
Gea berjalan terburu-burh memasuki An Angel.
Sejak tadi Yeai menghubunginya untuk segera ke kantor EO mereka yang berada di lantai dua Cafe and Resto An Angel.
Baru saja Gea menginjak lantai dua, dia sudah disambut oleh Sebastian.
Klien EOnya, temannya dan teman Yesi juga saat mereka masih sekolah menengah atas,
"Baru aja ketemu gue udah ditinggal" ucap Sebastian dnejan nada dibuat-buat.
Gea mencobir memukul lengan Sebastian pelan, "jangan sok imut deh Tian, gue malas dengerinnya, geli."
Sebastian tertawa ngakak dan merangkul pundak Gea dengan santai dan berjalan masuk bersama.
Yesi yang berada disana hanya bisa gelenggeleng kelala melihat mereka berdua. Sebastian kuliah diluar kota setelah lulus dari SMA dan sangat jarang menghubungi mereka berdua.
"Loe lesini ngapain sih?" Tanya Gea setelah mereka duduk di sofa, "bukannya maslaah kerjaan udah selesai dibahas tadi."
Gea melirih Yesi yang berjalan mendekati mereka.
"Udah" sahut Yesi, "tapi dia mau ketemu loe kangen katanya. Telinga gue sampek males denger semua rentetan pertanyaannya, mangkanya gue minta loe cepet kesini dan jawab sendiri."
"Pret ..." Gea memutat bola matanya melirik Sebastian sinis, "setelah menghilang cukuplama baru bilang kangen."
"Kebiasaan dia tuh dari dulu" sahut Yesi, "kalau punya pacar kan mana inget kekita."
Sebastian tertawa ngakak, "gak gitu juga kali."
"Alah ... Lagu lama keles" omel Gea.
Mereka bertiga tertawa bersama.
Pertemuan di hotel Raja Trone itu adalah pertemuan mereka setelah sekian tahun, sebelum pertemuan itu hanya bawahan Sebasyian yang menghubunginya mewakilkan Sebastian sang atasn.
Kepala sebastian menengok kekanan dan kekirin mencari sesuatu membuat kening Gea mengerut.
"Cari apaan?" Tanya Gea.
"Dapurnya mana?"
"Ngapain tanya dapur?."
"Rujakan yuk kayak dulu" ucak Sebastian sambil menyengir, "gue bawa buah-buahan ada di mobil."
"Hadeh ..." keluh Yesi nyaring, "kalau mau kesino tuh bawa kue atau apa kek. Ini malah ngajak rujakan, yang bener aja."
Gea tertawa sambil menganggukkan kepala membenarkan perkataan Yesi.
Tangan Sebastian melempar babtal sofa kearah Yesi, "loe mah gak tahu apa perjuangan gue rebutan mangga muda sama ibu-ibu."
Tawa Gea semakin menggema mendengarnya membayangkan bagaimana seorang Sebastian berdebat dengan Ibu-ibu, karena dulu Sebastian pernah melakukan hal yang seperti itu.
"Ya udah ambil gih, gue tunggu diatas" ucap Gea sambil berdiri dari duduknya.
Meski otaknya sedang mumet memikirkan hubungannya dengan Javir, dia tidak mungkin bukan mengusir Sebastian dan memintanya untuk datang dilain waktu.
Didepan pintu lantai tiga, tangan Gea tidka langsing membuka pintu, dia masi. Menghela nafas dan menatap sendu pada gangang pintu.
Apa loe masih ngawasin gue?
__ADS_1
Setiap kali Gea hendak memasuki lantai tiga An Angel, pertanyaan yang sama selalu muncul dibenaknya.
"Meski loe gan kuliah usaha loe cukup sukses ya"
Gea menoleh kesamping, ternyata Sebastian yang mengekorinya sejak dia melangkah menaiki tangga, bukan Yeai seperti dugaannya.
"Buah-buahannya mana?" Tanya Gea.
"Yesi yang ngambil" jawab Sebastian.
Mereka mesuki lantai tiga.
Mata Gea langsung melirik kesegala arah, dia ingin tahu dari mana Javir mengawasinya, tetapi dilain sisi Gea juga tidan ingjn tahu karena dia tidak mau Javir tahu jika Gea sudah mengetahui kelakuan Javir yanh selalu mengawasinya.
"Gea" panggil Sebastian.
Pikiran Gea yang sedang memikirkan Javir langsung teralih seketika, "apa?" tanya Gea dengan tenang mencoba agar Sebastian tidak tahu jika dia sedang memikirkan sesuatu.
Tangan Gea yang sedang membuka pintu kulkan terhenti kala Sebastian meraih kedua tangannya dan menggenggamnya erat.
Gea yabg terkejut hendak melepaskan tangannya dari genggaman tangan Sebastian dan menoleh kekanan kekiri berharap jika Javir tidak melihatnya.
"Alasan gue menghilangkarena loe nolak gue tiga tahun lalu" ucap Sebasyian.
Gea langsung gelisah mendengarnya.
"Loe nolak gue karena dia"
Mata Gea membulat semakin gelisah.
"Terus bagaimana sekarang hubungan loe dan dia?" Tanya Sebastian dengan tatapan tajamnya menatap Gea. "Kalau harapan gue untuk bisa sama loe gak pupus lob Ge, bahkan kalau detik ini juga loe bilang iya untuk nikah dengan gue, maka detik ini juga gue akan datengin orang tua loe buat ngelamar loe."
Sebastian menatapnya dengan dalam, bahkan tangannya perlahan teranhkat dan Sebastian mencijm punggung tangannya denhan tatapan mata masih bertautan.
Sontak saja Gea menarik tanganhya kasar dan berjalan mundur sambil melirik kekanan dan kekiri dengan gelisah.
^-^
"Ayah" panggil Danil.
Javir yang duduk disofa dengan leptop didepannya mengangkat wajah menatap anak itu yang baru saja terbangun.
"Hai boy" sapa Javir sambil berjalan menghampirinya.
"Kenapa Ayah disini?, kenapa gak kekantor?" Tanya Danil lirih.
"Karena Ayah masih belum bisa tinggalin Danil yang masih sakit" jawab Javir dengan senyum segarisnya.
"Ada dokter dan suster diaini, Ayah kerja aja" ucap Danil perlahan duduk.
Javir tersenyum mendengar kalimat Danil, saat mengatakannya Danil sekan sudab biasa ditinggal dirumah sakit, membuatnya terenyuh.
Tangan Javir mengelus rambut Danil yang berantakan dan merapikannya.
"Ayah mau ke Bali" ucap Javir lirih, "mungkin akan tinghal disana juga." lanjutnya. "Em ... Danil mau gak ikut Ayah tinggal di Bali?, tapi kalau Danil ma ..."
"Mau kok" potong Danil.
"Ayah masih belum selesai ngomong" tegur Javir sambil menarik hidung Danil membuat Danll terkekeh kecil.
__ADS_1
"Maaf" ucap Danil disela-sela tawanya.
Javir duduk dipinggir kasur Danil menghadap Danil dan menatapnya.
Seakan mengerti apa yang akan dikatakan Javir serius, Danil duduk bersila dengan tatapan matanya yang fokus hanya pada Javir.
"Tapj kalu Danil ikut, Danil akan sekolah dirumah bukan disekolahan" jelas Javir, "karena Ayah disana pasti sibuk gak bisa ngenter jemput Danil. Kalau Dankl merasa nyaman sekolah disekolahan sekarang, Danil bisa tinggal dengan Uti, Akung dan Aunti. Tiap bulan Ayah pulang kok."
Tatapan mata Danil berubah sedih, "apa Ayah akan mundur perlahan lalu pergi seperti Ibu?"
Kening Javir mengerut mendengar pertanyaan Danil yang diluar dugaannya.
"Sebelum Ibu pergi, Ibu sering marah-marah dan mengomel lalu pergi lamaaa ... Lalu gak dateng lagi ."
"Enggak" bantah Javir, "Ayah bukan Ibu yang mundur perlahan meninggalkan Danil."
Javir memeluk Danil dalam dekapannya.
Dia tidka akan mundur perlahan atau terang-teangan pergi meniggalkan Danil.
Tetapi dia akan mundur perlahan dalam memperjuangkan hubungannyabdan Gea, lagi pula ada seoarang pria yang bujangan dan berstatus jelas yang mencintai Gea.
Ya ...
Javir melihat bahkan mendengar apa yang terjadi dilantai tiga An Angel.
Gea berhak mendapat yang lebih baik.
^-^
"Ngapain loe?"
Buru-buru Jabir menutup layar leptopnya dna kembali berkemas memasukkan baju dan celana kedalam kopernya.
Regan berjalan menghampirinya dengan perasaan penasaran dan berdiri disamping Javir menatap apa yang sedang Javir lakukan.
"Loe mau kemana?" Tanya Regan bingung melihat Javir memasukkan banyak baju kekopernya.
"Gue kerja dari Bali" ucap Javir dengan santai.
"Bali?" Tanya Regan tidak mengerti.
Kepala Javir mengangguk dengan tangan yang terus sibuk, "gue mau ngurus Raja Throne dari sana sekalian mau mantau perkwmbangan hotel kita disana."
Regan terperangah mendengarnya, "apa kerjaan kalian memang kabur dari masalah?."
Sejenak tangan Javir berhenti bergerak.
"Sepuluh tahun lalu loe yang peegu, baru-baru ini Gea yang oergi, sekarnag gantian loe?" Tanya Regan dengan nada marah. "Kalau ada masalah ya selesaikan dengan bertemu langsung, bicara langsung maka semua pasti selesai.
"Sudah" bantah Javir tegas, "gue sudah tanya langsubg sama dia beberapa kali, udah tanya gue harua gimana buat ... Ngelanjutin hubungan kita. Tapi dia ... Hah" Javir menghentikan kalimatnya saat tersadar sudah berbicara terlalu banyak.
"Dan loe memilih menyerah begitu?" Tanya Regan dengan dingin.
"Ya" jawab Javir dengan tegas, bahkan dia menatap Regan tajam meyakinkan Regan atas apa yang dia ucapkan. "Karena gue tahu diri, apa gue haris menjelaskan lebih jelas lagi?."
Tatapan mata mereka semakin menajam menatap satu sama lain.
Diambang pintu kamar Javir di Raja Crown, Aslan hanya diam mengurungkan niat untuk masuk dan bergabung dnegan mereka setelah mendengar apa yang Javir katakan dengan penuh tekanan diakhir kalimatnya.
__ADS_1
^-^