Watching You

Watching You
Permainan Dimulai


__ADS_3

Javir menatap perempuan didepannya dengan tatapan dalam.


Ini pertama kali dia menatap Gea sedekat ini setelah dua tahun lalu.


Sejak Javir duduk didepan Gea, Gea langsung membahas tentang perencanaan ulang tahun Ganendra yang ingin digelar di Ballroom Hotel mereka. Sedangkan Javir tidak mendengarkan apapun yang dikatakan Gea dia hanya menatap Gea dalam sejak tadi.


Perwmpuan didepannya itu terlihat begitu serius menjelaskan, terdengan tidak terburu-buru namun wajahnya menunjukkan ketidak nyamanan jika mata mereka tidak sengaja bertemu.


Rahang Javir bahkan mengetat menahan diri agar tidak tersenyum lebar didepan Gea.


"Do you understand what I mean?" Tanya Gea dengan kening mengerut melihat Javir hanya diam saja sejak tadi.


Javir tersenyum segaris, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan santai.


Mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, "ballroom kami baru siap delapan puluh persen. Furniture baru datang, itupun belum ditata, jendela belum dipasang kaca, tidak ada Overhead, tidak ada slide, tidak ada Proyektor LCD, dan tidak ..."


"Hal itu bisa dipersiapkan selama satu minggu" potong Gea, "saya dan karyawan saya siap membantu. Lagi pula acaranya masih tiga minggu lagi, kita bisa melakukan ..."


"Hotel kami tidak mempunyai uang sebanyak itu untuk menyempurnakan semuanya dalam satu minggu" potong Javir.


Mata Gea langsung menatap tajam pada Javir, "saya tidak percaya."


"Saya berbicara apa adanya."


"Kalian tidak mungkin tidak mempunyai uang."


"Kami benar-benar tidak punya Nona."


Gea berdecak menatap Javir sinis, "kumpulkan saja uang kalian berempat pasti cukup."


"Yang lainnya mungkin ada, tapi tidak dengan saya."


"Alah ... alesan, ayo ke ATM dan cek uang di karuh anda ada berapa?."


Kening Javir mengerut mendengarnya, "untuk apa saya harus menunjukkan nominal uang di ATM saya?, anda bukan istri saya."


Satu detik ...


Dua detik ...


Gea terdiam sejenak sebelum mengerjap-ngerjapkan matanya.


Javir tersenyum sarkas menatapnya dalam dengan memiringkan kepala.


Blus ...


Gea melempar serbet diatas meja yang berada tepat didepannya pada Javir.


Bukannya menghindar, Javir malah menangkapnya dan tertawa bahagia setelah berhasil membuat pipi Gea bersemu.


"Gak lucu" geram Gea.


"Apa saya sedang bercanda?, bukankan anda memang bukan istri saya?."


"Kembali ke topik awal!" Jerit Gea berang.


Wajah Javir kembali memperlihatkan wajah datarnya, meski sebenarya menahan senyum.


Berbeda dengan Gea yang menatapnya dengan wajah kesal tampa mau menutupinya.


"Lagi pula kenapa anda begitu memaksa?" Tanya Javir dengan nada tenang.

__ADS_1


"Bukankah sudah saya katakan tadi, saya membutuhkan ballroom kalian karena klien saya menginginkan mengadakan acara tersebut di tempat anda. Lagi pula acara ini akan menguntungkan pihak anda juga, jadi kita sama-sama di untungkan."


"Kami tidak butuh keuntungan dari apa yang anda tawarkan, karena kami bisa me ..."


"I know!" Potong Gea dengan nada penuh tekanan menahan kesal, "stop rambling on or I'll grab your hair now."


Mata Javir membulat mendengarnya, dia terkejut dan terperangah dengan apa yang dikatakan Gea barusan.


"Apa selama anda melakukan negosiasi dengan mengancam?" Tanya Javir.


"Berhenti membuatku marah" desis Gea.


Javir mengangguk, mengatupkan bibir memilih diam tidak mengatakan apapun.


Selama beberapa menit mereka diam tidak ada yang mengatakan apapun hingga Gea mendengus kesal.


"Kenapa anda diam?"


"Anda yang meminta saya berhenti."


Gea mendongak memejamkan mata mendengus dengan kesal, menenangkan diri agar tidak berbicara meledak-ledak pada Javir.


Javir menghela nafas melihatnya, akhirnya Gea mulai terlihat sedikit tenang dari saat pertama mereka duduk.


"Marah?" Tanya Javir dengan nada datarnya, "gue hanya melakukan apa yang loe mau. Loe mau kita biasa aja gue biasa aja, loe gak nyaman ya gue ngehindar, loe mau kita ketemu ok kita ketemu, loe minta gue berhenti ya gue berhenti. Gue akan ikuti kemauan loe, tapi jika menyangkut dengan pekerjaan gue harus profesional, mempertimbangkan keuntungan untuk bisnis gue."


Mereka terdiam, kembali saling tatap satu sama lain dalam diam selama beberapa detik.


Terlihat Gea mengepalkan tangannya hingga memutih, menahan semua perasaan yang berkecamuk hingga akhirnya Gea memilih untuk memalingkan muka.


Diam-diam Javir melihat jam tangannya sudah menunjukkan jam satu siang, waktu untuk bermain-main telah selesai.


"Waktunya makan siang selesai" ucap Javir dengan nada baritonnya, "bisa kita bicara serius?."


Wajah Javir yang tampak serius, tatapan matanya yang tajam bahkan gaya duduknya yang tegap menggambarkan kewibawaan seorang pemimpin.


"Terima kasih saya ucapkan kepada anda dan Pak Abraham Ganendra yang sudah berniat untuk menggunakan ballroom kami, tetapi dengan segala hormat kami selaku ..."


Bahasa dan tutur kata Javir amat sangat bertolak belakang dengan apa yang Gea kenal dulu, atau satu menit yang lalu. Tertata rapi dan sangat sopan.


Ini pertama kali Gea melihat Javir seperti seorang pemimpin yang berwibawa, sopan dan bijak sana.


^-^


"Pufff ...."


"Uhuk ... uhuk ..."


Aslan dan Alaric sontak terkejut dengan apa yang dikatakan Javir barusan.


Makanan dalam mulut Alaric bahkan tersembur keluar, sedangkan Aslan tersedak dengan jus yang dia minum.


"Terus apa kata dia?" Tanya Aslan.


"Nolak lah pasti" jawab Javir dengan entengnya.


"Ya iya lah Je ... dia aja gak mau kuliah, gak mau kerja di perusahaan milik Kakeknya, gak mau kerja di perusahaan Ganendra, loe malah minta dia kerja dengan kita" ucap Alaric.


"Apa loe sengaja ngajuin persyaratan sama Gea untuk bekerja sama dengan kita disetiap ada event agar loe kembali deket dengan dia?" Tanya Aslan.


Kepala Javir menggeleng, "no ... gue gak mencampur aduk masalah pekerjaan dan maslaah peribadi gue."

__ADS_1


"Tapi ada kecondongan kearah situ" seru Alaric.


Javir tersenyum kecil, "anggap saja lagi memancing."


"Maksudnya?" Tanya Alaric.


"Dia yang melempar kail dan umpan, gue yang sebagai ikan hanya memakannya" terang Javir. "lagi pulang kalau kita bekerja sama dengan dia, itu mempermudah kita untuk mengurus dekorasi ballroom setiap ada event yang digelar."


Kepala Aslan manggut-manggut menyetujui, sedangkan Alaric hanya tertawa kecil mendengarnya.


"Gue do'ain yang terbaik buat loe" seru Alaric.


^-^


Sudah satu jam Gea masih duduk dipojok caffe.


Sudah satu jam Yesi memperhatikan Gea yang tidak ada pergerakan, sehingga Yesi akhirnya memutuskan untuk menghampiri Gea.


Tepat didepan Gea ada proposal yang waktu itu diberikan oleh Abra padanya, proposal tentang ulang tahun Perusahaan Ganendra.


"Apa gue tolak aja ya?" Guman Gea lirih.


"Yakin?" Tanya Yesi duduk didepan Gea, "emang loe mau bilang apa ke Ayah loe?. Mau bilang 'maaf Yah, Gea gak bisa kerja sama dengan Raja Throne karena gak bisa kontrol perasaan, apalagi degup jantung yanv jedak jeduk untuk berhenti tiap ketemu Kak Je'. Loe mau bilang gitu?, sono gih."


Mata Gea langsung menatap sinis pada Yesi, "bukan karena itu ... Lagi pula kapan jantung gue jedak jeduk?, gak pernah ya ... Jangan ngarang deh loe."


"Idih ... Slow aja kali mbak ... Gak usah ngegas."


Gea berdecak kesal.


"Dari awal loe bilang ini bentuk ujian dari Ayah loe, terus se ..."


"Tapi susah Yes" keluh Gea.


Plak ...


Yesi memukul tangan Gea kesal, "gue belum selesai ngomong Gea!. Gini ya ... loe udah mencoba buat ketemu dia, ngubungi dia, ngajak bicara ... loe hanya butuh satu kali lagi ketemu dia untuk negosiasi udahnya itu selesai ... loe hanya kerja sama bawahannya aja buakan denhan dia."


Gea menempelkan keningnya pada meja, Yesi tidak mengerti apa yang dia rasakan. Tapi bagaimanapun dia yidak bisa menyalakan Yesi, karena Gea sendiri juga kebingungan.


"Hem ... terus gimana?."


"Ya maju dong Gea ... sudah terlanjur, udah separuh jalan, yang ada loe malu-maluin An Angel Event Organizer kalau loe mundur setelah malu-maluin tiap hari kesana ngomel-ngomel, maksa mau bertemu General Manager mereka."


Gea mengangkat wajahnya menatap Yesi dengan tatapan memelasnya, "next ikut gue meeting ya ... please."


"Iya iya ... sebagai sahabat gue sport loe" ucap Yesi. "Permainan baru saja dimuai, loe harus semangat."


Permainan baru saja dimulai ...


Permainan dari segi mana?


Dari berbisnis?


Perasaan?


Atau ...


Masa lalu?


Hem ... Gea mengehela nafas pasrah, sudah terlanjur, ayo maju.

__ADS_1


Gea tidak bisa mundur karena harus membuktikan diri pada Ayahnya jika dia bisa menjalankan bisnisnya secara sempurna.


^-^


__ADS_2