Watching You

Watching You
Ide Gila


__ADS_3

Duduk didepan kandang hsrimau sambil ngelamun adalah hal tergila yang pernah Javir lakukan seumur hidupnya.


Ya ....


Javir sedang duduk didepan kandang harumau milik Alaric, menatap harimau putih yang sedang berlarih lincah kesana kemari sambil bermain bola pemberian keepernya.


Malvin selalu merecokinya sejak hari itu, Diana yang kata Malvin adalah ibu kandungnya menginap di Hotel Raja Throne sehingga Javir beberapa hari ini tidak turun dari lantai ruangannya berada untuk memantau langsung para karyawannya.


Bagaimana cara dia bertemu Gea?, dengan cara meminta Gea menemuinya diruangannya dengan bantuan Dian.


Dan berada di rumah Alaric adalah salah satu pilihan yang tepat, karena Malvin tidak akan berani datang. Si Wolfy dan Zibu, serigala peliharaan Alaric yang tidak pernah di ikat berkeliaran di rumah ini. Bahkan mereka berdua sudah memiliki beberapa anak yang masih kecil.


"Ngapain loe kesini pagi-pagi auaaiii ..."


Itu suara Alaric, dan dia baru saja menguap.


Saat Javir sampai, Alaric masih tidur. Kata satpam didepan rumahnya, Alaric baru datang jam empat subuh dan tidak keluar kamar lagi.


"Mau mastiin kalau hewan pemberian gue dateng dengan selamat" ucap Javir asal.


Alaric berdecak pasti tidak percaya. Tetapi Jabir masa bodoh.


"Gak kesini karena putus asa nahan keinginan meluk Gea kan?"


Mata Javir berputar malas, Alaric pasti sudah tahu masalah larangan dari Abra, dan pastinya Regan maupin Aslan pasti juga tahu.


Tidak ada rahasia yang bisa disimpan dari mereka bertiga, dan Javir hanya bisa pasrah.


Bahkan mungkin mereka juga sudah tahu kedatangan wanita itu, terlebih selain wanita itu menginap di hotel mereka, Malvin dan Bela sering menemui wanita itu dan anaknya.


Javir yang mempunyai darah hecker tidak mempinyai niat sedikitpun untuk mencari informasi lebih tentang wanita itu, cukup malas dan amat sangat tidak mau. Sehingga sampai sekarangpun saat wanita itu muncul didepannya, Javir tidak mencari tahu lebih dalam.


"Gue geli liat loe letoi gini" ledek Alaric.


Javir menghela nafas tidak berniat merespon ledekan Alaric.


"Gue denger-denger katanya Ibu kandung loe ada disini"


See ... Sudah Javir bilang bukan, tidak ada satu rahasiapun yang bisa dia sembunyikan dari ketiga temannya, yang amat sangat dicintainya.


"Kalau gue jadi loe, gue akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin" ucap Alaric dengan penuh semangat.


Javir melirik dengan perasaan tidak yakin, karena rata-rata ide yang diberikan Alaric selama ini selalu gila, bahkan melebihi ide gila yang muncul dari otak genius milik Regan.


"Kalau gak gak minat jangan natap gue dengan tatapan begitu, gue colok mata loe."


"Apaan?" Tanya Javir setelah mengehela nafas dan kembali menatap kearah harimau putih didepannya.


"Mumpung ada Ibu kandung loe disini, minta dia buat ngebujuk Ayah Abra biar loe cepet nikah sama Gea. Bilang aja itu syarat, kalau mau loe maafin dia yang gak pernah cari loe selama tiga puluh tahun, atau hanya sekedar agar dia bisa ketemu dengan loe" jelas Alaric semangat.


Kening Javir mengerut tidak mengerti.


"Suruh bilang aja kalau dia mau liat loe nikah"


Kalimat yang diucapkan Alaric itu membuat Javir terperangah dan kembali menarik perhatian Javir dari harimau didepannya pada Alaric yang berdiri tegap disampingnya.


Terlihat Alaric tersenyum sarkasme menatap kedepan, kearah harimau miliknya.


"Tapi gue gak mau dia yang dampingin gue saat nikahan nanti, gue mau MaBel yang duduk disampong Pamav bukan dia atau orang lain"


"Cekkk ..." Alaric berdecak malas dan menatap Javir tajam, "itu bisa loe jadikan syarat selanjutnya nanti. Apa perlu gue kasih masukan lagi loe harus ngomong apa dan bagaimana?"


Javir menyengir dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Otak licik Alaric ternyata bisa berguna juga disaat yang tidak terduga seperti hari ini, untung saja dia teman bukan musuh Alaric.


Javir berdiri disamping Alaric dan berkacak pinggang, dadanya perlahan tidak lagi sesak seperti sebelumnya.


"Loe bisa bayar ide gue dengan micro chip milik Papa Malvin"

__ADS_1


Senyum Javir luntur seketika.


Kepalanya langsung menoleh kesamping dan memelototi Alaric, dia mana berani meminta micro chip milik Malvin yang sudah beberapa diantaranya terpasang di tubuh Alaric dan keluarga intinya.


"Jangan bercanda Al" ucap Javir dingin, "mendingan loe minta serigala yang kecilnya seperti harimau itu, dari pada loe minta gue nyuri micro chip Papa."


Alaric tersenyu sarkasme dan menoleh pada Javir, "kalau gitu loe yang harus bikin. Gue mau secepatnya, kalau dalam sebulan ini loe gak bisa, gue sendiri yang akan batalin pernikahan loe."


"Loe gak mungkin tega ngelakuin itu ke gue, loe jan ..."


"Apa gue kelihatan bercanda?" Potong Alaric dengan nada dingin dan mengintimidasinya.


^-^


Kepala Gea mulai tadi menoleh kekanan dan kekiri dengan tidak tenang.


Kali ini dia berada di kamar Liana, dengan Bela dan Malbin yang menculiknya dari Caffe An Angel dua jam lalu.


Ya ... Sudah dua jam dia duduk memperhatikan mereka bertiga yang bercerita segala hal tentang Javir. Yang semula Gea tidak tahu masa kecil Javir, jadi tahu karena ikut menyimak apa yang diceritakan oleh Belda dan Malvin secara bergantian pada Liana.


"Entahlah ide dari mana Om bisa berfikir kalau mencilikmu bisa membuat Jabir keluar dari sarangnya"


Itu jawaban Malvin saat Gea bertanya apa alasan Malvin dan Bela menyeretnya atau lebih tepatnya menculiknya dari An Angel disaat dia sedang subuk-sibuknya mengedit video yang akan dia upload.


"Om Malvin aku ngantuk" rengek Gea mencoba mencari alasan lain agar bisa keluar dari ruangan ini."


"Tidur aja di kasur samping Nichole" sahut Malvin seakan tidak ambil pusing dengan rengekan Gea barusan.


Kesal ...


Gea benar-benar kesal.


Javir tidak mengangkat panggilan teleponnya, jadi bagaimana bisa dia keluar???.


Kepala Gea menunduk dalam, menatap layar ponselnya berharap jika Javir akan segera menghubunginya atau sekedar membalas pesannya yang sudah puluhan kali dia kirim.


"Bagaiman agar dia mau menemuiku?" Tiba-tiba saja Gea mendengaf pertanyaan lirih Liana.


Apa dia tanya sama gue? Pikir Gea.


Karena gugup Gea menoleh pada Malvin yang ternyata juga menatapnya dengan sebelah alis terangkat.


Tangan Gea menunjuk dirinya sendiri mencoba meyakinnya Malvin jika Liana memang bertanya padanya, kepala Malvin mengangguk membenarkan hal itu.


Gea menghela nafas lalu mengangkat kedua bahunya, "maaf saya tidak tahu karena Javir tidak pernah membahas masalah itu."


"Bukankah seharusnya kamu lebih mengenal Javir?" Tanya Liana.


Gea tertawa canggung, "kita tidak sedekat itu untuk saling mengenal. Kita baru saling sapa dua tahun terakhir dan pacaran baru em ... Sekitar tujuh bulan mungkin."


Ayolah ... Meskipun Gea tahu, mana mau dia mengatakan apa yang akan membuat Javir luluh dan memaafkan Liana.


Dari respon yang diterima Javir saat bertemu Liana saja terlihat jika pria itu begitu terpukul, bahkan meski mereka bertemu beberapa kali atau teleponan dan saling kirim pesan, mana ada Jabir membahas masalah Liana sedikitpun, dan Gea sebisa mungkin juga menghindari pembahasan itu.


Dret ...


Ponsel Gea tiba-tiba bergetar.


Dengan penuh semangat, Gea mengangkat panggilan telepon dari Javir dan berjalan menjauh dari hadapan mereka bertiga.


"Je ...." rengek Gea.


Terdengar tawa kecil Javir disebrang.


"Ih ... Jangan ketawa deh, loe tahu situasi gue sekarang" Gea mulai mengonel.


"Iya sayang, bentar lagi Abang jemput" ucap Javir dengan riang.


"Gue masih dikamar wanita itu loh Je" ucap Gea menekan kata wanita itu agar Javir mengerti dia dimana sekarang, "Papa loe gak mau lepasin gue."

__ADS_1


"Bilang aja sama Papa mertua loe kalau bentar lagi gue nyampek situ."


Kening Gea mengerut mendengar kalimat Javir barusan, Javir akan kesini meski dia tahu dimana Gea sekarang?, yang benar saja ...


Gea menjauhkan ponselnya mencoba memastikan jika orang yang sedang berbicara disebrang sana dengannya benar-benar Javir, dan yang tertera dilayar ponselnya memang nama Je.


Belum juga ponsel Gea kembali menempel ditelinganya, tiba-tiba ponsel itu sudah berpindah tangan.


Malvin merampas ponsel Gea dan menatap Gea dengan tatapan dingin, membuat Gea hanya bisa menghela nafas pasrah.


"Papa tunggu sekarang, kamu tahu dimana dan nomer berapa kamarnya."


Dan langsung saja Malvin menutup panggilan Javir setelah mengatakan hal itu, bahkan mengembalikan ponsel Gea yang dia rampas.


Gea mengedipkan mata dan melirik kelain arah, tidak mau beradu tatap dengan Malvin.


"Benar bukan ide Om yang kamu sebut gila berhasil, dia pasti akan datang jika menyangkut tentangmu" ucap Malvin dengan bangga seakan Gea adalah bahan mainan mereka berdua.


Gea mendengus kesal dan akhirnya menatap Malvin dengan tatapan snegitnya, "kenapa kalian anak dan Ayah wataknya selalu sama" ucap Gea dengan kesal. "Selalu merepotkan dan mengganggu hidup tenang yang .... Aw ..."


Tampa belas kasih .ulut Gea dipukul Malvin dengan telapak tangannya, menghentikan omelen panjang Gea.


"Jangan cerewet seperti Mamimu" ucap Malvin dan berbalik badan pergi.


Gea yang kesal hanya bisa geregetan mengepalkan kedua tangannya dan emninju udara kearah Malvin.


Anak dan Ayah benar-benar senang sudah berhasil mengacaukan hidupnya, padahal Gea tidak tahu apa-apa dan bahkan dia tidak ingin tahu permasalahan keluarga mereka.


^-^


Javir benar-benar menginjakkan kaki di kamar Liana.


Dia duduk dengan tangan kiri merangkul pundak Gea, dan tangan kanannya menggenggam tangan Gea erat.


Baru saja masuk, Javir sudah mengutarakan ide gila yang Alaric berikan pada Liana tampa menatap wanita itu, membuat tiga orang tua didepannya tercengang tidak percaya, sedangkan dia dengan santainya memainkan jemari Gea dalam genggamannya.


Tidak ... Bukan hanya mereka bertiga, tetapi Gea juga terkejut dengan apa yang Javir katakan barusan.


"Saya kesini hanya ingin mengatakan itu, mohon dipikirkan permisi"


Javir langsung balik badan dan membawa Gea bersamanya.


Baru saja membuka pintu hendak keluar, kaki Javir ragu melangkah, tangannya semakin erat menggenggam tangan Gea.


"Jangan menemui saya sebelum Ayah Abra mengatakan iya dan menentukan tanggal pernikahan" ucapnya sebelum benar-benar melangkah pergi dari sana.


Sepanjang perjalanan menju lift, kedua tangan Jabir menggenggam tangan Gea erat.


Tidak ada yang mebgatakan apapun.


Sesampai di dalam lift dan Javir memencet angka lantai ruangannya berada, tubuh Javir melemas merosot seketika, dia duduk dilantai lift lalu tertawa sambil meringis.


Untuk mempertahankan sikap dinginnya sangat sulit, terlebih ada Malvin disana.


Gea berjongkok didepan Javir sehingga Javir mengangkat wajahnya menatap wanita itu.


"Gue gak yakin ide gila itu muncul dari dalam otak loe" ucap Gea penuh keyakinan, "kalaupun iya, loe kesambet dimana?."


Bukannya menjawab pertanyaan Gea, Javir malah merangkul pinggang Gea dan menarik wanita itu dalam pelukannya.


"Otot gue lemes" keluh Javir, "berhenti mengomel. Mendingan loe peluk gue atau cium gue biar tenaga gue keisi."


Plak ...


Gea memukul punggung Javir kesal.


Javir hanya tertawa dan malah mencium pelipis Gea bertubi-tubi, membuat Gea tertawa dan membalas pelukannya.


Ini kesempat, meski ide Alaric cukup gila dan amat sangat diragukan akan berhasil, tidak ada salahnya untuk dicoba bukan?. Lagi pula apapun akan Javir lakukan demi bersama Gea, untuk kali ini otaknya hanya tertuju pada kebersamaannya dengan Gea.

__ADS_1


^-^


__ADS_2