
"Can you open the door for me?"
Gea membaca pesan yang muncul dilayar ponselnya, mengejek jam pengirima pesan itu sudah dari jam lima pagi.
Semalam Gea tidak tidur, mwnyibukkan diri dengan nonton film series sambil menunggu adzan subuh lalu tidur. Jadi dia tidak tahu jika Javir mengirimnya pesan selang beberapa menit dia tertidur.
Sekarang sudah jam setengah tujuh, Gea berlalri menuruni tangga dengan terburu-buru.
Benar saja, Javir duduk menatap kosong kedepan dengan kedua tangan saling bertautan seakan bertahan dari cuaca dingin.
"Hei" sapa Gea berjalan mendekati Javir.
Perlahan Javir menoleh padanya dan tersenyim segaris.
"Maaf, gue baru tidur saat loe ngechat."
Javir menganggukkan kepalanya.
Gea duduk disamping Javir menusupkan tangannya ditengah-tengan kedua tangan Javir yang saling bertautan. "Mau masuk?" Tawar Gea.
Javir mengangguk pelan.
Gea berdiri sambil menarik tangan Javir agar mengikutinya, tetapi Javir menahan tangannya, melepaskan sebelah tangannya yang menggenggam tangan Gea.
Waktu serasa melambat untuk Gea, kala tampa melepas tautan tangan mereka, tampa Javir melepas Jaketnya terlebih dahulu, jaket yang dikenakan Javir berpindah menyelimuti tubuhnya.
"Baju tidurnya kependekan" protes Javir, "jangan buat gue khilaf."
Gea tertawa kecil, merangkul lengan Javir dan mereka melangkah bersama memasuki An Angel.
Sesampainya di lantai tiga, Gea melepas tautan tangan mereka berdua.
"Gue ganti baju duli biar loe gak khilaf" ucap Gea sebelum pergi masuk kedalam kamar.
Javir berbaring di dibad sofa depan tv, tangannya memijit keningnya, kepalanya mulai terasa sakit.
"Gue gak punya minuman anget-anget" ucap Gea sambil berjalan kearah dapur, "minum susu strowbery mau?" Tanyanya menatap Javir dengan senyum lebarnya.
"It's ok"
"Ok"
Gea mengetahui dari pantulan pintu kichen set disampingnya, jika Javir memperhatikan setiap gerakan Gea.
Sesekali terlihat Javir menghela nafas, kembali duduk di sofa dan menengadah menatap langit-langit rumah Gea.
Gea membawa dua cangkir susu strowberi hangat, dan duduk disampong Javir setelah meletakkannya di meja. Tangannya terulur merapikan rambut Javir yang acak-acakan.
"Minum dulu" ucap Gea lembut.
Javir menatap dalam Gea yang masih merapikan rambutnya.
"Mau makan apa?, stok makanan di bawah banyal, gue bisa masakin buat loe."
Tatapan Gea yang lembut seakan menggerakkan tangan Javir untuk menyentuh pipinya. "Kayaknya udah siap jadi istri gue yang selalu siap masak buat gue" ucap Javir dengan tatapan jenakanya.
"Ih ... apaan sih"
Gea mendorong Javir menjauh.
Javir tertawa kecil.
"Gue serius tanya loe mau makan apa malah ngegombal."
"Terserah, apapun masakan loe pasti gue makan. Kalau gak bisa diterima lambung gue ya hak gue makan, karena gue gak mau mati dan buat loe sedih."
Gea berdiri dari duduknya dan mengangkat tanganynya menatap Kavir jengkel, "gue tabok nih tuh mulut" ancamnya.
Javir hanya tertawa ngakak.
__ADS_1
Kesal, Gea berbalik dan pergi dari sana.
Mana ada yang tahan kalau digombalin begitu, terlebih dengan oranv yang kita sayang.
^-^
Javir memperhatikan Gea yang sedang memasak di dapunya, perempuan itu tidak bertanya kenapa dia kemari pagi-pagi.
Padahal Javir yakin jika Gea pasti sedang menahan diri untuk tidak bertanya padanya.
Setelah Malvin bercerita semuanya, otak Javir serasa kacau, dia tidak bisa tidur semalaman dan akhirnya memutuakan untuk keliling Jakarta tampa tujuan dan berakhir di depan An Angel tampa dia sadari.
"Udah siap ayo makan"
Tangan Gea melambai-lambai memberi isyarat agar Javir mendekat dan membantunya membawakan makanan mereka.
Javir tersenyum, berjala menghampiri Gea, mencium pelipisnya sejenak sebwlum membantunya membawakan makanan ke depan tv.
Selama mereka makan tidak ada pembicaraan yang berarti bahkan samapai selesai makanpun Gea masib diam tidak bertanya kenapa dia disini.
Akhirnya Javir sendiri yang tidak tahan, dia memeluk Gea yang sedang mencuci piring dari belakanga.
"Kenapa tidak bertanya apapun?" Tanya Javir lirin.
"Kalau loe siap pasti loe juga cerita" jawab Gea, mencucu tangannya dan berbalik menghadap Javi. "Memangnya kalau gue nanya loe mau jawab?, belum tentu juga kan?."
Tangan Javir membingkai wajah Gea, "kalau loe siap masuk dalam keluarga gue, saat itu gue akan cerita semua."
Gea tersenyum, menggenggam sebelah tangan Javir. "Kalau loe aja gak siap buat cerita dan terbuka, kenapa gue harus siap masuk dalam keluarga loe."
Serasa senjata makan tuan, Javir tertawa pelan, menarik Gea kembali dalam pelukannya.
"Gue anak diluar nikah" ucap Javir lirih, "Pamav dijebak dengan saudara tirinya. Ibu tirinya mengonpori Papanya Pamav, Pamav diberi pilihan antara ngebuang gue atau keluar dari keluarga karena mereka gak mau nanggung malu. Tapi dia mempertahankan gue, da ..." Javir semakin mempererat pelukannya, "Papanya Pamav mengatakan kalau gue pasti akan berakhir kayak Pamav."
Tangan Gea melingkari pinggang Javir.
"Entah kenapa gue merasa ketakutan setelah mendengarnya, gue takut An."
Javir merenggangkan pelukan mereka berdua, menatap Gea dengan sebelah alis terangkat.
Tangan Gea menutup mulut Javir saat wajah Javir mulai mendekat.
"Tapi belum tentu juga gue mau ciuman sama loe" tandasnya.
Sontak saja Javir terkekeh mendengarnya.
Pipi Gea mulai bersemu, dia masuk kedalam pelukan Javir dan menenggelamkan wajahnya didada Jabir malu.
"Kita sama-sama saling mengingatkan dan menjaga batasannya, maka ucapannya tidak akan terjadi."
Javir menghela nafas, serasa beban dipundaknya berkurang.
Mencium puncak kepala Gea dan mengelus rambutnya dengan lembut. "Gue udah cerita loh, gimana loe udah ..."
Gea mendorong tubuh Javir seketika."gue udah makan" ucapnya cepet. "Sekarang waktunya siap-siap buat buka caffe, dan loe juga harus siap-siap kerja."
Javir tertawa lepas, kembali memeluk Gea. "Ah ... serasa udah jadi suami istri" serunya disela-sela tawanya.
Di cela pintu lantai tiga yang tidak tertutup dnegan rapat, sepasang mata memerah penuh emosi menatap mereka berdua dengan tajam.
^-^
"Loe dari mana?"
Javir menoleh kearah lift rahasia menuju Raja Crown yang berada didala ruangannya.
Disana sudah ada Regan yang berdiri dengan ransel dipunggungnya, mengebakan kaos dan celana jins selutut.
"Dari rumah lalu mampir An Angel" jawab Javir, "loe gak ke rumah sakit kok pakek celana. Selutut?."
__ADS_1
"Geu sama Gea mau ke Malang bareng Bunda dan Ayah, mau jenguk Ibu As."
Tangan Javir yang semula hendak membuka berkas didepannya terhenti. "Tapi Gea gak bilang apapun."
"Baru Sepuluh menit lalu gue ngajak dia"
Kepala Javir manggut-manggut sambil berfikir.
Selang berapa detik setelangnya dia menatap Regan dengan mata berbibar, paham denga tatapn itu, Regan berdecak malas.
"Please" ucap Javir dengan nada memohon.
"Asal sampek malang loe yang nyetirin"
"Ok" seru Javir.
Padalam belum juga sedetik Regan selesai berbicara, Javir sudah menyetujiunya tampa pikir panjang terlebih dahulu.
Dengan semangat empat lima Javir berdiri dan berlalri masuk kedalam lift.
Meski nantinya dia akan kelelahan, setidaknya dia bisa meringankan otaknya kali ini yang sedang mumet.
Satu jam kemudian Javir sudah berada di depan An Angel, tidak langsung turun, Javir memeperhatikan beberapa orang dari dalam mobilnya.
Dia merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan.
Setelah melihat Gea turun dari tangga, senyum Javir terbit seketika. Turun dari mobil secara tidak sabaran melangkah dengan lebar mendekati Gea yang membawa ransel.
"Hai My An" sapanya memeluk Gea.
Senyumnya perlahan memudar kala melihat Faris yang mmebawa koper milik Gea menuruni tangga tepat dibelakang Gea.
Javir mencium pelipis Gea dan merenggangkan pelukan mereka berdua. "Siap haneymoon?" tanya Javir dengan tatapan jahilnya.
"Honeymoon kepalamu" umpat Gea.
Javir terkekeh, melepaskan pelukannya, menautkan jemari mereka beruda.
Sebelah tangannya terulur mengamb alih koper Gea dari Faris yang ternyata menatapnya dengan tatapan tajam.
"Terima kasih sudah membantu" ucap Javir sebelum berjalan bersama Gea keluar An Angel.
Meski beberapa orang melihat kearah mereka, Javir tidak perduli. Dia malah melepas genggaman tangannya dan melingkari pinggang Gea dengan mesra.
Setelah mereka masuk mobil, tangan Gea memukul lengan Javir. "Kamu sengaja ya cium-cium, meluk-meluk sok romantis gitu depan anak-anak."
Javir tertawa kecil, sebelah tangannya mengelus rambut Gea dan sebelahnya lagi memegangi stir mobil.
"Jangan gitu dong Je."
"Biarin aja mereka tahu kalau loe punya gue."
Gea berdecak kesal.
"Dan jangan pernah lagi mengizinkan siapapun ke lantai tiga kecuali kita berempat, Mela atau Yesi."
Kening Gea mengerut mendengarnya.
"Kunci An Angel kasih ke Nanda dan Haikal" ucap Javir, dari suaranya terdengan tampak serius. "Selama kita di Malang mereka akan menginap di An Angel."
"Kenapa?"
"Jangan banyak tanya deh saayang"
Tangan Gea memukul lengan Javir berkali-kali, Jabir hanya tertawa. Gea pasti sedang salting sekarang.
Bukan niatnya untuk menggombal, tetapi dia mau Gea terus mendesaknya denga. Berbagai pertanyaan lagi tentang alasan Javir memintanya untuk menyerahkan kunci An Angel pada Nanda dan Haikal.
Semua demi kebaikan Gea nantinya, dan selama Javir dan Gea ke Malang, dia akan diam-diam meminta Nanda untuk menyiapkan sesuatu.
__ADS_1
Semua demi Gea.
^-^