Watching You

Watching You
Love You


__ADS_3

Mata Gea terbelalak menatap Javir yang masih berdiri disampingnya, tidak seperti Malvin, Bela dan Resa yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


Padahal sebelum Javir mengatakan kalimat Mau melamar Gea, Malvin tadi sudah mengatakannya lebih duli, tetapi entah kenapa kalimat yang langsung terlontar dari mulut Javir membuat Gea membeku seketika.


Javir perlahan menarik kedua sudut bibirnya, terlihat dia gugup saat ini.


"Kenapa tidak memberi tahu sebelumnya?" Tanya Abra dengan nada penuh tekanan menatap Javir tajam.


Perlahan tatapan Javir beralih pada Abra yang duduk disingle sofa, diam-diam Javir menelan ludah mencoba mengontrol diri agar tidak terlihat gugup dan terintimidasi oleh tatapan tajam Abra.


Tatapan yang biasa dilayangkan Abra untuk memberi rambu-rambu sebelum dia meluapkan apa yang ada dalam benaknya.


"Je juga tidak memberi tahu Gea"


Itu suara Regan.


Seakan mengerti dengan kondisi Javir saat ini, Regan melangkah meletakkan bingkisan yang dia bawa dimeja depan Abra dan berjalan berdiri disamping kursi Abra.


Lagi-lagi secara diam-diam Javir menelan ludah melirik Regan yang tersenyum segaris padanya.


"Dia tidak mau kembali lagi memberi Gea waktu dan menolak lamarannya seperti sebelumnya" jelas Regan.


"Dan dia sebenarnya takut kembali ditolak untuk yang kesekian kalinya sama Gea" sahut Alaric.


Kepala Javir langsung meboleh dan memelototi Alaric kesal.


"Itu salah satu alasan kami jadi pengiring dia, bukan menyambut kedatangannya meski kami keluarga dari mempelai wanita" Aslan malah ikut menimpali.


"Lihat saja wajahnya pucat dan gugup gitu."


Regan malah ikut-ikutan Aslan dan Alaric membulinya disaat yang tidak tepat, membuat Javir mengulum bibir menahan diri agar tidak marah dan menyulut pertengkaran diantara mereka.


Sentuhan lembut dilengannya membuat pikiran Javir teralih.


Disampingnya Gea sedang menyentuh lengannya dan menatap Javir dengan tatapan tak terbaca.


Bukan semakin tenang, Javir malah semakin gugup seketika.


"Jadi alasan kamu sebenarnya mengancam Ibu kandungmu dan selalu mengulang-ngulang bilang mau menikahi Gea karena mau minta dukungan dari semua orang?"


Seakan ada tali kekang yang menancap dikepalanya, kepala Javir seketika menoleh mendengar kalimat panjang Abra.


"Masih belum yakin ternyata dengan perasaan Gea"


Kali ini nada bicara Abra terdengar mengejek, bahkan dia tersenyum sarkasme.


Kepala Javir lamgsung meboleh ke Gea dan Abra secara bergantian, perasaan gugupnya berubah menjadi kepanikan.


Kepala Javir menggeleng cepat, perasaan gugup dan khawatir yang bercampur aduk kembali menguasainya.


"Enggak gitu" bantahnya.


Javir menatap Regan, Malvin bahkan Aslan dan Alaric meminta bantuan mereka menjelaskan yang sebenarnya.


Kalimat Abra barusan membuatnya takut, bagaimana jika Gea berfikir seperti itu juga dan dia kembali akan menolak Javir lalu apa yang akan Javir lalukan ...


"Hei"


Tepukan dilengannya membuatnya fokus kembali pada Gea.


Tatapan mereka bertautan.


Tidak ada yang saling mengatakan sesuatu selama beberapa menit, hingga Gea tersenyum segaris dan melangkah mendekati Javir yang terpaku berdiri ditempatnya, lali memeluk Javir dengan erat.


Abra hendak bediri berniat mengurai pelukan mereka, tetapi Regan menarik lengan Bilqis dan mendudukkan Bilqis diatas pangkuan Abra sehingga Abra tidak bisa berkutik.


"Hah"


Javir menghela nafas lega.


Tangannya membalas pelukan Gea, menenggelamkan wajahnya dipundak Gea.


"Mereka nikah setelah aku dan Zia kan Yah?"


Pertanyaan Aslan yang lantang membuat Javir mengangkat wajahnya dan menatap Abra dengan tatapan memelas.


Seakan tak perduli dengan tatapan itu, Abra malah menatap Malvin dengan tatapan seriusnya. "Tidak ada pesta pertunangan, karena kami sedang sibuk menyiapkan pernikahan Aslan".


Tubuh Javir langsung berdiri tegak.


Gea megurai pelukannya, menyabdarkan kepalanya didada Javir sembari tersenyum lebar pada Abra.


"Ayah" keluh Javir.


"Jangan banyak protes, Aslan dan Zia udah netapin tanggal lebih dulu" tegas Abra. "Untuk tahun ini cukup dua pernikahan, tidak ada pernikahan selanjutnya, Paham!."


Mata Javir terbelalak mendengarnya.


Resa tertawa ngakak mendengarnya, begitu juga dengan Gea yang tertawa mengelus dadada Javir agar pria itu tidak melwdak marah.


Dengan jahilnya Regan menarik Belda yang berdiri disampingnya, memeluk istrinya dari belakang dan meletakkan dagunya dipundak Belda sambil tersenyum mengejek pada Javir.

__ADS_1


^-^


Flasback


Javir memeluk bantal sofa menatap kosong kearah layar televisi.


Alaric dan Aslan sedang bermain ps duduk dilantai tepat didepan sofa tempat Javir berbaring.


Sedangkan Regan sedang fokus dengan leptopnya seakan tidak terganggu dengan kehebohan Alaric dan Aslan didekatnya.


"Ar" panggil Javir pada Regan tampa mengalihkan tatapannya dari layar televisi.


"Hem" Regan hanya berderham menjawab paggilan Javir.


"Kasih gue masukan buat ngelamar Gea" ucap Javir lirih.


"Gue kan udah ..."


Plak ...


Tangan Javir menjitak belakang kepala Alaric.


Dia tidak mau lagi mendengar masukan dari Alaric untuk yang kedua kalinya.


"Diem loe!" desis Javir penuh penekanan.


Javir duduk bersila dan menghadap Regan yang ternyata menatap kearahnya dengan tatapan andalannya, datar.


Dari mereka berempat, Regan adalah satu-satunya orang yang selalu memberi masukan yang tepat dan jarang meleset barang sedikitpun.


Meski Javir tahu Regan tidak begitu mendukung hubungannya dengan Gea, tetapi setidaknya dia mencoba bertanya. Siapa tahu Regan memiliki perasaan kasihn padanya.


"Kenapa loe gak langsung dateng kerumah buat ngelamar Gea?"


Pertanyaan Regan seperti apa yang ditanyakan Abra beberapa hari lau.


Javir mencoba tersenyum.


Sadar jika senyunya kaku, Javie mengulum bibirnya dan membuang muka kembali menatap kelayar televisi.


"Loe takut kejadian beberapa tahun lalu terulang?


Deg ...


Degup jantung Javir serasa berhenti berdetak beberapa detika.


Pertanyaan Regan tepat sasar.


"Loe beneran trauma ya?" tanya Aslan pelan.


Javir hanya mampu tersneyum segaris tampa mengatakan appaun.


Secara bersamaa Regan, Aslan dan Alaric menghela nafas.


"Dasar cemen"


"Mental lempeng"


"Loe priksa kelamin gih"


Mata Javir terbelalak mendengar makian ketiga temannya.


Flashend.


^-^


Gea tidur dalam dekapan Javir.


Pernikahan Aslan baru saja selesai.


Semua orang sedang makan dan menemui tamu, tetapi mreka berdua malah tidur dikamar pengantin.


Gea kecapeean mempersiapkan pernikahan Aslan, sehingga setelah Aslan dan Zia selesai berfoto dikamar penganyin, Gea mencoba merebahkan tubuhnya dan berakhir dengan tertidur pulas.


Javir yang mencari keberadaan Gea malah ikutan tidur disamping Gea sambil memeluk Gea erat.


Langkah Aslan terhenti saat melihat dua orang itu tertidur diatas kasur pengantinnya.


"Kurang ajar, gue aja belum ..."


Zia menarik tangan Aslan menahan pria itu untuk membangunkan mereka berdua. "Gea pasti kecapean, biarin aja" larang Zia.


"Tapi ya gak tidur dikasur kita juga Zi"


"Mereka pasti gak sengaja As."


"Sengaja enggak tapi kira-kira dong."


Kali ini Zia hanya menanggapi dengan senyum.


Aslan yang kesal berjalan meninggalkan Zia menurubi tangga.

__ADS_1


Beberapa tamu masih ada yang belum pulang, jadi Ara dan Abra masih menemani mereka sedangkan Aslan dan Zia diminta untuk naik agar bisa istirahat.


"Bunda" panggil Aslan.


Ara yang sedang bercengkramah dengan Vira seketika menoleh dan mengerutkan keningnya melihat Aslan berjalan kearahnya bersama dengan Zia yang membuntutinya dibelakang.


"Kenapa turun?" tanya Vira.


Wajah Aslan langsung cemberut menatap Vira, "Kamar pengantin kami disita An sama Je" adunya.


Mata Ara membulat menoleh pada Zia meminta penjelasan dari perkataan Aslan barusan.


Zia tertawa kecil memekul lengan Aslan pelan, "kamu nih ngadu-ngadu."


Aslan yang sudah terlanjur kesal berdecak membung muka tidak menatap Zia yang melingkarkan tangannya dipinggang Aslan memeluknya dari samping.


"AYAH AS YANG NIKAH, KENAPA JE SAMA AN YANG TIDUR DIKAMAR PENGANTIm!" Teriak Aslan menggema.


Semua mata mengarah kepadanya.


"KENAPA KALIA ..."


Zia dengan Cepat membungkam mulut Aslan sebelum pria itu kembali membuka mulut dan mempermalukan dirinya sendiri.


Tawa lepas Regan terdengar.


Alaric bertepuk tangan sambil tertawa kecil.


Semua orang yang berada disana ikut tertawa lepas, tidak lagi menahan diri seperti sebelumnya.


Malvin hanya bisa menghela nafas mendapat tatapan tajam dari Abra.


"Abra!" kali ini Vira yang berteriak memanggil Abra, "jangan sampek anak gue hamil duluan gara-gara anak si Malvin. Buruan nikahin mereka!."


Dikamar pengantin Aslan.


Saat Aslan dan Zia bertengakar diambang pintu, Javir sudah membuka mata tetapi enggan untuk bangun dan melepas pelukannya dari tubuh Gea.


"As sepertinya benar-benar marah"


Terdengar suara lirih dari Gea.


Javir tersenyum dan semakin menarik tubuh Gea masuk kedalam pelukannya.


"Nanti kalau kita nikah pinjemin aja kamar kita untuk mereka" ucap Javir lirih.


Gea tertawa kecil membalas pelukan Javir.


"Tidur lagi, gue temenin" bisik Javir.


"Dikamar gue"


Javir tersenyum kecil.


Perlahan dia berdiri dan menggendong tubuh Gea yang memeluknya erat.


"Love you Je" bisik Gea lirih.


"Love you My Angel"


Senyum mereka begitu lebar.


Dimalam pernikahan Aslan ini.


Ditanggal yang sama dan dibulan yang sama, sepuluh tahun lalu hari dimana mereka berpisah.


Dan dengan keyakinan seribuh persen Javir.


Malam ini juga, orang-orang dilantai bawah akan memutuskan tanggal pernikahan mereka berdua.


End


^-^


*Hem ...


Terima kasih atas dukungannya smeuanya ...


Untuk* Watching You *author selesaikan sampai disini karena otak udah mentok ide akibat kesibukan didubia nyata dan author merasa bersalah karena sudah embggantungkan cerita ini 🙏


Untuk yang tidak puas nanti cerita para Raja juga akan ada di Alalric kok 🥰


Tungguin cerita si Alalric di* Beside You 😇


*Author usahakan mulai update bulan 5 😍


Terima aksih atas dukungannya selama ini 🙏


Love you 😘


Unik Muaaa*

__ADS_1


__ADS_2