Watching You

Watching You
Sebelum Nikah


__ADS_3

Tring .... Ting ting ...


Alaram diatas nakas terus saja berbering.


Perlahan Gea membuka mata, menatap kesekitar sebeljm tatapan matanya berakhir pada Javir yang masih tertidur pulas memeluknya dari samping.


Terlihat kening Javir mengerut tanda jika dia terganggu dengan bunyi alaram ponsel Gea membuat Gea tersenyum kecil mengelus keningnya.


Meski sudah beberapa kali mereka tidur bersama ... Dalam artian memang benar-benar tidur tidak dalam kontek yang lain, Gea masih saja belum terbiasa bangun disamping Javir dengan Javir yang memeluknya.


Tapi ... ini baru pertama kali dia bangun lebih dulu disaat mereka tidur bersama, sehingga dia bisa puas menatap wajah Javir.


Tring .... Ting ting ...


Dering alaram ponselnya kembali berbunyi, tidak terasa dia sudah sepuluh menit menatap Javir yang tertidur sambil menikmati hangatnya pelukan pria itu.


Sebelah tangan Javir tiba-tiba mengambil bantal dan menutupi telinganya sendiri lalu semakin mendekap Gea erat dan mengelus belakang kepala Gea seakan menenangkan Gea agar tidak terganggu dnegan deringan ponselnya.


Gea tertawa kecil, menepuk-nepuk pipi Javir membangunkan Javir dari tidur pulasnya.


"Je bangun sholat"


Jari telunjuk Gea menoel-noel pipi Javir agar pria itu terbangun.


Kedua tangan Javir malah membeluk Gea dan membalikkan tubuh mereka hingga Gea berada diatas tubuh Javir.


Lagi-lagi Gea tertawa kecil, menyanggah dagunya dengan tanga kirinnya menatap Jabir yang masih memejamkan mata, sedangkan tangan kanannya yang gemas memcubiti dada Javir yang shitless bertubi-tubi.


"Masih ngantuk An" rengek Javir.


"Sholat dulu baru tidur lagi Je" ucap Gea lembut.


Mata Gea berbinar melihat Javir yang perlahan membuka matanya menatap Gea dengan tatapan malas.


"Come on wake up my big bear" seru Gea.


Javir tertawa kecil mendengarnya, sebelah tangannya membingkai pipi Gea, menatap Gea dalam sehingga Gea salah tingkah dan memilih memalingkan muka menatap kelain arah.


Tangan Javir kembali memeluk Gea dengan erat, dan memutar tubuh mereka hingga Gea berada dibawahnya.


"Can you give me a kiss?" Bisik Javir lirih.


Mata Gea membulat, "gue belum sikat gigi" ucap Hea panik, dengan sekuat tenaga dia mendorong tubuh Javir dari atasnya.


Beringsut hendak pergi namun Javir menggenggam pergelangan tangannya menghentikan Gea yang hendak kabur.


"Je gak macem-macem gue aduin Bunda loh" ancam Gea gugup.


"Aduin aja biar kita cepet dinikahin" ucap Javir dengan santainya.


"Je ..." rajuk Gea masih berusaha melepas genggaman tangan Javir, "jangan begini ah ..."


"Jangan begini apa?, gue aja belum ngapa-ngapain loe"


"Je gue nangis nih"


"Nagis aja"


"Je!"


Gea benar-benar ketakutan Javir akan menciumnya atau bahkan melakukan hal yang lebih dari itu.


Come on ...


Gea cukup tahu jika vitalitas pria saat pagi pasti tinggi, jadi dia ketakutan saat mendengar Javir meminta cium karena takut lebih dari itu.


Meski mereka sama-sama dewasa, Gea tidak mau kelewatan batas dan mengecewakan Abra dan Ara.


Javir tertawa ngakak, duduk dipinggir kasur, menyentak Gea kearahnya dan memeluk pinggang Gea erat, membuat tubuh Gea semakin menegang.


"Jangan tegang gitu, gue gak ngapa-ngapain loe" bisik Javir lirih.


Perlahan Gea menghembuskan nafas beberapa kali mencoba rilex.


Tangannya menyentuh punggung Javir dan mengelusnya pelan, mencoba menenangkan pria itu juga.


Tring .... Ting ting ...


Alaram ponsel Gea kembali berbunyi untuk ketiga kalinya.


Javir berdecak sebal.


Sedangkan Gea terkekeh mendengarnya.


"Subuhnya bentar lagi hilang loh" ucap Gea sambil meraih ponselnya dan mematikan alaramnya.


"Sholat bareng ya" ajak Javir mendongakkan kepalanya tampa melepas belitan tangannya.


Gea tertawa sambil menggelengkan kepala, "masih belum menjadi suami istri. Kita sholat sendiri-sendiri, ayo bangun."

__ADS_1


"Hitung-hitung belajar sebelum nikah."


Lagi-lagi Gea tertawa, kali ini Gea tertawa lepas.


Tangan Gea melepas belitan tangan Javir dan melangkah mundur menjauh dari pria itu sebelum Javir kembali memeluknya.


"Cepat sana sholat" ucap Gea lembut sebelum berlari kekamar mandi.


Gea mengunci pintu kamar mandi dengan cepat, menyandarkan punggungbya kepintu dan menghela nafas berkali-kali sembari memegangi dadanya yang berdegup kencang.


Pantas saja Ara marah besar saat tahu Regan dan Belda tidur bersama meski tidak melakukan apapun, karena jika kita perempuan tidak bisa meredam mereka diapagi hari bisa-bisa fatal akibatnya.


"Ya Tuhan"


Gea langsung tersedang dan menyebut, setelah sadar dengan apa yang dia pikirkan barusan.


Cepat-cepat Gea berjalan untuk mengambil wudhu sebelum pikirannya kembali melalang buana entah kemana nantinya.


^-^


Semalaman Malvin mau tidak mau menemani Resa dan Bela yang kekeh mau menjaga Pak Lutfi dan tidak mau pulang, hingga akhirnya jam tujuh mereka berdua dengan sendirinya mengajak Malvin pulang sebelum orang-orang Pak Lutfi datang berkunjung.


Malvin masuk kedalam mobil tampa mengatakan apapun, dia bahkan tidak membukakan pintu untuk Bela seperti biasanya.


"Kita jempit Danil kerumah si kembar" ucap Bela setelah Malvin keluar dari pekarangan rumah sakit.


"Kenapa dia disana?" Tanya Malvin dengan nada datarnya.


"Je yang nyuruh As nitipin Danil"


Kepala Malvin mengangguk mengerti.


Selama perjalanan menuju rumah Ganendra, Malvin memilih untuk tidak berbicara apapun pada Bela karena dia tidak ingin tiba-tiba terpancing emosi dan marah pada wanita itu.


Sesekali Malvin melirik kearah Bela yang duduk disampingnya, perempuan itu tertidur. Bahkan dibelakang Resa juga tertidur, sehingga Malvin bisa menghela nafas dan tidak lagi menutupi wajah kesalnya didepan mereka berdua.


Semarah dan sekesal apapun Malvin, dia tidak akan bisa membentak dan marah pada Bela dan Resa.


Mereka berdua selalu saja sabar menghadapi Javir dan Malvin yang terkadang meledak-ledak dan tidak terkendali, sehingga Malvin terkadang memilih diam jika ingin marah pada mereka.


Sampai di depan rumah Ganendra, Malvin turun terlebih dulu dan masuk begitu saja saat asisten rumah tangga keluarga itu membukakan pintu untuknya.


"Akung"


Danil melambaikan tangan kearah Malvin yang berjalan kearahnya yang sedang duduk dimeja makan dengan Bilqis, Chaka dna Abra di ujung meja makan.


Malvin mengacak puncak kepala Danil dan duduk disebelah anak itu tampa Abra persilahkan.


"Dari rumah sakit jaga Kakek" jawab Resa.


Ternyata Resa dan Bela terbangun dan menyusul masuk kerunah Ganendra.


Resa duduk di samping Malvin dan menyandarkan kepalanya dipundak Malvin.


Sedangkan Bela berjalan membuntuti Ara untuk membantu Ara mempersiapkan makanan untuk mereka semua.


Malvin meraih beberapa buah anggur dan meletakkannya diatas piring, tidak sengaja tatapan matanya berbenturan dengan tatapan mata Abra yang menatapnya penuh selidik.


Dengan masa bodob Malvin hanya mengangkat bahunya malas menjelaskan apa yang sudah terjadi.


"Ayah mana?" Tanya Danil.


Perhatian Malvin langsung tertuju pada Danil sejenak sebelum kembali beralih pada Abra, "anak itu tidak menginap disini?" Tanyanya.


Kepala Abra menggeleng sambil meletakkan ponselnya diatas meja, "gue kira dia ikut loe."


Kali ini kepala Malvin yang menggeleng, "enggak kok."


"Mungkin di Raja Crown" ucap Bela, "sejak punya hotel mereka selalu di crown."


"Crown?" Tanya Abra seakan memastikan.


Sebelah alis Malvin terangkat mendengarnya, Abta tidak mungkin tidak tahu tentang lantai teratas hotel Raja Throne yang disebut Raja Crown oleh Regan, Aslan, Javir dan Alaric, bahkan beberapa karyawan juga tahu tentang lantai teratas milik para Owner itu.


Meski tidak ada diantara mereka yang pernah menginjakkan kaki dilantai itu, setidaknya Abra selaku mantan investor terbesar mereka tahu tentang keberadaan lantai itu.


"Lantai teratas hotel Raja milik mereka Ayah" jelas Ara sambil meletakkan secentong nasi diatas piring depan Abra.


Kening Abra tiba-tiba mengerut, dia menoleh pada Malvin dan menatapnya dnegan tatapan tajam dan mimik wajah serius.


"Retes cctv hotel Raja Throne sekarang" ucap Abra penub perintah, "gue gak yakin dia di Raja Crown disaat Gea menginap dihotel Raja."


"Kalau gitu biarin aja, hitung-hitung belajar sebelum nikah" ucap Malvin dengan amat santainya.


"MALVIN!" Bentak Abra.


Bukan hanya Resa yang terbangun, bahkan bukan hanya Bela yang peranjat dengan bentakan Abra, tetapi Danil yang terkejut sambai berkaca-kaca ketakutan.


"Loe tahu sendiri bagaimana Javir kalau dekat dengan Gea" ucap Abra penuh tekanan, "gue gak mau mereka sampai ..."

__ADS_1


"Gak mungkin" potong Malvin, "Javir gak mungkin berani."


"Gue gak mau nikahin anak gue mendadak lagi, loe kira gue gak pusing apa?."


^-^


Selesai mandi dan rapi.


Seperti biasa, penampilan Javir setiap kali keluar dari lift khusus ke Raja Crown setelah bersiap untuk bekerja, dia pasti terlihat rapi dengan kemeja, jas armani dan rambut hang tersisir rapi layaknya para eklusife.


Namun penampilan rapi Jabir hari ini bukan bertujuan untuk bekerja, tetapi untuk Gea perempuan yang dia cintai.


Javir tidak mau melewatkan kesempatan yang ada didepan mata.


Semua pekerjaan bisa dia selesaikan nati, tetapi menatap Gea yang tertidur adalah sesuatu yang langka.


Sebelum keluar dari kamar Gea, Javir mematikan seluruh alaram ponsel Gea agar perempuan itu tertidur dan tidak cepat-cepat bangun sehingga Javir bisa melihat wajahnya tampa make up saat bangun tidur.


Javir membuka pintu kamar Gea dnegan kunci master yang dia punya.


Berjalan perlahan kearah kasur dimana peremluan itu masih tertidur dibalik selimut.


Javir membuka jasnya, meletakkannya disandaran sofa sebelum perlahan naik keatas kasur dan menarik Gea dalam pelukannya.


Gea meringsek mencari posisi nyaman tidur didada Javir tampa membuka matanya.


"Love you An" bisik Javir mengelus rambut Gea.


Ingin rasanya Javir cepat-cepat menikah dengan Gea sehingga dia bisa menikmati momen seperti ini.


Memeluk Gea sebelum tidur sampai dia membuka mata.


Melihat wajah Gea yang baru bangun tidur.


Dan selalu bisa bersamanya disaat dia membutuhkan Gea kapanpun.


Tok Tok Tok ...


Ketukan pintu yang membabibuta membuat mata Javir yang semua hendak terpejam kembali terbuka.


Gea yang berada didalam pelukannya bergerak terusik dengan gedoran pintu yang cukup nyaring itu.


Javir berdecak kesal menatap kearah pintu, siapa yang berani mengetuk pintu kamar hotel dnegan kekuatan penuh seperti itu dipagi hari disaat dia sedang memeluk Gea begini?.


Tangan Javir mengelus rambut Gea menenangkan perempuan itu sembari perlahan meletakkan kepala Gea kebantal.


Tok Tok Tok ...


Rahang Javir mengetat mendengar ketukan pintu yabg semakin menjadi-jadi.


Javir turun dari kasur dan berjalan kearah pintu.


Sebelum membuka pintu kamar, Javir melihat siapa yang berani mengetuk pintu kamarnya dari lubang viewer pintu dan terperangah.


Abra berdiri tepat didepan pintu dengan wajah menahan amarah.


Jabir langsung meringis menjauh dari pintu.


Tangannya menggaruk kepalanya yang tidka gatal lalu terdiam sejenak sebelum tersenyum culas.


Dengan semangat Javir melepas kemeja, melepas celana kainnya menyisahkan celana pendeknya, dan pada akhirnya Javir shirtless.


Bahkan tidak lupa juga Javir mengacak-acak rambutnya yang tertata rapi sebelum membuka pintu dengan wajah pura-pura bangun tidurnya menggaruk dada.


"Siapa?" Tanyanya dnegan suara serak seakan baru bangun tidur.


Brak ...


"Aw ..." ringis Javir saat punggungnya terbentur dengan dinding.


Abra mendorong tubuh Javir menyingkir dari hadapannya sebelum melangkah masuk kedalam kamar.


Langkah Abra bahkan cukup lebar menghampiri Gea yang masih tertidur di kasur dengan nyenyak dibalut selimut dan tidak terusik dengan apa yang terjadi.


Tangan Abra menarik selimut Gea dengan kasar.


"Je dingin" rengek Gea dnegan mata masih terpejam.


"Bangun"


Satu kata namun penuh tekanan.


Mata Gea langsung terbuka lebar.


Javir yang berdiri tidak jauh dari sana hanya mengulum senyum melihat tingkah Gea.


Perempuan itu menoleh kesamping kanan dan menemukan Abra berdiri dengan tangan mengepal selimut yang baru saja dia tarik.


Mata Gea langsung menatap kesegala arah dan terhenti kala bertautan dengan tatapan mata Javir yang sejak tadi menatapnya.

__ADS_1


"Kalian belum menikah kenapa tidur bersama?" Desis Abra.


^-^


__ADS_2