
Javir memejamkan mata mengingatnya.
Dia melirik pada Gea yang tidur disamping Aslan, terlihat tenang bersandar pada pundak Aslan.
Terkadang Javir merasa iri ... Bukan ... Dia cemburu dengan kedekatan Aslan dan Gea, bahkan terkadang juga cemburu pada Regan yang bertengkar dengan Gea lalu tertawa setelahnya.
"Turunkan saya di ASG Pak" pinta Javir pada supir yang menjemput mereka dibandara.
"Gak ke hotel?" Tanya Alaric.
"Enggak" jawabnya singkat.
Otaknya kali ini benar-benar serasa mau pecah, dadanya bahkan tidak tenang terus saja bergemuruh tak berhenti.
Javir butuh ketenangan sejenak sebelum bekerja.
Jika selain urusan bisnis dan senang-senang, jangan harap Aslan dan yang lainnya mau mendengarkan, terlebih kali ini urusan mumetnya otok Javir yang berhubungan dengan Gea.
"Hai Pap" sapa Javir masuk kedalam ruangan Malvin tampa dipersilahkan.
"What happened?" Tanya Malvin duduk dikursi kerjanya dengan menyandarkan punggungnya.
Javir duduk dengan lesu di sofa panjang ruangan Malvin.
"Something wrong" ucapnya sambil menunjuk pelipisnya sendiri.
"Apa yang kamu takutkan?" Malvin berjalan sambil menghampiri Javir.
Salah satu keuntungan Ayahnya mebgetahui apa yang dia lakukan, tampa bicara dia akan tahu apa yang terjadi dan apa yang Javir rasakan karenanya.
"Bukan takit Pap" bantah Javir, "lebih tepatnya bingung mau ngadepen gimana?, atau mau melangkah dari mana?."
Malavin terkekeh mendengarnya, "lalu kesini mau apa?, kalah Papa sih silahkan melangkah sesukamu. Tapi ingat Papa selalu mengawasimu, menegur jika salah dan hanya bisa memberi saran yang terbaik, tidak akan melarang, bahkan tidak memiliki niat untuk mengatur kehidupanmu. This is your life son ... come on ..."
Javir tertawa kecil mendengarnya, "ya ... selalu mengawasi, adalah kewajiban dan kebiasaan Papa."
Malvin tertawa lepas.
"Sudahlah ... Je mau balik ke hotel" ucap Javir sambil berdiri dari duduknya.
"Kenapa hanya sebentar?" Tanya Malvin.
"Memang tidak berniat lama, hanya ingin menenangkan pikiran sejenak dengan mendengar ceramah Pap."
"Kamu ini" desis Malvin, "lalu ala kamu sudah tenang?."
Javir hanya menyengir dan kembali berjalan keluar ruangan Malvin, cukup berbicara sebentar sudah cukup menenangkan dada Javir.
Meski Kavir tidak begitu mengerti tujuan Malvin mengatakan itu semua, dia cukup tenang mendengar kalimat Malvin yang menunjukkan kepeduliannya padanya.
Buk ...
Javir mwnghentikan langkahnya, menatap pada seorang pria paruh baya yang baru saja menabraknya.
"Kakek baik-baik saja?" Tanya Javir.
Pria itu menatap Javir dengan senyum, "saya baik-baik saja maaf."
Baru saja akan bertanya apa keperluan kakek itu, ekor mata Javir melihat Nanda berjalan dengan santainya masuk kedalam lobby perusahaan.
"Saya yang minta maaf Kek, permisi."
Javir buru-buru beranjak pergi dari sana, melanglah dengan langkah lebar mendekati Nanda.
"NANDA!" Teriaknya menggelegar.
Melihat namanya di panggil, Nanda mrnoleh kearah Javir, lalu gelagapan melihat Javir yang berjalan dengan langkah lebat mendekatinya.
Dari raut wajahnya, Javir pasti akan marah, sebelum Javir marah dan melam piaskannya dengan mengajak bertarung, Nanda memilih kabur menghindarinya.
Pria baya itu menatap Javir yang mengejar Nanda dengan senyum lebar dibibirnya.
^-^
Tok tok tok ...
Malvin yang akan kembali duduk dikursinya menoleh kearah pintu, "ngapain tuh anak pakek letok pinti segala?" gumam Malvin sambil berjalan menuju pintu ruangannya.
Saat membuka pintu, mulautnya sudah terbuka akan mengomeli Javir yang sok sopan tiba-tiba tercekat.
__ADS_1
Pria didepannya berdiri menatap Malvin dengan tatapan datar namun tajam.
"Hai son" sapanya, dengan suara baritonnya.
Kembali menarik kesadaran Malvin.
"Apa kamu tidak akan mempersilahkan Papimu masuk?"
Malvin tersenyum sinis mendengarnya.
"Ini kunju ..."
"OKTA" teriak Malvin melengking menghentikan kalimat pria didepannya.
Seorang perempuan berjalan dengan anggun menghampiri Malvin. Okta, sekretaris Malvin di perusahaan keamanan ASG.
Malvin memutuskan tautan matanya dengan pria didepannya, beralih menatap Okta dengan tatapan tajam.
"Bawa Tuan Lutfi ketempat meeting klien" ucap Malvin tegas dengan nada perintah.
Tuk ...
Malvin meringis mendapat pukulan dari tongkat pria didepannya.
"Anak kurang ajar, berani kamu memanggil Papimu dengan nama?" bentak Pak Lutfi.
"Apa anda tidak dengar saya memanggil anda Tuan?."
"Apa kamu minta aku hajar?" Ancamnya.
Malvin langsung menghindar kala Pak Lutfi mengangkat tongkatnya.
Plak ...
Plak ...
Plak ...
Pak Lutfi memukul lengan Malvin pelan, "minggir biatkan aku masuk" ucapnya, "dan kamu tadi siapa namamu ... Em ... Okta, bawakan saya kopi."
"Ini bukan perusahaan anda Tuan" tegur Malvin.
Malvin kesal mendengarnya, "apa anda sudah hilang ingatan sudah membuang saya?."
Berjalan mendahului Pak Lutfi dan duduk di kursi miliknya di belakang meja kerja.
Pak Lutfi sendiri duduk disofa, menatap kesekeliling ruangan Malvin. "Lebih besar ruanganku" celetuk Pak Lutfi.
"Apapun niat anda, tolong jangan mengganggu ketenangan keluarga saya" ucap Malvin.
Pak lutfi tersenyum mendengarnya, tidak terlihat jika dia merasa tersinggung dengan ucapan Malvin.
"Jika anda kesini karena urusan pekerjaan, saya akan meminta Okta untuk me ..."
"Ayo kembali" ucap Pak Lutfi lembut, "tidak ada yang harus mengatakan maaf atau memaafkan karena kita sama-sama salah."
^-^
Flash Back
"Bubda jak mau tahu, pokoknya cari Ar sekarang juga."
Dan tiga pria orang didepannya hanya diam tidak mengatakan apapun.
"Inget ya ... Bisnis kalian masih dibawah ..."
"Bunda ..." keluh Aslan.
Hal yang sudah lazim, Ara kan mengeluarkan kartu Asnya. Menggunakan kekuasaan Abra yang menjadi infestor terbesar mereka.
"Jangan main ancem-anceman deh Bun" keluh Alaric.
Ara duduk dengan lemas menatap mereka dengan tayapan memelas. "Bunda kan kangen Ar ... Dia baru beberapa minggu ketemu Bunda masa ngilang lagi?."
Javir masih stay cool.
Dia tidak mau berurusan dengan Regan, karena konsekuensinya dia akan kehilangan leptop atau barang yang dia gunakan untuk melacak keberadaan Regan.
"Je ..."
__ADS_1
Mendengar namanya dipanggil, pundak Javir langsung meresot.
"Kalau bjsnis kalian di blok nanti punua Gea pasti ikutan juga" ucap Ara dengan nada lirih.
"Kenapa Bunda malah bawa-bawa Gea?" Tanya Javir.
Ara menyengir dengan tatapan mata berbinarnya, "karena hanya kamu yang bisa melacak Ar, dan Gea adalah kuncinya."
"Tapi Bun .. Nanti ..."
"Bunda bantu deh ... Janji" potong Ara, "kamu cari Ar aja dulu, lalu pergi jemput dia hitung-hitung sambil nenangin diri sebelum tancap gas deketin Gea lagi."
Mata Javir menyipit menatap Ara, "Je gak ngerti, jadi maaf Je tetap gak mau" tolak Javir.
Ara menyilangkan kakinya, bersandar pada sandaran sofa menatap Javir dengan senyjm lebarnya. "Yakin?, padahal kalau kamu udah nenangin diri terus mau deketin Gea lagi, Bunda berniat mau bantu loh."
Javir menggelengkan kepalanya cepat.
Dia yakin bisa berusaha sendiri untuk kembali menormalkan hubungannya dengan Gea tampa bantuan Ara.
"Ok kalau nanti An Angel san Raja tutup tanggung nawab Je" putus Ara, sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Bunda" seru Javir, merampas ponsel Ara, mencegahnya menghubungi Abra. "ah ... Bunda mah amin ancem-ancem mulu" gerutu Javir, "kalian juga" Javir menatap Aslan dan Alaric dengan kesal, "bantuin kek ... Malah diem aja!."
Aslan dengan waja tampa berdosanya mengangkat kedua bahunya, "emangnya kita bisa apa?" ucapnya sangat amat santai.
Flash end
Dan disinilah alhirnya mereka dipesawat milik Perusahaan Ganendra.
Javir menatap keluar jendela pesawat, mereka berada diatas pulau madura dimana Regan dan Belda melarikan diri dari Ayah Belda, Pak Damar.
Perlahan pesawat yang mereka tumpangi mulai mendarat, Aslan yang sejak tadi tertidur membuka mata.
Ancaman Ara tidak bisa diremehkan, karena Abra akan melakukan apapun untuk Istri tercintanya.
Jadi ... Setelah Ara pulang, Javir langsung mencari keberadaan Regan saat itu juga, dan hasilnya ... Leptop Javir yang menjadi sasaran korban keganasan Regan, leptop Javir mati total dan hanya Regan yang bisa mengembalikan kesemula.
"Panas" keluh Alaric.
Aslan tertawa kecil mendengarnya, "meski panas ... Tapi disini loe bisa ngerasain ketenangan dan jauh dari hiruk piruk Ibu Kota."
"Gue akan tujukin tempat-tempat yang membuat loe gak nyesel menginjakkan kaki dipulau yang panas ini" sahut Javir.
Aslan pernah tinggal beberapa bulan dipulai ini dengan Ara dan Regan.
Sedangkan Javir selama empat tahun dia tinggal pulai ini dengan keluarganya sebelum memutuskan untuk kuliah ke Jakarta.
"Ok ... Mari kita nikmati ketenangan disini sebelum otak kembali terkuras" seru Alaric.
Javir tersenyum mendengarnya.
Ya ...
Mereka semua butuh ketenangan lahir bathin.
Saat mereka ke Bali dua minggu lalu, bukan ketenangan yang Javir terima namun tekanan bathin.
Dari permasalahannya dengan Gea yang tak berujung.
Tekanan dari Abra untuk mencari Regan.
Dan ancama Ara pada bisnis mereka, benar benar memeras otak.
Sejak membantu Malvin berurusan dengan keluarga Ganendra hidupnya tidak tenang dan tentram seperti dulu, selalu ada saja permasalahan yang rumit menguras otaknya.
^-^
Mohon bagi para Readers yang baik hati
Jangan lupa ...
Selalu tinggalkan jejak ๐
๐Like and ๐ฌComment
Demi mendukung karya Author dan menyemangati Author ๐
Love You ๐
__ADS_1
Unique_Muaaa