Watching You

Watching You
Sepuluh Tahun


__ADS_3

Dari kemarin Gea sudah meninap di hotel Raja Thone, karena malam ini adalah malam perayaan ulang tahun perusahaan Ganendra dia memastikan semuanya sempurna sampai kemalaman dan kembali mengecek lagi dari pagi hingga sore hari.


Dan Javir sejak tadi mondar mandir seperti setrikaan, menebak-nebak Gea akan turun melalui lift atau tangga dilobby karena kamar Gea dilantai dua dan lebih dekat dengan tangga.


"Tapi kalau dia capek dari kemarin seharian kerja pasti dia turun pakek lift"


Kembali Javir berjalan kearah lift, beljm juga sampai didepan lift langkah Javir terhenti, entah untuk yang kesekian kalinya Javir berbalik badan.


"Tapi kalau menurut kepribadian dia yang sederhana, dia akan turun menggunakan tangga."


Beberpaa karyawan yang sejak tadi berada dilobi hanya bisa berbisik-bisik membicarakan Javir.


Dan untuk kali ini lamglah Javir terhenti bukan karena berubah pikiran untuk menunggu Gea di depan lift, tetapi dia melihat Gea yang berjalan perlahan mulai menuruni tangga.


Gea menatap kearah pintu lobby tidak menatap keanak tangga yang sedang dia turuni.


Gaun putih selutut dengan bunga-bubga kecil berwarna biru, terlihat sederhana, tetapi mampu membuat Javir terdiam ditempatnya sekarang.


Teringat saat Gea menuruni tangga malam pembatalan pertunangan mereka, dengan gaun putih polesnya menuruni tangga, dan javir menatapnya dari bawah seperti sekarang.


Javir menghembuskan nafas berat sebelum melangkah menaiki tangga dengan cepat, meraih tangan Gea untuk melingkar di lengannya.


"Pegangan nanti jatuh" ucap Javir, menggenggam tangan Gea yang hendak menarik tangannya.


"Kenapa malah ada disini?, yang di ..."


"Banyak orang yang mengurus ballroom" potong Javir.


Gea mendengus.


"Untuk malam ini, percayakan semua pada staf kita. Ayah tidak akan suka kalau anak gadisnya menghilang dan malah sibuk sendiri."


Beberapa orang menatap kearah mereka yang sedang menuruni tangga bersama.


Gea dengan dressnya dan Javir dengan jas hitamnya, mereka terlihat seperti pasangan malam ini.


Kembali merasakan Gea kembali menarik tangannya, Javir menautkan jemari mereka dan berjalan dengan cuek tampa menghiraukan tatapan semua orang.


"Je" panggi Gea lirih, "Jeje."


Langkah Javir terhenti, perlahan berbalik badan menatap Gea dengan senyum lebarnya. "Aku merindukan panggilan itu" ucap Javir lembut.


Mereka terdiam saling tatap lama, seakan sedang menyelami perasaan masing-masing.


"Aku merindukanmu Angel" ucap Javir begitu lirih dan lembut, "sangat."


Terasa tangan Gea melemas dalam genggamannya.


"Sepuluh tahun aku merindukan saat-saat bersama berdiri sisampingmu begini, bahkan terkadang aku juga ingin menggenggam tanganmu seperti ini lagi. Namun aku tahan, karena aku tahu kamu membenciku kan?" Ucap Javir masih dengan senyum dibibirnya. "Dan jika aku mengatakannya sebelum kamu membuka diri untukku lagi, kamu pasti akan semakin menjauh."


Gea masih terdiam.


Javir menatap kelain arah, menghembuskan nafas mencoba membuang kegugupannya, sebelum kembali menatap Gea.


"Aku ... aku hanya ingin mengatakan apa yang selama ini akj pendam saja, jadi bawa santai saja" ucap Javir sungguh-sungguh.


Gea menarik paksa tangannya dari genggaman Javir.


Kepala Javir menunduk menatap tangannya yang tadi menggengham tangan Gea, mengepal, memasukkannya kedalam saku dan kembali mengangkat wajahnya menatap Gea dengan senyum.


"Tidak bisahkan hanya malam ini saja?, kita ... seperti dulu?."

__ADS_1


Gea masih diam menata Javir, namun kali ini dengan tatapan sendunya yang membuat Javir tertawa getir.


"I know" ucap Javir dengan senyum lebarnya saat melihat Gea hendak mengatakan sesuatu. "Maaf" ucapnya sebelum melangkah mundur dan berjalan pergi.


Sial ...


Meskipun tahu sejak awal Gea pasti akan menolaknya, tetap saja dada Javir terasa sesak rasanya.


Javir berlari kecil menghampiri Aslan yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.


"Hai bro" sapa Javir dengan senyum lebar.


Mata Aslan menyipit melihat Javir yang berdiri didepannya, "loe gak lagi berdiri mau nyambut ledatangan gue kan?."


"Enggak" jawab Javir santai, "gue hanya melarikan diri dari orang yang baru aja nolak gue. Dari pada gue ngenes sendirian didalam sana, mendingan nungguin loe atau Al."


"Serius?" tanya Aslan menghentikan langkahnya, "emangnya ditolak sama siapa loe?, wahahhaaa ..."


Aslan tertawa ngakak mendengarnya, pasalnya Aslan tahu bagaimana sepak terjang Javir semasa masih sekolah sampai kuliah.


Bukannya sakit hati, Javir bahkan ikut tertawa dengan Aslan, menertawakan dirinya sendiri.


Dia jatuh cinta kepada Gea untuk yang kedua kalinya malam ini, dan ditolak langsung dengan tatapan tampa perempuan itu mengatakan apapun.


^-^


Gea menarik nafas dalam setelah Javir keluar dari lobby, berlari kecil menghampiri Aslan dan berbicara dengan Aslan sambil tertawa.


"Kenapa malah ditolak si Ge?"


Gea menoleh kesamping, ada Yesi disana yang berdiri menatap Gea dengan senyum segarisnya.


Kepala Gea menggeleng pelan, "gue gak ngomong apapun."


Gea berdecak dan berjalan meuju ballroom, melewati Yesi. "Sok tau loe" omelnya.


"Tahu lah ... gue sahabat loe dari kecil, dan entah kenapa sepertknya kak Je juga tahu kalau loe akan bilang maaf atau enggak."


"Ah ... udahlah Yes!"


"Udahlah apa?, loe juga masih pu ..."


"YESI!" Bentak Gea, bahkan Gea menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap Yesi tajam.


Wajah Yesi menatap Gea garang, tangannya dia lipat didepan dada, seakan siap untuk beradu mulut dengan Gea.


"Apa?, mau marah karna gue mau bilang loe masih punya perasaan sama kak Je, iya?."


Gea membuang muka, kembali melanjutkan langkahnya.


"Sepuluh tahun masih belum cukup buat loe bisa maafin dia?" Tanya Yesi, kali ini dengan nada tinggi. "OH MY GOD GEA!" Serunya heboh, "itu udah sepuluh tahun yang lalu dan loe masih sakit hati?, seriusly?. Emangnya selama sepuluh tahun ini ada gunanya loe benci dia?, perasaan loe sama dia ilang gitu?. Yang ada ... loe kayak orang gila pergi ke club joget-joget gak karuan kalau lagi mikirn dan kangen dia. Kerja pagi siang malem sampek wajah tirus mata panda, loe nyiksa diri sendiri tau gak sih loe?."


Gue diam menatap kekanan dan kiri dengan perasaan kasal dan marah pada Yesi, tangannya mengepal dan memilih pergi sebelum meluapkan amarahnya.


Yesi terlalu mengetahui dirinya dari pada dirinya sendiri.


Jika Gea kembali membuka mulut untuk membantah, yang ada mulut Yesi semakin memperjelas semua.


Sepuluh tahun ...


Perkataan Javir sepuluh tahun lalu memang menyakitinya, tetapi tidak mampu membuat Gea benci dan memusnahkan perasaannya.

__ADS_1


Sepuluh tahun Gea mencoba memusnahkannya.


Tetapi nyatanya detakan itu tetap saja masih ada.


Detakan itu masih ada ....


Bahkan hanya mendengar namanya saja detakan itu bisa kembali menggebu, apalagi melihat sosok Javir secara langsung.


Kalian tahu?


Mendengar Javir mengatakan jika dia memiliki detakan didadanya, hampir membuat dada Gea meledek saat itu juga.


Meski Gea tidak tahu arti detakan itu sama seperti milik Gea atau tidak, tetap saja hampir menggoyahkan benteng yang selama sepuluh tahun ini Gea bangun untuk membenci sosok Javir.


Dan malam ini Javir mengatakan dengan jelas apa yanh dia rasakan pada Gea, entah kenapa malah membuat detakan itu berhenti sejenak, dan dadanya seakan sesak.


^-^


Javir menatap Gea sejak tadi dari kejahuan, sejak acara dimulai, beberapa kali tatapan mereka bertemu dan Gea langsung membuang muka dengan wajahnya tang berubah dingin menatap kelain arah.


Tamu undangan dan karyawan perusahaan Ganendra mulai pulang satu persatu, terlihat Regan berjalan kearah ballroom hotel, pasti dia sudah mengantar nona yang dia kawal yang ternyata DJ Quin Bee sahabat Gea.


Saat Gea dan yang lainnya terlibat cekcok dengan Regan pun, Javir masih berdiri jauh dari mereka hingga Regan pergi masuk kedalam ballroom barulah Javir melangkah mendekati Gea.


"Bisa kita bicara?" Tanya Jair menghadang langkah Gea.


Kening Gea mengerut menatap Javir dengan tatapan tidak sukanya.


"Wiz ..." seru Alaric.


"Kesuruapan apa loe berani maju?" Sindir Aslan.


Gea hendak kembali melangkah tetapi Javir lagi-lagi menghalangi langkahnya. Bahkan dia menggenggam pergalangan tangan Gea erat.


"Bisa tinggalin gue sama dia?" Bukan pertanyaan, tetapi lebih condong pada tuntutan.


Bahkan Javir mengatakannya tampa menatap Aslan dan Alaric, karena tatapannya masih menatap Gea yang menatap kelain arah.


Mengerti jika situasi dan mood Javir sedang tidak baik-baik saja, Aslan dan Alaric langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


"Gue gak suka loe begini" ucap Javir to the point, "kalau bersikap seperti ini karena apa yang gue katakan tadi. Jangan ambil pusing loe tinggal lupakan aja, lagi pula gue menuntut apapun."


Kepala Gea menoleh, menatap Javir dengan tatapan marahnya.


"Kenapa?, marah?" Tanya Javir masih dnegan nada dinginnya. "Marah kenapa?, gak suka gue minta loe untuk lupain apa yang gue bilang, atau gak suka gue bicara begini?, yang mana?. Ngomong, jangan cuma diem, punya mulutkan!"


Mata Gea semakin memerah, perlahan berkaca-kaca.


Gea menyentak tangannya dari genggaman tangan Javir, tampa banyak bicara melanglah pergi dari sana.


"Terus aja loe ngehindar!" Teriak Javir, "jangan harap gue akan ikutin apa yang loe mau seperti sepuluh tahun ini. Mulai sekarang gue akan lakuin apa yang gue mau, entah loe nyaman, suka atau risih, TERSERAH GUE GAK PERDULI!"


Langkah Gea terhenti tepat di samping meja sovenir yanv terletak disamping pintu masuk ballroom.


Senyum Javir terbit melihatnya.


Dan seketika menghilang kala melihat Gea mengambil botol minuman yang masih terisi setengah dan melemparnya kearahnya.


Sontak saja Javir langsung menghindar sebelum botol itu mengenainya.


"Ah ... dia masih saja menggemaskan."

__ADS_1


^-^


__ADS_2