
Mata memang fokus pada berkas didepannya, tetapi telinga Malvin sepenuhnya terfokus pada Javir yang memegang ponselnya.
Tut ...
Terdengar suara sambungan telepon.
Malvin mengangkat wajahnya menatap Javir dengan sebelah alis terangkat, "kamu nelfon siapa?" Tanya Malvin penasaran.
Javir hanya menjawabnya pertanyaan Malvin dengan mengangkat kedua bahunya cuek.
"Hai Mami Vira ini Javir bukan Papa Malvin" ucap Javir.
Mendengar nama Vira, mata Javir langsung berputar.
Baru saja dia memberitahu dimana keberadaan Gea, bukannya pergi menemui Gea, Javir malah menelpon Vira dan memintanya meloadspeaker ponsel.
Dia tidak perduli lagi setelahnya apa yang akan Jabir katakan pada Vira ataupun pada Gea, sehingga Malvin memilih fokus saja pada pekerjaannya.
"Gue hanya mau bilang, gue kangen An"
Haduh ...
Benar bukan ...
Meski Malvin tidak ingin mendegarnya, tetap saja keberadaan Javir yang duduk tepat didepan meja kerjanya membuatnya mendengar apa hang anak itu katakan.
"Dan ..." kalimat Javir menggantung, "Danil terbukti bukan anak gue. Tetapi gue tetep akan merawat dia."
Kalimat terakhir yang diucapkan Jabir itu sepenuhnya membuat fokus Malvin teralihkan.
Javir tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya.
Tepat saat itu, Javir melirik Malvin dan tersenyum segaris padanya seakan tidak merasa bersalah.
"Tentunya setelah mempertimbangkan segala hal, dan atas masukan dari beberapa orang juga."
Siapa yang memberikan masukan pada Javir?.
Malvin yang merasa tidak pernah memberikan masukan merasa kesal mendengarnya.
"Tentang hubungan kita selanjutnya, gue pasrahin ke loe" Javir menunduk menatap kosong entah pada apa. "Jika loe memang tidak mau lagi melanjutkan hubungan kita, tolong beri tahu gue. Gue akan pergi, karena gue gak akan bisa tinggal disatu kota yang sama bareng loe dan ... kita tidak memiliki hubungan apapun."
Javir menghela nafas, kali ini mendongakkan kepala menatap langit-langit ruangan Malvin dan tersenyum sedangkan tatapannya tidak memancarkan kebahagiaan.
"Loe tahu sendiri, saat melihat loe gue gak bisa menahan diri untuk tidak mencium kening loe, memeluk atau bahkan hanya sekedar menggenggam tangan loe."
Ya ... Malvin bahkan juga tahu hal itu, kebiasaan Javir saat berada didekat Gea setelah sepuluh tahun anak itu mencoba untuk tidak berpapasan dengan Gea.
Kebiasaan yang selalu Abra kompline saat bertemu dengannya.
"Ten years was very difficult for me to hold back, and now I have to hold back again after I can freely hug you." Javir tiba-tiba tertawa pilu, "it's impossible for me if you're in front of me An."
Disebrang sana Gea tertegun mendengarnya.
Tatapannya kosong, wajahnya sangat datar tidak terlihat kesedihan atau kebahagiaan yang tersirat.
Meski terdengar cukup lebary, kalimat itu mampu membuat Malvin menghela nafas mendengarnya.
"I'm waiting for answers and replies on your channel" sangat lirih Javir mengatakannya. "Terima kasih Mami, Assalamu'alaikum."
Setelah mengakhiri panggilan itu, Javir menghembuskan nafas, bersandar pada sandaran kursi dwngan kepala mendongak menatap langit-langit ruangan Malvin, dan memutar-mutar kursinya.
__ADS_1
^-^
Debaran itu masih ada.
Meski Javir seperti orang gila berbicara sendiri dan tidak ada respon apapun dari Gea maupun Vira disebrang sana, tetap saja kabar jantung Javir tidak baik-baik saja.
Semua yang dia katakan begitu tulus dan apa adanya, tetapi meski tidak ada respon dan menatap Gea secara langsung, Javir tetap saja gugup.
Setelah merasa kepalanya mulai berat karena sejak tadi mendongak menatap langit ruangan Malvin untuk menenangkan diri, Javir menunduk menatap ponsel Malvin didalam genggaman tangannya dan kembali meletakkannya diatas meja Malvin.
"Kenapa kamu memutuskan akan merawat Danil?" Tanya Malvin terdengar dingin.
Javir mengangkat wajahnya menatap Malvin dengan senyum datarnya, "demi menyelamatkan masa depan anak itu."
Melihat kening Malvin yang mengerut dalam, Javir tertawa kecil.
"Bukan ingin dia hidup terjamin Yah, lebih tepatnya Je ingin menyelamatkan psikisnya."
Tubuh Malvin kembali duduk dengan tegap menatap Javir serius.
"Liza bukan seorang yang pemarah, rungan tangan, garang, brutal atau sebagainya" ucap Javir lirih. "Munjkin karena kehadiran Danil diwaktu yang tidak tepat membuatnya seperti itu, jadi ..."
"Kamu akan mengakuinya sebagai anak kamu meski dia bukan anakmu" potong Malvin dengan nada penuh tekanan.
Kepala Javir mengangguk pelan.
"Apa kamu pikir Gea akan menerkmanya?"
Lagi-lagi Javir tidak menjawab dengan kata-kata, dia hanya mengangkat kedua bahunya.
Gea tidak akan menerimanya.
Kalimat itu yang pertama kali muncul saat dia memutuskan akan merawat Danil, dan sosok Gea tiba-tiba muncul dalam benaknya.
Dan kali ini dengan kepala menunduk, mata Javir melirik Malvin dan tersenyum lebar.
Kening Malvin mengerut melihatnya sebelum menghela nafas dan menggelengkan kepalanya dnegna cepat.
"Jangan melibatkan istriku" tolaknya.
"Mama biak hati dia pasti mau bantu" ucap Javir penuh keyakinan.
"Jangan coba-coba ..."
"Ah ... Je ngantuk"
Javir berseru sambil berjalan pergi begitu saja, keluar dari ruangan Malvin tampa mau mendengar ancaman Malvin.
Mama Bela pasti mau membantunya, dan Javir yakin itu.
Jika urusan Malvin akan marah, nanti Bela pasti akan menanganinya.
^-^
Tok tok tok ...
Gea mengetuk pintu kmar Vira dan Prabu.
Meski pintu itu terbuka, tetap saja Gea dengan sopan mengetuk pintu dan menunggu mereka mempersilahkannya masuk.
"Hai sayang" sapa Vira dari atas kasur, "sini masuk."
__ADS_1
Gea berjalan perlahan kearah Vira yang menatap layar leptop yang sedang dipangkunya, di sudut ruangan ada Prabu yang juga duduk dimeja kerjanya dengan leptop didepannya.
Mereka bekerja, pikir Gea.
Sejak Gea berada di rumah itu, Vira tidak pernah kekantor. Vira keluar hanya saat mengantar adik-adiknya sekolah dan menjemput mereka, selebihnya dia menemani Gea menonton film atau memasak bersama di dapur.
Vira meletakkan leptop dipangkuannya dan menghadap Gea dengan senyjm lebarnya, "ada apa?" Tanyanya.
Gea membalas senyum Vira, "Gea boleh pinjem leptop atau ponsel Mami gak?."
"Boleh dong" ucap Vira menjulurkan ponselnya pada Gea, "Ayahmu menelfon tadi, ponselmu ada di mobilnya."
"Iya" ucap Gea membenarkan.
Sebelum pergi, Abra mengantarnya kebandara dan Gea secara diam-diam meninggalkan ponselnya didalam mobil Abra, karena Regan pasti bisa melacaknya, atau Javir juga.
Tatapi meski dia meninggalkan ponselnya, entah dari mana Javir masih saja tahu dia dimana.
Gea membuka akun chennelnya, dan mengerutkan kening saat ada video baru di akunnya dengan panel Hai Pujaan Hati.
Dengan rasa penasaran Gea mengklik video itu dan terperangah dengan latar belakang video itu, tangga rumah keluarga Ganendra.
"Hai pujaan hati apa kabarmu"
Suara itu suara Javir, menyanyikan lagu kangen band hai pujaan hati.
Gea menscroll untuk mengecek komen para viwersnya dan ternyata ada diantara mereka yang sadari jika itu suara Javir.
"Jadi ini maksud dia I'm waiting for your answers and replies on your channel?" Tanya Vira.
Gea menoleh pada Vira yang ternyata menatap layar ponselnya.
"Jawab aja pakai lagu apa itu lumpuhkan ingatanku itu ... lagu siapa ya Mami lupa"
"Mami!" Tegur Prabu.
Vira menyengir kearah Prabu dan merangkul pundak Gea dari samping, "bercanda sayang."
Mata Prabu mendelik kearahnya, "kamu ini. Gea jangan dengerin Mamimu, kamu tahu sendiri dia dan Malvin musuh bebuyutan."
Gea tertawa dan menganggukkan kepala.
"Kami sahabatan kok sayang" bantah Vira menoleh oada Gea, " tapi ya gitu ... sering tengkar."
"Pertengkaran dalam pertemanan dan hububgan itu biasa" ucap Prabu sambil berjalan kearah mereka, "jangan kira Papi dan Mamimu gak sering bertemgkar, bahkan Ayah dan Bundamu terkadang juga begitu."
Vira meraih tangan Gea dan menggenggamnya, "Mami gak tahu ada apa lagi yang terjadi sama kamu dan Javir. Tapi ... dari yang Mami denger tadi ... he loves you, and its very difficult to find someone who loves and understands you at the same time, trust me!."
Kepala Gea mengangguk, namun menundukkan kepala tidak membalas tatapan mata Vira.
Terasa genggaman tangan Vira mengerat.
Bahkan tangan Prabu kali ini mengelus rambutnya lembut.
"Semua keputusan ada ditangan kamu" ucap Vira, "dia pasti akan menghormati setiap keputusamu. Dan Mami beranu bertaruh, dia kan menghilang hari hidupmu jika kamu mengatakan stop for everything."
Kali ini kepala Gea terangkat menatap Vira dengan tatapan tak percaya.
"Dia seperti Malvin sayang" ucap Vira lembut, "akan melakukan apapun untuk sahabat, keluarga dan orang yang dia cintai."
Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, Gea yang lebih dulu memeluk Vira untuk yang pertama kalinya.
__ADS_1
Banyak perubahan dari Vira yang membuat Gea terperangah, tidak seperti dulu yang selalu tidak perduli pada Gea, kali ini Vira bahkan menasehati Gea layaknya seorang Ibu.
^-^