Watching You

Watching You
Almost Crazy


__ADS_3

Film yang dia tonton bergendre horor, Gea menekuk lututnya, memeluknya dengan kedua tangannya dan menyembunyikan wajahnya disana.


Terlihat bahunya yang terguncang dan suara tv uang menguasai ruangan menenggelamkan isak tangis Gea.


Entah kenapa sesampai di An Angel tadi dadanya serasa sesak seketika. Sebisa mungkin Gea menyenggelamkan dirinya dengan bekerja hingga malam agar menghilanjkan sesak itu. Dan sekarang dadanya kembali sesak.


"I know you here" ucap Gea tampa mengangkat wajahnya, "tapi untuk kali ini saja, jika kamu mendengar dan melihat, untuk kali ini saja jadilah orang bodoh yang buta dan tuli."


Ya ... Gea tahu jika Javir juga hecker seperti Regan, sehingga dia membesarkan volume tv dan menyembunyikan wajahnya dalam lututnya saat menangis.


Dia tidak tahu, semua akan sia-sia.


Disebrang sana, Javir masih mengetahuinya.


Dari penuadap yang dia letakkan di An Angel, Javir bisa mendengar apapun bahkan dia juga bisa memusatkan suara siapa yang ingin dia dengar.


Perlahan tubuh Gea meringkuk kesamping, matanya tertutup, dia mencoba untuk tidur.


Tangan Javir terulur membelai layar leptopnya, kepalanya mendongak menatap kelntai yiga An Angel.


Sejak mengetahui Gea berada disana, Javir langsung mengendarai mobilnya menuju An Angel, tetapi dia mengurungkan niatnya saat Gea mengatakan kata-kata terakhir sebelum perempuan itu perlahan merebahkan tubuhnya dan tertidur di sofa.


Satu persatu tetesan hujan jatuh dikaca mobil Javir, kepala Javir masih menatap kelantai tiga, jendela kamar Gea terbuka.


Tangan Javir mencengkram setir mobil kuat-kuat sebelum membuka dashboard mobil, mengambil kunci dan keluar dari dalam mobil membuka ointu An Angel.


Terakhir dia kemari dua minggu lalu saat lengalihan hak asuh Danil.


Langkah Javir sangat capat melangkah menaiki tangga, sampai di pintu lantai tiga dia membjka pintu dengan finger mikiknya. Ya ... Jabir mengatur pintu ith hanya bisa terbuka oleh jarinya, jari Gea, Yesi, Regan dan Aslan. Kenapa Jabir juga memasukkan sidik jarinya?, karena untuk berjaga-jaga bila keadaan darurat seperti malam ini.


Javir menatap Gea hang tertidur disofa sejenak sebelum kembali melangkah menutup jendela yang terbuka, menhambil selimut dan bantal di kamar Gea lalu kembali kedepan tv dkmana Gea tidur di sofa.


Perlahan Javir menyelimuti Gea, meletakkan bantak di bawah kepala Gea dan menseting sofa yang ditiduri Gea menjadi bedsofa.


Javir duduk dikarpet, melipat kedua tangannya di oinggir sofa, menatap Gea dalam.


"Dulu apapun yang yang terjadi gue bisa mengendalikan diri untuk tidak masuk kesini" ucap Javir lirih, "tetapi sekarang hanya karena jendela yang terbuka gue ..."


Javir menghentikan ucapannya saat melihat Gea bergerak dan tidur terlentang.


Javir tertawa tampa mengeluarkan suara, lalu tatapan amtanya berubah sedih melihat bekas aliran air mata yang mengalir sudah kering di pipi Gea.


"Maaf gue kembali nyakitin loe" cicit Javir, "maaf kalau gue egois. Tetapi apapun yang terjadi, gue tetep gak bisa buat lepasin Danil begitu aja."


Sebelum pergi, Javir menggenggam tangan Gea dan menciumnya lalu berdiri, membenarkan selumut Gea.


"I feel almost crazy because of you" ungkap Javir sebelum pergi dari sana.


Setelah Javir pergi mata Gea terbuka perlahan, dia mengangkat tangannya menatap punggung tangannya yang Javir cium tadi.


^-^


Abra baru menyelesaikan rapart dengan para managernya, dia masuk kedalam ruangannya dan terkejut melihat Javir yang duduk disofa dnegan kepala terpejam menatap kelangit-langit.


Kening Abra mengerut melihatnya, tidak biasanya Javir tiba-tiba datang tampa ke kantornya tampa memberi tahu terlebih dahulu.


Mata Javir terbuka ketika mendengar suara pintu tertutup dan derap langkah Abra.


"What up boy?" Tanya Abra duduk di sofa menatap Javir dengan sebelah alis terangkat.


Javir mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menghela nafas dan memperbaiki duduknya.


Dari gelagatnya, Javir terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu dimata Abra.


"Aku mempunyai anak Ayah" ucap Javir dalam satu kali tarikan nafas.

__ADS_1


Sejenak Abra blank dan berseru mencoba memastikan, "WHAT?."


Javir menyengir mendengarnya.


Mata Abra berubah nyalang menatap Javir yang duduk didepannya dengan cengiran yang bertahan cukup lama.


"Je punya anak Ayah" ulang Javir kali ini lebih lirih dan penuh tekanan disetiap katanya.


"Gea hamil?"


Mata Javir mengerjab mendengarnya.


Kalimat lanjang itu diluar perkiraan Javir, tidak penah terbayangkan bahkan terbesit pun tidak dalam otaknya, jika Abra akan berfikir kearah situ.


"Aku akan menendang perutmu kalau kamu berani melakukannya" desis Abra.


Jabir meringis ngeri mendengarnya, "Ge agak hamil Yah, Je punya anak lain da ..."


Plak ...


Sangat cepat Javir berdiri dan langsung menamparnya, sehingga Javir tidak bisa menghindar.


Tangan Javir memegangi pipinya tidak percaya jika Abra menamparnya, "Ayah menampar Je?" Tanya Javir tergagap.


"Kenapa?" Bentak Abra, "kamu tidak terima jika Ayah yang bukan Ayahmu ini menamparmu karena kelakuanmu itu?."


Bahkan Abra menunjuk-nunjuk wajah Javir dengan tatapn penuh amarahnya.


"Je belun selesai ngomong Yah" ucap Javir tak terima, "Pamav aja dengerin apa yang Je omongin sampai selesai loh. Gak mukul juga."


Tangan Abra berkacak pinggang menatap Javir dengan tatapan semakin berang, "kalau anak berani menghamili anak orang itu ..."


"SIAPA YANG MENGHAMILI ANAK SIAPA?" Teriak Javir kesal menedang-nendang udara.


Mata Abra berkedip-kedil sebwlum kembali duduk dengan tenang, "tadi kamu ..."


Abra berderham dan kembali duduk dengan penuh wibawa membuat Javir berdecak malas melihatnya.


"Je bertemu dnegan anak kecil di rumah sakit, dan Ibunya adalah teman Je saat kuliah dulu, wanita itu bilanv anak itu adalah anak Je, tapi setelah tes DNA terbukti dia bukan anak Je. Tetapi Je menyembunyikkan fakta itu dari Ibunya karena Je ingin masa depan anak itu tidak hancur ditangan Ibunya, dan ..."


Setelah mencerocos menceritakan semua pada Abra, samapai pada penjelasan selanjutnya mulut Javir jadi tergagap.


Terdengar hembusan nafas Abra membuat Javir kembali menoleh menatap Abra.


Kali ini tatapan Abra berubah sendu menatap Javir.


"Je gak tahu jika Ayah melakukan hal yang sama pada Gea" lanjut Jair lirih.


"Lalu?" Tanya Abra.


Kepala Javir menggeleng pelan, "I don't know what must I do Yah, I feel almost crazy karena Gea tidak mengatakan apapun, setiap menit seakan menakutkan untuk Yah.."


Tangan Javir menjambank rambutnya sendiri menyalurkan perasaannya. "


Abra malah terssnyim segaris memperhatikan Javir, dia pernah ada diposisi iti dan itu benar-benar membuatmu gila.


Harus menyelamatkan masa depan seseorang, dan disisi lain dia belum tahu orang yang dia cintai menerima keputusannya atau tidak nantinya.


"Bisa Ayah kasih aku saran?" Tanya Javir menoleh kembali pada Abra, "aku sudah cukup membuat Pamav kesulitan karenaku. Ayah pernah dalam posisiku, aku harus bagaimana Yah. Sedangkan aku menyerahkan keputusan kelanjutan hubungan kami pada Gea, jika dia tidka dapat menerima keputusanku dan Danil diantara kita ... aku berjanji akan pergi."


"Kamu terlalu lebay menghadapinya, take enjoy aja" ucap Abra santai.


"Aku gak bisa tenang Yah" ucak Javir sambil tertawa pilu, "jika Gea berada didepanku ... sangat sulit untukku, untuk tidak memeluknya atau bahkan hanya sekedar menggengham tangannya."


Perlahan bibir Abra tertarik dan pada akhirnya dia tertawa ngakak.

__ADS_1


Javir yang melihatnya malah tampak kesal melihat Abra tertawa lepas diatas penderitaannya.


"Ayah bisa membayangkan dia akan kesal denganmu" ucap Abra disela-sela tawanya.


Javir berdecak kesal mendengarnya.


"Pertama kamu menjadikan dia tempat pulang setelah kamu hidup bebas, itu seperti apa yang dilakukan Maminya pada Ayah dulu sehingga Gea merasa dia menerima karma Maminya. Lalu kedua kamu menjadikan Danil anakmu meski dia bukan anak kandungmu, merebut dia dari Ibu kandungnya seperti yang Ayah lakukan pada Mami Gea dulu." Kali ini Abra menyilanhkan kakinya menatap Javir dengan lembut, "kenapa kamu melakukan hal yang sama dengan apa yang terjadi pada masa lalunya?,."


Javir menyandar pada sandaran sofa dnegan lemas dan menatap langit-langit dengan tataoan kosong.


"Aku benar-benar tidak tahu Yah" ucap Javjr lirih penuh penhesalan, "Je hanya ingin menyelamatkan masa depan anak itu."


^-^


"Hei kamu anak baru!"


Danil yang baru saja keluar dari kamar mandi menoleh kesamping.


Tidak ada siapapun disampingnya, terlebih dia memang anak baru di sekolah ini, sehingga dia memutuskan untuk menoleh kesumber suara tadi.


Didepannya anak perempuan dan laki-laki seumuran dnegannya menatal tajam padanya, Danil embgenali mereka berdua, dua anak itu selalu menatapnya dengan tatapan tajam mereka sejak dikelas tadi.


"Kamu siapanya Abang Je?"


"Abang Je siapa?" Tanya Danil tidak tahu, "kalu aku Danil" Danil malah emnjulurkan tangannya untuk berkenalan.


"Aku Chaka dan dia Bilqis"


Chaka menyambut uluran tangan Danil dnegan santainya.


Plak ...


Bilqis menepis tangan Chaka dan menariknya lepas dari tangan Danil.


Mata Bilqis melotot pada Chaka, pahkan gadis kecil itu berkacak pingga kesal.


"Kenapa malah kenalan sih" tegur Bilqis.


Dengan cuek Chaka mengangkat kedua bahunya.


Bilqis kembali menghadap Danil dan melipat kedua tangannya didepan dada, "kamu siapanya Abang Javir?, krnapa beberapa kali kami melihatmu diantar jemlut Bang Javir?."


Paham dengan apa yang dikatakan Bilqis, Danil tersenyum lebar, "kalian mengenal Ayahku ya?" Tanyanya girang.


Sontak saja Bilqis dan Chaka terperangah mendengarnya.


Bilqis menghadap Chaka yang diam menatap Danil dalam, tatapan mata Chaka dan Danil saling bertautan.


"Kapan Abang Je menikah?."


Pertanyaan Bilqis memutuskan tautan mata Chaka ada Danil.


Raut wajah Danil yang beruma membuat Chaka paham akan satu hal.


Segera saja Chaka meraih pergelangan tangan Bilqis dan menyeretkan untuk pergi dari sana sekarang juga.


"Aka ... Aku belum em ..."


Chaka membekap mulut Bilqis dan menyeretnya pergi dari sana sekuat tenaga.


Sedangkan Danil berdiri ditempatnya dengan menghela nafas pasrah dan tersenyum simbut meski dadanya naik turub sedang menahan tangis tentu saja.


"Sepertinya apa yang terjadi dulu akan terjadi lagi" ucapnya dengan senyum ketirnya.


Danil melangkahkan kakinya kembali berlawanan arah dengan perginya Chaka dan Bilqis, meski kelasnya kearah Chaka dan Bilqis pergi Danil tidak mencoba pergi ketempat yang tidak sama dnegan Chaka dan Bilqis.

__ADS_1


^-^


__ADS_2