
Mata Javir manatap dingin pada Liza yang membaca berkas yang dia bawa, berkas pengalihan hak asuh anak.
Dalam berkas itu Javir akan memberi Liza uang sebesar tiga ratus juta sebagai uang terima kasih Liza sudah melahirkan, merawat dan membesarkan Danil. Namu terdapat syarat, yang mana Liza harus mengalihkan hak asuh Danil pada Javir sepenuhnya.
Tetapi dalam berkas itu Javir tidak memberi tahu jika Javir bukan ayah kandung Danil, karena dia tidak mau ribet harus menjelaskan pada Liza dan berakhir dengan Liza yang akan berbicara yang tidak-tidak pada Danil.
"Jika dia sama loe, apa gue gak boleh bertemu dengan dia?" Tanya Liza tampa menbangkat wajahnya dari berkas itu.
"Boleh tetapi harus dirumah gue, tidak untuk diluar rumah."
Tangan Liza menurunkan berkas itu, meletakkannya diatas meja menatap tajam pada Javir.
Meski Liza ibu Danil, dia adalah satu orang terkuat yang dapat mempengaruhi pesikis Danil, dan Javir harus hati-hati dengan itu.
Sekarang saja ada kalanya Danil memiliki perasaan takut terhadap Liza, meski dia tahu sebenarnya dia tidak punya hak untuk memisahkan mereka, tetapi apa salahnya menyelamatkan seseorang yang masih bisa kita selematkan sedini mungkin.
"Loe mau misahin anak gue sama gue?, inget ... Gue Ibu kandungnya!."
Penuh penekanan Liza mengatakan itu, tetapi Javir tetap mencoba tenang dan tidak mengatakan jika dia tahu apa yang Liza lakukan terhadap Danil jika sedang lost kontrol.
Saat ini belum saatnya dia membuka mulut tentang hal itu.
"Gue tidak memaksa untuk loe tanda tangani berkas itu, semua keputusan ada ditangan loe" ucap Javir tenang namun terdengar dingin. "Kalau menandatangani berkas itu, tapi loe sering-sering menemuinya dan melanggar syarat-syarat yang gue tulis disana. Loe harus mengembalikan uang tiga ratus juta yang gue berikan, lalu gue akan lepas tangan tentang Danil. Dengan kata lain gue akan bersikap tidak perduli pada kalian seperti dulu, seperti sebelum kita bertiga bertemu."
"Loe men ..."
"gue tahu loe gak mau tanggung jawab dari gue" potong Javir, "tapi gue tahu loe merasa Danil adalah beban loe dan gue hanya mau membantu tetapi tetap dengan syarat-syarat tertentu."
Terlihat jelas jika Liza mebgetatkan rahangnya, sehingga Javir diam-diam menahan diri untuk tersenyum karena merasa menang kali ini.
"Darimana loe tahu kalau gue ngerasa Danil adalah beban hidup gue?."
Javir tersenyum culas mendengarnya, "loe aja menyembunyikan kebenaran Danil dari teman-teman sekantor loe, selama bertahun-tahun mereka gak tahu kalau loe punya anak."
Mata Liza melebar, sepertinya dia terkejut dan tidak menyangka Javir bisa mengetahui tentang hal itu.
__ADS_1
"Loe bilang Danil anak kakak loe" dagu Javir terangkat menatap Laiza dengan tatapan semakin menajam. "Dan yang membuat gue menginginkan Danil ..." Javir menggantungkan ucapannya, "loe tidak akan segan-segan berbicara kasar bahkan memukul Danil jika loe sedang kesal dan anak itu melakukan kesalahan kecil. Gue bisa membawa kasus itu kepengadialan, dan itu alan memudahkan gue untuk mendapatkan Danil."
Terlihat rahang Liza semakin mengetat mendengar ucapan Javir barusan, terlihat dari urat pipinya yang timbul.
Sedanjakan Javir malah semakin merasa berada diatas puncak kemenangan melihat Liza menahan amarah.
"Bagaimana kalau loe juga melakukan hal yang sama, sama dia?" Desis Liza.
Sangat amat santai Javir menjawab, "gue tidak akan seperti itu."
"Dia dalam masa perteumbuhan, dia membutuhkan sosok seorang ..."
"Dia akan menerima semua" potong Javir, "sosok seorang Ayah, Ibu, saudara, sahabat, uncle dan bahkan sebuah keluarga. Dia akan memilikinya, loe bisa pegang kata-kata gue" ucap Javir kali ini dengan tulus dan lembut.
Mata Liza mengerjab beberapa kali mendengarnya, dan membuang muka menatap kelain arah.
Javir hanya menatap wanita didepannya dalam diam, melihat Liza menghela nafas beberapa kali membuat Javir tahu jika Liza sebenarnya sangat menyayangi Danil.
"Gue mau tanda tangan tapi bukan berarti gue mau menjual anak gue ke loe" ucap Liza lirih, kembali menatap Javir dengan mata berkaca-kaca. "Sebagai wanita yang belum menikah tetapi sudah memiliki anak, itu satu hal yang sangat menyulitkan gue untuk bersosialisasi dan diterima dalam masyarakat."
Setelah menghela nafas beberapa kali Liza menandatangani berkas itu tampa membacanya lagi.
"Gue titip Danil."
^-^
Gea menatap layar leptop didepannya dengan wajah datar tanpa ekpresi.
Regan tiba-tiba menelfon Vira dan meminta Gea untuk menyalakan leptop Vira tampa memberika alasan yang jelas.
Setelah Gea membukanya, Gea melihat Javir dan Liza duduk berdua berhadapan di An Angel caffe and resto miliknya. Bahkan Gea juga mendengar apa yang sedang mereka berdua bicarakan.
Sekarang layar leptop Vira Javir hanya menunjukkan yang duduk sendiri menatap kosong kedepan setelah Liza pergi.
Gea masih diam menatap kearah layar itu, menatap Javir tampa ekpresi apapun.
__ADS_1
Sepasang tangan tiba-tiba melingkari lehernya, mencium puncak kelalanya dan mengelus rambutnya lembut.
"Mami jadi ingat apa yang dilakukan Ayahmu dulu sama dengan apa yang dilakjkan Javir kali ini" ucap Vira lirih. "Ayahmu memberikan berkas pengalihan hak asuh kamu, saat itu meski dia tahu kamu bukan anaknya."
Gea mendongakkan kepala menatap Vira, dia tidak tahu tentang berkas yang Vira bicarakan barusan.
Vira perlahan berjalan dan duduk disamping Gea, meraih tangan Gea, menatap Gea dalam dengan bibir tersenyum lebar namun tatapan matanya berkaca-kaca.
"Dulu saat Ayah Abra memberi berkas pengalihan hak asuh kamu pada Mami, dia juga belum menikah kembali dengan Bunda Ara" jelas Vira.
"Kenapa Mami menanda tanganinya?" Tanya Gea dengan suara datarnya.
Tangan Vira semakin mengerat menggenggam tangan Gea, "karena demi kebaikanmu. Mami ta ..."
Sangat cepat Gea menarik tangannya daru genggaman tangan Vira, membuat Vira kaget menghentikan kalimatnya.
"Demi kebaikanku atau demi hidup bebas Mami?" Dengan suara rendah penuh tekanan.
"Demi kebaikanmu" jawab Vira tegas, "Mami sadar. I'm not a good mother for you, bahkan saat itu Mami selalu menelantarkanmu." Air mata Vira menetes dan cepat-cepat dia hapus, "tapi Abra lebih sayang kamu sejak kamu didalam perut Mami, dan dia lebih menerima kamu dari pada Mami, bahkan kalian saling mengerti satu sama lain. And I know, at that time you chose your father, rather than choosing me who always left you." Suara Vira semakin mencicit, "aku mendengarnya saat kamu mengatakannya pada Abra. Sehingga Mami dengan berat hati memilih melepasmu, semua demi masa depanmu sayang."
Masih saja Gea tidak menunjukkan ekpredi apapun meski Vira menjelaskan panjang lebar, membuat Vira menghela nafas pasrah.
Vira meraih tangan Gea lagi dan menggengganya erat, "apa kamu tahu?" Tanya sambil terkekeh kecil. "Dulu Malvin rela dikeluarkan dari keluarga Yasa demi mempertahankan Javir. Abra menjauhkanmu dari Mami karena mami selalu memanfaatkanmu dan ingin kamu bahagia, mungkin karena Javir bergaul dengan pria-pria seperti itu, jadi dia juga melakukan hal yang sama pada Danil, meski kemungkinan dia harus kehilangan orang yang sangat dia cintai."
Gea masih diam, namu kepalanya perlahan menunduk dalam memutuskan tautan mata diantara mereka.
"Cobalah tanya Ayah Abra kenapa mempertahankanmu, jawabannya pasti tidak akan jauh dengan jawaban Javir pastinya, trust me."
Tidak ada pergerakan atau respkn apapun dari wajah Gea, sebelum perlahan akhirnya kepala Gea mengangguk pelan.
Gea merebahkan kepalanya di pangkauan Vira, membuat Vira tersenyum bahagia karenanya.
Tangan Gea mengepal hingga jemari tangannya memutih, tataoan matanya menatap kosong kedepan, bahkan rahangnya mengetat entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini
^-^
__ADS_1