
Telinga Javir serasa mau pecah mendengar suara Bilqis yang bernyanyi tidak sesuai nada. Chaka yang duduk disebelahnya sudah beberapa kali membenarkan namun malah dapat bentakan dan omelan dari Bilqis.
Kerap kali tangan Gea menepuk-nepuk pelan lengan Javir agar bisa mengontrol emosinya.
"Namun ....saja ... selalu ... kau uuuu ... diha...ti...ku ... huoh ..."
Kesal amat sangat kesal dan tidak bisa ditahan lagi, tangan Javir mematikan lagu yang sedang Bilqis tiru.
"ABANG!" Teriak Bilqis melengking.
"Bentar lagi juga sampai rumah, telinga Abang mau istirahan bentar" bujuk Javir.
"Gak mau hidupin lagi" kaki Bilqis menendang-nendang udara.
Javir malah menghela nafas malas tidak meperdulikan rengekan Bilqis.
"Ah!"
Rabut Javir berhasil Bilqis jambak dari belakang.
Gea menoleh belakang dan kalang kabut melihat Bilqis melepas seatbaltnya dan menjambak rambut Javir.
"Bi lepas Abang Je lagi nyetir" tegur Gea.
"Abang Je nakal, kenapa lagunya dimatikan?"
"Iya iya kak Ge hidupin, tapi lepas dulu rambut kak Je dan Bi kembali duduk, pakai seatbaltnya!" Ucap Gea dengan tegas.
Bilqis merengut, melepas rambut Javir dan kembali duduk menuruti perintah Gea.
Tangan Gea mengelus rambut Javir lembut, "ah ... kepala gue langsjng pusing lagi" keluh Javir.
"Mau gue ganti?" Tawar Gea.
Kepala Javir menggeleng pelan.
"Kamu juga, ngapain dimatikan segala. Namanya juga anak-anak ya biasa kalau nyanyi ngalur ngelindur" omel Gea.
Javir meringis mendengarnya.
Mobil mereka mulai memasuki pekarangan Ganendra.
Tidak ada suara yang terdengar dari Bilqis meski mobil sudah berhenti dan Javir mematikan mesin mobil.
Gea turun dari mobil, membuka pintu belakang untjk Chaka dan Bilqis, tetapi Bilqis malah melangkahkan kaki kedepan dan duduk dipangkuan Javir, tangan kecilnyanya menepuk-nepuk rambut Javir lembut.
Gea dan Cha berjalan terlebih dulu meninggalkan mereka berdua.
Diteras depan rumah sudah ada Ara dan Abra yang duduk menunggu kedatangan mereka semua.
"Mereka kenapa belum turun?" Tanya Ara menunjuk Javir dan Bilqis dengan dagunya.
"Lagi manja-manjaan" jawab Chaka asal.
Gea tertawa kecil mendengarnya.
"AYAH!" Panggil Bilqis menggelegar berlari kearah Abra.
Cepat-cepat Abra meletakkan ponselnya diatas meja dan menangkap tubuh Bilqis.
Javir menghela nafas serasa lega lepas dari celotehan cerewet Bilqis.
Gea yang melihat helaan nafas Javir tertawa kecil sasambil mengelus puncak kepala Chaka.
"Ayah Ayah" panggil Bilqis meminta perhatian.
"Apa sayang?"
Abra yang gemas mencubit pipi Bilqis.
Si cerewet dikeluarga Ganenda akan memulai bercerita pancang lebar tentang apa yang dialaminya hari ini.
"Tadi Bi sama Aka diteraktir pajak jadian sama Abang Ar, sama Abang Je"
Mata Gea langsung membola lalu terkekeh melirih Javir yang lagi-lagi menghela nafas mendengar celotehan Bilqis.
Apa yang terjadi tadi tidak akan luput dari celotehan Bilqis sebentar lagi.
"Kalian pacaran?" Tanya Ara.
Javir tersenyum bahagia menatap Ara sambil memiringkan kepalanya.
__ADS_1
"Sejak malam saat As tunangan sayang" jawab Abra.
"Wah ... pertunangan As bawa dua pasangan baru" ucap Ara girang.
Abra melirik sinis pada Javir membuat Javir meringis melihatnya.
Perlahan Abra menurunkan Bilqis dari gendongannya, "Bi sama Aka mandi dulu dengan Bunda dan Kak Gea, Ayah mau berbicara urusan kantor dengan Abang."
Bilqis mengangguk antusias
Sedangkan Chaka berbalik menghadap Gea dan merentangkan tangan minta di gendong. "Aka ngantuk" ucapnya lirih.
Tampa mengeluh Gea menggendong Chaka membawanya masuk menyusul Ara dan Bilqis yang berlari penuh semangat memasuki rumah.
Melihat Gea yang begitu sabar dan sangat menyayangi mereka membuat Javir berandai-andai jika mereka berdua memiliki anak kelak.
Pati keluarga mereka terlihat bahagia nantinya.
"Tunggu saya diruang kerja" perintah Abra.
Angan-angan Javir yang baru tercipta menghilang seketika.
Didepannya, Abra menatap tajam padanya sebelum melangkah masuk kedalam rumah.
Jangan ditanya kabar degup jantung Javir, karena kali ini jantungnya terasa menggila memompa darahnya.
Mereka baru saja jadian
Javir baru saja merasakan kebahagiaan
Semoga Abra tidak mematahkan kebahagiaan mereka.
^-^
Bruk ...
Abra melempar setumpuk berkas tepat kedepan Javir yang masih berdiri didepan meja kerjanya.
"Jelaskan" ucap Abra dengan nada memerintah.
Javir menghela nafas lega saat membaca berkas didepannya.
Haedfile dari gile yang dia kirim pada ketiga temannya tadi, juga Javir kirim pada Abra.
"Kenapa?"
"Karena peraturan disana setiap orang tidak boleh memiliki saham lebih dari 27 persen, terpaksa saya mema ..."
"I don't ask about it" potong Abra, "kenapa melakukannya?."
Javir terdiam beberapa saat sebelum menjawab dengan nada tegas. "Karena alasan pribadi Pak"
Abra bersandar oada sandaran kursi menatap tajam Javir, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja kerjanya perlahan.
"Don't be formal son" ucap Abra, kali ini terlihat lebih tenang.
Javir memejamkan mata sejenak, Abra pasti akan bertanya lebih jauh lagi jika dia memintanya untuk bersikap biasa.
Abra mengambil berkas yang tadi dia lempar, "kenapa Ayah yang paling sedikit sahamnya dari yang lainnya?."
"Karena Ayah orang terakhir yang aku gunakan" jawab Javir sekenanya.
"Kenapa harus menggunakan empat orang jika maksimal memiliki saham dua puluh tujuh persen?"
"Agar mereka tidak curiga."
Abra menghela nafas mendengaenya, "apa alasan pribadimu sebenarnya Je?."
Terlihat tidak mau menjawab, Javir diam menatap kesatu titik dengan tajam. Mirip kelakuan Malvin sehingga Abra bisa menebaknya.
"Ayah bertanya begitu karena Ayah yakin uangmu sekarang sedang kosong, dan Ayah tidak mau nantinya harus Gea dan yang lainnya terimbas, terutama Papamu."
Perlahan senyum Javir terukur, "Ayah tidak usah khawatir tentang apa yang dimakan Angel setelah menikah denganku."
Abra tercengang medengar perkataan penuh percaya diri dari Javir, "memangnya siapa yang mengatakan Gea akan menikah denganmu?."
"Barusan"
"Memangnya dimana ada kata-kata menikah yang Ayah lontarkan?" Tanya Abra berang, "Ayah menyebut nama Gea karena kalian sedang pacaran dan anak itu tidak akan tinggal diam jika tahu kamu tidak memiliki uang dan dikejar-kejar renternir nantinya" omel Abra panjang levar dengan bersungut-sungut.
Javir terkekeh mendengarnya, mengeluarkan ponsel, membuka suatu aplikasi dan menunjukkan ponselnya kedepan Aslan.
__ADS_1
"Aku memiliki beberapa rekening diluar sepengetahuan Papa Malvin, Ayah. Jadi tenang lah" ucap Javir dengan santainya.
Melihat nominal yang tertulis didepannya membuat Abra menghela nafas, memejamkan mata sejenak.
Empat orang anak yang berhasil membangun hotel mewah dan membuatnya menjadi salah satu hotel termewah dan terkemuka di Jakarta memang penuh dengan rahasia.
Dalam waktu sepuluh tahun lebih beberapa bulan, mereka berhasil mengembalikan semua suntikan dana Abra.
"Ok" ucap Abra kembali tenang, "Ayah tidak mau tahu lebih dalam lagi tentang itu. Sekarang mau berbicara tentang Gea" Abra berdiri dengan tegap menatap Javir tajam. "I don't want to hear anything ... apapun itu alasannya yang membuag dia kembali down seperti dulu."
Tampa terlihat gentar, Javir membalas tatapan tajam nendominasi Abra.
"Sejak malam penolakan pertunangan itu, sampai sekarang kamu mengawasinya, jadi Ayah tidak perlu menjelaskan lebih lanjut."
"Ya."
"Karena kamu sendiri yang mengatakan malam itu" Abra tersenyum segaris, "lebih baik jomblo dri pada hidup tersiksa."
Tangan Javir mengepal mendengarnya.
^-^
Gea baru saja mandi, dia menyisir rambutnya didepan kaca rias sebelum mengikatnya dan mencepolnya keatas.
Tok tok tok ...
Terdengar ketokan pintu kamarnya, padahal pintu kamar dia biarkan terbuka.
"Boleh masuk?"
Gea tersenyum mendengar suara Javir, "iya ... asal jangan ditutup pintunya."
Baru beberapa detik Gea memperbolehkan, Javir sudah berdiri dibelakanhnya dan memeluk Gea dari belakang membuat Gea terperanjat.
Kening Javir bersandar dipundak Gea, membuat Gea merasakan hangat dari keningnya yang menembus baju tidur Gea.
Tangan Gea melepas pelukan Javir dan berbalik badan, "kamu demam lagi ..."
Perkataannya terhenti kala Kabir mendongakkan kepala menangkap tangannya yang akan menyentuh kening Jabir.
"Gue bahagia" ungkap Javir, "sangat bahagia sampai gak bisa mengontrol diri dan kurang tidur."
Gea tersenyum segaris, tangannya menyentuh pipi Javir dan mengelusnya. "Gak bisa tidur lalu kerja semalaman?" Tebak Gea.
Javir mengangguak, menarik tubuh Gea kedalam pelukannya. "Boleh tidur disini sebentar?, satu jam saja ... sesudah itu gue pulang."
"Boleh, tidur dikamar Ar atau As."
"Disini" pinta Javir semakin memperetar pelukannya.
Gea tergelak, "tapi pintu harus terbuka ya ... Nanti Ayah sama Bunda menyidangbkita kaya Ar dan Belda."
Javir menganggukkan kepala setuju.
Pada awalnya Gea niat naik ke tempat tidur untuk mengambil ponselnya, tetapi Javir malah memeluk pinggang Gea.
Javir bagaikan bayi yang meringkuk memeluk pinggangnya, telihat nyaman sehingga Gea membiarkannya tertidur memeluknya. Lagi pjla hanya sebentar, hanya satu jam.
Abra tiba-tiba muncul kala Gea mengelus rambut Javir lembut.
Mata Abra melotot melihatnya, hendak melangkah masuk tetapi Gea balas memelototinya. Mereka mulai berbicara menggunakan isyarat dan gerakan bibir.
"Bagun sini."
Gea menggeleng, "dia sakit Ayah. Biarkan saja, hanya satu jam."
"Tidak ada satu jam."
Abra hendak masuk untuk membangunkan Javir, tetapi tangannya ada yang menarik.
Bilqis menatapnya dengan mata menyipit terlihat kesal. "Abang Je sedang sakit Ayah" ucap Bilqis lirih, "apa Ayah tidak mengerti yang dikatakan Kak Gea?."
"Tetapi perempuan dan ..."
"Biarkan dulu Abang Je tidur, Ayah jangan cerewet nanti Abang bangun" omel Bilqis menarik tangan Abra untuk pergi. "Pasti kepalanya sakit gara-gara jambakan Bi, jadi biarkan saja tidur kasihan."
Suara omelan Bilqis, sayup-sayup terdengar oleh Gea. Gea hanya bisa mengulum bibirnya menahan tawa.
Tangannya kembali mengelus rambut Javir lembut, menatap wajah Javir yang terlihat tenang tertidur pulas dipinggangnya.
"Aku juga Bahagia"
__ADS_1
^-^