
Tidak ada Liza.
Sedangkan anak itu tertidur dengan lelapnya.
Javir memang sengaja tidak datang emnjenguk Danil saat ada Liza, dia menunggu Liza berangkat bekerja dan menitipkan Danil pada salah satu suster yang sudah Javir sewa.
Mela sudah disewa Aslan untuk menemani Ibunya yang juga dirawat dirumah sakit ini.
Kembali terlintas perkataan Regan pada Javir malam itu.
Flash back
"Jika memang Danil bukan anak loe, loe mau gak merawat dia?."
Suasana saat itu seketika kembali sunyi.
Semua menatap Aslan dengan kening mengerut.
Javir tertawa lecil sambil menggelengkan kepalanya tidak menganggap serius ucapan Regan barusan. Lagi pula siapa yang mau merawat anak yang bukan anak kandungnya, terlebih dia masih belum menikah.
"Gue serius dengan pertanyaan gue" ucap Regan menatap Javir tajam.
Tawa Javir perlahan menghilang.
Tidal langsunh menjawab, dia hanya diam menunggu penjelasan Regan lebih lanjut, begitupun dengan Aslan dan Alaric yang juga menatap Regan.
"Gue dan Mela menemukan memar ditubuh anak itu" ucap Regan, "dan itu cukup serius."
"Maksud loe?"
"Pukulan" jawab Regan, "ada luka memar dipinggung dan lengannya. Kemungkinan dia dipukul oleh ibunya" jelas Regan.
Saat iti Javir benar-benar tidak bisa berkata-kata.
Memorinya kembali pada saat Danil kesakitan memakan makanan pemberia Gea, dan saat itu Gea mengobati bibir dan lengan Danil sebelum anak itu sesak nafas.
Flash end
Perlahan javir menganangjat baju pasien yang dikenakan Danil, terdapat memar yang mulai memudah di rusuk sebelah kanannya.
Saat menggulung lengan baju Danil, dia juga menemukan hal yabg sama.
Javir semakin mempertajam penglihatannya ke setiap tubuh Danil, dan dia tertegun melihat luka di dahi tepat diatas matanya.
"Ayah"
Tangan Javir yang hendak menyentuh luka itu mengambang diudara.
Javir tersenyim kecil, tangannya veralih membantu Danil untuk duduk diatas kasurnya.
"Kata Ibu Ayah gak mungkin dateng" cicitnya dengan suara serak, "kemarin Enil nangis Ibu bilang Ayah gak mau punya anak seperti Enil. Apa Enil nakal?, tapi Enil di sekolah pintar kok Ayah."
Hati Javir serasa teremas mendengarnya.
Danil menatapnya dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
"Maaf" ucap Jabir emngelus rambutnya, "Ayah sibuk dengan kerjaan jadi gak punya waktu kesini, tapi Dokter Regan dan Suster Mela selalu mengabari Ayah."
Danil menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir dipipinya.
Javir tertawa kecil mencoba menenangkan Danil, "jangan nagis. Ayah bawa sesuatu, biar kamu gak bosen disini."
Satu kotak mainan yang cukup besar Javir letakkan didepan Danil, dia meminta pendapat Aslan mainan apa yang bisa membuat anak seumuran Chaka bahagia.
Harapan Javir adalah membuat Danil bahagia saat melihat robot bawaannya, tetapi yang dia lihat Danil hanya diam menatap robot ditangan Javir.
"Ini transformer" ucap Javir mencova menjelaskan.
Tangan Javir menjulurkan robot itu pada Danil.
Ragu Danil memeganggya, membolak balikkan robot itu, tersenyum lebar sebekum kembali memasukkannya kedalam dus lagi.
__ADS_1
"Kenapa malah dimasukkan?" Tanya Javir.
Kepala Danil menggeleng pelan, "kata Ibu Danil gak boleh nerima hadiah dari sembarangan orang."
"Apa aku sembarangan orang?"
Keoala Danil kembali menggeleng.
"Kalau begitu ka ..."
"Enggak" seru Danil memotong kalimat Javir.
Tangannya menghalangi tangan Javir yang akan mengeluarkan robot yang dia bawa.
Kening Javir mengerut melihat Danil yang menatapnya dengan tatapan ketakutannya, ada apa sebenarnya?.
"Ayah memang Ayah Enil" ucap Danil lirih, "tapi Ibu tidak suka Enil menerima pemberian Ayah."
"Oh ya, apa Ibumu mengatakannya?."
Kepala Danil menggeleng, "Ibu gak bilang kalau gak suka Enil dapah minyak rambut dari Ayah, tapi Ibu marah."
Minyak rambu?, apa cream rambut yang gue kasih? Batin Javir.
Seakan menemukan sesuatu, Jabir duduk didekat Danil menatap anak itu dengan dalam.
"Aku tidak percaya jika Ibumu marah" ucap Javir mencoba memancing sesuatu.
"Enil gak bohong Ayah!" Seru Danil, "ini buktinya." Danil menunjuk bekas luka yang tadi Javir lihat di dahinya, "Ibu melempar minyak rambut pemberian Ayah sampai mengenaik Enil."
"Oh ya?" Tanya Javir masih saja berekting tidak percaya.
"Iya" jawab Danil sungguh-sungguh, "awalnya Ibu bilang Enil mencuri dimana, Enil bilang Enil gak mencuri, tapi Ibu gak percaya. Karena badan Enil sakit semua jadi Enil ngaku itu dikasih Ayah, Ibu marah malah melempar ke tembok, sampai pesah kenak Enil. Mangkanya ..."
Seakan cukup mendengar cerita Danil, Jabir tidak lagi menyimak penjelasan Danil selanjutnya.
Dari wajah dan peragaan yang Danil lakukan, Javir menangkap satu hal, Danil sedang tidak berbohong.
"Apa Ibumu selalu memarahi dan memukulimu?" Tanya Javir.
"A ..."
Danil yang semua bercerita dengan penuh semangat bungkam seketika.
Javir kembali berdiri, memasukkan kedua tangannya kesaku celana dan menatap Danil dengan tajam.
"Eng ..."
"Jangan bohong" potong Javir tegas, "kalau kamu bihong Ayah tidak mau lagi menemuimu."
Kepala Danil menunduk dalam, "hanya terkadang" cicit Danil. Perlahan melirik pada Javir takut, "gak sering kok.
^-^
Semua sedang mendengarkan apa yang sedang Javir dan Liza bicarakan di ruangan Regan.
Lebih tepatnya...
Aslan, Mela dan Regan sedang menguping apa yang dibicarakan Javir dan Liza dari ruang peristirahatan Regan yang berada didalam ruang kerja Regan di runah sakit.
Kali ini Javir sedang menuntut Liza untuk bercerita kejadian bagaimana mereka bisa tidur bersama.
"Gue masih belum ingat, bisa loe jelasin lebih spesifknya kita melkuakannya kapan?" Tanya Javir.
"Untuk apa?" Liza terdengar enggan untuk bercerita.
"Karena itu penting untuk gue."
"Tapi gue gak butuh tanggu jawab loe, udah telat."
"Meski loe gak butuh, meaki udah tepat tapi tetep aja itu penting buat gue."
__ADS_1
Liza menghela nafas bersandar pada sandaran sofa, "apa loe ingat saat loe demam tinggi tetapi loe malah menggigil?."
"Ya gue inget, loe buka baju loe dan gue."
Yang berada balik pintu ruang istirahan Regan langsung saling lirik.
"Setelah malam itu kita pesta dirumah Yoga, kita ngelakuinnya saat pesta kelulusan ankatan kalian. Satu minggu setelah kelulusan loe dan teman-teman loe, kita ngelakuinnya di rumah Yoga Jav."
Javir malah hanya diam mendengarkan tidak membantah apapun membuat ketiganya jadi bingung sendiri.
Bahkan Liza menyatakan Jabir mengenakan jaket milik Javir dengan bros sayap di dada kanannya, Javir masih saja diam.
"Je sejak tadi diem" ucap Mela lirih, "apa dia membenarkan semua ceruta Ibu Danil itu?."
Aslan dan Regan tidak ada yang menyahuti pertanyaan Mela, karena mereka juga tidka mengerti.
Regan berjalan menjauh dari pintu memilih menyudahi menguping Javir, begitupun dengan Aslan yang ikut menjauh.
"Kalau beneran, Gea gimana?" Tanya Mela.
Mereka berdua masih diam tidak menjawab pertanyaan Mela.
Krek ...
Pintu ruang istirahat Regan tiba-tiba terbuka.
Mela hampir saja terjatuh karenanya jika Javir tidak memegangi pundaknya.
"Keluar, dia udah gak ada" ucap Javir.
Tampa dipinta dua kali, Regan lebih dulu keluar berjalan kearah meja kerjanya dan duduk dengan wajah datar mencoba cuex.
Aslan dan Mela duduk di sofa tepat di depan Javir.
Tangan Javir mengeluarkan ponsel dan sakunya, menunjukkan jika dia merekam pembicaraan mnya dan Liza tadi.
"Tiga hari setelah kelulusan gue adalah hari dimana Gea membatalkan rencana pertunangan kami" Javir mulai menjelaskan pada mereka bertiga.
Meski mereka bertika menatap kelain arah bukan menatap padanya, Jabir sangat yakin jika mereka memasak telinga mereka untul mendengarkan penjelasan Javir.
"Malam itu gue pergi dari rumah dan tidur di BEM" Javir kembali menjelaskan, "karena terlalu banyak pikiran akhirnya gue jatuh sakit dan Liza menurunkan demam gue dengan membuka baju kita dan tidur memeluk gue. Hanya tidur tidak melakukan apapun dan sampai sekarang gue ingat betul, gue bangun masih dengan keadaan celana gue terpasang "
Terlihat Mela melirik seakan tidka percaya.
Javir mendengus melihatnya, "gue sakit kepala dan demam, mana bisa gue ngelakuin begituan."
"Siapa tahu" gumam Mela.
Tangan Javir langsung mengepal mendengarnya, "paginya gue pergi mau menemui Gea dan Pamav malah menemukan gue dan menyeret gue pulang. Berarti jika seminggu setelah gue lulus mereka mabuk-mabukan, itu dihari dimana paginya Pamav nyeret gue pulang. Dan kalian tahu sendiri jika gue sakit gimana paniknya Mama, apa kalian pikir gue bisa kabur dari Mama?."
Mata Aslan dan Mela saling lirik.
"Tapi dia bahkan bilang loe malam itu loe pakek jaket yang biasa loe pakek" Regan mulai membuka mulut, "dengan pin atau bros sayap didada bagian kanan."
"Bros itu pemberian Gea, dan itu hilang dengan jaket gue."
Semua diam.
Tak terkecuali Javir yang melirik mereka bertika mencoba mencari kepercayaan atas bantahannya pada cerita Liza yang mereka dengar tadi.
Dret ...
Ponselnya tiba-tiba bergetar, ada notifikasi pesan yang masuk di ponselnya.
Pamav : Hasil keluar.
Javir dengan cepat membuka dokumen yang dikirim Malvin dan menghela nafas lega, bersandar pada sandaran sofa dan melempar ponselnya pada Aslan.
Untung saja Aslan tangkas menangkapnya sehingga ponsel Javir tidak terjatuh kelantai.
"Gue bukan Ayahnya."
__ADS_1
^-^