
Gea diam ditempatnya berdiri sejak tadi, menatap tajam pada Javir yang mengkhawatirkan Danil tampa ekpresi diwajahnya.
Regan, Mela dan beberapa suster langsung menangani Daniel. Javir sejak tadi berada didekat mereka dengan wajah pucat penuh kekhawatirannya, begitu juga Yesi yang berada didekat Javir.
Hanya Gea yang berdiri sedikut jauh dari mereka.
Bahkan saat Danil dibawa keruang inap, hanya dia yang berjalan dibelakang mereka hingga telat masuk lift.
Pintu lift tiba-tiba kembali terbuka, Javir berdiri didepan dengan tangan menjulur kesamping menekan tombol agar pintu lift tetap terbuka.
"Tidak mau masuk?" Tanya Javir.
Gea masih dia mematung ditempatnya.
Hingga Regan maju menarik Gea masuk kedalam lift dan memeluknya, tidak menghiraukan perawat yang ikut mengantar Danil menatap kearah mereka berdua.
Tangan Gea mencengkram erat baju Regan, tangan Regan mengelus rambutnya menenangkan.
Pintu lift terbuka dilantai tempat Daniel akan dirawat, perawat dan Yesi sudah keluar terlebih dulu begitupun dengan Javir.
Regan meraih pergelangan tangan Mela menahannya untuk tidak keluar. "Bawa dia keruanganku" ucap Regan, melepas pelukannya dari Gea dan melangkah keluar lift.
Ternyata Javir masih berdiri di depan lift menatap Gea yang memunggunginya.
Regan berjalan melewatinya begitu saja.
Pintu lift kembali tertutup.
Mela melangkahkan kakinya mengelus rambut terurai Gea.
Perlahan Gea menoleh padanya dan tersenyum segaris dengan tatapan mata kosong menatap Mela, membjat mela menghela nafas.
^-^
Javir hendak memencet pintu lift hendak memencet pintu lift tetapi Regan menepis tangannya kasar.
Tatapan Regan begjtu tajam menatap Javir, "gue gak tahu anak itu siapa, tetapi dari tatapan Gea gue bisa menebak satu hal."
"Dia bukan anak gue" ucap Javir penuh percaya diri.
"Oh ya?" Tanya Regan, "ternyata begitu."
Sial ...
Regan berhasil membuat Javir masuk kedalam perangkapnya.
"Gue hanya menebak jika Gea kembali seperti dulu, kembali disakiti sama loe" lanjut Regan. "Gue gak menyangka alasannya ternyata karena anak itu" lanjut Regan sambil menekan tombol buka pada lift.
"Dia bukan anak gue Ar" ucap Javir mencoba meyakinkan.
Pintu lift terbuka, Regan masuk dan menekan tombol tutup menatap Javir dengan senyum segarisnya.
Senyum itu pertanda buruk untuk Javir.
"Jangan sampai As tahu jika loe gak mau mati" ucap Regan sebelum pintu lift tertutup.
Javir menjambak rambutnya sendiri melampiaskan amarahnya.
Dia ingin berteriak mengeluarkan perasaan sesaknya tetapi dia sadar jika dia dirumah sakit.
Javir menyandarkan punggungnua kedinding dan perlahan tubuhnya merosot terduduk dilantai.
"Bang Je"
Perlahan Javir mengangkat kepalanya menatap Yesi yang berdiri tidak jauh darinya.
__ADS_1
"Gue akan jaga dia" ucap Yesi, "temui Gea dulu."
Kepala Javir mengangguk pelan.
^-^
Gea terdiam seperti patung berdiri menatap kedepan keluar dinding kaca ruangan Regan.
Dia bahkan tidak sadar saat Regan masuk, berjalan menghampirinya, merangkul pundaknya dan mengacak-acak rambutnya.
"Loe mau nagis ya?" Tanya Regan, "nangis aja Abang disini."
Perlahan Gea menoleh dan menatap sinis pada Regan.
"Kenapa natap gue gitu?" Tanya Regan dengan kening mengerut, "gue kan baik hati mau dengerin loe nangis, sini peluk baju gue basah juga gak papa."
"Ih ... Ar apaan sih" cicit Gea disela-sela tawa kecilnya.
Regan tersenyum lebar, "dia bilang anak itu bukan anaknya."
"Ya, dia juga bilang gitu ke gue" ucap Gea dengan suara serak menahan diri agar tidak menangis. "Tapi saat anak itu memanggilnya Ayah dia gak membantah Ar."
"Mungkin karena anak masih kecil, Je tidak mau menyakitinya."
"Tapi saat anak itu sesak nafas Je natap gue dengan ..." Gea tergagap, suaranya tidak bisa keluar.
Gea memalingkan muka, mendongakkan kepala menahan diri agar tidak menangis didepan Regan.
Tangan Regan kembali mengelus rambutnya, "jangan berfikir negatif dulu, dengerin penjelasan Javir dulu An."
Klik ...
Pintu terbuka tampa ketukan terlebih dahulu.
"Dia disini" ucap Regan.
Kebiasaan mereka berempat jika masuk kekamar atau ruangan milik salah satu diantara mereka, langsung membuka pintu dan nyeloning masuk.
"Kalau loe gak mau dengerin penjelasannya, loe bisa nangis dan gue akan manggilin As biar dia mati ditangan As."
Gea tertawa mendengarnya, memukul dada Regan dengan pelan.
Regan dan Aslan mempunyai cara sendiri untuk menenangkannya.
Aslan yang akan menenangkannya layaknya seorang kakak dengan penuh perhatian, Regan akan mengatakan perkatakaan yang membuatnya kesal, tertawa dan pada akhirnya membuatnya meringankan permasalahnnya.
^-^
Javir dan Rwgan saling tatap dengan tatapan tajam mereka.
Untung saja ada Mela yang masih berada diruangan Regan dan menarik lengan Regan keluar dari sana, jika tidak Javir yakin Regan akan melayangkan pukulan ke pipinya sebelum pergi.
Perlahan Javir langka mendekati Gea.
"Gue paham kalau loe lebih memilih Ibu dia" ucap Gea.
"AN!" Seru Javir.
Javir langsung mempercepat langkahnya menghampiri Gea dan berdiri didepannya.
"Gue udah bilang kalau dia bukan anak gue An" ucap Javir penuh penekanan.
Gea tersenyum segaris, "loe pernah menjadi saksi bagaimana susahnya Bunda membesarkan Ar sendirian, dan Ibu Danil pasti juga seperti itu."
"Tapi dia bukan anak gue An."
__ADS_1
"Dia mengatakan kalau loe Ayahnya, dia memanggil loe Ayah, bahkan loe juga bukan ...."
"Enggak" bantah Javir tegas, memotong kalimat Gea.
Membuat Gea terdiam beberapa saat.
Tatapan mata mereka saling bertautan menatap satusama lain dnegan tatalan begitu dalam
"Loe gak bisa ngelek Je, tatapa loe ke gue saat dia kesakitan membuktitan kalau loe ..."
"An Please" tanyan Javir mencengram kedua pundak Gea, "gue hanya khawatir sama dia. Bukan berarti gue mengakui dia anak gue, jangan memojokkan gue gini."
Gea diam dengan tangan mengepal kuat menahan diri agar tetap menatap Javir.
Tanga Javir berhenti mencengkram kedua pundak Gea dan beralih menangkup wajah Gea dengan jedua tangannya.
"Apa ada bukti jika dia benar-benar bukan anak loe?"
Kali ini Javir yang terdiam.
Tangan Gea terangkat hendak menggapai tangan Javir, tetapi kalimat Javir menghentikannya.
"Gue masih melakukan tes DNA, tetapi hasilnya masih belum keluar. Gue mau memberitahu loe tetapi gue masih belum punya bukti yang kuat untuk membuktikannya."
Mereka berdua terdiam dan hanya daling tatap dalam beberapa detik hingga Gea menghela nafas terlihat begitu lelah.
"Boleh gue bertemu Ibunya?, setidaknya gue ..."
"Buat apa?" Potong Javir.
Tangan Javir meremas rambutnya, tidak pernah terfikir olehnya Gea malah mau menemui Liza.
Jika Gea bertemu dennan Liza, yang ada semua akan semakin kacau.
"Kita tunggu saja sampai hasil tes DNAnya keluar" Ucap Javir mencoba mengubah keinginan Gea.
"Loe kira gue bisa nahan diri dengan sesak dan kekecewaan ini?."
"Buat apa loe kecewa sama gue kalau dia bukan anak gue?."
"Gue gak percaya, karena melihat dari gelar ladykiller loe dulu."
Tatapan Javir berubah sedih menatap Gea, "gue gak mungkin ngelakuin hal sejauh itu An, gue gak gitu An. Loe aja tahu bagaimana takutnya gue jika perkataan Pak Litfi akan jadi kenyataan, gue hak mau menghamilo anak orang diluar nikah seperti Papa An."
Mata Javir memerah, terdapat genangan aor mata yang sekuat tenaga dia tahan.
Gea memuyuskan tautan mata mereka, melihat jam tangannya dan menghela nafas. "Dia pasti sudah disini" ucap Gea.
Kening Javir mengerut mendengarnya.
"Ibu Danil pasti sudah disini" ucap Gea kembali menatap Javir.
"Angel."
Javir tidak habis pikir bagaimana bisa Gea menghubungi Liza, padahal bisa dipastikan jika Gea tidak mengenal Liza sebelumnya.
"Gue hanya ingin memastikan lebih dulu, gie gak sesabar dan sekuat loe untuk menunggu hasil tes itu Je."
Sangat amat liroh Gea mengatakannya, bahkan terdengar serak.
Javir terperangah mendengar kaliamat Gea.
"Karena loe aja gak percaya sama diri loe sendiri bagaimana gue percaya sama loe."
"Kapan gue bilang kalau gue gak percaya diri kalau dia bukan anak gue An?."
__ADS_1
"Kalau loe percaya diri jika Danil bukan anak loe" Gea menunjuk dada Jabir dengan jari tekunjuknya, "saat itu juga loe akan memberi tahu gue."
^-^