Watching You

Watching You
Apa Lagi?


__ADS_3

Setelah mendengar omelan Abra panjang lebar, Javir hanya bisa mengiyakan peraturan yang diberikan Abra tampa terkecuali.


Shirtless dan pura-pura bangun tidur adalah siasatnya semata.


Berharap agar segera dinikahkan seperti Regan yang ketahuan tidur disamping Belda semalaman, ini malah seratus delapan puluh derajat diluar harapannya.


Javir duduk di meja restaurant hotel menunggu Gea untuk sarapan bersama meski kesiangan, tangannya terus menerus menepuk-nepuk selembar kertas yang tergeletak didepannya, bahkan terkadang meremas kertas itu saking kesalnya.




Dilarang berdekatan kurang dari 1 meter




Dilarang menginap dimanapun selama ada Gea.




Dilarang melakukan Kontak fisik lebih dari 3 detik.




Semua yang tercetak tebal membuat mata Javir sakit rasanya.


Terutama larangan ketiga yang pastinya akan amat sangat menyiksa Javir sehingga dia terus bermain tawar menawar hingga bersimpuh dikaki Abra.


Abra sangat amat tahu bagaimana Javir, menjaga jarak satu meter dsri Gea dia masib bisa menahan diri, tapi kalau sampai tidak memeluk saat pertama kali bertemu atau menggenggam tangan Gea, Javir mana bisaa ...


Dulu saja dia harus pergi menjauh ke Bali saat Gea menggantung hubungan mereka, jadj sangat amat tidak mungkin Javir tidak melanggarnya.


"Melanggar berarti pernikahan ditunda setahun"


Dan gilalah Javir dengan ancaman yang tertera dibawah dengan garis tebal itu.


Tubuh Javir melemas seketika, memejamkan mata mendongakkan kepala malas. Semua diluar dugaannya, benar-benar diluar dugaan.


"Hello bro"


Sangat amat dekat.


Lembut


Jernih


Dan itu bukan suara Gea, tetapi kenapa begitu dekat terdengar ditelinganya?.


"Hello"


Sapaan kedua yang semakin nyata membuat Javir membuka kedua matanya.


Tepat diatas wajahnya, wajah seorang perempuan yang berdiri dibelakang kursi yang dia duduki, menunduk tepat diatas wajahnya.


Kening Javir mengerut melihat gadis asing itu, ya ... Dia seorang bule yang berambut blonde dan cukup cantik, tetapi kalah jika dibandingkan dengan kecantikan Geanya.


Gadis itu tersenyum lebar semakin membuat Javir keheranan.


"Hello" ucap Javir balas menyapanya.


Senyum perempuan itu semakin lebar, semakin membiat Javir keheranan.


Dia mengangkat kepalanya dari atas Javir sehingga Javir bisa kembali duduk dengan tegak. Gadis itu menarik kursi disamping Javir dan duduk tampa permisi, dan tepat disaat itu ekor mata Javir menangkap seorang wanita asing paruh baya duduk tepat didepannya menatap kearahnya.


Tatapan mata Javir langsung menatap kearah mereka berdua secara bergantian.


"Javir Erlangga, that is you" ucap wanita paruh baya itu dengan senyum lebarnya.


Mata Javir langsung melirik ke name tag di dada kirinya, memastikan jika wanita itu tahu namanya karena name tag yang dia kenakan.


"Yupz" sahut Javir membenarkan.


"Nichole" gadis itu menjulurkan tangannya pada Javir.


Dengan canggung Javir menyambut uluran tangannya sopan.


"And she is my Mom Liana" ucap Nichole dengan riang memperkenalkan Liana.

__ADS_1


"Nice to meet you" salam Javir.


Nichole tiba-tiba menarik kursinya semakin menndekati Javir membuat Javir memiringkan tubuhnya menjauh, karena tidak mau ada gosib yang beredar dikalangan karyawannya, cukup Gea yang menjadi topik hangat mereka.


Terlebih disini ana Gea, dia tidak mau Gea salah paham nantinya. Toh dia tidak mengenal Nichole dan Liana ini.


"Je"


Baru saja Javir berfikir tentang Gea, perempuan itu sudah berada datang entah dari mana.


Javir buru-buru berdiri hingga kursi yang dia duduki terdorong kebelakang.


Gea sudah berdiri disamping Javir menatap Nichole dan Liana bergantian lalu beralih pada Javir dan menatapnya penuh curiga membuat Javir gelagapan jadinya.


"Gue gak tahu mereka siapa" jelas Javir sebelum Gea melontarkan pertanyaan, "mereka tiba-tiba duduk."


"Jangan kamu pernah tidur sama Ibu itu dan cewek itu anak kamu?"


Dor ...


Kalimat Gea berhasil membuat Javir melongo mendengarnya. Bagaimana bisa pertanyaan itu muncul didalam otak canti Gea?.


Entah kenapa pagi ini semua diluar ekpektasinya.


Javir menjambak rambutnya menahan diri agar tidak emosi saat ini juga.


"Dia itu mungkin se umuran loe An, masa iya gue baru unur lima tahjn udah ngamilin orang" keluh Javir. "Gue masih perjaka, udah berapa kali gue bilang. Lagian kenapa bisa loe kepikiran pertanyaan yang gak masuk akal itu."


"Ya siapa tahu kejadian Danil terulang kembali" ucap Gea denban santainya dan tampa merasa bersalah.


Javir menghala nafas, tangannya merengkuh kepala Gea, dengan gemas dia memeluknya dan mencium puncak kelapa Gea bertubi-tubi meluapkan kekesalannya.


"Ah ... Apaan sih ..."


Gea memberontak melepas kepalanya dari apiktan lengan Javir.


"Gue lagi bedmood loe malah tambah ngeselin" gerutu Javir.


Mereka tidak tahu, kelakuan mereka sejak tadi menjadi perhatian Liana dan Nichole.


^-^


Mata Malvin masih mengantuk, tetapi dia harus bangun karena jam satu dia harus berada dikantor ASG.


Kemarin seharian hadir diacara pernikahan Regan, malam dia tidur jam tiga setelah menyerah Bela tidak mau pulang dari rumah sakit, jam tujuh babgun kerumah Abra dan lalu kehotel Raja Throne gara-gara diseret Abra.


Alhasil, karena ngantuk berat, meski Javir dan Abra ramai berdebat segala hal Malvin tertidur pulas dan saat bangun jam sudah menunjukkan jam sebelas siang.


"Dian" panggil Malvin saat berpapasan dengan Dian di depan lift.


"Iya Pak"


"Javir mana?"


"Direstoran Pak"


"Ok terima kasih"


Tampa banyak tanya lagi Malvin langsung berjalan kearah restaurant hotel.


Untung saja Javir disana, sebelum berangkat ke kantor ASG, setidaknya dia harus makan terlebih dahulu.


Langkah Malvin terhenti tidak jaih dari Javir dan Gea yang sedang berdebat entah tentang apa, padahal tadi mereka terlihat sangat kompak didepan Abra.


"Hei nak ... Aku akan mengadukan kalian pada Abra" ucap Malvin sambil menggerakkan tangannya menunjuk kearah Javir dan Gea, "batas-batas" ucapnya mengingatkan peraturan Abra untuk mereka sambil berjalan mendekati Javir dan Gea.


Jarak yang sudah ditentukan Abra satu meter, dan jarak wajah mereka sekarang hanya sejengkal tangan.


Javir langsung mundur selangkah dan berdecak, tampak terlihat kesal.


"Hello Avin"


Tangan Malvin yang memberi isyarat berhenti bergerak di udara.


Avin


Nama yang dia gunakan saat bersama dengan kelompok Aase sang tangan kanan kelompok Mafian Romanov dulu.


Bukan hanya Malvin yang menoleh, bahkan Javirpun menoleh kesumber suara yang menyapa Malvin dengan nama panggilan Avin barusan.


Mata Malvin membulat melihat perempuan didepannya yang tersenyum lebar sambil berjalan kearahnya, mencium pipi kanan kiri Malvin dan memeluknya sebenyar.


"Ternyata dia mantan Papa dan perempuan itu anaknya" ucap Javir lirih.

__ADS_1


Plak ...


Sangat cepat tangan Malvin bergerak memukul pipi Javir cukup keras.


Meski suara Javir lirih, karena jarak mereka cukup dekat, tangan Malvin masih bisa menggapai pipi Javir dan memberi pelajaran pada anak itu.


"Dia Ibu kandungmu dan pastinya anak itu bukan lagi anakku Javir!"


"What???"


^-^


Bagai disambar petir.


Javir ternganga mendengar ucapan Malvin hang cukup jelas dia dengar barusn.


Ibu Kandungmu


Beberapa kali mata Javir mengerjap tidak percaya menatap Liana dan Malvin bergantian.


Dia masih shock dengan Abra yang tidak memaksanya menikahi Gea secepatnya meski tahu mereka tidur berdua, kini ditambah lagi dengan kehadiran Ibu kandung Javir yang baru saja Gea pikir adalah mantan Javir, yang sedang membawa anak seumuran Gea untuk meminta pertanggung jawaban pada Javir.


"Ya Tuhan ... Apa lagi ini?" Keluh Javir menjambak rambutnya sambil tertawa seakan menertawakan kegilaan yang dia alami secara bertubi-tubi hari ini.


"Dia Ibu kandung kamu" Malvin seakan kembali memperjelas perkataannya tadi, "ayo salaman" suruhnya.


Mulut Javir tergagap mendengarnya.


"Come on dad, jangan bercanda" keluah Javir. "Kenapa malah hariku berubah buruh sejak Papa datang?."


Tangan Malvin teranhkat hendak memukul Javir lagi tetapi Javir berhasil bersembunyi dibelakang tubuh Gea.


"Apa Papa kelihatan bercanda?" Tanya Malvin berang.


Kepala Javir menggeleng pelan.


Suasana seketika sunyi beberpaa detik.


Tangan Javir meraih tangan Gea dan menautkan kedua tangan mereka.


Gea menoleh menatapnya dalam, saat hendak membuka mulut Javir mengeratkan genggaman tangannya memberi isyarat jika Javir menginginkan Gea diam untuk saat ini.


"Bisa beri waktu sebentar?" Tanya Javir tetapi tidak memutuskan tautan matanya pada Gea, "setidaknya sejam untuk menerkma semua ini" ucapnya sebelum menarik Gea pergi bersamanya dari sana.


Langkah Javir begitu lebar melangkah pergi dari sana, sehingga Gea harus berlari kecil menyesuaikan langkah kakinya dnegan Javir.


Tatapan mata Javir bahkan hanya fokus kedepan bukan kesekitar mereka sehinggabdia tidak memperdulikan Dian yang menyapanya ingin menyampaikan sesuatu.


Bahkan bisikan beberpaa karyawanpun tidak dia perdulikan.


Javir membuka pintu ruang meeting yang berada di lantai satu, masuk kedalam bersama Gea lalu menutup pintu dengan bertenaga sehingga terdengar bunyi bantingan.


Setelah menghela nafas mencoba membuang kekesalan, barulah Javir badan dan memeluk Gea dengan erat.


"Kenapa para orang tua kandung mencari kita" ucapnya lirih, "setelah Pak Bumi mencari Aslan, sekarang wanita itu yang datang mencari gue. Sebenarnya ada apa ?, Ya Tuhan ... Gue baru ditekan Ayah sekarang apa lagi cobaan yang dateng."


Terasa tangan Gea menepuk punggung Javir pelan mencoba menenangkan Javir.


"Kalian beruntung orang tua kandung mencari kalian, Ayah kandung gue enggak"


Javir seketika berhenti bernafas sejenak.


Tersadar seketika jika Gea juga tidak pernah bertemu dengan Ayah kandungnya, Gea hanya mengetahui Ayahnya dari foto yang diberikan Vira dulu.


Jika Javir tidak mengenal Ibu kandunhnya, maka Gea tidak mengenal Ayah kandungnya.


"Hadapi semua dengan tegar dan pikiran tenang" ucap Gea lirih, "apapun masalahnya pasti ada jalan keluarnya Je."


Gea meregangkan pelukan mereka, mendongakkan kepala menatap Javir yang menatap padanya, lalu tersenyum lebar.


Detik itu juga, semua permasalah dan kemunetan didalam otak Javir serasa sirna seketika.


"Please always stay with me An" ucap Javir.


Kepala Gea mengangguk cepat.


Tangan Javir membingkai wajah Gea , "apa lagi kalau Ayah minta loe jauhin gue, jangan mau ya, please."


Gea tertawa mendengarnya, dia mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali membuat Javir gemas sehingga kembali memeluknya dan menghujani keningnya dengan ciuman.


Apa lagi yang akan datang Javir siap, asal ada Gea disampingnya.


^-^

__ADS_1


__ADS_2