
"Hai"
Mata Gea mengerjap-ngerjap menatap Javir yang berdiri didepannya dengan celana denim dan kaos putih polos.
Rambutnya masih basah, meski tersisir rapi, tanda kalau dia baru saja mandi ...
Mata Gea langsung membola teringat sesuatu, dia belum mandi. "Oh my God!" Serunya sambil menutup mika dengan kedua tangannya.
Jegan tersenyum melihatnya.
Bahkan terdengar suara tawa Ara dari belakang berjalan menghampiri mereka berdua.
"Pagi Je" sapanya.
"Pagi Bunda" balas Javir berjalan melewati Gea dengan tangan yang masih sempat mengacak-acak rambut Gea sebelum memeluk Ara.
"An cuci muka sana, biar Bunda yang temenun Je ditaman atas"
Tampa membantah, Gea buru-buru berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Bagun tidur dia hanya gosok gigi untuk sarapan bersama, lalu terhanyut curhat pada Ara hingga lupa belum mandi.
Javir tertawa melihat Gea berlari dengan cepat menaiki tangga, tangannya masih merangkul pundak Ara. "Dia masih saja lucu" gumam Javir.
"Kamu ini" ucap Ara disela-sela tawanya, "oh iya Je, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi tadi malam."
Javir langsung menjauh dari Ara dan menatapnya curiga. "Jangan bilang kalau Bunda sudah melihatnya?"
Ara tertawa kecil, "ya, Bi tadi yang ngasih tahu saat kita semua sarapan tadi."
Mereka berdua berjalan bersama, menaiki tangga menuju taman kecil dilantai dua sambil bercerita apa yang terjadi semalam.
Ara duduk kursi taman, sedangkan Javir berdiri di dekat roling dan bersandar menatap kearah Ara.
"Sebenarnya Gea sudah cerita" ucap Ara menatap Javir dengan tatapan lembutnya, "lalu sekarang bagaimana?."
Javir tertawa kecil, "entahlah ... tergantung pada anak Bunda itu."
"Maunya Je gimana?" Tantang Ara.
"Serius lah Bun" jawab Javir tegas tampa ragu, "umur Je sebentar lagi tiga puluh."
Ara tersenyum segaris pada Javir.
Terdengar langkah kaki mendekat.
Javir dan Ara menoleh kearah pintu, ada Gea disana yang menatap mereka berdua bergantian sebelum kembali melangkahkan kakinya mendekati mereka.
Sepertinya Gea benar-benar hanya mencuci mukanya, tidak memakai bedak atau lipstik dibibirnya.
Javir mengulum bibir melihatnya, Gea memang berbeda dengan yang lainnya, bahkan Gea yang sekarang dan dulu juga berbeda. Gea yang dulu akan berdandan dan terlihat cantik saat menemuinya.
"Bunda kebawa dulu ambil minum" pamit Ara.
Tidak ada yang mengatakan sesuatu, mereka hanya menganggukan kepala nerespon ucapan Ara.
Setelah kepergian Ara, tatapan Gea berubah datar menatap Javir.
"Gue kira loe udah berubah jadi mayat Hidup seperti kata Aslan" ucap Javir.
__ADS_1
Gea berdecak, memutar matanya sambil berjalan mendekati Javir. Dia berdiri tidak jauh dari tempat Javir berdiri.
Elihat Gea mau berdiri didekatnya tampa Javir yang meminta, membuatnya tersenyum simpul. Sebelum-sebelumnya, mana mau perempuan itu mendekat.
"Ngapain kesini?" Tanya Gea judes.
"Mau minta maaf, karena video semalam tersebar" ucap Javir menatap Gea dalam. "Gue gak maksud buat ..."
"Gue gak tahu mau marah atau mau ngucapin terima kasih saat ini" potong Gea, kepalanya menoleh menatap Javir yang masih saja menatapnya.
Sebelah alis Javir terangkat mendengarnya.
"Gue pantes marah karena loe udah buat nama An Angel Boom ... dalam semalem" terdengar datar, "but ... disamping itu jadi banyak orang yang lebih mengenal gue dan pasti akan ada beberapa creator yang ngajakin gue podcast bahkan kelaboret mereka sebentat lagi."
Javir tertawa kecil, melipat kedua tangan didada. "And then?" Tanyanya.
Wajah Gea langsung merengut, "I don't know."
Entah sadar atau tidak, Javir sejak tadi lebih banyak tersenyum.
Segala perkataan maaf dan penyesalan yang sudah dia susun sejak dipaksa mandi oleh Regan, menghilang begitu saja dari otaknya.
Javir melangkah mengikis jarak diantara mereka, menyentuh kantong mata panda Gea lembut.
"Kurang tidur ya?" Tanya.
Gea membuang muka sambil menyeka rambutnya kebelakang dengan jemari lentiknya, "ya" jawabnya singkat.
"Karena apa yang gue ucapin semalem, apa karena masalah video itu?."
"Emangnya apa yang loe ucapin semalem?"
"Mungkin"
Javir mencibir mendengarnya. "Gak mungkin, karena loe cerita sama Bunda."
Gea berdecak mulai kesal, "lagian kalau udah tahu kenapa nanya?. Padahal loe yang minta gue untuk lupain apa yang loe omongin, sekarang loe malah ngungkit itu lagi. Mau loe apa?."
"Serius loe nanya mau gue apa?"
Untuk yang kedua kalinya Gea menyeka rambutnya dengan jemarinya. "Gak jadi" ucapnya ketus.
Mereka terdiam, tidaka da yang mengeluarkan suara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, mereka-reka apa yang akan mereka bicarakan selanjutnya, namun tidak terjebak oleh perkataan sendiri.
"Loe seharusnya tahu dampak dari apa yang loe lakuin didepan umum" ucap Gea tampa menatap Javir, "loe udah temenan dengan Aktor yang cukup terkenal seperti Alaric. Meski gue gak nyampek seperempat dari dia, tetep aja ... Dijaman moderen ini pasti langsung jadi boom."
"Maaf" ucap Javir.
"Dari semalem banyak orang yang ngumbungin gue, bilang dia wartawan dan bla-bla."
"Apa perlu gue minta anak-anak ASG bu ..."
"No" potong Gea, "gak usah terima kasih."
Setelah itu mereka kembali terdiam.
Gea perlahan menghadap Javir, yang ternyata Javir sejak tadi menatapnya dalam diam. Tidak sexetikpun mengalihkan tayapannya pada yang lainnya.
Bahkan perlahan senyum Javir terukur dibibirnya.
__ADS_1
"Gak ada yang mau loe omongin lagi kan?" Tanya Gea dengan pehuh hati-hati.
"Ada" jawab Javir lirih.
Angin bertiup sedikit kencang, menerbangkan rambut Gea.
Tangan Javir terulur, menyelipkan rambut Gea yang menutupi separuh wajahnya. Tatapan matanya serasa semakin dalan menatap Gea.
"Kalau udah siap jadi perempuan yang meneman gue sampai tua, bilang ya?"
Mata Gea terbelalak mendengarnya.
"Jangan ketawa gue serius" ucap Javir.
"JAVIR!" Teriak Gea.
"Gue serius, siap-siap aja bentar lagi gue pasti recokin loe dan ngajak nikah mulu."
"Ih ... Apaan sih "
"Apanya yang apa?"
"Je!"
Gea menepis tangan Javir, tangannya mengacak-acak rambutnya hingga berantakan karena kesal.
"Apa Angel" sahut Javir lembut.
"Ah ..." keluh Gea.
"Rambutnya jangan diberantain gitu" tegur Javir.
"Biarin" sahut Gea judes, "biar kayak kuntil sekalian."
"Tadi aja kayak mayat idup tetap cantik kok"
"JAVIR!!!"
"Apa?" Sahut Javir lembut, "meski kayak kuntil anak gak papa juga kok. Gue tetep nunggu ..."
Plak ...
Ge amemukul mulut Javir menghentikan ucapan Javir.
Bukannya marah, Javir malah ngakak. Menarik Gea dalam pelukannya meski Gea terus saja berontak tidak mau.
Tampa mereka sadari, dibawah ada Aslan, Regan dan Bunda Ara yang menatap mereka.
"Apa sebener mau Je?" Gumam Aslan.
"Kembali menarik Gea" ucap Regan.
"Menarik mau kemana?"
Ara dan Rwgan langsung melayangkan tatapan sinis mereka pada Aslan.
"Semoga aja mereka beneran kembali seperti dulu" ucap Ara kembali menatap mereka berdu.
"Do'ain aja yang terbaik untuk mereka"
__ADS_1
^-^