Watching You

Watching You
Cepat Pulang


__ADS_3

Tatapan tajam tidak suka anak itu layangkan pada seorang pria yang duduk disamping Gea sambil tertawa dan terkadang merangkul pundak Gea.


Danil ...


Mulutnya berdecak melihat kearah Sebastian, pria itu akhir-akhir ini semakin gencar berada disekitar Gea. Javir selalu memintanya menjaukan Gea dari Sebastian, jadi setiap kali pulang sekolah Danil akan ke An Angel sampai malam dan diantar pulang oleh Gea.


Danil menghela nafas kesal, berjalan menghampiri meja mereka berdua dan berdiri tepat didepan mereka dengan tatapan tidak sukanya pada Sebastian.


"Om ... Kak Gea itu pacar Ayah, jadi kangan deket-deket" tegur Danil.


Gea menatap Danil dengan mengulum senyum, Dia emmabg membuarkan Sebastian terus saja merangkulnya meski dia tahu Danil berjalan kearah mereka.


Sebastian sendiri berdecak dan bergeser sedikit menjauh dari Gea.


Tatapan mata Danil berumah mals, berjalan dan duduk ditengah-tengah mereka.


Beberapa pelayan dan karyawan Gea di An Angel tertawa kecil melihat tingkah Danil.


"Dia sudah mengus tameng biar loe gak punya peluang" sundir Yesi dengan segelas susu coklat ditangannya dan meletakkannya didepan Danil.


"Thie is not fair"" keluh Sebastian. "mana tameng dia gak bisa gue lawan lagi."


Gea dan Yesi tertawa kecil mendengar keluhan dari Sebastian.


"Tameng itu apa?" Tanya Danil dengan wajah polosnya setelah meminum susu coklatnya.


"Pelindung" jawab Gea sambil mengelap coklat yang menempel dipinggir mulut Danil.


Kepala Danil mengangguk-angguk pelan seakan paham.


"Kamu ngapain disini?" Tanya Sebastian tampa menutupi perasaan jengkelnya, "ini masih belum sore. Kamu bolos sekolah ya?."


Danil menatap Sebastian dengan mata menyipit, "ada rapat OM ... Bi sana Aka bentar lagi juga kesini kok."


"Ah ... Kalau begini mah gue kala telak"


Sontak saja Gea dan Yesi tertawa ngakak mendengar keluhan Sebastian.


"Om" panggil Danil.


"Gue udah bilang jangan oanggil gue Om" keluh Sebastian, "kalian panggil kakak ke Yesi sama Gea kenapa ke gue mala manggil Om?."


"Suruh siapa punya kumis?"


Lagi-lagi Danil membuat semua tertawa ngakak.


Agar tidak semakin membuat Sebastian marah Gea pada akhirnya berinisyatif untuk membawanya kelantai tiga menjauh dari Sebastian.


"Dari pada kamu nanti buat Om Sebastian darah tinghi mendingan kita masak diatas sambil menunggu si kembar" ucap Gea sambil menggenggam tangan Dani.


"Came in Gea ... Jangan memanggil gue Om Juga" keluh Sebastian.


Gea hanya tersenyum dan terus melangkah dengan tangan Danil dalam genggaman tangannya.


Sedangkan Danil masih sempat intuk memeletkan lidahnya pada Sebastian.


Tangan Danil menatap tangan Gea, terkadang sambil melangkah menaiki tangga dia menoleh kebelakang dan menghela nafasnya.


"Kenapa?" Tanya Gea yang menyadari kegundahan Danil.


"Biasanya Ayah selalu berjalan dibelakang kita" gumam Danil lirih.


Langkah Gea terhenyi, menarik Danil semakin mendekat padanya dan mengelus rambutnya lembut.


Mereka berdua melangkah memasuki lantai tiga bersama, tiba-tiba pertanyaan Danil kembali menghentikan lanhkah Gea.


"Kak Gea kangen enggak?" Tanyanya terdengar penuh semangat, "Danil kangen Ayah" lanjutnya.

__ADS_1


"Kangen" ucap Gea sambil emngedarkan pandangannya, "tapi kangennya gak begitu kangen banget karena ada Danil, Bilqis dan Chaka yang selalu nemenin Kak Gea.


"Ayah kapam dateng?, ini sudah empat hari."


"Berdo'a aja biar semua urusan Ayahmu selesai dan bisa cepat pulang."


"Udah kok ... Tapi kira-kira kapan pulangnya?."


Gea tertawa kecil mendengarnya, "tanya aja Ayahmu kapan dia pulang."


"Gimana mau tanya, Ayah aja gak pernah nelpon Danil. Sama Kak Gea Ayah pasyi nelpon ya?."


Kepala Gea embggeleng pelan, "gak pernah" ucapnya lirih sambil mengeluarkan smeua bahan makanan yang berafa di dalam kulkas.


^-^


Ponselnya menghilang ...


Javir kalang kabut mencarinya, semua bawahan Enzo banhka ikut mencari ponsel Javir yang hilang itu.


Itu ponsel yang selalu dia pakai untuk memantau Gea, dan tiba-tiba saja menghilang. Padahal Javir ingat betul jika dia meletakkannya di sofa sebelum sarapan pagi bersama yang lainnya.


Javir yang kesal tampa pikir panjang menghampiri Regan yang sedang duduk di ruang tamu dengan Belda dan Hana.


"Kembalikan ponsel gue" pinta Javir dengan tangan mengadah kearah Regan.


Kening Regan mengerut tak mengerti, "hp loe yang mana?, kenapa juga malah minta sama gue?" Regan malah balik tanya dengan nada santainya.


Javir mendengus dan kembali mencari ponselnya.


Hingga sampai didepan tangga dia berpapasan dengan Enzo yang menatapnya dalam dan tajam membuat Javir mengerti akan sesuatu.


Langkah Javir langsung terhenti didepan Enzo, menatapnya dengan tatapan memelas agar merasa kasihan dan mau Enzo mengembalikan ponsel miliknya.


"Mau cepat pulang atau mau dmtinggal disini lama?" Tanya Enzo dengan nada suara dan wajah yang datar.


"Cepat pulang" ucap Javir tegas.


Aura kepemimpinan dari Enzo menguar seketika, bahkan Javir seakan tidak bisa berkuti dari tempatnya berdiri.


Plak ...


Satu tepukan dipundak Javir dari majalah yang Enzo pegang berhasil membuat tubuh Jabir miring kesamping sehingga memudahkan Enzo meneruskan langkahnya menuruni tangga.


Ruangan itu serasa sunyi seketika, bahkan suara bawahan Enzo yang tadi ikut mencari ponsel Javir langsung membubarkan diri dengan sedetik lirikan tajan Enjo yang melewati mereka sebeljm maauk keruang kerjanya.


"Bunda sama Ayah mau kesini?" Tanya Belda dengan lirih seakan tahu ketegangan yang tercipta di sana.


"Iya" jawab Hana, "karena mau nyidang kalian. Apa yang ..."


Telinga Javir menuli sengaja tidak mau embdengar apapun dan memilih menaiki tangga menuju kamarnya.


Cepat pulang ...


Semua harus selesai, dia tidak menyalahkan Enzo yang kwcewa pada mereka berempat karena fokus mereka memang pada perempuan semua, terutama Regan dan Aslan yang terang-terangan pamit meminjam mobil untuk menemui Belda dan Zia.


"Gue bantu" itu suara Regan, "kita mulai dari mana" ucapnya sambil duduk di kasurnya dengan leptop miliknya yang sudah dia buka.


Javir melirik Regan dengan kesal, "terserah yang penting selesai gue cepet pulang. Hubungi As sama Al untuk stand by, gue gak perduli mereka lagi dimana dan ngapain. Setelah pekerjaan gue selesai, gue bisa langsung pergi ninggalin kelian."


^-^


Resa berdiri didepan pontu salah satu ruang rawat VVIP, menatap orang yang terlentang diatas kasur pasien dari kaca kecil dipintu.


Pak Lutfi sakit.


Papa dari Papanya sedang sakit.

__ADS_1


Sudah dua hari beliau dirawat di rumah sakit ini tetapi Resa sebisa mungkin menghindar dari beliau dan keluarganya.


"Masuklah"


Resa tersentah seketika.


Disampingnya ada Mela yang berdiri menatap kearahnya dengab senyum segaris.


"Bagaimanapun dia kakekmu"


Kepala Resa menggeleng pelan dan hendak pergi dari sana.


"Aku akan berjaga disini" ucap Mela menghentikan langkah Resa.


Perlahan Resa berbalik badan menghadapnya dan menatapnya dnegan tatapan ragu.


Mela tersenyum lebar dan menarik tangannya, sedangakntangan yang lainnya membuka pintu ruang rawat itu.


"Gak ada salahnya Dokter mengecwk kesehatan pasien, kamu juga bisa pakai masker" ucap Mela lembut.


Dengan sedikit perasaan terpaksa Resa melangkahkan kakinya pelan setelah memakai maskernya.


Pak Lutfi tertidur.


Resa melihat nama pengenal dan informasi pasien yang tertempel di kasur pasien.


"Pagi Dok"


Resa mengangkat wajahnya menatap kearah Pak Lutfi yang sudah terbangun dan menatap kearahnya.


Diam-diam Resa menghela nafas dan menganggukkan kepala membalas sapaan Pak Lutfi tampa emngeluarkan suara.


"Apa anda Dokter jaga baru?" Tanya Pak Lutfi dengan suara lemahnya.


Kepala Res mengangguk pelan.


Mereka terdiam, saling tatap tampa mengatakan apapun.


Perlahan senyum Pak Lutfu terukir meski hanya segaris dan samar, "apa kabar Dojter Resa" sapanya lirih.


Resa menahan nafas sejenak.


"Akhirnya kamu jenguk Kakek juga"


Tangan Resa mengepal kuat, "sayabukan menyeguk anda. Saya kesini hanya mengecek keadaan anda karena perintah Dokter penanggung jawab anda", ucap Resa sambil berjalan dan mengecek infus dan layar pation monitor.


Meski sadar jika tatapan Pak Litfi masih tertuju padanya, sebisa mungkin Resa menghindar dari tatapan beliau.


"Semua setabil, nanti a ..."


"Dokter kita akan mengecek pasien selanjutnya


Tiba-tiba saja Mela masuk tampa mengetok pintu kamar.


Resa menoleh pada Mela yang memberinya isyarat dengan memiringkan kepala, membuat Resa paham jika ada yang mendekat.


"Semoga anda cepat baikan dan cepat pulang, per ..."


"Apa kamu bisa kesini dengan Kakak dan orang tuamu?" Tanya Pak Lutfi sambil menggenggam tangan Resa lemah.


Resa urung melangkah dan kembali menoleh pada Pak Lutfi, kali ini dia membalas tatapan Pak Lutfi.


Terasa genggaman tangan Pak Lutfi mengerat.


"Abang Je lagi di luar kota, yang bisa membujuk Papa hanya Abang" ucap Resa lirih, "permisi."


Resa kembali melangkahkan kakinya dengan lebar.

__ADS_1


Didepan pintu hampir saja dia berpapasan dengan Qia dan istri Pak Lutfi, namun dnegan cepat Mela menarik tangannya kelain arah dan pergi dari sana secepatnya.


^-^


__ADS_2