
Mata Yesi melotot melihat Gea dan Javir tidur kasur yang sama dengan Javir yang memeluknya dari belakang.
Yesi bingung antara mau keluar dari sana atau mau membangunkan mereka berdua. Jika keluar dia takut mereka kelewat batas, kalau membangunkan Gea ini pertama kali dia melihat Gea tidur pulas, dan melihat mereka tertidur Yesi merasa lega.
Yesi mengeluarkan ponselnya dan mulai mengambil foto mereka dari berbagai sisi, 'lumayan bisa buat ngebuli' pikirnya.
"Pitunya kenapa kebuka?"
Sayup-sayup terdengar suara Aslan.
Buru-buru Yesi keluar dari kamar, mendorong mundur tubuh Aslan yang akan masuk kedalam kamar dan menutup pintu dengan cepat.
Aslan dan Alaric mengerutkan kening saling tatap sejenak, lalu secara bersamaan menatap Yesi curiga dengan kening mengerut.
Yesi sendiri hanya menyengir menatap mereka bergantian, "tidur" ucapnya.
"Siapa yang tidur jam segini?" Tanya Aslan melirik jam tangannya.
"Itu ... Gea sepertinya kecapeean jadi tidur" jawab Yesi dengan cepat.
Aslan mengguk mengerti, tidak berfikir apapjn dan percaya saja apa yang dikatakan Yesi.
Baru saja Aslan berbalik badan dan melangkah hendak pergi, ponselnya tiba-tiba bergetar, membiatnya mengurungkan niat untuk melangkah pergi.
Pavin
Kening Aslan mengerut membaca nama Malvin muncul dilayar ponselnya, karena sangat jarang Malvin menghubunginya.
Aslan melirik Alaric sebelum menekan tanda terima.
Belum juga mentakakan satu katapun, kalimat panjang Malvin membuatnya mematung, perlahan berbalik badan menatap Yesi dengan tatapan tajamnya.
"Keluarkan Javir dari kamar itu sebelum Papa meminta beberapa bodyguard yg ada disana menyeretnya keluar."
Klik ...
Sambungan panggilan mereka seketika terputus begitu saja.
Malvin terkadang memantau pergerakan Javir, meski Javir sudah dewasa dan terkadang Javir mengomel karena dia sudah dewasa.
Aslan menghela nafas memijat keningnya, tetap dengan tatapn yang masih menatap Yesi tajam.
"Buka" perintah Aslan.
"Tapi Kak"
"Barusan Papa Malvin yang nelpon, atau loe mau bawahan Papa Malvin kesini dan nyeret Javir, lalu semuanya jadi bak terkendali, mau?."
Mata Alaric membola mendengarnya, "Je didalem?" Tanyanya tak percaya.
"Liat ada cctv, Papa pasti mengawasin kita dari sana" jawab Aslan.
Yesi menghela nafas, dia dengan wajah merengut membuka pintu kamar dengan lebar agar Aslan dan Alaric bisa masuk.
Sesampainya didalam, Aslan dan Alaric saling tatap kala melihat Gea dan Javir yang tertidur.
Perlahan Aslan mendekati Gea, duduk disamping Gea mengelus rambutnya lembut. "Ge ... Gea" panggilnya lirih, dia tidak mau Javir terjaga, karena dia tahu kemarin Javir benar-benar kurang tidur karena pekerjaannya yang menumpuk.
Perlahan Gea bergerak, tangan Javir semakin membelit menarik tubuh Gea semakin merapat padanya.
Mata Gea mengerjab melihat Aslan didepannya, hendah duduk tetapi Aslan memberi isyarat agar Gea tenang.
Sangat amat perlahan Gea melepas pelukan Javir, Aslan membantunya dengan menggantikan tubuh Gea dengan bantal agar Javir tidak terjaga.
Setelah terlepas dari pelukan Javir, Gea beringsut duduk dipinggir kasur menatap Aslan dengan mata yang masih mengantuk.
__ADS_1
Aslan tersenyum melihatnya, mengelus puncak kepala Gea dan berjongkok didelan Gea, menggendongnya keluar dari kamar.
"Jangan lagi begitu" ucap Aslan menasehati sambil berjalan.
"Maaf" gumam Gea.
"Kalau Bunda tahu, nanti Bunda maraj loe"
"Iya, maaf"
Alaric membukakan salah satu kamar yang sudah mereka pesan untuk menginap.
Aslan masuk, mendudukkan Gea dikasur perlahan.
Gea berbaring dengan mata terpejam, Aslan menyelimutinya dan mengelus rambutnya pelan. "Capek ya nangis sampek ketiduran?" Tanya Aslan.
Gea mengangguk pelan tetap dengan mata terpejam.
Mereka bukan saudara kandung, tetapi hubunga mereka lebih dari itu. Mungkin karena mereka sama-sama anak angkat Keluarga Ganendra yang membuat Gea lebih nyaman bercerita segala hal padanya, dari pada pada Regan yang seumuran.
Aslan hafal betul setiap kali Gea menangis, setelah lelah Gea akan tertidur. Saat melihat ada sisa air mata dipipi Gea, Aslan tahu jika Gea menangis sampai tertidur seperti biasanya.
"Gue ngeluapin semua" ucap Gea lirih, "tapi tetap aja dia begitu."
Benar bukan, jika Gea tidak akan bercerita tidak usah dipaksa, karena dia akan bercerita sendiri nantinya jika sudah tenang.
"Dia gak peka" gerutu Gea, duduk menatap Aslan dengan mata sendunya. "Dia selalu berkata manis, menjurus kesesuatu yang membuat gue berharap. Dia tetap saja seperti dulu, dan bodohnya gue tetep aja kejerumus."
Aslan tetap dia memilih mendengarkan apa yang akan Gea ceritakan sampai selesai.
"Dia bahkan membuat Faris salah paham, sebenarnya apa maunya?, dia cinta gue enggak?."
Suara Gea terdengar mulai bergetar.
Aslan menggenggam tangannya, "hei adik kecil. Dia butuh waktu untuk mengatakanbya secara gamblang, bahkan dia mungkin banyak mempertimbangakn segala hal."
"Seperti yang gue, Ar dan Al ketahui. Dia pasti mempertimbangkan gimana perasaan loe sama dia, kira-kira nyaman enggak, loe nerima dia enggak. Dia itu otaknya kayak cewek, pemikir dan gak mau ambil resiko besar."
"Buktinya ..." Alaric duduk dipinggir kasur sisi yang lainnya, "saat loe narah dia gak ngejar loe atau nuntut loe untuk ngejelasin. Bahkan saat loe ngajak siapa itu buat pacaran, dia marah tetapi dia tahan."
"Tapi dia dia selalu muncul tiba-tiba dan ngomon yang buat gue bingung" keluh Gea.
"Dia selalu muncul karena ingin loe terbiasa Gea" ucap Aslan, "kalau dari apa yang dia omongin .... gak usah loe ambil pusing, dia aja pusing mikirinnya."
Alaric tertawa mendengar perjataan Aslan, "ya ... as always, loe satu-satunya cewek yang biat dia kebingungan mau ngadepin loe gimana."
"Tidurlah ..." ucap Aslan lembut.
Gea menganggukkan kepala dan kembali berbaring.
Alaric keluar kamar terlebih dulu, Aslan menyelimuti Gea, menutup gorden, menyetel ac dan mematika lampu.
Ternyata Alaric berdiri didepan pintu kamar menunggu Aslan keluar.
"Gue gak sebaik dan sepengertian itu sama my sister Emma" ucap Alaric dengan nada menyindir.
Aslan tersenyum segaris, "karena gue dan dia sama."
"Sama dalam artian apa?, sama-sama anak angkat keluarga Ganendra?."
"Itu salah satunya."
"Yang lainnya?."
"Sama-sama menyalahkan seseorang yang melahirkan kita kedunia, uang tidak perduli dengan kita."
__ADS_1
Suara Aslan terdengar datar, Alaric terdiam mendengarnya.
Kepala Aslan memiring, melihat Javir yang berdiri dibelakang Alaric tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Sebisa mungkin gue dan Regan menjauhkan pemikiran dia tentang sampah dan karma" ucap Aslan menatap Javir tajam.
Alaric mengerutkan keningnya menatap Aslan yang berbicara penuh penekanan disetiap katanya.
Dia mengerti apa yang dikatakan Aslan, namun dia tidak mengerti sebenarnya Aslan menekankannya pada siapa?.
"Loe masih ingat bukan?" Tanya Aslan.
Alaric semakin tak mengerti, dia menoleh kebelakang kearah tatapan mata Aslan dan tercengang melihat Javir disana.
"Loe mendengar apa yang dia katakan malam itu" lanjut Aslan, "sekali lagi loe buat dia merasa direndakkan dan gak berharga. Gue akan bunuh loe, tampa harus mikir dua kali."
^-^
Mata Abra menatap Malvin dengan tajam.
Dengan lebar dia melangkahkan kakinya menuju komputer di meja kantro Malvin diperusahaan ASG.
Berteman dengan Malvin puluhan tahun membuatnya sedikit mengerti cara mengotak atik cctv yang sudah diretas.
Dia baru saja mendengarkan apa yang Malvin katakan ditelephone entah pada siapa. Dan Abra yang penasaran mengecek kebenarannya sendiri tampa meminta bantuan Malvin.
"Dia mulai berani maju sekarang" desis Abra.
Kepalanya kembali mendongak menatap Malvin, sedangkan Malvin sendiri dengan santainya malah duduk di depan kursi meja kerjanya.
Pembicaraan serius pasti akan dimulai.
"Jangan coba-coba mempermainkan putri gue Vin" ucap Abra penuh ancaman.
"Kenapa loe bilang sama gue?" Tanya Malvin santai.
"Karena loe Ayah dari pria yang mau deketin putri gue."
Malvin tersenyum segaris, "gue hanya bisa menasehati dan mengawasi dia, tapi tidak bisa ikut campur urusan dia. Lagi pula mereka sudah dewasa untuk mengambil keputisan dan menghadapi permasalahan."
"Tapi anak gue perempuan, sampai kapanpun gue akan melindungi dia" Abra masih menatap tajam pada Malvin. "Loe juga punya anak perempuan Vin, loe pasti mengerti apa maksud dari perkataan gue."
kali ini Malvin terdiam.
Aslan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, menghubungi Aslan.
"Pulang dengan penerbangan pertama" ucap Abra dengan nada memerintah.
^-^
Flash back
"Loe tahu?, dia menganggap gue anak kecil" terdengar helaan naf Gea. "Tetapi gie bukan anak kecil bodoh yang rela menjadi tempat sampah biat dia" lanjutnya begitu lirih.
Saat itu Javir mendengarnya sambil mengepalkan tangan.
Javir menceritakan semua yang dia dengar di depan club pada Aslan dan Javir.
"Lalu apa hubungannya dengan tempat sampah yang lod katakan?" Itu Regan yang bertanya.
"Setelah bertunangan dia akan menikmati kehidupan bebasnya disini, tetapi gue sebagai tunangannya disana tidak tahu apapun. Lalu nantinya, setalah dia merasahan dia puas dengan kehidupan bebasnya, dia akan kembali kegue begitu?. Gue bukan tempat sampah yang senang hati menerima sampah kotor meskipun sampah itu bisa didaur ulang, gue ... gue ..." suara Gea terdengar terputus-putus. "Gue ngerasa ini karma dari apa yang sudah dilakukan Mami," Gea menoleh pada Regan.
"Setelah Mami puas hidup dengan bebas, dia kembali pada Ayah sudah menikah, membuat rumah tangga Ayah dan Bunda berantakan tanpa dia memikirkan perasaan Bunda. Apa gue sebagai anak harus menerima karma dari apa yang sudah dirasakan Ayah karena kelakuan Mami gue?. Awalnya gue menerimanya ... gue pikir ini karma dan takdir yang harus gue jalani ... tapi ... setelah gue pikir-pikir apa gue sanggup?, enggak ... gue gak akan sanggup."
Flash end
__ADS_1
^-^