
Semua sudah selesai mengerjakan tugas mereka, Regan dan Aslan sudab bermain PS.
Tinggal Javir yang masih berkutat dengan pekerjaannya, dan Alaric yang duduk tidak jaun darinya dengan semangkok mie instan favoritnya mengamati Javir sejak tadi.
"Kalau pekerjaan loe selesai mendingan loe gabung sama Ar dan As" ucap Javir datar namun terdengar cukup jelas jika dia mengusir Alaric.
"Kerjaan gue belum selesai" jawab Alaric santai.
"Kalau gitu kerjain jangan malah makan dan ngeliatin gue" tegur Javir mengangkat wajahnya menatap Alaric malas, "loe mau tuh mata gue congkel?."
Alaric hanya menaris sebelah sudat bibirnya tersenyum masam, kerjaan gue lebih sedikit dari loe, jadi tenang aja ... Malam ini selesai kok" ucap Alaric santai.
Javir hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan Alaric yang ada benarnya.
"Loe marah karena tempo hari gue ngajak Gea sama Sebastian jemput loe?" Tanya Alaric dengan mulut mengunyah mie instannya.
"Enggak" bantah Javir kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Kalau gitu kenapa gue merasa loe kelewat dingin kalai ngomong ama gue?."
Tangan Javir berhenti bergerak sejenak, "biasa aja" ucapnya masih saja membantah.
Kepala Alaric manggut-manggut.
Diam-diam Javir menghela nafas, tampa dia sadar dia sudah melakukan hal iti oada Alaric, padahal sebisa mungkin dia mencoba untuk bersikap biasa.
"Kalau boleh jujur" ucap Alaric disela-sela kunyahannya, "gue gak suka liat loe menye-menye kayak gini."
Kening Javir mengerut mendengarnya, perlahan dia menoleh menatap Alaric dalam.
Alaric tersenyum kecil tidak perduli dengan tatapan Javir itu, "loe biasanya akan menggila jika menyangkut Gea. Tapi ini malah menghindar pergi, pakek acara sakit segala, dan sok cool seakan loe pria yang lapang dada, baik hati dan sabar sedunia dengan apa yang terjadi antara loe, Gea bahkan Sebastian."
"Gue me ..."
"Gue belum selesai ngomong" potong Alaric, "loe masih ingat gak masalah Fariz dulu?, seberapa inginnya loe memancing dia sehingga loe bisa cepat-cepat menjauhkan dia dari Gea. Bahkan saat kita masih di negara gue, loe dengan liciknya bisa menyingkirkan semua pria yang mendekati Gea. Tapi sekarang what happend dude?, gue gak kenal loe siapa."
Nulut Javir terkatup, otaknya berputar cepat mengingat seberapa liciknya dia menjauhkan semua pria dari Gea dulu.
Tangannya mengepal, lagi-lagi apa yang dikatakan Alaric ada benarnya.
"Karena loe sadar diri?"
Tiba-tiba saja terdengar suara Regan sehingga Javir dan Alaric secara bersamaan menoleh arah Regan yang ternyata dia dan Aslan berhentu nermain PS dan menatap mereka berdua dari sofa.
Mata Aslan melirik Regan juga, bahkan dia tersenyum kesenangan akan mendengar keseruan sebentar lagi.
"Sadar diri kenapa?" Tanya Regan, "karena loe bukan single lagi?, tapi Dnil bukan anak loe, loe hanya mengakuinya sebagai anak."
"Itu alasan yang gak logis" timpal Alaaric.
"Yang logis itu, kalau loe ngejauhin Gea karena loe sadar diri loe lebih jelek gak bisa nandingin kegantengan gue."
"Puff ..."
Sontak saja Aslan menutup mulutnya menahan tawa mendengar kalimat Regan.
Sedanhkan Alaric malah terbengong mendengarnya, berbeda dengan Javir yang hanya diam.
"Mana Javir si Gila sama saudara gue?" Tanya Regan sambil berjalan mendekati Javir, "sebenarnya gue gak mendukung loe atau Sebastian, tapi gedeg aja liat loe gini. Came on ... Masalah percintaan loe lebih rumit punya Aslan, lebih sengsara percintaan gue yang ditinggal Belda. Tapi otak kita masih waras dan bisa mengendalikan diri gak sampek drop kayak loe."
__ADS_1
"Kalau mau melepas Gea silahkan lepas" ucap Aslan sambil berjalan mendekati Javir, "tapi otak loe harus kembali waras atau gila sekalian kayak dulu jika menyangkut dia."
Jari Aslan menunjuk-nunjuk pelipis Javir sehingga Javir menepis tangannya dan berdecak kecal.
Regan tertawa kecil menepuk-nepuk punggung Javir berkali-kali.
"Ayo jadi Gila Je" ajak Alaric dengan tangan menepik punggung tangan Javir.
"Ah ..." keluh Javir kesal, "apaan sih."
Javir bergerak-gerak menjauhkan tangan ketiga temannya yang mengganggunya.
^-^
Mata Gea menatap empat orang didepannya dengan malas.
Abra, Ara, Vira dan Prabu berada didepannya.
Padahal Gea sudah berhari-hari bisa berkelit dari mereka tiap kali mereka memintanya untuk menemui mereka, tetapi hari inj kenapa malah mereka yang mendatanginya.
Kepala Gea melirik kanan dan kiri mencoba untuk emitar otak.
"Apa Ayah harus geret kamu kelantai tiga?" Ancam Abra.
Gea menyengir mendengarnya.
Ara memelototi Abra sebeljm berjalan menghampiri Gea dan menggandeng tangannya untuk mengikutinya menaiki tangga menuti lantai tiga.
Satu persatu Gea menaiki tangga, selama itu juga dia memutar otak mencoba mengantisipasi jawaban yang akan dia berikan disetiap pertanyaan yang kira-kira aman mereka semua tanyakan padanya.
"Pasti kerjaan Javir yang mengganti kunci pintunya" ucap Abra.
Gea menoleh kebelakang, Abra masih berdiri diambang pintu masuk lantai tiga sambil mengecek gagang pintu itu.
"Hah?" Gea terperangah mendengarnya, "dia juga bisa mendengar apa yang kita bicarakan disini?" Tanya Gea dengan nada tidak percaya.
Sebelah alis Abra terangkat menatap Gea dalam, "kamu tahu dia selalu mengawaskmu?" Abra balik tanya.
Kepala Gea mengangguk pelan, namun tatapan matanya beralih menatap kelain arah.
"Kalau kamu tahu dia selalu mengawasimu dengannkamera pengintai, apa kamu tidak berfikir dia akan memasang penyadap juga disini?"
Kepala Gea menggeleng pelan.
"Look how naive she is" ucap Abra menatap Ara, Vira dan Prabu bergantian.
Ara dan Prabu terkekeh kecil.
Vira menghela nafas menatap Gea.
"Kalian sendiri ap ..."
"Bunda tahu" potong Ara semangat, "dia mengawasimu."
"Javir dan Malvin itu sedarah dan satu frekuensi, Malvin selalu melakukan hal itu pada kita dan itu pasti menurun pada Javir juga."
"Gagang pintu, Kamera pengawas dan penyadap, pasti sudah terpasang sejak lama di seluruh bangunan ini."
Gea mengerjab-ngerjabkan matanya tidak tahu ingin merespon apa.
__ADS_1
Dia benar-benar tidak tahu jika Javir juga mendengar apa yang dibicarakan diruangan ini, Gea hanya menebak jika Jabir pasti meretes cctv seperti Rejan pada Belfa.
Jika Javir bukan hanya dapat melihat, berarti dia juga mendengar apa yang Sebastian ucapkan padanya.
Bahkan bila difikir-fikir, Javir pergi ke Bali tetap setelah beberapa hari Sebastian datang menemuinya dan mengatakan perasaanya.
"Javir gila" gumam Gea dengan raut wajah tidak percaya akan semuanya.
Ara kembali tertawa kecil, menghampiri Gea dan menggenggam tangannya, "dia melakukan semua kegilaan itu karena kamu berharga untuknya sayang."
Dengan tatapan kosong Gea menatap Abra dan Ara bergantian, "sejak kapan kalian tahu."
"Sejak lama" jawab Abra, "bahkan sejak dia keluar negeri untuk menemani Ar dan As dia sudah memantaumu dari sana."
Dan lemaslah bahu Gea sekegika itu juga.
^-^
Kita kembali ke Raja Crown.
"YA TUHAN!"
Seruan Javir yang menggelegar menarik semua perhatian.
Semua menoleh kearah Javir, tidak terkecuali Regan yang masih fokus bermain PS.
Javir berjalan menghampiri mereka diruang santai dnegan leptop ditanganbya, meletakkan leptopnya didepan meja memperlihatkan layar leptopnya yang sedang menayangkan suasana lantai tiga An Angel.
"Bunda tahu" itu suara Ara yang terdengar, "dia mengawasimu."
"Javir dan Malvin itu sedarah dan satu frekuensi, Malvin selalu melakukan hal itu pada kita dan itu pasti menurun pada Javir juga."
"Gagang pintu, Kamera pengawas dan penyadap, pasti sudah terpasang sejak lama di seluruh bangunan ini."
Ketiganya mengangkat wajah menatap Javir dengan tayapan tidak percaya.
"Mereka berempat ngapain kesana?, ngapain mengungkap semuanya pada Gea?" Tanya Javir dengan nada penuh emosi. "Ya Tuhan ... Bahkan Ayah menyebutkan semuanya ... Ada apa dengan mereka?."
Melihat Javir yang kelimpungan mereka bertiga malah tertawa ngakak bersama.
Javir yang sudah menahan emosi ingin marah dan mengamuk hanya bisa berteriak-teriak tidak jelas dan mondar-mandir didepan ketiga temannya.
"Bahkan sejak dia keluar negeri untuk menemani Ar dan As dia sudah memantaumu dari sana."
Sangat jelas terdengar ucapan Abra ditelinga Javir.
"YA TUHAN AYAH ... NGAPAIN ORANG TUA ITU MEMBONGKAR SEMUA!!!."
Tidak pernah ...
Bahkan sekalipun tidak pernah terlintas dalam benak Javir jika kelakuannya akan terbongkan secepat ini dan bukan olehnya atau ketiga temannya, melainkan malah empat orang tua yang membukanya.
"INI MEMBUAT GUE GILA!"
Javir berseru keras sambil menaiki tangga memasuki kamarnya.
Ketiga temannya masih saja tertawa terpingkal-pingkal, bahkan mereka juga tidak menyangka jika kelakuan Javir malah akan dibongkar Abra, Ara, Vira dan Prabu.
Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.
__ADS_1
Pribahas itu sepertinya sangat cocok dengan Javir untuk saat ini.
^-^