
...*Maaf beberapa har ini tidak update karena kondisi kesehatan Author drop 🙏...
...Jangan lupa dukunya ya 🤩*...
...-_-_-_-_-...
Jika ini mimpi Javir tidak ingin bangun, bahkan detik ini juga dia ingin menghenyikan waktu yang berjalan.
Harum ...
Ini harum Gea yang biasa tercium olehnya disetiap saat dia berdekatan dengan wanita itu, sekarang dia bisa menciumnya sangat dekat ... Yang berarti yanh didekapannya kali ini dalah Gea.
Jangan ditanya seberapa bahagianya dia saat ini, bolehkah Javir berteriak menyuarakan kebahagiaannya?.
"Bagaimana bisa?"
Kening Javir mengerut.
Itu suara Malvin, kenapa bisa terdengar kedalam mimpinya?
"Maaf Pa, kita terlalu hanyut malam itu"
Itu suara Regan.
Javir semakin memejamkan matanya, mencoba semakin menenggelamkan diri dalam tidurnya. Berharap suara-suara itu mengholang dan membiarkannya terus berada dalam mimpi ini, memeluk Gea erat dan selalu mencium harum yang menguak diindra penciumannya.
"Kamu kasih suntukan berapa mili?, kenapa dia belum bangun?."
"Gak nyampek satu kok Pa"
"Ya udah bangunin aja kalu gitu Papa tunggu didepan"
"Gak mau" gumam Javir semakin mengeratkan pelukannya, "mau disini sama An."
Tidak ada lagi suara merekanselama beberapa detik bahkan bermenit-menit, sehingga Javir menghela nafas dan tersenyum tenang.
Tidak ada lagi yang mengganggunya tidur smabil memeluk Gea.
"Aw ... Ah ..."
Kesakitan karena telinganya ada hang menjewet dan sakit dari bahu kirinya yang tak sengaja dia gerakkan secara sepontan.
Mata Javir langaung terbuka lebar.
Menoleh ke kiri, dan ternyata sudah ada Malvin yang berdiri disampingnua dengan mata melotot tajam penuh ancaman.
Setelah tersadar kepala Javir langsung menoleh keseluruh arah mencoba mengetahui dimana dirinya saat ini, dan yang terpenting kemana Gea yang tadi berada dalam pelukannya.
"Pulang" ucap Malvin dnegan nada memerintah, terdengar tegas, penuh wibawa dan tak terbantahkan.
Perlahan Javir bagun sambil meringis menahan sakit di bahu kirinya, duduk tegak menatap Malvin dan Regan fengan bergantian.
"Turun dari pesawat langsung kesini, bagus!."
Javir menyengir mendengar kalimat sarkasme dari Malvin.
"Kalau kamu langsung ke rumah sakit Papa gak masalah, ini kamu malah menenui Gea, sedangkan tangan kamu cidera. Apa kamu masih punya otak?" Omel Malvin menggebu.
"Namanya juga kangen Pa, kayak gak pernah muda aja."
"Kangen sih kangen, tapi jangan nyusahin Gea. Jangan buat dia khawatir, dia bukan istri kamu. Saat ini yang harus lebih dulu mengkhawatirin kamu itu orang tua kamu, keluarga. Kamu gak kasihan sama Gea?, lama gak ketemu malah jadi kalang kabut ketakutan , ngawatirin kamu?."
Benar ...
Semua perkataan Malvin benar, Javir menundukkan kepalanya tidka lagi membantah perkataan Malvin.
Terdengar helaan nafas berat Malvin yang membuat Javir semakin merasa bersalah.
"Jalan sendiri atau Papa seret kamu pulang" ancam Malvin.
Tidak ada sedikitpun tersilat nada gurawan disana, sehingga akhirnya Javir mendongakkan kepala meminta bantuan Regan untuk membantunya berdiri.
Regan yang memang dari sananya selalu senang jika dirinya dimarahin Malvin malah tersenyum lebar sambil membantu Javir berdiri.
Hampir sampai dilantai dasar, Javir melihat Gea hendak menaiki tangga dengan nampan berisi duagelas kopi.
Terlihat mata Gea sembab dan memerah, perempuan itu pasti benar-benar khawatir padanya, dia pasti menangis.
Sial ...
Baru sekarang Javir merasa menyesal sudah bertemu Gea.
"Resa malam ini pulang kerumah, mobilmu titip disini" putus Malvin. "Gak papa kan Om titip mobol Resa?, karena Danil sepertinya sudah mengantuk" ucap Malvin menatap Gea.
Kepala Gea mengangguk pelan, "ya Om."
"Maaf sudah merepotkanmu, Om bawa dia pulang" Malvin melangkahbpergi setelah mebgatakan itu.
__ADS_1
Tangan Javir mendorong dada Regan menjauh sebelum dia berjalan mendekati Gea dan berdiri didepannya.
Tatapan mata Gea yang tadinya biasa saja saat berbicara dengan Malvin berubah sinis menatap Javir.
"Gue gak niat un ..."
"Gue gak perlu penjelasan dari loe" potong Gea tegas, "gue udah menyangka salah satu kalian kembali dari negara itu pasti ada yang terluka atau cidera."
"Hei" tegur Regan tidak terima.
Kepala Gea menoleh pada Regan, tatapan matanya semakin menyipit dan tajam.
"Untung gue gak mikir salah satu dari kalian ada yang mati" ungkapnya seblum melangkah pergi membereskan peralatan milik Bilqis dan Chaka.
Javir menghala nafas menoleh pada Regan yang hanya mengangkat bahu cuek.
Dengan tatapannya Javir meminta Regan untuk membawa si kembar dna Mela keluar sebentar, dia membutuhkan waktu untuk menenangkan Gea, dan sebelum Malvin menyeretnya pergi.
Tampa banya bicara, Regan mengambil tas Bulqis dan Chaka, memberikannya pada Mela dan memberi isyatat untuk keluar dari sana sebelum Regan menggandeng tangan adik kembarnya.
Selepas Regan pergi, Javir melangkahkan kakinya mendekati Gea.
Tangannya terulur mengelus rambut panjang terurai Gea dari belakang dengab lembut, "maaf" ucapnya lirih.
"KENAPA LOE SELALU MENYUSAHIN HIDUP GUE!" Teriak Gea melengking sambil berbalik menghadap Javir.
Perlahan air mata Gea mengalir dipipinya.
Javir menghela nafas, tersenyum segaris, melanglah semakin mengikis jarak diantara mereka, menarik belakang kepala Gea dan menyandarkannya dibahu kanan Javir.
"Maaf udah nyusahin loe."
^-^
Adakah yang pernah tiga hari sebelum hari H pernikahan disibukkan dengan pekerjaan yang menggunung dan tidak kunjung kelar-kelar?.
Itu terjadi pada Regan.
Adakah yang pernah merasakan kelelahan setelah liburan dari luar negeri dan baru bisa mendepatkan idaman hati langsung kerja lembur?
Ada, itu dirasakan oleh Aslan.
Dan adakah yang harus mewajibkan menyelesaikan kewajibannya disaat dia mengambil cuti untuk berkarir?.
Dan kali ini terjadi pada seorang Aktor sekaligus model internasional kita Alaric yang teris saja menggerutu sambil bekerja, tidak menghiraukan teguran Regan yang juga merasakan kekesalan yang sama.
"Sekali lagi gue dengan loe bilang gitu, gue banying loe" ancam Aslan sudah tidak bisa menahan kesabaran lagi.
"Loe jangan kebanyakan mengeluh deh Al, yang snegsara itu gue" sahut Regan.
Tatapan Alaric langsung tertuju pada Regan dan menghela nafas pasrah.
Sebelum semua pekerjaan mereka selesai, seperti biasanya ... tidak boleh ada satupun diantara mereka yang boleh keluar dari Raja Crown.
"Pokoknya kita harus selesain hari ini juga, gue mau ngerefresh otak" lanjut Regan, "kalau kalian udah selesai lanjut tidur lagi gak papa."
Bahu Aslan langsung merosot, "gue udah dari tadi."
"Gue bentar lagi tinggal ini" sahut Alaric.
"Tumben Javir nyusahin kita" gerutu Aslan, "biasanya dia yang selalu bantu."
"Dia otak kita" sahut Regan.
"Loe uang kita" tunjuk Alaric pada Regan.
"Loe kekuatan kita" Regan malah balik tunjuk.
Lalu Alaric berbalik menghadap Aslan dan tersenyum lebar, "kalau loe mah jantung kita bro."
Sebelah alis Aslan terangkat mendengarnya.
Jantung yang Alaric maksud ... Aslan adalah pusat mereka, tempat mereka berkeluh kesah, meminta saran dan satu-satunya orang yang bisa mengerti mereka semua.
^-^
Meski sakit kepala Javir tetap bekerja
Sakit perut tetap bekerja
Flu batuk tetap kerja
Tetapi untuk kali ini semua melarangnya keluar dari kamarnya.
Jam sembilan malam Malvin datang dan membawa paksa Javir pulang dari An Angel, tidak boleh bekerja apalagi meninggalkan rumah Malvin.
Tapi Javir yang tengil masih saja berusaha untuk pergi bekerja karena dia tahu ketiga temannya pasti akan sibuk dengan urusan masing-masing setelah mereka ke luar negeri dan meninggalkan pekerjaan Hotel mereka.
__ADS_1
Baru saja sampai pintu, Tofa menyeret Javir masuk meski Javir mengancam atau mengiming-imingkan uang. Tofa malah mendorong Javir masuk kedalam kamar dan mengunci pintu kamarnya.
"Ayah ...."
Danil tiba-tiba membuka pintu dan masuk kedalam kamarnya dnegan rambut yang sudah tertata rapih.
"Hai bro ..." sapa Javir sambil berusaha duduk.
Senyum Danil terukir labar dan naik keatas kasur Javir duduk bersila disampingnya.
Tangan Javir terulur mengelus kepalanya lembut.
Seperti biasanya, Danil akan datang saat sore setelah pulang sekolah, dan bercerita segala hal yang terjadi disekolahnya.
"Kenapa rapi banget?, mau kemana?" Tanya Javir.
Kepala Danil menggeleng pelan, "gak kemana-mana hanya nemenin Ayah aja disini. Pasti bosan ya gak boleh keluar sama Uti sama Akung?."
Wajah Javir langsung berubah sedih, "ya ..." jawabnya lirih.
Danil terkekeh kecil mendengarnya, "Danil udah coba cari cara agar Akung mau ngeluarin Ayah, tapi Danil malah diomeln panjang ... Banget Ayah."
"Oh yah?"
"Iya, Akung bilang ... Biarin Ayahmu istirahan biar cepet sembuh, kalau dia gak sembuh-sembuh yang ada malah nyusahin. Nanti kamu nangis-nangis lagi, kepala Akung nanyi pecah. Gitu katanya."
"Wahahaa ...."
Javir langsung tertawa terpingkal-pingkal mendengar Danil yang mengikuti cara bicara Malvin yang hampir mirip.
Sejak dikurung dalam rumah, Danil menjadi penghibur untuknya. Meski terkadang dia merasa bosan mendengarkan cerita seputar sekolahan anak seumurannya, terkadang juga Javir menemukan suatu hal yang diluar dugaannya.
"Oh iya Ayah, Abang Ar sudah tahu loh ... kalau Bet empat empat satu tiga buka kurung itu Bilqis."
Dan salah satunya adalah informasi yang sangat mengejutkan, seornag Bilqis anak SD yang baru berusia dua belas tahun mampu membuat viral video Regan yang melamar Belda dengan cincin diatas hambergernya.
Susah susah Javir dan Regan mencari siapa yang menyebar video itu, nyatanya malah Bilqis adik Regan sendiri.
"Terus Bilqis diapain sama Bang Ar?" Tanya Javir.
"Dia malah dikasih Macbook Yah" jawab Danil dengan mata berbinar.
Javir tidak bisa menebak jalan pikiran anak sulung keluarga Ganendra itu.
Dia pikir, Regan memintanya untuk mencari siapa yang menyebarkan video meme lamarannya untuk menuntut atau mengancam orang itu, ini malah diberi hadiah.
Javir sangat mengenal Regan, jika dia marah tidak akan ada kata kecuali.
Dret ...
Ponsel Javir yang berada diatas nakas bergetar.
Javir meraihnya dan melihat nama Bunda Ara muncul, kening Jabir langsung mengerut dalam.
"Ada apa Bun?" Tanya Javir langsung.
"Bisa kerumah sekarang?, si kembar menghilang."
Bukannya sedih, senyum Jabir lamah terukir lebar dibibirnya.
"Ok Bun, Je kesan."
"Maaf ya menyusahkan saat kamu sakit."
"It's Ok" jawab Javir dengan semangat.
Javir memutuskan panggilan telepon Ara dna tersenyum lebar pada Danil yang menatapnya dnegan tatapan polos.
"Ayah bebas" serunya.
Danil mengedip-ngedipkan matanya tidak mengerti kenapa bisa Javir bahagia setelah menerima telepone barusan.
"Si kembar hilang dan Ayah bebas" seru Javir lagi.
"Apa hubunnya Ayah?" Tanya Danil masih saja tidak mengerti kenapa.
^-^
.
*Readers ... Jadikan rutinitas setelah baca dung ...
Like 👍 and komen 💬
Love you 😘*
Unik Muaaa
__ADS_1