
Gea berlari terburu-buru setelah keluar dari mobil dan melihat Danil berada didalam cafenya bersama dwngan Yesi.
Wajahnya tampak khawatir, tatapan matanya terus saja menatap kearah Dnil sambil terus melangkahkan kaki kearahnya.
Dia tidak habis pikir dengan cara anak yang masih duduk di bangku SD, bagaimana bisa berada di cafenya, bahkan dia terlihat bahagia dan tertawa-tawa tampa tahu jika semua orang sedang mencarinya.
Ge baru saja memasyki mall bersama Sebastian, dia malah mendapatkan screen shoot ruang percakapam group Raja dari Regan yang berisi tentang obrplan Regan, Aslan, Javir dan Alaric tentang Danil yag menghilang dari sekolahnya. Sehingga tampa pikir panjang Gea langsung keluar dari mal berniat untuk mencari Danil dan mengajak Yesi untuk ikut membantunya mencari Danil.
"Danil" panggil Gea sembari berkacak pinggang berdiri tepat didepan meja anak itu.
Dengan wajah polosnya Danil mendongakkan kepala dan tersenyum menatap Gea, "hai Kak Gea" sapanya dengan riang.
Gugurlah amarah Gea saat itu juga.
Dengan lemas Gea duduk disamping Danil dan menatapnya dalam yang dibalas anak itu dengan senyum lebar dan tatapan polosnya.
"Kak Gea dari mana?" Tanyanya lembut.
"Ih ..." Gea malah geram dan gemas dengan Danil yang terligat polos, sehingga dia hanya bisa mengepalkan tanganya menahan diri untuk tidak mencubit pipi anak itu. "Yang seharusnya tanya begitu itu Kak Gea, kamu dari mana kenapa bisa ada disini?. Kamu gak tahu semua orang mencari kamu?, semua lagi panik dan khawatirin kamu Danil."
"Oh ya?" Tanya Danil dengan mata merebar dan kesenangan, "siapa aja?, apa Kak Gea juga khawatir?" Tanyanya dengan nada girang.
Gea melongo mendengarnya, melirik Yesi yang terkekeh kecil mendengar perkataan Danil.
"Semua orang" jawan Gea, kali ini dengan nada lebih tennag dari sebelumnya. "Yang artinya, teman-teman Ayah Danil, keluarga teman Ayah Danil dan Kak Gea yang sebagai teman Ayah Danil juga khawatir."
Terlihat senyum diwajah Danil tiba-tiba menghilang, dan terlihat sedih.
Lagi-lagi Gea melirik Yesi yang hanya mengangkat bahunya ikut bingung dengan ekperesi wajah Danil yang tiba-tiba berubah.
"Apa Kak Gea sekarang bukan lagi pacar Ayah Javir?" Tanya Danil dengan suara yang cukup amat lirih.
Gea terperangah mendengarnya.
"Apa karena Danil?"
Kepala Danil terangkat, dia menatap Gea dengan ekperesi wajah datarnya, namun tatapan matanya tampak sedih.
Tatapan Danil membuatnya tercekat, bahkan semakin bingung rasanya mau menjawab atau menjelaskan dari mana pada anak sepolos Danil.
"Enggak kok" itu Yesi yang menjawab, "bukan karena Danil, tenang aja."
Danil menatap Yeai seakan mencoba mencati kebenaran, membuat Gea diam-diam menghela nafas lega.
Teringat sesuatu, Gea membuka ponselnya dan megjrim pesan pada Regan agar memberi tahu Javir jika Danil di cafenya.
Entah kenapa, jika urusan Danil dia merasa canggung dengan Javir.
"Danil udah besar, Danil tahu kok. Kak Gea dan Ayah putus pasti karena Danil" ucapnya lirih.
Jemari tangan Gea yang tadinya sedang memencet layar ponselnya membalas chat dari Regan mengambang diudara seketika.
"Apa Kak Gea gak suka Ayah punya anak Danil?, apa karena Danil anak Ayah dan Ibu?."
Kepala Gea menggelengbpelan, membalas tatapn Danil.
"Terus kenapa putus?" suaranya terdengar mencicit, "Ayah Javir sayang kok sama Kak Gea. Ayah selalu liatin fotonya Kak Gea, di hpnya, di leptopnya bahkan kadang sering nonton chanel kak Gea juga."
"Danil tahu dari mana?" Tanya Gea lirih.
"Tahu apa?, tahu kalian putus atau tahu Ayah sering liatin foto Kak Gea?."
"Dua-duanya."
"Karena Ayah tiba-tiba ngajak Danil tinggal di Bali, tiap hari bahkan hampir tiap waktu liatin foto Kak Gea dimana pun. Ayah pasti kangen, Danil juga gitu dulu, sering liatin foto Ayah di kamar Ibu. Apa lagi waktu jemput Danil dan Ayah, Kak Gea sering bicara sama Om-om itu, tapi gak bicara sama Ayah. Ayah marah dan gak makan, sampai dirumah Akung langsung tidur katanya sakit kepala. Jadi Uti ...."
Penjelasan Danil yang panjang membuat Gea menatap dalam anak didepannya itu.
Kenapa anak seusia Danil, dia bisa mengerti dan menebak apa yang sedang terjadi disekitarnya?.
Apa anak kecil jaman sekarang sudah bisa berfikir yang berat-berat?.
Terkadang Chaka dan Bilqis juga seperti itu, berbicara layangnya orang tua dan terkadang berani memberi pendapat dan masukan.
^-^
Javir menatap pesan yang Regan teruskan padanya, pasti dari Gea.
__ADS_1
Kesal, Kavir menendang kursi didepannya dengan cukup keras. Untung saja otaknya masih berfungsi sehingga dia tidak menendang kursi kemudi, jika tidak entah apa yang akan terjadi nantinya.
"Danil beneran d An Angel Cafe and Resto Pak?" Tanya Dian.
"Iya" jawab Danil sekenanya.
"Bukannya itu punya mbak Gea?."
"Emang punya Gea Dian ... Eonya saja An Angel, Chennelnya An Angel, ya kalau Cafe namanya An Angel ya pasti milik Gea Dian" omel Javir.
"Kalau toko kelontong namanya An Angel, itu juga punya mbak Gea juga?."
Buk ...
Kali ini Javir menendang belakang sandaran kursi Dian pelan.
"Gue gak lagi mood buat bercanda!."
Danil mengaduh sambil tertawa kecil mendengar derutuhan Javir.
Mobil mereka memasuki pekarangan cafe, Javir langsung keluar dan melangkah dengannlebar memasuki cafe An Angel.
Sebelum menaiki tangga langkahnya terhenti saat melihat Eric berdiri disamping tangga menatap kearahnya.
"Loe minta bantuan anak loe untuk ngebujuk Gea balikan ya?" Tuduh Erik.
Javir tersenyum sarkasme dan kembali melanjutkan langkahnya, memilih untuk tidak menghiraukan Erik.
Lagi-lagi langkah Javir terhenti, kali ini oleh Yesi yang merentangkan tangannya menghalangi langkah Javir menaiki tangga kelantai tiga.
"Loe minta anak loe yang masih polos itu untuk ngebujuk Gea balikan?"
Pertanyaan yang sama seperti Eric.
Javir berdecak, mendorong pelan lengan Yesi agar tidak menghalangi langkahnya.
"Kenapa sih, jadi cowok loe menye-menye?"
Pertanyaan Yesi kali ini menarik atensi Javir sehingga Javir menghengikan langkahnya dan menatap Yesi tajam.
Seakan tidak takut, Yesi malah mengangkat wajahnya balik menatap Javir.
Yesi menarik sebelah sudut bibirnya, "terlalu lemah mengambil tindakan. Kalau emang laki tunjukin dong, bukan karena Gea gak amu loe malah manut aja tampa pembuktian."
"Loe kira gue gak per ..."
"That is not enough Bang" potong Yesi, "loe terlalu manjain dia dengan hubungan kalian. Loe juga gak bisa tegas ngambil keputusan, pergi karena ada Sebastian yang tiba-tiba muncul. Saat Sebastian melamar loe pura-pura sakit dan balik lagi mak ..."
"Gue gak pura-pura sakit An**ng!" Seru Javir.
Tak tak tak tak ...
Javir kembali menuruni tangga dengan kaki sedikit menghentak sehingga menimbulkan suara, berdiri didepan Yeai dengan wajah menahan amarah.
"Kalau loe gak tahu apa-apa mending loe diam karena mood gue lagi gak bagus kali ini" ucap Javir penuh peringatan.
"Kata siapa gue gak tahu?" Nada suara Yesi terdengar menantang, "justru gue tahu semua. Meski gue gak begitu deket dengan loe, gue mengenal Gea dari bayi dan pastinya lebih baik dari loe. Seandainya loe tinggal di Bali dua bulan atau tiga bulan lagi, loe pasti udah kalah sama Sebastian untuk mngedapetin Gea. Selain dia berani ngelamar Gea langsung ke Ayah meski tahu Gea akan menolak, tapi dia cukup mengenal Gea lebih baik dari loe yang hanya berani mengawasi Gea dari jauh."
Mata Javir semakin tajam menatap Yesi.
"Kita berteman empat tahun Bang, dan itu lebih dari cukup buat dia bisa meyakinkan Gea untuk nikah dengan dia meski Gea akan kesulitan ngelupain cowok macam loe."
Dengan raut wajah dinginnya, Yesi verbalik badan dan menuruni tangga meninggalkan Javir yang masih penuh dengan amarah.
Javir mengacak-acak rambutnya, menaiki tangga masih dengan wajah menahan amarahnya.
Tampa mengetuk pintu dia membuka pintu lantai tiga dengan kasar hingga menimbulkan bunyi bantingan.
Gea dan Danil yang berada didapur terperanjat mendengar bantingan pintu.
Langkah Javir begitu cepat menghampiri Danil dan Gea di dapur, tangannya menyentak lengan Danil agar berdiri didepannya hingga Danil hampir terjatuh.
"Kenapa pergi gitu aja dari sekolah?" Tanya Javir dengan suara meninggi.
Terlihat Danil terperanjat dan ketakutan, ini pertama kali Javir membentaknya.
Meski tahu hal itu Javir tetap tidak bisa mengontrol dirinya, melepas genggaman tangannya dilengan Danil dengan kasar hingga Danil kembali oleng dan berpegangan pada kulkas dibelakang tubuhnya.
__ADS_1
Javir meraup wajahnya kesal, berkacak pinggang, mendongakkan kepala menghela nafas mencoba meredahkan emosinya.
"Kamu tahu kelakuan kamu ini membuat semua orang panik?" Tanya Javir, kali ini nada suara Javir tidak sstinggi tadi. "Kepala Ayah mau pecah rasa sejak tadi nyariin kamu, ponsel gak dibawa, jam tangan malah dikasih ke tukang ojek, Ayah kan sudah bilangb kemanapun harus bawa jam tangan atau ponsel kamu Danil!. Kalau ada apa-apa sama kamu nanti gimana?, Ayah mau bilang apa sama Ibu kamu?. Ka ..."
Kalimat Javir mengambang saat menundukkan kepala dan menemukan Danil yang masih berdiri didepannya menangis segugukan tampa suara.
Sial ...
Javir lost control, padahal dia sudah mencoba untuk meredahkan emosinya barusan.
Baru saja Javir akan merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Danil, tangan Gea menyentuh dadanya menahannya, dia menggantikan Javir merunduk mengelus rambut Danil lembut.
"Mau bilang apa sama Ayah?" Tanya Gea lembut.
"Ma ... Maaf" cicit Danil.
"Terus?"
"Maaf Danil salah hwaaa ..."
Tangis Danil pecah seketika.
Danil memeluk pinggang Gea dqn menangis cukup nyaring.
Javir hanya bisa menghela nafas melihatnya.
Saat menatap Gea yang tersenyum kecil sambil mengelus rambut Danil lembut.
"Dia memang salah, tapi jangan memarahinya seperti baru" ucap Gea mengangkat wajahnya menatap Javir langsung.
Senyumnya langsung menghilang kala tatapan mata mereka berdua bertemu.
Terlihat dingin dan marah.
"Dia masih anak-anak, masih polos dan gak mengerti sebesar apa dampak yang dia lakukan" ucap Gea datar.
Gea kembali menundukkan kepalanya memutuskan tautan mata mereka berdua, kembali menatap pada Danil yang masih memeluknya.
"Masih ingat apa yang Kak Gea bilang sebelum Ayah kamu dateng?" Tanya Gea lembut.
Kepala Danil mengangguk pelan.
"Kalau begitu berhenti menangis, cuci muka di kamar mandi Kakak lalu kita makan hasil masakan kamu."
Danil benar-benar berhenti menangis.
Melepas pelukannya pada pinggang Gea dan berlari kecil kearah kamar Gea.
Javir menatap Gea dnegan takjub, amarahnya seakan menghilang begitu saja entah kemana, dia bahkan tersenyum kecil menatap Gea.
"Dia kesini saat gue diluar" ucap Gea sambil berjalan kearah kompor yang tadi dia matikan, "saat gue dateng dengan polosnya dia tiba-tiba tanya apa kita putus karena dia."
Javir mengepalkan tangannya kuat.
"Menurut loe ..." Kalimat Gea menggantung, "bagaiman?."
"Apanya yang bagaimana?" Javir malah balik tanya, "hubungan kita baik-baik aja."
Gea berbalik badan menatap Javir dengan kening mengerut.
"Memangnya kapan kita putus?"
Setelah mengatakannya Javir berbalik badan dan pergi begitu saja menyusul Danil yang masuk kedalam kamar Gea.
Melihat Javir yang berjalan kearahnya, Danil yang baru keluar kamar mandi menghentikan langkahnya, berdiri tegak menatap Jabir dengan wajah takut.
"Heh anak polos" ucap Javir dengan nada datarnya, "kenapa kesini tampa bilang-bilang Ayah atau Uti?."
Kepala Danil menunduk dalam, "mau bujuk Kak Gea biar mau jadi Ibu Danil" cicit Danil.
Javir terperangah mendengarnya, dia mengulim bibirnya menahan diri agar tidak tersenyum lebar.
"Terus gimana hasilnya?" Tanyanya mencoba terdengar datar.
"Kacau" ucap Danil lirih, meski masih menunduk. Mata Danil menilir Javir dengan sini. "Semua gara-gata Ayah yang datang kecepetan, Danil baru mau membujuk Ayah sudah datang" gerut Danil.
Kali ini Javir benar-benar terperangah mendengar ucapan anak kecil didepannya.
__ADS_1
Sepertinya Danil bukan anak sepolos yang Gea dan Yesi katakan tadi. Danil bahkan bisa berfikir dan berinisyatif untuk membujuk Gea menjadi Ibu barunya sendiri tampa mendiskusikannya terlebih dahulu dengannya, yang benar saja?.
^-^