
Turun dari pesawat, Regan dan Aslan langsung menuju rumah sakit tempat Javir dirawat.
Regan segera menemui dokter yang menangani Javir, sedangkan Aslan sudah disambut Dian dilobby dan membawanya keruang rawat Javir.
Terlihat Javir tertidur dengan Danil disampingnya.
Tangan Aslan menarik selimut Danil yang tersingkap dan menyelimutinya dengan benar.
"Pak Javir memaksa mau pulang karena Danil tidak mu pulang, jadi saya meminta dokter untuk memberinya obat tidur, maaf jika saya lancang dan lebih perduli dengan kesehatan Pak Javir."
"It's ok" ucap Aslan menatap Dian dengan senyum segaris menenangkannya.
Diatas meja terdapat beberapa tumpukan berkas, sepertinya Dian menjaga Javir sembari tetap bekerja.
Dia tidak tahu harus bagaimana, saat salah satu dari mereka berempat sakit, biasanya mereka akan membagi pekerjaan secara rata. Tetapi kali ini sepertinya tidak bisa karena tidak mungkin mereka meninggalkan pekerjaan mereka di Jakarta.
"Berapa hari dia tidak tidur?" Tanya Regan tiba-tiba masuk dengan seorang dokter disampingnya.
"Kurang tahu Pak" jawab Dian.
Dian melangkah mundur membiarkan Regan dan dokter itu memeriksa Javir.
Sedangkan Alsan masih berdiri ditempatnya memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan Regan dan Dokter itu.
"Bisa saya minta tolong pada anda untuk memberikannya obat tidur lagi?, dia sepertinya kurang tidur" pinta Regan.
Aslan berjalan mendekati Dian yang kembali duduk disofa dengan berkas ditangannya.
Setelah sekian lama akhirnya Javir tumbang juga, biasanya jika sedang setres atau banyak pikiran Javir akan langsung mengeluh sakit kepala atau deman dan langsung tidur seharian tidak mau melakukan apapun.
Ini kali pertama Aslan melihat Javir setres dan banyak pikiran sampai pingsan.
"Terima kasih dok saya permisi."
Dokter itu keluar dari ruang inap Javir.
Regan berjalan kearah sofa dan duduk didekat Aslan, menatap Dian dalam membuat Dian ketakutan sehingga Aslan menepuk pundaknya untuk mengaihkan tatapan Regan.
"Saya benar-benar tidak tahu Pak Javir tidak tidur bera ..."
"Jangan pernah membawa berkas kerjaan kesini" potong Regan dengan tegas, "kalau dia bangin, pasti dia langsung kerja. Mendingan loe balik, biar gue sama As yang menenin."
"Baik Pak."
Tampa lama-lama, Dian langsung pamit pulang dengan membawa semua berkas diatas meja. Dian lebih takut pada Regan dsri pada Javir yang cerewet tetapi santai dalam segala hal.
Regan dan Aslan memahami Dian yang pasti juga mendapat imbas dari kesetresan Javir.
Terlihat Javir perlahan bergerak, dan membuka matanya menatap kekanan dan kekiri lalu terhenti saat tatapan matanya bertautan dengan Regan secara tidak sengaja.
"Kalau loe gak keberatan gue bisa bantu loe untuk tidur lebih lama lagi" ucap Regan sarkasme.
Aslan hanya mengulum senyum mendengarnya.
"Ah" keluh Javir kembali merebahkan kepalanya diatas bantal, "siapa yang menyuruh kalian kesini" keluhnya.
"Gak ada" jawab Aslan singkat.
"Berpaa hari loe gak tidur?, berapa hari loe gak makan?" Tanya Regan sambil berdiri lalu berjalan menghampiri kasur Javir. "Tekanan dara loe drop, kekurangan cairan, kekurangan asupan makanan."
"Loe beneran setres ya?" Kali ini gantian Aslan yang bertanya setelah duduk di kursi pelastik disamping kasur Javir, "biasanya loe gak akan maksa diri untuk kerja kalau otak loe lagi eror."
"Dia kena karma karena ngataian gue workaholic kalau lagi punya masalah cinta" ledek Regan.
Javir berdecak malas mendengarnya.
Terlihat Danil bergerak seakan terganggu dengan obrolan mereka, tangan Regan menepuk punggung Danil untuk menenangkanya dan kembali tidur lagi.
Ruangan itu kembali sunyi sesaat agar Danil kembali bisa tidur pulas disamping Javir.
"Loe balik dengan kita" putus Regan tegas.
Javir menoleh kesamping menatap Regan dengan tatapan tidak suka.
"Meski An menikah bukan dengan gue, loe pasti balik kan?" Tanya Aslan.
Sebelah alis Javir terangkat mendengarnya.
"Sebastian sudah menghadap Ayah" ucap Regan dengan santai, "Tante Vira dan Om Prabu hari ini sudah ada di Jakarta. Jadi loe bisa balik sekarang ke Jakarta tetapi muncul didepan Gea setelah ijob aja, biar loe gak meru ..."
"Gur sedang sakit" potong Javir dengan nada rendahnya, "apa tidak ada infomasi yang membahagiakan?."
__ADS_1
"Bukankah jika teman kita bahagian kita juga nerasa bahagian?" Tanya Regan dengan sok polosnya.
"DIA BUKAN TEMEN GUE!" Bentak Javir penuh penekanan.
Danil lembali bergerak karena tidurnya terusik.
Dengan sigap Aslan menggendong Danil dan memindahkannya ke sofa agar tidur anak itu tidak terus menerus terganggu.
Sedangkan Regan dan Javir saling menatap dengan tatapan tajam mereka.
"Gue gak mau tahu, kalian balik bareng gue dan As" putus Regan.
"Loe gak ..."
"Lebih baik gue ngeliat loe sakit hati dari pada drop karena setres lalu mati muda" potong Regan.
Aslan yang mendengarnya tercengang dengan apa yang dikatakan Regan secara blak-blakan tampa menghiraukan perasaan Javir.
Seorang Ganendra memang selalu berbicara terbuka, tetapi ini pertama kali Aslan mendengar Regan membawa-bawa tentang kematian segala.
^-^
Seperti kata Regan.
Vira dan Prabu hari itu sudah berada di Jakarta, mereka langsung menuju ke rumah keluarga Ganendra tampa mampir terlebih dahulu kerumah orang tua Vira.
Art Keluarga Ganendra langsung membimbing jalan Vira dan Prabu kemeja makan, karena dia sudah mengenal mereka berdua.
"Ara" panghil Vira.
Semua yang sedang menikmati sarapan mereka menghentikan aktifitas menoleh kearah sumber suara.
Vira berjalan cepat.
Jika kalian berfikir Vira akan menghampiri Ara dan memeluknya, maka salah total ...
Karena Vira berjalan cepat malah langsung duduk dimeja makan tepat disamping Ara dan menusuk berkedel dengan garpu sebelum menggigitnya.
"Berapa bulan loe gak ngasuh makan istri loe?" Sindir Abra melirik Prabu yang berjalan menghampiri meja makan.
"Gue berangkat dengan penerbangan pertama sebelum anak-anak bangun dan merengek mau ikut" ungkap Vira.
"Karena kami benar-benar shock saat mendengar siapa yang melamar Gea."
"Apa Javir tahu masalah ini?."
"Apa, Gea tidak mau menerima Javir kembali gara-gara anak angkatnya?."
Abra dan Ara saling lirik mendengar pertanyaan Prabu.
Tidak jauh dari mereka, Gea yang baru saja melangkahkan kaki masuk kedalam rumah menghentikan langkahnya saat mendengar nama Javir dan dirinya disebut.
"Kemungkinan besar dia tahu" jawab Abra singkat.
"Apa ..."
"Dan dia sedang drop masuk rumah sakit" potong Abra cepat, "makanya Ar dan As langsung ke Bali."
Alasan Abra memotong ucapan Vira karena dia menghindari pertanyaan darimana Javir mengetahui. Tidak ada yang mengetahui Javir hecker kecuali Malvin, Abra, Nanda karyawan ASG dan keempat teman Javir, Aslan, Regan dan Alaric.
Perlahan Gea berjalan kearah singel sofa dan duduk terdiam disana.
Kembali teringat saat Malvin mengatakan 'dia lemah dalam menggunakan otaknya untuk maslah kehidupan. Dia akan sakit kepala bahkan bisa demam tiba-tiba, jika mempunyai masalah yang cukup pelik dan menguras otak'.
Nafas Gea tertahan beberapa detik sebelum meghela nafas panjang.
Tangan Gea mengeluarkan ponselnya dan menscrol kontak telephonenya mencari nama As.
^-^
Danil mengunyah fried chicken ditangannya dengan lahap.
Regan dan Aslan baru saja selesai makan dan mulai bermain game di ponsel mereka masing-masing.
Sedangkan Javir hanya bisa menggonta-ganti chennel televisi denban raut bosan, dia juga ingin kaman fried chicken tetapi Regan mengomelinya dan dengan riang Danil malah menyanggupi untuk memakan semua pesanan Fried Chicken Aslan.
Hei You ...
Ponsel Aslan tiba-tiba berdering.
Nama Gea muncul dilayar ponselnya.
__ADS_1
Kepala Aslan langsung menoleh pada Regan, "Ar" panggilnya lirih.
"Hem" sahut Regan dengan derhaman.
"Hei" panggil Aslan lagi, "lihat kesini kek."
Dengan wajah kesal Regan menoleh pada Aslan yang memperlihatkan layar ponselnya yang menyala karena panggilan masuk dari Gea.
Jari telunjuk Regan menggeser yombol terima dan menloud speakernya.
"As dimana?".
Mata Aslan terbelalak mendengar suara nyaring Gea.
Kepalanya menengok pada Javir yang ternyata menatap kearahnya, sehingga dengan cepat Aslan kembal menatap Regan dengan mata melotot.
"As" panggil Gea.
"Oh hai An gue lagi di Bali."
Ruangan sunyi, bahkan Gea tampaknya terdiam tidak mengatakan apapun selama beberpaa detik.
Tangan Aslan mebyodorkan ponselnya pada Regan karena takut salah bicara nanyinya.
"Ngapain loe ke Bali?, tumben loe kesana gak ngajak-ngajak gue. Sekarang lagi apa?" Tanya Gea terdengar bete.
"Kita baru selesai sarapan" jawab Regan singkat.
"Oh ... Kalian kesana berdua aja?, liburan gak ngajak-ngajak gue gitu?."
Regan berdecak, "emangnya loe mau ikut kalau kita bilang ke Bali mau nemuin Javir yang drop bukan liburan?."
Mata Regan tertuju pada Jabir yang menatap kearah ponsel Aslan yang berada ditangannya.
Tangan Aslan memukul pelan pundak Regan yang bertanya secara blak-blakan pada Gea bahkan didepan Javir yang masih sakit.
Hanya terdengar helaan nafas Gea disebrang.
Meski Aslan dan Javir tidak tahu, tapi Regan tahu ... Jika Gea sebenarnya sudah tahu kenapa dia dan Aslan ke Bali.
Regan berdiri dnegan ponsel ditangannya berjalan mendekati Javir.
"Dia drop karena gila kerja, mikirin hubhngan kalian yang gak jelas ditambah dia tahu kalau loe dilamar Sebastian."
Sangat snatai seakan tampa beban Regan mengatakannya pada Gea tepat di samping kasur Javir, bahkan dia juga menatap Javir dengan tajam.
"Dia sekarang ada disamping gue" lanjut Regan, "ponselnya sedang gue loud jadi dia pasti denger."
Kali ini Regan menoleh pada Danil yang menatap kearahnya dengan mulut terus mengunyah ayam.
"Katakan aja mau loe gimana tentang hubungan kalian, dan jika loe milih stop maka kasib alasan yang jelas. Hubungan kalian berakhir karena Javir menja ..."
"AR!" Tegur Javir tegas agar Regan tidak menlanjutkan kalimatnya.
Ada Danil diruangan itu, Javir tidak mau Danil mendengar kalimat Regan selanjutnya, karena cara berfikir Danil lebih dewasa dari pada anak seumurannya karena tuntutan hidup.
Mata Javir memberi isyarat pada Regan dengan melirik Danil tetapi Regan malah tersenyum sarkan membuat Javir panik.
"Gue ikut kalian pulang" desis Javir.
Senyum Regan semakin lebar mendengarnya.
Aslan menggelengkan kepala tidak percaya dengan akal bulus Regan.
"Ok dia sepertinya akan langsung menemuin loe, jadi selesain secepatnya bagaimana kelanjutan hubungan kalian. Gue gak mau dia kembali drop dan emnghambat pekerjaan Raja Throne, paham kan My Angel."
Tidak ada orang yang berfikir seperti Regan.
Masih dengan senyum lebarnya Regan memutuskan panggilan Gea dan berjalan dengan santai kearah Aslan.
Tangan Regan melempar ponsep Aslan pada Aslan, lalu dia duduk disamping Danil dan mengelus rambutnya.
"Satu kali dayung, dua pulau terlampaui."
Mata Regan melirik Aslan penuh makna membuat Aslan terkekeh.
Mereka berdua melakukan tos sambil tertawa kecil, membuat Danil kebingungan tak mengerti.
Sedangkan Javir menendang-nendang udara dengan perasaan kesal dan dongkol pada otak Regan yang licik.
^-^
__ADS_1