Watching You

Watching You
Gea Pergi


__ADS_3

"Gea mau liburan boleh gak?" Tanya Gea.


Abra dan Ara menghentikan aktifitas mereka menoleh pada Gea yang menunduk menatap piring didepannya, sambil mengaduk-aduk makanannya.


Abra meletakkan sendok ditangannya menatap Gea lekat, "apa ada masalah?" Tanya Abra.


Kepala Gea menggeleng pelan, "hanya ingin refreshing."


"Kalau kamu liburan dengan Yesi, nanyi bagaimana An Angel?. Apa mau ..."


"An pergi sendiri" potong Gea menangkat wajahnya menatap Ara.


Ara dan Abra langsung saling tatap sejenak.


"Kak Am mau kemana?" Tanya Chaka, "Aka boleh ikut?."


Tangan Gea mengelus rambut Chaka yang duduk disebelahnya, "Aka kan harus sekolah, kapan-kapan aja liburanya."


Chaka merengus dan kembali melanjutkan sarapannya.


"Mau liburan kapan?" Tanya Abra.


"Sekarang" jawab Gea.


"Kamu baru izin sekarang malah langsung mau pergi sekarang?" Tanya Abra dengan nada tidak terima. "Gea sebenarnya ada masalah apa?, kamu gak mungkin tiba-tiba mau liburan mendadak gini."


Gea menoleh pada Abra dan tersenyum segaris, "hanya refreshing kok Yah."


Abra hanya bisa menghela nafas.


Begitupun dengan Gea yang diam -diam menghembuskan nafas lega karena Abra tidak mencecarnya dengan berbagai pertanyaan lebih lanjut.


Gea benar-benar butuh refreahing setelah rentetan masalah yang terjadi.


Dari Fatis yang ternyata terobsesi padanya dan hampir memperkosanya, sekarang adanya Danil di kehidupan Javir yang membuat kepalanya seakan mau pecah.


Setidaknya satu hari saja Gea ingin kembali mendorong sosok Javir kesudut hatinya, dan menenangkan diri.


^-^


Ponsel Gea tidak aktif, saat kerumah Ganendra kata Bi Isa Asisten rumah tanggan Keluarga Ganendra mengatakan Gea sudah pergi dengan Abra.


Javir pikir Gea pergi ke An Angel, nyatanya di An Angel tidak ada Gea. Yesi pin juga tidak tahu dimana Gea.


Kali ini Javir menghentikan mobilnya didepan toko A Family's bakery, toko roti milik Ara yang dia kelola sendiri tampa campur tangan dari Abra.


Javir jarang datang kemari, jadi dia celingak celinguk mencari keberadaan Ara. Untung saja saat ini Ara sedang mengantar kue pesanan pelanggannya disalah satu meja sehingga Javir tidak repot-repot bertanya pada karyawan Ara.


"Bunda" panggil Javir setelah berdiri tidak jauh dari Ara berdiri.


Ara berbalik badan, terperangah lalu pada akhirnya tersenyum melihat kehadiran Javir di tokonya.


Dari keempat Raja, hanya Javir yang jarang mengunjungi toko roti miliknya.


"Tumben si sibuk Je datang kesini?" Sindir Ara.


Wajah Javir merengut mendengar sindiran Ara padanya.


"Kamu tuh ya ... gak pernah ke toko Bunda, kamu sepertinya lebih sibuk dari Al si Artis dan Ar si dokter gila kerja itu."


Entah kenapa sifat keluarga Ganendra selalu bicara blak-blakan apa yang ada di otak mereka, bahkan Gea dan Aslan yang bukan anak kandung mereka malah ketularan.


"Ada apa kesini?" Tanya Ara sambil melangkah pergi.


"Je mau tanya Gea dimana Bun" jawab Javir sambi membunyuti Ara yang berjalan ke dapur.


"Tadi dia bilangbya mau liburan"


"Liburan?" Tanya Javir membeo.

__ADS_1


"Ya" jawab Ara, "mau liburan untuk refreshing tapi gak bilang mau kemana."


Javir menghela nafas bersandar pada kichenset menundukkan kepala lesuh.


Liburan untuk refreshing


Sepertinya itu bukan alasan utama Gea, tujuan utamanya adalah menjauhinya. Dan semoga saja hanya sejenak, tidak untuk selamanya.


"Apa kalian ada masalah?" Tanya Ara.


Javir mengangkat wajahnya menatap Ara yang juga menatapnya menunggu jawaban Javir.


Tetapi Javir memilih diam tidak mau mengatakan apapun pada Ara untuk saat ini, setidaknya samlai benar-benar dia mengetahui Danil benar-benar anaknya atau tidak.


Ara mendengus melihat Javir yang hanya diam, "Ayah dan Bunda sudah menyangka kalau kalian pasti ada masalah, karena dia tidak biasanya mau liburan sendiri dan mendadak begitu."


"Kenapa dia gak pergi bareng Yesi Bun?."


Ara mengangkat kedua bahunya dan kembali fokus membuat adonan kue, "entahlah Bunda juga bingung sama tuh anak."


"Bunda tahu Gea kemana?"


"Enggak" Ara menggelengkan kepalanya, "dia tidak mengatakan mau kemana saat Ayah dan Chaka bertanya."


Javir menundukkan kepala dalam sebelum pamit untuk kembali ke hotel lagi.


Semua anganya seakan buyar begitu saja, semua gara-gara munculnya Danil dan Liza dikehidupan mereka berdua.


Padahal Javir sudah membayangkan hidupnya dan Gea akan baik-baik saja sampai mereka menikah, dan selalu dipenuhi dengan kebahagiaan.


"Pak, ada masalah"


Dian ntiba-tiba datang tergepuh-gepuh menghampirinya.


"Ada yang mencoba masuk ke database ..."


Salah satu IT mereka sedang fokus menatap layar komputer dengan tangan yang terus bergerak cepat diatas keybord komputer didepannya.


Javir membuka jasnya, menyerahkannya pada Dian sebelum melangkah lebar mendekatinya, menepuk pundaknya memberi isyarat untuk minggir.


Dia mempunya pelampiasan untuk meluapkan seua kekesalan dan amarahnya.


Javir tersenyum culas menatap layar didepannya.


Beberapa orang yang ada disana menatap Javir dengan tatapan terperangah, ini pertama kali mereka melihat Javir memburu seorang heacker didepan mereka.


Selama ini Javir selalu melakukan itu dibelakang semua orang seperti Regan, tidak ada yang mengetahui keahlian heackernya selain ketiga temannya, Malvin, Abra, para petinggi perusahaan keamanan ASG dan Resa, mungkin sekarang Pak Lutfi dan beberapa karyawannya sudah mengetahuinya.


"Dead_line?"


Tangan Javir mengambang diudara, berhenti bergerak sebelum tersenyum sarkasme.


"Lagi-lagi dia" gumamnya, "Dian minta tolong ambil leptop di ruangan gue" perintah Javir.


Javir melakukan peregangan tangannya sebelum kembali memburu Dead_line, salah satu cracker yang akhir-akhir ini muncul mengusiknya.


Mengejar cracker seperti sekarang ini salah satu kebahagiaan baginya, dia tersenyum menatap layar komputer didepannya dengan senyum lebar.


Senyum lebar yang mengerikan bagi yang melihatnya.


Sejenak dia bisa melupakan permasalahannya, dan merefresh otaknya dengan kesenangan ini


^-^


"Dia kenapa?" Tanya Aslan.


Regan mengangkat bahunya.


Setelah selesai dengan urusan hotel, Regan menghubungi Javir memintanya untuk membawa leptopnya ke apotik milik Regan dan membantunya melacak orang yang meretes ponsel Aslan dan yang mencoba menyelakai Zia.

__ADS_1


Tetapi setelah semua selesai Javir tetap saja masih fokus dengan leptopnya, dia bahkan sesekali mengacak-acak rambutnya sendiri melampiaskan kekesalan.


"Loe kenapa sih?" Tanya Aslan duduk disamping Javir.


"Gea menghilang" jawab Javir tampa sadar.


"Menghilang?"


Seketika tangan Jabir berhenti bergerak, dia terdiam dan mengutuk dirinya sendiri yang kelepasan didepan Aslan.


Terdengar dengusan Regan didekat mereka, padahal Regan sudah mencoba menutupinya tetapi Javir malah merusaknya sendiri.


"Kenapa bisa?" Tanya Aslan dengan nada meninggi, "dia menghilang sendiri?, gue baru aja ketemu Yesi di kantor."


Javir mengulum bibirnya membasahi bibirnya sebelum menoleh menatap Aslan yang menatapnya dengan tatapan siap membunuh.


Mata Javir melirik Regan yang sudah merebahkan tubuhnya ditikar dan memejamkan mata tidak ingin membantu lagi.


"Dia izin mau liburan sendiri ke Ayah dan Bunda" ucap Javir mulai menjelaskan, "tapi gue gak bisa melacak keberadaan dia dimana."


"Apa dia tahu loe hecker?" Tanya Aslan.


"Enggak" jawab Javir mencoba tenang, "tapi dia tahu Ar adalah hecker.


"Kenapa dia pergi berlibur sendiri?"


Aslan mulai mencecar pertanyaan.


"Apa kalian ada masalah?"


Javir menahan nafas sejenak.


"Kemana dia pergi berlibur?" Tanya Aslan lagi.


Padahal Javir belum menjawab pertanyaan yang sebelumnya.


"Sudah gue bilang gue gak tahu As" ucap Javir, "gue gak bisa melacak dia dimana."


Mata Asla memicing tajam.


Javir memutuskan tautan mata mereka dan kembali mencoba fokus pada leptopnya.


Dret ...


Ponselnya bergetar tiba-tiba.


Nama Resa muncul dilayar ponselnya membuat Jabir mebgerutkan kening, karena tidak biasanya Resa menghubunginya dijam setengah tiga malam.


"Ha ..."


"Danil Airlangga" ucap Resa, "apa itu anak Abang Je?"


Mulut Javir yang semula amu menyapa dengan kata halo hanya bisa menganga tidak bisa mengeluarkan suara.


Perlahan Javir menoleh kesamping, Aslan menatapnya dengan tatapan tajam, dia mendengar pertanyaan Resa karena volume panggilan Javir stel full meski tidak di loudspeaker.


"Dia keliling dengan foto ditangannya bertanya apa pria didalam foto itu datanga tau tidak, dan foto yang dia tunjukkan foto Abang. Ibunya memarahinya dan menyebut nama Abang Javir."


Mata Aslan semakin menggelap menatapnya.


^-^


......Boom Like 👍 and Coment 💬 dong .........


...Biar gak sepi nih Novel 🤩...


Love you 😘


Unik Muaaa

__ADS_1


__ADS_2