kembali, bahkan Pak Lutfi sangat mengungatnya jika Abra mendatanginya dengan tatapan amarah menanyakan dimana Malvin.
Anak yang dia usir, anak yang dia kucilkan dan anak hang dia pandang sebelah mata malah sukses melebihi dirinya yang mempunyai perusahaan.
Sukses tampa uluran tangan dari seseorang.
"Hai semua ..." sapaan dengan suara menggelegar menarik perhatian Pak Lutfi dari layar ponselnya.
Qia, salah satu cucunya datang dengan menggandeng tangan seseorang yang tidak asing di matanya.
"Alaric!"
"Oh My God ... Alaric Lorenzo!"
Nama Alaric Lorenzo yang disebut-sebut oleh beberapa orang keluarganya membuat Pak Lutfi mengerutkan kening.
Qia menarik lengan Alaric mendekati Pak Lutfi, senyimnya terukir lebar dibibirnya.
Kening Pak Lutfi mengerut semakin dalam melihat Alaric yang hanya bisa pasrah mengikuti langkah Qia.
"Opa dan semuanya kenalin dia Alaric Lorenzo Romanov" ucap Qia memperkenalkan Alaric dengan nada penuh bahagia.
Alaric menundukkan kepala sopan dan menatap Pak Lutfi dengan senyum segaris.
"Tidak menyangka salah satu pemegang saham terbesar kita bersama putriku."
"Oh ya?" Tanya Qia terkejut.
Kepala Pak Lutfi menoleh pada Hilman, salah satu anaknya dan Ayah dari Qia.
"Dia pernah datang dengan Pak Abra dan kedua anaknya saat rapat terakhir kali para pemegang saham " jelas Hilman.
Alaric tersenyum lebar, "hanya nama saja tetapi saham itu milik teman saya."
"Ah ... Loe jangan merendah deh" tegur Qia dengan nada lembutnya.
"Gue gak merendah" bantah Alaric, "temen gue yang beli dan dia meminjam nama gue" lanjut Alaric sambil melirik Pak Lutfi.
"Oh ya ... Saya ingat" ucap Pak Lutfi singkat.
"Tuh Opa aja ingat kalau loe salah satu pemegang sahamnya" ucap Qia masih dengan seyum lebarnya, "jangan merendah deh .. Kita tahu loh kalau loe itu ..."
"Sahan itu milik Javir" potong Alaric.
Kening Qia mengeruymt mendengadnya, menoleh pada Pak Lutfi yang sudah tidak lagi memperhatikan dirinya dan Qia.
Lalu Qia menoleh pada beberapa orang yang berada disana seakan tdak percaya dengan nama yang baru saja dia dengar dari Alaric.
"Maksud loe ..."
Qia seakan ragu untuk bertanya sehingga dia hanya bisa mengeluarkan dua kata itu dari mulurnya.
"Ya" ucap Alaric dengan senyum lebarnya, "sebenarnya saham atas nama gue, Pak Abra dan kedua anaknya adalah milik Javir Erlangga putra dari Papa Yones Malvino."
Amat sangat jelas Alaric mengucapkannya, menatap Pak Lutfi yang seakan tidak menghiraukan perkataan Alaric.
__ADS_1
Berbeda dengan yang lainnya yang saling tatap bahkan ada diantara mereka yang seakan tidak mengenal siapa Malvin dan Javir yang dibicarakan Alaric.
"Tidak mungkin hampir lima puluh persen saham Yasa milik anak itu" ucap Hilman tak percaya.
"Tetapi itu yang sebenarnya" bantah Alaric, "bukankah begitu Pak Lutfi?."
Semua mata beralih menatap Pak Lutfi.
Tidak ada yang mengatakan apapun, seakan mereka menunggu jawaban dari Pak Lutfi.
Kesunyian ruangan itu tiba-tiba pecah dengan tawa sarkasme dari Qia yang berhasil menarik hampir keselurahan perhatian semua orang disana kecuali Pak Lutfi.
"Tidak mungkin anak seperti dia bisa memiliki saham perusahaan Yasa kami" ucap Qia disela-sela tawa kecilnya, "lima persen saja hampir tidak mungkin Alaric."
"Kenapa tidak?" Tanya Alaric menatap Qia dnegan tatapan tajamnya.
"Ya gak mungkin aja anak seperti itu yang ... Gak akan mungkin lah Al."
"Memangnya dia anak yang seperti apa?" tanya Alaric dengan nada mendesisi.
Qia yang melihat raut wajah tidak Alaric padanya langsung gelagapan melirik kebeberapa orang yang berada disana seakan meminta bantuan.
Alaric yang pada dasarnya memang tidak suka jika orang lain merendahkan teman-temannya menyentak lengannya dari rangkulan Qia.
Tatapan Alaric semakin tajam menatap Qia.
"Dia ... Dia anak diluar nikah, dia bahkan punya anak diluar nikah juga. Jadi gak mungkin dia bisa .."
"Dari siapa loe tahu omong kosong itu?" Potong Alaric.
"Gue liat lah dengan mata kepala gue sendiri Al, dia dengan Gea dan anak kecil" jelas Qia. "Anak itu manggil si Javir itu Ayah, jadi pastinya dia ank diluar nikahnya dengan Gea dong ... Gak mungkin dong dia ..."
Qia tiba-tiba tercekat saat Alaric menarik kerah bajunya.
Beberapa pekikan dari orang-orang disana dapat Alaric dengar, namun tidak Alaric hiraukan karena amarah sudah menguasai dirinya.
"Jangan pernah sembarangan menuduh mereka enak jidat loe" desis Alaric.
"Sekali lagi loe ngata-ngatain mereka, gue hak segan segan cabut lidah loe didepan mereka semua" ancam Alaric, "jangan pernah ngenipu gue unyuk memperkenalkan gue ke keluarga besar loe, because nothing happened between us."
^-^
Saat pagi, Danil akan home scooling diruangan samping ruangan Javir.
Tetapi jika Javir mempunyai jadwal keluar seharian, dia akan meliburkan Danil dan membawa Danil kemanapun bersamanya.
Setengah haripun dia tidak pernah membiarkan Danil jauh darinya.
Bahkan saat hari liburpun seperti hari inj Javir masih saja menyibukkan dirinya dengan pekerjaan dan mengawasi Danil yang selalu bermain disekitarnya.
"Ayah" panggil Danil.
Tangan Javir teranhkat melambai padanya.
Danil sedang membuat istana pasir tidak jauh dari tempatnya duduk.
Hari ini Javir berada dipinggir pantai dengan Danil, dan dia sedang melakukan zoom meeting dengan Regan, Aslan dan Alaric.
"Kapan pulang?"
Pertanyaan Aslan membuat senyum Javir perhalan menghilang.
Tatapan Javir kembali beralih pada layar macbooknya yang sedang menampilkan ketiga temannya.
Bahu Javir terangkat pelan lalu menggelngkan kepala, "mungkin kalau loe sama Gea nikah gue baru pulang kesana" jawab Javir ragu menatap pada Aslan.
Bibir boleh tetap mempertahankan senyum, tapi kedua tangannya saling bertautan dan tatapan matanya menatap kelain arah setelahnya, tidak lagi menatap kelayar macbooknya.
__ADS_1
"Not An anymore" ucap Alaric yang mengadari jika Javir tidak lagi memanggil Gea dengan nama An.
"Kalau dia milik orang lain ya gue gak mungkin manggil dia dengan An bukan?" Tanya Javir yang mendengar ucapan Alaric.
Aslan yang mendengarnya malah meringis, "sepertinya gue gak akan nikah ama An, karena gue takut loe racun kalau gue gak cepet mati."
Sontak Regan dan Alaric tertawa terpingkal-pingkal mendengar kalimat Aslan yang sepertinya sadar jika Javir sedang menyindirnya sejak tadi.
Javir pernah mengatakan itu, dan Aslan mengingatnya dengan jelas bahkan Regan dan Alaric jadi kembali mengingat kalimat Javir yang akan meracuni suami Gea jika suami Gea tidak juga mati dan membuat Gea janda.
"Danil boleh minum ini?"
Javir menoleh pada Dnil dan mengangguk.
Tangan kecil Danil mengambil gelas minuman Javir dan duduk disamping Javir sambil meminumnya dengan tenang.
"Hai Enil apa kabar?" Tanya Regan.
"Hai dokter" sapa Danil girang, "Enil baik dna sehat" serut Danil.
"Gimana Bali?" Tanya Aslan, "seneng gak disana?."
Kepala Danil mengangguk cepat, "iya bahagiaaa ... Banget, apalagi ada Ayah. Dari dulu Enil gak pernah liat pantai, sekarnag Enil susah bisa loliat tiap hari. Om tahu gak ..."
Danil berceloteh terus.
Dia menceritakan segala hal pengalamannya selama saminggu ini.
Tangan Javir mengelus puncak kepala Danil, dia tersenyum dengan lebar melihat Danil begitu bahagia menceritakan semuanya pada ketiga temannya.
^-^
"Apa Javir mempunyai anak diluar nikah?"
Langkah kaki Malvin terhenti seketika.
Sebelum keluar dari dalam mobilny Malvin sudah melihat Pak Lutfi yang duduk dilobby perusahaannya tetapi dia terus saja melangkah tidak menghiraukannya.
Hingga satu kalimat pertanyaan itu membuat langkahnya terhenti seketika.
"Apa ... Apa yang Papa katakan benar?"
Pak Lutfi kali ini bertanya dengan suara lirih.
Perlahan Malvin berbalik badan menatap Pak Lutfi dengan tatapan datarnya. "bukankah saat terakhir kita bertemu saya sudah meminta anda untuk ti ..."
"Tolong jawab" potong Pak Lutfi marah, "apa anak itu mempunyai anak diluar nikah atau tidak."
Malvin tertawa kecil mendengarnya lalu menatapnya tajam, "iya atau tidaknya apa urusan Anda?, who are you?. Karena tidak ada untung dan ruginya untuk anda, dia keluarga saya, orang yang sudah anda keluarkan dari keluarga anda, jadi dia bukan siapa-siapa anda."
Terlihat tangan Pak Lutfi menggenggam tongkat ditangannya dengan erat, balas menatap Malvin marah.
"Ini keluarga saya, jadi jangan ikut campur akan apapun, permisi.
Setelah mengatakan hal itu Malvin kembali berbalik badan dan pergi dari hadapan Pak Lutfi.
Tangannya mengepal kuat menahan amarahnya agar tidak meledak, Pak Litfi mengajukan pertanyaan didepan puluhan pasang telinga.
Dret ...
Ponsel Mavin bergetar di saki celana sehingga dia mengangkat panggilan telephonennya.
"What?" Tanya Malvin malas.
"Gue kirim foto, tolong segera kumpulkan informasi tentang dia, namanya Sebastian dia ..." ucapan Abra menggantung membuat Malvin menaikkan sebelah alisnya, "dia baru pulang dari rumah gue setelah meminta izin untuk melamar Gea."
Mendengar Gea ada yang akan melamar membuat kepala Malvin pening seketika.
__ADS_1
Baru saja seminggu Javir pergi ke Bali Gea sudah ada yang melamar, membuatnya menebak-nebak bagaimana nasib Javir.
^-^