Watching You

Watching You
Apa Lagi?


__ADS_3

Sudah hampir sejam Javir menatap tajam pada layat leptopnya, memperhatikan Gea dan Sebastian yang berada di ballrom hotelnya.


Meski terlihat jelas jika Sebastian memang mau membantu Gea dan Yesi, tetap saja di mata Javir dia bisa melihat sesuatu yang memang disengaja Sebastian untuk menarik perhatian Gea atau mungkin ubsaha yang begitu meyakinkan agar Gea tertarik padanya.


"Hemz ..."


Entah helaan nafas itu yang keberapa kalinya sejak dia memperhatikan mereka berdua dati layar leptopnya.


Kepalanya mulai berdenyut.


Javir meraih ponselnya berniat untuk memesan kopi online, tangannya berhenti ubtuk mengklik tombol pesan lalu merubah jumlah pesanan dan memesannya.


Perlahan punggungnya bersandar pada sandaran kursi, memejamkan mata mencoba menenangkan diri.


"An dibawah"


Itu suara Alaric yang baru saja masuk kedalam ruangannya tampa mengetuk pintu seperti biasa, dan sekarang sudah berdiri disampingnya ikut menatap layar leptopnya.


"Ya" jawab Javir sekenanya.


"Cowok itu cowok yang ngelamar An ke Ayah bjkan?" Tanya Alaric.


"Hem"


Javir hanya bergumam karena malas membuka mulut dan menjelaskannya pada Alaric.


"An sering memakai ballroom kita, kenapa barang-barangnya gak ditaruh di gudang kita aja?. Lagi pula dia udah ..."


"Biarin aja" potong Javir malas, "Lagi pula dia memang begitu. Dia gak suka bergantung sama orang lain bro, biarin aja dia mau apa juga terserah dia."


"Asal loe masih bisa mengawasi."


Suara Alaric terdengar dekat dengannya sehingga Javir menoleh kesamping dan melihat Alaric sedang menatapnya dengan senyum mengejek.


Tiba-tiba Alaric menatap layar leptopnya dengan kening mengerut seakan memikirkan sesuatu.


"Lagi mikirin apa loe?" Tanya Javir.


"Hah?"


Alaric malah gelagapan membuat kening Javir ikut mengerut menatap heran padanya.


Tumben Alaric tidak fokus!


Seorang anak penerus geng seperti Alaric tidak pernah tidak fokus akan sesuatu.


"Loe lagi mikirin apa?" Tanya Javir lagi.


Alaric tersenyum kecil, berjalan duduk dikursi tepat didepan Javir sambil memutar-mutar kursinya.


Ada sesuatu yang disembunyikan Alaric, padahal sebelumnya Alaric akan menceritakan semuanya pada Javir tampa terkecuali.


Tangan Alaric terulur seakan menunjuk leptopnya yang masih terbuka memperlihatkan Gea di ballroom hotel.


"Ajarin gue untuk gituan" ucapnya cepat dan kembali memutar kursinya.


Kening Javir semakin mengerut dalam.


Alaric tidak akan pernah mau ribet, dan Alaric pernah mengatakannya secara langsung didepan mereka jika hecker adalah perkerjaan ribet dan amat sangat0 menguras otak.


Sekarang apa yang terjadi dengannya?


"Mau ngapain loe?" Akhirnya Javir tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


"Yang penting gak untuk ngintipin cewek mandi" jawab Alaric asal.


Sontak Javir tertawa ngakak mendengarnya, jika Alaric menjawab asal, artinya sampai kapanpun dia tidak akan menjawab pertanyaannya dengan benar.


Ponselnya berdering menghentikan tawa Javir.


"Gue ajarin setelah gue kasih pelajaran tuh bocak" ucap Javir pada Alaric sambil berdiri mengangkat panggilan teleponnya, "tunggu bentar Pak saya turun."


Itu panggilan dari tukan ojek online yang mengantar pesanan kopinya, sehingga Jabir berlari kecil keluar dari ruangannya.


Alaric menghela nafas pasrah, tampa menjelaskan siapa bocil yang dimaksud Javir, dia sudah tahu jika bocil yang dimaksud itu adalah Sebastian.


"Sepertinya akan menarik" gumamnya.


Tangan Alaric membawa leptop Javir kesofa yang berada diruangan itu, meletakkannya di meja sedangkan dia tiduran di sofa panjang bersiap menonton apa yang akan Javir lakukan.

__ADS_1


^-^


"Sudah mbak duduk saja"


Larang salah satu karyawan hotel Raja Throne yang ikut membantu Gea dan Karyawan EO An Angel merapikan ballroom hotel.


"Gak papa Mbak" bantah Gea.


"Kalau mbak gak bisa diem, duduk dan ngawasin nanti kami dimarahin Bapak gimana?"


"Saya yang akan marahin dia balik"


"Aduh ... Mbak ..."


Puk ...


Seseorang menepuk pundaknya lembut.


Gea menoleh kesamping, ada Sebastian yang juga ikut membantunya sejak tadi kembali berdiri disampingnya.


"Udah deh An, kasihan mereka nanyi kalau dimarahin pacar loe" bujuk Sebastian.


"Tapi gue gak suka hanya diem sementara yang lain kerja."


"Udahlah ... Lagi pulan hanya sekalin"


Sebastian menarik pergelangan tangan Gea untuk mengkitinya duduk dikursi dekat jendela ballroom hotel.


Dengan pasrah Gea mengikuti Sebastian dari belakang.


Mereka berdua duduk didekat jendela memperhatikan beberapa karyawan yang masih berlalu lalang membereskan semua peralatan.


"Semua karyawan hotel ini sepertinya mengenal loe cukup baik" ucap Sebastian.


"Karena sebelumnya EO gue udah beberapa kali nyewa ballroom hotel ini" sahut Gea.


"Oh ya?" Tanya Sebastian seakan tidak percaya, "atau ... Mungkin karena hubungan loe sama General Manager mereka?."


Kepala Gea mengangguk-angguk pelan, "bisa jadi" ucap Gea pelan. "Apalagi Owner hotel ini adalah saudara gue, Regan sama Aslan, jadi mereka sudah tahu gue."


"Loe sering kesini?"


Kalimat Gea mengambang saat menoleh kesamping dan menemukan Sebastian menatapnya begitu dalam.


Mata mereka bersitatap selama beberapa detik, sebelum Gea akhirnya memilih kembali menatap sekitar.


"Loe balikan sama dia?"


Gea terdiam beberapa saat sebelum mengangkat kedua bahunya dan menghela nafas pelan.


Kembali lagi ada orang yang bertanya tentang hubungannya dan Javir, dan lagi-lagi dia menjawab dengan jawaban yang sama.


"Apa loe gak bisa kasih jawaban yangbjelas kegue?, nanti kalau gue ngambil tindakan loenya marah-marah ngambek."


Gea tertawa mendengar nada sewot Sebastian.


"Apa lagi yang loe tunggu Gea?, apa dia gak mau hubungan lalian kejenjang pernikahan?."


"Mau" ucap Gea sangat lirih, "dia sangat mau. Tetapi ... Gue nya yang belum siap."


"Gue gak ngerti deh sama loe" dengus Sebastian, "saat tuh cowok pergi. Loe kayak tanaman yang gak disiram hampir mati, tinggal menunggu malaikat Izrail dateng. Tuh cowok ngajak serius, loe malah gini."


Gea tersenyum masam mendengar perkataan Sebastian, dia menoleh pada sebastian.


Kening Sebastian mengerut dalam.


"Seandainya loe jadi dia, loe akan apa?."


"Ya gue tinggalin lah, secara umur dia udah tua ngapain nungguin cewek macam loe."


Mata Gea melotot mendengarnya.


Sebastian tertawa kecil dan merangkul pundak Gea, "tapi kalau udah cibta mah ... Umur gak akan di pikirin Gea. Gak usah srandainya gue jadi dia, gue jadi diri gue sendiri aja, sampai sekarang ngarepin loe."


"Iz ..." Gea menjauh dari Sebastian.


Kembali Sebastian tertawa kecil, "Sebelum janur kuning melengkung apa salahnya Gea?."


"Ehem ... Ehem ..."

__ADS_1


Suara derhaman membuat Gea terperanjat dan berdiri seketian.


Dia sangat mengenal suara derhaman itu, itu suara Javir, buru-buri Gea melangkah kesamping dan berbalik badan dengan cengiran diwajahnya menghadap Javir.


^-^


Secara umur dia udah tua


Secara umur dia udah tua


Secara umur dia udah tua


Tangan Javir mengepal mengingatbkalimat Sebastian yang tidak sengaja dia dengar.


Sebelum janur kuning melengkung


Sebelum janur kuning melengkung


Sebelum janur kuning melengkung


Dan kalimat itu juga membuatnya naik pitam, sehingga tidak bisa menahan diri untuk menghentikan obrolan mereka berdua.


Sekarang, Javir yang menggantikan Gea duduk disamping Sebastian.


Gea sedang membagikan kopi yang dibawanya pada para karyawan, dan dari pada setelah selesai Gea kembali duduk disamping Sebastian, lebih baik dia yang duduk terlebih dahulu.


"Kalian balikan?" Tanya Sebastian pelan lalu menyeruput tehnya.


"Kami gak pernah putus!" Tegas Javir.


"Oh ... Terus apa ?, kalian main jauh-jahuan gitu beberpaa minggu lalu?."


Kepala Javir menoleh kesamping menatap Sebastian dengan tatapan tajam dan menusuknya, bahkan aura permusuhannya tidak lagi dia tutupi.


"Apa loe gak bisa kalau gak ikut campur maslaah orang?" Tanya Javir dengan suara rendah penuh peringatan.


Sebastian malah tersenyum culas, "gue gak bisa kalau gak ikut campur, karena gue cinta sama Gea. Jadi kalau loe gak berani buat lamar dia, gue yang akan melamar dia secara reami dengan membawa orang tua gue."


Sebastian malah balik mengancamnya membuat Javir mebgetatkan rahannya.


Dia benar-benar tidak suka, amat sangat tidak suka pada Sebastian.


"Emang apa lagi yang loe tunggu?, nunggu sampai dia gak takut lagi sama pernikahan?, samapi kapan?."


Mata Javir membulat tidak percaya jika Sebastian juga mengetahui ketakutan Gea.


"Jangan lama-lama Bang" ucap Sebastian sambil berdiri dari duduknya, "inget Bang, gue masih belum nyerah buat ngedapetin dia."


Tepat saat Sebastian melangkah pergi, Javir mencengkram gelas kopi plastiknya hingga kopi miliknya tumpah membasahi pergelangan tangannya.


"Je kopinya" seru Gea sambil berjalan tergepoh-gepoh kearahnya.


Javir yang langsung tersadar dari lamunannya dengan cepat membuang kopi ditangannya dan meringis pelan.


Kopi itu sudah hangat namun tetap saja menyengat dikulitnya.


Gea berjongkok didepannya, mengambil tisi dari dalam tasnya dan mengelap tangan Javir yang terkenan tumpahan kopin.


"Loe nih ya, kalau mau ngelamun ya taruh dulu kopinya di samping loe, jangan malah dipegang" omel Gea. "Kopinya masih anget ya?, tangan kamu agak merah ini."


Javir menarik tangannya perlahan dari tangan Gea menangkup kedua pipi Gea memaksa perempuan itu menatapnya.


Sedangkan kepala Jabir sedikit membungkut menyisahkan jarak hanya sebengkal diantara wajah mereka berdua.


"Apa lagi yang loe tunggu An?, ayo nikah. Gue akan selalu disamping loe apapun yang terjadi, apa loe gak percaya sama gue?, apa yang harus gue lakuin agar loe percaya kalau gue cinta sama loe?."


^-^


.


Perubahan jadwal Up ...


Wathcing You *update tiap malem 🀩


Karena beberpaa kesibukan didunia nyata 🀭 harap maklum awal semester Author pasti sibuk


Jangan Lupa tinggalkan jejak dengan πŸ‘Like and πŸ’¬ Komennya


Love You 😘*

__ADS_1


Unik Muaaa


__ADS_2