Watching You

Watching You
Jarak yang dibuat


__ADS_3

Resa berdiri mematung dengan rambut basah dibalut handuk, menatap kearah Malvin yang berdiri tepat didepannya.


"Setelah menginap di hotel selama beberapa hari sekarang numpang d rumah Kak Gea?" Tanya Malvin, "uangnya sudah habisa?."


Kepala Resa menggeleng pelan, matanya memerah terlihat menahan diri agar tidak menangis.


Malvin melangkah mendekati Resa dan mengelus rambutnya, "pulang ya ..."


"Tapi Pa ..."


"It's ok, Papa akan beresin semuanya" bujuk Malvin.


Akhirnya kepala Resa mengangguk pelan.


Gea yang berada disana hanya bisa menghela nafas lega meski tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua.


"Papa bantu keringkan rambut sudah itu pulang."


Resa kembali masuk kedalam kamar Gea.


Malvin berbalik badan menatap Gea yang masih berdiri di dekat tangga.


"Apa restoranmu tidak memiliki makanan sisa?" Tanya Malvin.


Gea mengangkat sebelah alisnya.


"Resa pasti belum makan malam" ucap Malvin dengan senyum lebarnya, "dan orang yang akan datang sebentar lagi sepertinya juga begitu."


Paham dengan perkataan Malvin Gea mengangguk. "Tidak ada makanan sisa, tapi saya akan masak."


"Terima kasih" ucap Malvin sebelum masuk kedalam kamar Gea menyusul Resa.


Gea mulaj mengeluarkan beberapa persediaan makanan yang berada didalam kulkas.


Didalam rice cooker masih ada nasi, dia akan membuat nasi goreng agar cukup untuk tiga orang nantinya.


Saat Gea sudah hampir selesai dan mulai menata piring, terdengar derap langkah mendekat menaiki tangga.


"Hah .... hah ..."


Suara ngos ngisan Javir menarik perhatian Gea.


Seperti perkataan Malvin tadi, Javir benar-benar datang ke An Angel. Dia bahkan berlari naik kelantai tiga setelah tidak menemukan Gea dan Malvin dilantai satu.


"Papa mana?" Tanya Javir sambil melangkahkan kakinya dengan lebar mendekati Gea, "Papa bilang apa sama loe?."


Gea mengerutkan kening mendengar rentetan pertanyaan Javir. "Dateng-dateng bukannya bilang hai malah langsung kasih rentetan pertanyaan" gerutu Gea.


Javir mundur saat Gea mendekan membuat Gea semakin keheranan.


"Abang" panggil Resa.


Gea yang sudah membuka mulutnya ingin menanyakan sesuatu langsung mengurungkan niatnya.


Resa berlari kecil menghampiri Javir dan memeluknya erat sambil menangis cukup kencang.


Javir mendongakkan kepala hendak menatap Gea, tetapi saat tatapan mereka bertemu, Javir langsung memalingkan muka.


^-^


Makannya sudah habis, bahkan Javir juga melihat Gea juga sudah selesai membersihkan dapurnya, tetapi perempuan itu masih menyibukkan diri di dapur mininya.

__ADS_1


Tatapan yang diberikan Gea tadi membuatnya merasa serba salah.


Dengan ragu Javir membawa gelas dan piring kotor miliknya dan milik Resa ke kitchen sing.


Belum juga sampai Gea sudah bergeser menjauh.


"Biarin aja" ucap Gea ketus.


Javir menoleh menatap Gea yang menatap gelas berisi susu stowbery kesuakaannya.


Wajah Gea terlihat dingin, dari tatapannya Javir bisa menyimpulkan jika Gea sedang msrah sekarang pada dirinya.


Javir menoleh kearah kamar Gea, Malvin sedang membantu Resa mengeringkan rambut disana. Perlahan Javir mendekati Gea tetapi Gea langsung beranjak pergi sehingga Jabir menahan pergelangan tangannya.


"An gue ..."


"Gue ngantuk" potong Gea tampa berbalik bada, "bisa kalian cepat pulang?."


"Bentar lagi mereka juga selesai" ucap Javir, "gue mau ..."


"Mau putus?" Tanya Gea dengan nada dinginnya.


Kali ini Gea berbalik badan menghadap Javir dan menatap Javir langsung.


"Kenapa sekarang berani balas tatapan mata gue?" Tanyanya, lalu melirik pergelangan tangannya yang masih Javir pegang. "Lepasin tangan gue, bukannya tadi loe gak mau berdekatan dengan gue?."


"An gue bi ..."


"Udah merasa puas?" Potong Gea lagin, "udah merasa gak penasaran lagi?."


Javir menyentak lengan Gea hingga tubuh mereka berdekatan, "bisa gak loe jangan main potong ucapan gue?" Desis Javir.


"Gak bisa" bantah Gea dengan nada seakan menantang, "meski loe udah merasa puas ngedapetin gue, udah gak penasaran lagi sama gue, bosen atau apapun alasan Ladykiller loe, gue yang akan mengatakan kata putus dulu."


Puntu Gea yang semula terbuka kembali tertutup rapat.


Mata Javir menatap nyalang pada Gea yang membalas tatapan matanya dengan penuh emosi didalamnya.


Gea menyentak tangannya dari genggamban tangan Javir, jarinya menunjuk dada Javar. "Sebelumnya loe hanya sekedar ngechat, sesudah itu gue gak tahu loe dimana beberapa hari terakhir ini, loe ngilang bagai ditelan bumi. Dateng-dateng langsung memberondongi gue dengan pertanyaan aneh, gak mau natep gue, menjaga jarak. Kalau loe emang mau udahan bilang, gak usah jadi pengecut."


Javir menyeka rambutnya dengan jemarinya sebelum melangkah semakin mengikis jarak diantara mereka dan merengkun Gea dalam pelukannya.


Gea meronta dalam pelukan Javir, tetapi Javir semakin erat memeluknya.


"Maaf" ucapnya lirih, "maaf kalu kelakuan gue buat loe tersinggung dan nyakitin perasaan loe."


Gea tidak lagi memberontak, tetapi tidak membalas pelukan Javir.


"Gue takut ucapan orang itu bener, gue gak mau An"sangat lirih Javir mengataknnya.


Dengan ragu tangan Gea terangkat hendak membalas pelukan Javir, tetapi dia tidak melakukannya.


"Gue gak berniat ngejauh apa lagi ngilang. Pada awalnya gue hanya gak mau ketemu loe sebelum gue bisa ngendaliin diri agar gak meluk loe tiap kali ketemu. Tapi setiap kali kita chatingan dan menelfon ,gue merasa kangen, tapi gue nahan diri untuk gak ketemu loe. Maaf kalau gue meluk loe begini, gue gak akan melakukan hal lebih gue janji. Meski gue anak ya ..."


Icapan ngalur ngelindur Javir terhenti, Javir membuka matanya saat tersadar akan mengatakan statusnya yang adalah anak diluar nikah.


Dadanya serasa sesak seketika, Javir menenggelamkan wajahnya di pundak Gea, tampa terasa air matanya mengalir.


Setelah sekian lama dia bisa menangis, menangis memeluk Gea yang membalas pelukannya dan menepuk-nepuk punggungbya menenangkan.


"Gue gak mau putus" uvap Javir, "untuk sampai ketahap ini dan bersama loe begini gue bertahun-tahun seperti orang gila yang hanya bisa mentengin layar ponsel gue. Gue gak mau putus, no."

__ADS_1


Perlahan Gea melepaskan pelukan Javir.


Tangannya mengusap air mata Javir yang masih tersisi dipipinya, Gea menghela nafas menatanya dengan tatapan sendu.


"Kenapa nangis?" Tanya Gea lembut, "wanna story somenthing."


Kepala Javir menggeleng pelan, "loe bilang mau putus jadi gue nangis."


Gea tersenyum segaris, "I'm sure it's not because of it."


Javir terdiam mendengarnya.


Senyum Gea semakin lebar, "it's ok kalau gak mau cerita sekarang. Tapi kalau memang seandainya udah merasa bo ..."


"NO!" Bantah Javir, "sampai kapanpun No!."


Javir kembali menarik Gea dalam pelukannya.


Sampai kapanpun dia tidak ingin hubungan mereka berakhir.


Puas?


Penasaran?


Javir menginginkan Gea bukan hanya sekedar ingin merasa puas dan penasaran akan dirinya.


Javir sudah sampai pada tahap mencintai dan ingin memiliki.


Bukan hanya sekedar kesenangan dan kepuasan seorang remaja yang bisa menaklukkan seorang perempuan yang membuatnya penasaran.


^-^


Klek ...


Javir berbalik badan menatap kearah pintu kamarnya yang baru saja Malvin kunci dari dalam.


Dia baru saja masuk kamar.


"katakan apa uang dia katakan padamu!"


Javir mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan siapa Dia yang dimaksud Malvin barusan.


Kedua tangan Malvin masuk kedalam saku celananya menatap tajam pada Javir. Sebagai anak Javir sangat paham dengan tatapan yang diberikan Malvin sekarang ini.


"Katakan apa yang sudah Pak Litfi Yasa itu katakan padamu Javir!" Desisnya dengan suara rendah.


Javir menghela nafas, menunduk untuk lihat jemarinya yang sedang sibuk membuka kan ing kemejanya. "Tidak ada apapun, jadi ...."


"Papa tahu wataknya" potong Malvin, suaranya mulai meninggi. "Katakan apa yang sudah dia katakan padamu sehingga kamu menjaga jarak dari Gea, apa sebenarnya yang kamu takutkan dari perkataannya?."


Javir mengangkat wajahnya menatap Javir dengan senyum segarisnya, "aku akan berakhir seperti Papa yang akan menghamili anak orang diluar nikah."


Malvin terdiam beberapa saat, bahkan tatapan matanya berubah tidak semarah dan semerah tadi.


"Setiap kali aku bertemu Gea, aku tidak akan tahan untuk menggenggam tangannya bahkan memeluk. Aku hanya mencoba untuk bisa menahan diri agar tidak begitu, dan ..."


"Papa percaya kamu tidak akan melakukannya" potong Malvin, "meskipun itu terjadi pasti cerita kita pasti akan sama. Sama-sama dijebak atau tidak sengaja, I trus you."


Kening Javir mengerut mendengarnya, "Papa dijebak?."


"Ya" jawab Malvin, "dengan anak sulung istri kedua Pak Lutfi."

__ADS_1


^-^


__ADS_2