
Karena minta bantuan pada ketiga temannya dan juga Mela, alhasil ... Javir sekarang bisa dibilang menjadi pesuruh Mela.
Jam dua siang tadi Mela tiba-tiba menelfon memintanya untuk mengantar makanan yang ada di hotelnya. Dan tidak lain tidak bukan adalah bebek panggang kesukaan Mela dan Regan, pasti dalang dibalik semua itu adalah ulah Regan.
Buk ...
Javir menghentikan langkahnya.
Dia menubruk seorang anak laki-laki hingga anak kecil itu terjatuh.
"Maaf ya" ucap Javir sambil membantunya berdiri.
Anak itu menatap Javir dalam.
"Kamu gak papakan?."
Anak itu masih saja tetap diam.
Pipinya sedikit kemerahan, lehernya juga. Javir menatap ketangan anak itu yang ternyata juga memerah.
"Kamu kenapa?" Tanya Javir.
Anak itu tetap saja diam.
Dret ...
Javir menghela nafas saat nama Mela muncul dilayar ponselnya. "Sekali lagi maaf ya" ucap Javir sambil berdiri hendak pergi.
Lengan bajunya terasa ada yang menarik, Javir mengurungkan niat untuk melangkah.
Anak itu memegangi lengannya dengan sangat erat.
"Ayah" panggilnya.
Mata Javir langsung melongo mendengarnya.
"Maaf, aku bukan ..."
"Ayah ini Erza" ucap anak itu dengan polosnya.
Javir tersenyum kecil, kembali berjongkok mensejajarkan tinggi mereka berdua.
Tangannya menepuk puncak kepala anak itu, "kamu salah orang."
Anak itu kembali diam menatap Javir dengan tatapan dalam, membuat Javir tidak bergeming melihatnya.
"Enil!"
Tubuh anak itu tiba-tiba ditarik mindur oleh seseorang.
Javir mendongakkan kepalanya, seorang perembuat berdiri menyembunyikan anak itu dibelakang tubuhnya.
"Liza?"
Javir ingat betul dengan perempuan yang berdiri didepannya, dia adalah temannya kala masih duduk dibangku kuliah dulu.
Liza tersenyum segaris membenarkannya.
"Wah ... apa kabar?, loe masih di Jakarta" Javir mencoba untuk membuka percakapan diantara mereka.
Liza masih diam menatap kearah Javir.
"Jangan bilang loe lupa sama gue, gue Javir, Javir Erlangga. Gak munhkun loe lupa sama gue."
Senyum Liza semakin melebar dan mengnggukkan kepala. "Inget kok, kabar gue baik, loe sendiri gimana?."
"Cukup baik" jawab Regan.
"Ibu dia Ayah kan?"
Percanyaan dari anak kecil tadi kembali menarik perhatian Javir.
Anak itu menatap kearahnya dengan tatapan penuh harap membuat Javir terenyuh melihatnya.
"Bukan" jawab Liza.
"Tapi fo ..."
"Diamlah!"
Bentakan Liza membuat Javir tersentak.
Mata anak itu langsung terlihat berkaca-kaca menatap Javir.
__ADS_1
Mulai merasa sda sesuatu yang salah, Javir hendak bertanya siapa Ayahnya dan sudah menikah dengan siapa Liza, tetapi perempuan itu lebih dulu menyeret anak laki-laki itu pergi.
Anak itu terus saja menatap kebelakang learah Javir, membuat Javir risih jadinya.
Seakan mencoba tak perduli, Javir kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan Regan.
^-^
Gea menatap Faris yang duduk didepannya tampa perasaan takit sana sekali, Fariz menatap Gea dengan tatapan mata berbinar.
Yesi yang duduk disebelah Gea malah ketakutan sendiri.
"Sejak kapan Ris?" Tanya Gea.
"Apanya sejak kapan?" Faris malah balik bertanya, "sejak kapan gue suka sama loe, atau sejak kapan gue jadi intens sabgat suka sama loe?."
"semuanya" jawab Gea datar.
Faris tersenyum malu-malu.
Yesi yang melihatnya langsung merangkul lengan Gea.
"Sejak awal gue liat loe di Insta storynya Al, sepuluh tahun lalu" ungkap Faris kembali menatap Gea dalam. "Pada awalnya gue udah merasa cukup berada siamping idola gue. Tapi ... Setelah loe ngajak gue jadian tapi malah jadian dengan Javir ..." Faris menepuk-nepuk dadanya keras hingga berbunyi.
Tatapannya mulai tidak fokos.
"Dada gue mulai serasa panas, gue benci melihat kalian berdua. Gue bendi ngeliat dia bisa peluk loe, gue benci ngeliat kalian tidur bersama, GUE BENCI!"
Nanda yang berada dibelakang mereka langsung menarik Gea untuk mundur, menjaga jarak dari Faris.
Tatapan mata Faris kembali melembut setelah melihat Gea menjauh.
"Hidup gue serasa runtub melihat loe berduan, tidur bersama, bahkan tidak pulang berhari-hari. Gue cinta loe, loe milik gue."
Nanda menarik lengan Gea yang hendak kembali menghampiri Faris. "Dia mulai keholangan kontrol, kita keluar."
Yesi juga ikut memegangi lengan Gea yang satunya, "jangan main-main Ge, dia udah gak bisa kita ajak bicara baik-baik."
Gea hanya bisa menghrla nafas dan mengangguk pelan.
Perlahan Nanda melangkah mundur, membuka pintu diam-diam, dan dengan cepat mearik Gea dan Yeai keluar dari ruangan itu sebelum Faris mengejar mereka dan hendak keluar.
^-^
"Kita memang lapar, tetapi gak makan sebanyak itu juga" protes Regan.
"Terima kasih atas kebaikan hatinya" Mela berdiri dan menunduk kearahnya.
"Jangan sok imut deh loe" gurutu Javir sambil meminum air didekatnya.
Gara-gara makanan yang dia bawa terlalu banyak, jadi dia ikut makan bersama mereka.
Untung saja ada Aslan berada di rumah sakit itu menemani Ibunya, jadi mereka bisa makan bersama diruangan Regan.
"Gue mau cuci tangan" pamit Javir.
Karena diruangan Regan tidak ada westafel apa lagi kamar mandi, Javir akhirnya keluar dari ruangan Regan.
Tampa disangka Regan malah mengikutinya.
"Kenapa loe gak nemenin Gea mengunjungi Fariz?" Tanya Regan.
"Gue risih liat tatapan matanya ke Gea, yang ada gue nanti malah emosi."
"Terus Gea sama siapa kesana?"
"Yesi dan Nanda, gue ga ..."
Kalimat Javir terhenti kala melihat anak itu berdiri tidak jauh darinya menatap kearahnya dengan tatapan sedih yang mengganggu Javir.
Tidak ada Lisa disampingnya, anak-itu lagi-lagi berjalan sendirian.
"Hei nak" panggil Javir.
Javir menghampiri anak itu dengan langkah lebarnya.
"Siapa?" Tanya Regan.
"Anak temen semasa gue kuliah dulu, dia malah jalan-jalan sendirian disini."
Kepala Regan manggut-manggut mendengarnya.
"Kamu kenapa disini?, Ibumu mana?" Tanya Javir setelah jarak diantafa mereka cukup dekat.
__ADS_1
Anak itu menunjuk kearah belakang.
"Gue nganterin dia dulu ya, kasihan Ibunya pasti nyariin" ucap Javir menkleh pada Regan.
"Tangannya ruam" ucap Regan menatap tangan anak itu, "dia alergi sesuatu."
"Mungkin itu alasan mereka kesini."
Anak itu tiba-tiba menggenggam tangan Javir begitu erat, menarik perhatian Javir dan menatapnya aneh.
"Loe anter dia dulu, mungkin dia ketakutan udah kesasar" uvap Regan.
Javir hanya meresponnya dengan anggukan kepala dan mulai berjalan bersama anak itu.
Entah kenapa pikiran Javir jadi negatif.
Baru memastikan Regan sudah pergi dan tidak ada yang memperhatikan mereka, Javir melepas genggaman tangan anak itu dan berkacak pinggan menatapnya tidak suka.
"Loe kenapa sih?" Tanya Javir, "gue risih" ungkapnya.
"Anda Ayahku kan?" Tanya anak itu lirih, "wajah anda seperti difoto yang Ibu berikan, dan nama anda juga Javir Erlangga."
Javir terbengong mendengarnya, "Ayah?."
Kepala anak itu mengangguk membenarkan.
Sedangkan kepala Javir malah berfikir keras mengingat ingat kapan dia pernah berhububgab dengan Liza?, karena dia hanya sekedar teman organisasi saja. Bahkan Liza tidak termasuk pada deretan nama mantan pacarnya.
Anak itu menoleh kesamping, matanya ketakutan dan berdiri dibelakang Javir menyembunyikan diri.
Javir mengangkat wajahnya dan melihat Liza yang berjalan dengan wajah kesal kearah mereka.
"Sini" perintah Liza dengan nada tegas.
Anak itu malah memeluk Javir erat.
"Bisa kita bicara?" Tanya Javir.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan" jawabnya ketus.
Sebelah alis Javir terangkat mendengarnya, kenapa Liza ketus?, padah dia tidak melakukan apapun batin Javir.
Liza menyentak lengan anak itu hingga tangan kecilnya terlepas.
Mata anak itu menatapnya dengan mata memerah menahan tangis.
"Jangan kasar gitu, kasihan lengannya sakit"
"Dia anak gue, jadi terserah gue!"
"Tapi gak gitu juga kasihan dia!"
Javir mulai terpancing emosi karena bentakan Liza barusan.
"Loe gak berhak ikut campur!."
"Emang gue gak berhak!, tapi loe sudah kasar sama anak loe. Loe Ibunya bukan sih?, kasar banget."
"Gak ada urusan sama loe, loe bukan siapa-siapa."
"Ya iyalah, Ayahnya aja bukan."
Tampa sengaja Javir melirih pada anak itu.
Terlihat anak itu menangis dalam diam menatap padanya dengan tatapan sedihnya.
"Anda Ayahku" seru Anak itu dalam tangisnya.
"Hei!" Tegur Liza
"Dia Ayahku Ibu" anak itu semakin kencang menangis, "kenapa Ibu tidak bilang kalau aku anak Ayah, Ibu sendiri yang bilang sama Enil kalau pria difoto itu Ayah Enil."
Hati Javir terenyuh seketika.
Liza melirik padanya sebeluk menggendong anaknya dan melangkah pergi dari sana.
Anak itu terus saja menangis memanggil-manggil Javir dengan panggilan Ayah, dan tangannya terulur kearah Javir.
Merasa tidak tega, Javir melangkah lebar mengejar Liza dan menghadang langkahnya.
"Kenapa anak itu manggil gue Ayah?" Tanya Javir dengan suada mendesia, "foro apa yang di ..."
"Loe" potong Liza, "Ayahnya adalah loe, dan dia anak loe."
__ADS_1
Saat itu juga dunia Javir serasa runtuh seketika.
^-^