Watching You

Watching You
Menghindar


__ADS_3

Brak ....


Gea masuk kedalam ruangan Aslan tampa permisi, membuka pintu dengan bertanaga sehingga terdengar bunyi bantingan.


Sejenak Aslan menghentikan pekerjaannya, mengangkat wajahnya menatap Gea yang menghampirinya dengan wajah penuh kekesalan membuat Aslan mengerutkan kening.


"Manager Sales and Marketinv Hotel Raja Throne, saya mau melakukan kerja sama dengan anda" ucap Gea, kali ini bibirnya tersenyum namun tatapan matanya masih terlihat penuh kekesalan.


Aslan menatap aneh pada Gea, dia melihat sekitar memastikan jika dia masih berada diperusahaan Ganendra.


"Bisakah anda meluangkan waktu anda sekarang?" Tanya Gea, "atau saya perlu making appointment dulu?" Kali ini suaranya terdengar sini.


"Loe kenapa sih datang-dateng kayak orang sarap?."


"Hem ..." Gea mendengus, duduk di kursi depan meja Aslan dengan kaki menyilang. "Gue baru ke Hotel Raja Throne, dan loe tahu apa yang terjadi?."


Kapala Aslan menggeleng pelan.


"Gue ketemu dengan Dian, dia memperkenalkan diri sebagai asisten Javir."


Kening Aslan mengerut, Dian memang asisten Javir, lalu apa yang membuat Gea marah begini?.


"Dan loe tau kenapa gue marah?."


Hemz ... gue sebenarnya mau nanya tapi takut loe telen gumam Aslan dalam hati, sehingga dia hanya menggelengkan kepala.


"Gue mau ketemu dengan Manager Sales & Marketing mereka meski gue tahu loe gak disana, tetapi dia bilang 'tapi kalau masalah ballroom ini harus langsung keatasan karena belum rampung, setidaknya ke General Manager dulu' dia bilang gitu." Gea mengikuti bagaimana gaya bicara Dian saat berbicara dengannya. "Ya udah gue tanya dong siapa GMnya sok-sok gak tahu gue, dan ...."


Gea bercerita panjang lebar, Aslan hanya diam mendengarkan dan hanya memanggut-manggutkan kepala saja sebagai tanda jika dia mendengarkan apa yang dikatakan Gea.


Sama-sama anak angkat keluarga Ganendra, Gea dan Aslan seakan memiliki terikatan yang sama, sehingga Gea lebih cenderung bercerita dan meluapkan semuanya pada Aslan bahkan begitupun sebaliknya.


"GUE LIAT DIA DUDUK-DUDUK AS ..." suara Gea penuh tekanan, "kurang ajar gak tuh orang, pakai alasan dia sibuk, lagi meeting diluar. KALAU GAK MAU KETEMU GUE BILANG GAK USAH BANYAK ALESAN!."


Ok ... Aslan sudah menemukan poin dari kemarah Gea.


Ternyata Gea melihat Javir yang duduk direstaurant hotel, bahkan saat Javir menjatuhkan kursinya Gea juga ada didekat saja dan melihatnya.


Aslan yakin jika Javir sebenarnya sudah tahu kehadiran Gea, tetapi pria itu memilih untuk tidak menemuinya.


Teringat kembali dengan apa yang dikatakan Javir waktu itu, jika Gea tidak nyaman bertemu dengannya.


Jadi dia memilih menghindar, pikir Aslan.


Setelah meluapkan emosinya, terlihat Gea yang mulai duduk dengan tenang.


Setalah beberapa detik tubunnya meringsut lemas dikursi, "dia ngehindarin gue ya?" Tanya Gea dengan nada lesu.


Sebelah alis Aslan terangkat.


"Tapi masak dia tahu gue dateng?."


Kali ini Aslan mengulum bibirnya menahan senyum.


"Gue punya salah ya?"


Aslan masih memilih diam.


"Tapi kan dia yang punya salah sama gue" ucap Gea sewot, kembali duduk dengan tegap. "Seharusnya kan gue yang menghindari dia, kenapa malah dia yang menghindari gue?."


Mulai tersadar sejak tadi tidak ada tanggapan apapun dari Aslan, kepala Gea menoleh dan mata Gea menatap tajam pada Aslan.


Aslan yang melihatnya malas tersenyum.


"Dia gak cerita apa-apa gitu?."


"No"


"Terus kenapa dia ngehindarin gue?"


Aslan mengangkat kedua bahunya.


Gea menghela nafas lesu.


"Mungkin ... mungkin nih ya ..." Aslan mencoba menekankan kata mungkin, karena sebenarnya dia malas ikut campur, tapi melihat Gea lesu jadi kasih sendiri. "Apa loe gak pernah mengatakan sesuatu gitu sama dia?."

__ADS_1


Kepala Gea menggeleng kencang.


"Misalnya nih ... gak suka sama dia, gak nyaman, gak suka deket-deket atau bahkan benci ngelihat dia. Loe gak pernah ngomong kata-kata yang menjerus kesitu gak?."


Gea terdiam, mengerjab-ngerjabkan matanya mencoba mengingat-ingat.


Aslan menatap Gea dalam menunggu jawaban jika Gea mengingatnya.


"Enggak kok gak pernah gue?."


Kali ini malah Aslan yang langsung menatap lesu pada Gea, "serius gak pernah?."


"Emang gue pernah?."


"KENAPA LOE MALAH NANYA SAMA GUE!."


Aslan membentak Gea kesal, sehingga Gaa langsung diam mengulum bibir nya.


Beberapa menit mereka terdiam dalam diam, Gea menatap keluar jendela, sesekali menghela nafas berat.


"Terakhir kali gue ngomong sama dia dua tahun lalu" ucap Gea lirih, "jadi gue gak inget pernah ngomong apa."


Dua tahun ...


Ya, dua tahun mereka tidak berbicara apapun.


Saat semua berkumpul dirumah Ganendra, Javir jarang hadir.


Saat lebaran keluarga dan teman dekat mereka mereka kumpul-kumpul dan mereka tidak sengaja bertemu, mereka berdua tidak bertegur sapa, hanya saling sapa dengan menganggukkan kepala dan pergi begitu saja.


Gea tersenyjm kecil, setelah tersadar jika mereka memang tidak bertegur sapa selama dua tahun.


Karena fokus membangun Event Organizer, Caffe and Resto dan mulai gencar upload video dichannetlnya, Gea lupa akan hal itu.


Saran untuk menjadi workaholic dari Regan benar-benar ampuh ternyata.


"Emangnya loe ngapain ke hotel?" Tanya Aslan.


Bertanya pada Gea sambil, pura-pura membuka berkas didepannya.


"Bentar lagi ultah perusahaan Ganendra, dan Ayah mau An Angel yang nanganin, tetapi tempatnya harus di ballroom Raja Thone hotel."


"Kenapa hanya Oh?, terus gimana?."


"Apanya yang gimana?, gue lagi sibuk ini ... sana pergi."


"Loe kan salah satu manager dan owner hotel, kasih keputusan kek."


Aslan kembali mengangkat wajahnya menatap Gea, "ini hari senin dan gue lagi kerja di perusahaan Ganendra, jadi gue sekarang karyawan perusahaan Ganendra. Loe bisa langsung bertemu Javir dan bahas masalah itu dengan dia, bukan dengan gue atau yg lainnya karena yang mempunyai tanggung jawab besar atas berjalannya Hotel adalah Javir."


"Tapi kalau dia masih gak mau ketemu gue gimana?"


"Lakuin aja seperti yang loe lakuin dulu kedia."


"Beda ceritanya dong As."


"Sama" ucap Aslan tegas, "dulu loe ngintilin dia karena loe suka dia dan agar dia suka loe balik. Sekarang loe harus ngelakuin hal yang sana agar loe bisa dapat kerja sama dengan hotel Raja Throne."


Kepala Gea menunduk dalam, "gak mau ... gue takut tauk."


Kening Aslan mengerit mendengarnya. "Takut apa?."


Ragu Gea mengangkat wajahnya menatap Aslan, "gue takut kalau gue nanti jatuh cinta lagi sama dia gimana?."


Aslan tersenyum mendengarnya, "bukannya selama ini loe masih cinga sama dia."


Gea menghela nafas, terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya dia berteriak.


"AH ... GUE BENCI DIA"


Gea berteriak kesal sekuat tenaga, kakinya menendang-nendang udara sambil memutar-mutar kursi yang didudukinya.


Aslan meringis mendengar teriakan Gea yang melengking memenuhi ruabgannya.


^-^

__ADS_1


"Pak, Mbak Gea dari EO An Angel tau nomer saya dari mana ya?" Tanya Dian pada Javir.


Tangan Javir yang sedang mencorat-coret berkas didepannya berhenti sejenak.


Takut-takut Dian menjulurkan ponselnya pada Javir karena bergetar kembali untuk yang kesekian kalian hati ini.


Javir mengangkat wajahnya menatap Dian tajam, "kenapa tahu itu nomer Gea?" Tanya Javir.


"Saya pernah ngangkat pak, dia mau making appointment tapi saya tolak dengan berbagi alasan sesuai permintaan anda" jawab Dian, "bahkan resepsionis dibawah juga melakukan apa yang anda perintahkan."


Javir tersenyum mendengarnya.


Aslan kapan hari menghubunginya, bercerita tentang apa yang Gea katakan dan ceritakan di kantor Aslan.


Setelah mengetahui apa tujuan Gea, bukannya menemui Gea, Javir malah memerintahkan Dian maupun resepsionis untuk mengatakan Javir sibuk tidak bisa diganggu.


Gea pernah mengatakan jika dia tidak nyaman dengannya, jadi lebih baik Javir menghindar bukan.


Biarkan saja Gea berbicara dengan Aslan atau Alaric, dia sudah meminta mereka untuk menangani Gea. Lagi pula, meski Aslan mengatakan tidak mau berbicara masalah ballroom hotel, jika dipaksa terus oleh Gea dia pasti akan luluh juga.


Kepribadian Gea yang cerewet, ceria dan pintar berbicara sejak dulu selalu bisa memudahkannya merebut hati orang lain.


Bahkan dirinya juga, Javir mengakuinya.


Hanya dalam kurun waktu seminggu, Gea mempu membuat Javir yang semula risih karena gangguan Gea, berubah merindukan sosok seorang Gea, bahkan ... Detik inipun dia sebenarnya merindukan perempuan itu.


Dret ...


Kali ini ponsel Javir yang bergetar diatas meja.


Javir melirik sejenak ponselnya lalu mengerutkan kening melihat nama Angel muncul dilayar ponselnya.


Dari dulu Javir mempunyai nomer Gea, tetapi tidak pernah sekalipun dia menghubungi Gea.


Sudut bibir Javir berkedut menahan senyum, akhirnya setelah sekian lama hampir sepuluh tahun lamanya Gea yang lebih dulu mengubunginya.


"Ha ..."


"Ini gue Angela Lovita, Gea" potong Gea.


Karena tidak tahan ingin tersenyum, Javir mengulum bibirnya, "hem" gumanya.


"Bisa ketemu sekarang?."


Javir mengangkat wajahnya, menatap Dian dan memberikannya isyarat agar Dian keluar dari ruangannya.


Dian dengan patuh keluar dari ruangan Javir.


Setelah Dian keluar barulah Javir tersenyum lebar, dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya.


"Sekarang jam makan siang" ucap Gea terdengar lembut, "loe gak lagi sibuk kan?."


Javir masih terdiam, sibuk menenangkan diri agar tidak terdengar terlalu bahagia saat mengatakan sesuatu nantinya.


Beberapa detik tidak ada yang mengatakan apapun, hingga terdengar suara helaan nafas Gea disebrang.


"Berhenti menghindari gue, turun sekarang" kali ini penuh tekanan, terdengar memerintah. "Gue tunggu di restaurant hotel sekarang, cepet."


Klik ...


Sambungan terputus.


Dan ... senyum Javir juga menghilang.


Javir menatap layar ponselnya yang gelap dengan wajah cemberutnya.


Beberapa detik kemudian ponsel ditangannya kembali bergetar, dan nama Gea kembali muncul.


Dengan penuh semangat Javir mengangkat panggilan Gea tampa pikir panjang atau menunggu getaran kedua.


"JANGAN MENGHINDARIKU CEPAT TURUN!"


Klik ...


Setelah berteriak nyaring, Gea kembali memutuskan sambungan.

__ADS_1


Javir mengerjapkan matanya tercengang mendengar teriakan Gea yang menggelegar padahal dia tidak menloadspeaker ponselnya.


^-^


__ADS_2