Watching You

Watching You
Tujuan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan jam sebelas malam, mansin keluarga Romanov memang tampak sepi, tetapi diluar mension tidaklah sesepi itu.


Di bawah sana ada Aslan dan Alaric yang sedang berlatih boxing dengan beberpaa bawahan Enzo. Jika dilihat dari lantai dua balkon kamar Javir, mereka berdua bukan sedang berlatih, tetapi sedang menghajar lawan, mungkin sedang melampiaskan perasaan frustasi mereka seperti biasa.


Setelah mengistirahatkan otaknya dan regangkang ototnya, Javir berbalik dan berjalan memasuki kamarnya, Regan masih berkutat dengan leptopnya.


Baru saja Javir duduk, Regan sudah berdiri dan memutar leptopnya kearah Javir.


"Ip yang loe kaaih sudah gue konfirmasi jika para mantan anggota Romanov memang ada dilokasi itu" ucap Regan.


Tampa banyak bicara Javir mulai mengecek data yang sudah Regan kumpulkan.


"Mereka sednag bersiap sekarang, dari beberapa cctv yang berhasil gue retes ada dua smapai tiga pick up masuk ke pekarangan mereka."


"Sudah loe konfirmasi itu apa?"


"Belum ucap Regan."


Jemari Javir mulai berkelir dengan cepat diatas keybord leptop milik Regan, kali ini giliran dia untuk mencoba untuk masuk ke cctv yang ada dirumah itu.


Javir menghela nafas sejenak setelah berhasil masuk kesalah satu cctv mereka dan kembali fokus dengan pekerjaannya.


Beberapa menit kemudian jemarinya berhenti memencet tombol keyboard.


"Apa?" Tanya Regan.


"Senjata" jawab Javir datar.


Tampa ada yang mengintrruksi, Javir dan Regan langsung membawa leptop mereka dan menuruni tangga untuk menemui Enzo.


Terlihat Enzo yang akan masuk kedalam kamarnya mengurungkan niatnya dan menghadap kearah mereka dengan kening mengerutnya.


Sesampai didepan Enzo, Javir menjulurkan leptonya. "Kami menemukan alamat mereka, dan beberpa ahari terakhir ada mobil pick up yang membawa senjata ke rumah mereka."


Enzo mengangkat wajahnya dari layar leptop Javir dan emnatap kearah jam dinding yang ada disana.


"Kita kesana sekarang?" Tanya Regan.


"Sudah malam" jawab Enzo dnegan tenang.


"Karena itu" ucap Javir sambil menutup layar leptopnya, "tujuan kita menyergap mereka bukan mau meeting dan diskusi yang harus menunggu pagi."


Enzo menarik sebelah sudut bibirnya, "dan tujuan kalian cepat-cepat pulang."


^-^


Selama menjadi anak seorang Malvin Yohanes, ini pertama kali Resa merasa ragu untuk menemui Malvin.


Beberapa kali Resa mondar mandir didepan ruangan Malvin di ASG.


Beberapa karyawan yang emngenal Resa tidak ada yang berani mendekat dan bertanya apa sebenarnya keparluan Resa, hingga Nanda yang baru saja keluar dari lift membuat beberapa karyawan dilantai itu bernafas lega.


Salah satu diantara mereka memberi isyarat pada Nanda, baru saja Nanda keluar dari lift diberi isyarat yang tidak jelas mana dia mengerti.


"Om Nan ..." seru Resa menghampiri Nanda.


Nanda adalah salah satu karyawan ASG yang Resa kenal selain Tofa dan Haikal.


"Hai Baby girl" sama Nanda dengan senyum lebarnya.


Resa berdecak menatap Nanda, dia tidak suka di panggil baby girl yang menjadi panggilan kesayangan untuknya dari Mlavin.


"Papa gak ada kan?" Tanyanya.


"Ada kok didalem" jawab Nanda.


"Beneran ada?."


"Iya" jawab Nanda lagi, "dia ada didalem baru selesai meeting tadi. Kenapa gak langsubg amsuk aja?, biasanyabkan langsung nyelonong kayak Abang loe."


Resa melangkah semakin mendekat dan berbisik, "kira-kita cctv dilantai ini krkonneck ke Papa enggak."


"Gak tahu" jawab Nanda ikut berbisik.


"Ya udah aku pulang aja"


Regan pergi begitu saja membuat Nanda tercengangk.


Nanda hanya terperangah melihat perempuan itu yang buru-buru masuk lift dan menutup pintu lift dengan terburu-buru.

__ADS_1


"Kenapa sih tuh anak" gerutunya sebelum berbalik badan dan berjalan kearah pintu ruangan Malvin.


Tok tok tok ...


Nanda mengetuk puntu sebelum membuka pintu dan masuk begitu saja meski tidak emndengar sahutan dari dalam.


"Anak loe pulang bos" ucap Nanda dengan santainya seperti biasa jika mereka sedang berdua.


"Gue tahu" sahut Malvin sambil terus saja fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Oh ... Dia udah masuk ya?."


"Terus?, kenapa loe tahu."


"Gue kan selalu tahu dimana anak-anak gue."


"Dia ngapain kesini?."


"meski gue tahu tujuan dia kesini, masa bodoh gue" ucap Malvin cuek.


Ya ...


Malvin tahu sebenarnya apa tujuan Resa datang tetapi tidak berani menemuinya.


Putrinya sangat tahu tabiat Malvin, jadi karena itu dia tidak masuk dan hanya mondar mandir saja didepan pintu.


Apapun yang terjadi, dan apapun pilihan Resa nanti, Malvin tidak akan menghalanginya. Meski keluarga Yasa mengeluarkannya dari kartu keluarga, tidak mebgakui anaknya sebagai keturunan keluarga mereka. Meski begitu, bagaimanapun Pak Lutfi adalah Ayahnya, tampa bisa dipungkiri.


^-^


"Sebisa mungkin jangan menimbulkan korban" ucap Javir, "kalian adu jotos gak masalah. Inget, tujuan kita hanya meringkus ketua mereka dan mengambil seluruh persenjataan mereka, bukan cari mati."


Terdengar dengusan cukup jelas dari ear piece yang Jair kenakan.


"Apa loe gak bisa diem jangan ceramah melulu?" Omel Regan, "mendingan mulut loe mingkim biarin mata loe melek mantauin layar leptop loe jangan ngoceh mulu."


Terdengar taca kekikikan Aslan dan Alaric.


Ear piece yang mereka gunakan hanya untuk mereka berempat, sedangkan bawahan Romanov yang ikut dalam misi mereka semua dalam kendali Alaric.


Javir mendengus mendapat omelan Regan dan meniup ear piecenya dengan kesal dna kembali memakainya lagi.


Aslan dan beberapa anak buah Romanov yang mengikutinya berhasil melumpuhkan musuh mereka. Sedangkan Regan bertemu dengan pemimpin kelompok sehingga Javir menginteruksikan Alaric harus kearah mana untuk membantunya memalui drone yang dia kendalikan dari jauh untuk mengetahui denah bangunan itu.


Dari pada pekerjaan ketiga temannya, pekerjaan Javir memang cukup tenang dan tidak membuang energi seperti mereka bertiaga, tetapi lima puluh persen kemenangan berada di tangan Javir.


Tok


Tok


Tok


Javir langsung waspada pintu mobilnya ada yang mengetuk, secara perlahan Javir membuka pintu mobil.


Dia hanya tinggal sendiri tampa ditemani oleh bawahan Romanov, terlebih mobilnya berada cukup jauh dari keramaian dan tidak mungkin orang sembarangan mengetuk mobil yang terparkir.


Buk ...


Javir menendang pria hang berdiri didepannya dengan yangan hendak mencengkram kerah baju Javir.


Untung saja Javir tidak langsung membuka pintu, dan keluar.


Pria itu berdiri dna tersenyjn sarkasme, otak Javir langsung berputar bersamaan dengan kaki yang melayangkan tendangan kesamping.


Buk ...


Seornag pria terjatuh ...


"Sial, gue ketahuan" ucap Javir.


"Loe bisa ngatasin gak?, disini kesulitan" respon Regan disebrang.


"Bisa ... Tenang" ucapnya.


Alhansil, Jevir harus melawan mereka sendiri.


Tangannya melayangkan pukulan dengan kekuatan penuh dan ...


"Ah ..."

__ADS_1


Javir mengaduh kesakitan sambil memegangi pundak kirinya.


"Kenapa Je?" Kali ini suara Aslan yang terdengar.


"Ok" jawab Javir singkat.


Nyatanya bahu kiri Javir sakit, sehingga dia hanya bisa melayangkan pukulan menggunakan lengan kanannya.


Untung saja, dia berteman dengan tiga petarung hebat, sehingga meski sedang sakit dibahunya bisa dia tahuan dan berhasil menjatuhkan dua musuhnya hingga mereka tidak sadarkan diri.


Javir menendang mereka berdua jatuh ke jurang yang tidak cukup dalam sehingga mereka pasti tidak akan mati.


Sekuat tenaga dia tidak mengadu, hanya memegangi bahunya dan berjalan kembali masuk kedalam mobil.


"Je loe gak papa?" Tanya Regan dengan khawatir.


"Gak papa" jawab Javir singkat.


"Loe ngalahin mereka kan?" Tanya Aslan.


"Yo'ie ... Masak gue gak bisa ngalahin mereka, mereka cuma dua orang bro" ucapnya penuh bangga, padahal dia diam-diam meringis meahan bahunya yang sakit.


"Ya udah kalau gitu loe siap-siap" ucap Alaric girang, "kita balik ke mension sekarang."


"Enggak, sebagian yang sakit ikut gue ke rumah sakit. Sekalian gue mau jenguk Belda" usul Regan.


"Loe ngobatin mereka di mension aja Ar" larang Alaric.


"Ogah, kalau loe gak mau obatin sendiri."


"Cek ribet."


Javir menghela nafas lega, setidaknya dia bisa diam-diam pergi untuk meronsen pundaknya. Karena sepertinya bahunya cedera gara-gara memukul dengan kekuatan penuh, sedangkan dia tidak melakukan pemanasan sebelumnya.


Perlahan Javir membereskan peralatannya, membuka ear piece dan mematikannya.


Javir bersandar pada sandaran kursi dan mengatur nafas perlahan.


^-^


Lagi-lagi Sebastian menunggunya sampai selesai menutup An Angel.


Gea menghela nafas, diam-diam memoto Sebastian dan mengirimnya pada Abra sepetti biasa sejak Abra memintanya untuk menjauhi Sebastian.


Sebastian adalah temannya, mereka sudha lama tidak bertemu. Jika Gea memintanya untuk menjauh karena alasan Abra tidak mengizinkannya, mana tega dia.


Meski, sebenarnya Gea juga merasa lelah karena Sebastian terlihat begitu ngotot untuk mendapatkannya.


Ayah : selesaikan sekarang.


Gea menghela nafas menbaca balasan Abra.


Perlahan dia berjalan pelan menghampiri Sebastian yang duduk diluar caffe An Angel.


"Udah beres?" Tanya Sebastian.


Kepala Ge mengheleng pelan, "enggak maaih amu nungguin anak-anak."


"Ya udah gue tunggun aja sampai loe kelar, nanti ggue anter loe pulanh."


"Gak usah" tolak Gea dengan lirih, "malam ini gue tidur disini."


Kepala Sebastian manggut-manggut mendengarnya.


Gea mengulum bibirnya menahan diri agar tidak banyak bicara, dan berakhir mempersilahkan Sebastian masuk dan mengobrol panjang lebar seperti biasanya.


"Loe mau ngindarin gue ya?" Tebak Sebastian.


Gea tersenyum salah tingkah.


Sebastian menghela nafas mengerti jika tebakannya tidaklah luput. "Gue nyerah" ucapnya lirih, "jadi loe gak usah sungkan atau menjauh dari gue gitu. Karena gue berharap meski loe nolah gue, kita tetapi bisa seperti dulu saat SMA. Anggap aja gue gak pernah nyatain perasaan gue ke loe, bisa kan?."


Gea menghela nafas, menatap Sebastian dalam dna merentangkan tangan. "Terima kasih udah mau tetap jadi temen gu" ucaknya setelah Sebastian memeluknya.


"Sekarang tujuan loe hanya satu, fokus sama hubungan loe dan si Javir itu. Jadi, loe gak usah mikirin gue."


Kepala Gea hanya bisa mengangguk pelan dalam pelukan Sebastian.


^-^

__ADS_1


__ADS_2