Watching You

Watching You
Dilamar


__ADS_3

...



🥳Terima kasih atas dukungan kalian🥳...


...Di tahun 2022...


...Jangan lupa selalu dukung Author ya 🥰...


...Love You 😘...


...Unik Muaaa...


...^-^ ^-^ ^-^ ^-^ ^-^...


Berapa puluh kali bahkan sudah berapa ratus kali dalam sehari ini Gea sudah menghidup dan mematikan layar ponselnya hanya untuk mengecek Javir menghubunginya atau tidak, mengirim chat atau tidak.


Meski sedang bernyanyi diatas panggung kecil di cafenya dan didepan banyak penonton, Gea tetap sesekali dka mengecek ponselnya selama ada kesempatan.


Dipojok ruangan dengan meja panjang tempat biasa para Raja berkumpul, hanya ada Regan dan Aslan yang menatap pada Gea.


"Tuh anak beneran ada yang ngelamar?" Tanya Aslan masih dengan tatapan mata menatap kearah Gea yang bernyanyi diatas panggung.


"Ya" jawab Regan sebelum menyesap kopinya, "dia salah satu temen SMAnya dan klien EOnya kali ini, namanya Sebastian."


Penjelasan Regan menarik perhatian Aslan, hingga Aslan mengalihkan tatapannya dan menatap Regan dengan serius.


Tidak usah terkejut lagi kenapa Regan bisa tahu sedetail itu, karena keahlian Regan sama seperti Javir, hecket. Bahkan Aslan sudah tidak terkejut lagi akan hal itu.


"Apa An tahu jika Sebastian itu ketemu Ayah dan melamarnya?"


Kali ini kepala Regan menggeleng.


"Wih ... Cukup percaya diri juga tuh cowok" seru Aslan.


"Je kalah selangkah" ledek Regan.


Aslan tertawa ssambil menganggukkan kepala membenarkan.


Javir sering mengutarakannya pada mereka berdua, tetapi dia tidak mau mengatakannya pada Abra dengan alasan 'tampa pikir dua kali Ayah kalian akan menolak sebelum An mengatakan iya, jadi cukup Ayah tahu saja jika dia mencintai putrinya. Jika An mengatakan iya lebih duli baru gue mau menghadap Ayah' itu alasan Javir.


Dan mereka sebagai teman dan saudara Gea tidak bisa membantu banyak hal.


Tatapan mereka berdua kembali menatap Gea yang berjalan turun dari panggung kecilnya sambil menyalami beberapa fans yang mengelilinginya.


Mata Regan memicing semakin mempertajam penglihatannya saat melihat seseorang turun dari dalam mobil tepat didepan An Angel.


"Itu Sebastian, cowok yang melamar Gea ke Ayah."


Aslan menoleh kearah tatapan Regan.


Sebastian berjalan menghampiri Gea, berbincang sejenak sebelum mereka berdua berjalan bersama mendekayi meja Regan dan Aslan.


Melihat Gea yang tersenyjm dan tertawa kecil pada Sebastian membuat Regan menghela nafas.


Bukan berarti dia tidak bahagia melihat Gea yang terlihat baik-baik saja dan ceria, tetapi bagaimanapun Javir juga temannya, dan dia tahu seberapa sayang Javir pada Gea.


"Tian kenalkan dia Regan dan Aslan saudara gue" ucap Gea memeprkenalkan Regan dan Aslan.


Dengan sopan Aslan berdiri untuk menyambut uluran tangan Sebastian.


"Dan dia ..."


"Sebastian" potong Regan dengan datar.


Gea mengerutkan kening sambil tersenyum kecil, matamya melirik pafa Rehan dan Sebastian bergantian.


Tatapan mata Regan menatap tajam pada Sebastian.


"Apa kalian sudah saling kenal?, padahal dia itu ..."


"Pria yang melamar loe ke Ayah" potong Regan lagi.


Kali ini tatapan Regan beralih pada Gea yang terdiam menatapnya dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


Gea belum tahu.


Sadar akan hal itu, Regan hanya bisa menghembuskan nafas melirik Aslan yang hanya diam menatap Gea dalam seakan menela'ah raut wajah Gea.


Seakan tahu jika dia tidak akan mendapatlan penjelasan dari Regan, Gea menoleh pada Sebastian yang tersenyum lebar padanya.


"Gue kesini mau bilang itu" ucap Seabastian terlihat salah tingkah, "tetapi keduluan saudara loe."


Mulut Gea terbuka tetapi tidak mempu mengeluarkan perkataan apapun.


Regan berdiri dari duduknya menghampiri Aslan, "ayo pulang" ajaknya dan melangkah pergi begitu saja.


Tangan Aslan menepuk pundak Gea dan melangkah pergi mengikuti langkah Regan.


Mereka berdua memberi waktu pada Gea untuk mengkonfirmasi langsung pada Sebastian, dan tentunya mereka tidak ingin ikut campur.


"Apa loe sengaja bilang duluan ke An?" Tanya Aslan.


Regan menghentikan langkahnya, menoleh pada Aslan dan terssnyum segaris. "Gue hanya mengatakan lebih dulu agar An gak terkejut" ucapnya santai.


Aslan mencibir tidak percaya, "alasan loe aja" sindirnya dan masuk kedalam mobil begitu saja.


Regan malah tertawa ngakak mendengar perkataan Aslan.


^-^


Danil menunggu Javir tidak jauh dari meja Javir dan kliennya yang sedang meeting di salah satu restaurant ternama.


Didepan Danil ada ponsel yang tersambung dengan Bella sang Uti yang dengan sabat mendengarkan apapun yang Danil ceritakan padanya.


"Enil kenapa gak tidur aja di hotel?" Tanya Bella.


Kepala Danil menggelengbpelan, "dj hotel gak punya teman Uti, dan jangan panggil Danil dengan panggilan Enil. Danil aja gak boleh manggil diri sendiri dengan panggilan Enil, kata Ayah itu seperti anak kecil, Danil kan sekarang sudah besar."


Tidak jaub dari Danil, dimana Javir sedang meeting tiba-tiba merasa pening.


Tangan Javir beberapa kali memijat keningnya meski dia terus saja berbicara dengan kliennya, sesekali mengelap keringat dingin yang muncul dipelipisnya.


Bahkan Dian beberapa kali melirik Javir, membatu Javir untuk menjelaskan pada klien mereka saat Jabir blank beberapa saat.


Javir menganggukkan kepala sebentar, "I'm ok" jawab Javir lirih.


Dian dan klien Javir saling tatap, ternyata klien Javir juga memperhatikan setiap mikik wajah Javir sehingga tatapan matanya juga menunjukkan ke khawatiran.


"Maaf, saya kekamar mandi dulu mau cuci muka" pamit Javir.


Tepat saat berdiri dan mengangkat wajahnya, pandangan Javir semakin memburam.


Sakit dikepalanya semakin terasa.


Dan saat melangkah tubuh Javir oleng dan dia terjatuh seketika.


Sontak beberapa orang yang berada disana memekik kaget.


"AYAH!"


Danil turun dari kursi dan berlari cepat kearah Javir yang sudha terjatuh.


Suasanah begitu gaduh, tidak ada yang menghiraukan ponsel Danil yang masih terbmhubung dengan Bela.


^-^


"Gue gak sengaja ketemu Ayah loe" ucap Sebastian, "bukan maksud melamar tetapi lebih mengutarakan niat gue."


Gea masih diam menatap Sebastian, menunggu penjelasan lebih darinya.


"Tapi Ayah loe bilang semua tergantung sama loe, gue berharap besar loe akan ..."


"Gue gak suka loe begitu" potong Gea tegas.


Akhirnya Gea mengutarakan unek-hneknya setelah mendiamkan Sebastian sejak Regan dan Aslan keluar dari An Angel.


Sebastian yang mendengarnya langsung melemas, "I'm sorry" ucapnya penuh penyeaalan menatap Gea.


Tatapan mata Gea beralih menatap kesegala hal, menghindari tatapan Sebastian. Kedua tangannya bahkan bertautan menahan diri untuk tetap tenang.

__ADS_1


"Gue udah bilang ke loe secara langsung tetapi loe gak ngerespon apapun" ucap Sebastian lirih, "gue hanya ingin ..."


"Tapi gak langsung ke Ayah gue juga Tian" potong Gea tegas.


"Terus gie harus gimana?, gue udah tanya loe tapi loe gak memberi jawaban apapun. Gue udah nunggu loe bertahun-tahun, loe selalu bilang kalau loe punya perasaan sama orang lain. Tapi kalian gak pernah bersama, apa sulitnya sih loe mencoba membuka hati untuk gue. Tiga tahun gue nunggu loe untuk ..."


"Loe hanya tiga tahun, tetapi dia sepuluh tahun" potong Gea dengan nada emosi. "Apa kalian tidak bisa bersabar sedikit saja?, ini demi masa depan gue sampek gue mati. Apa kalian pikir mundah memutuskannya?, dan siapa yang minta kalian untuk menunggu gue?. Dan kalau loe emang gak mau nunggu ya silahkan pergi kayak dia, gue gak butuh kalian, gue gak minta kalian untuk cinta gue, gue gak butuh!."


Kening Sebastian mengerut dalam mendengar perkataan panjang Gea, beberpaa kalkamat yang tidak dia mengerti membuatnya terdiam berfikir dan menerka-nerka.


Setelah meluapkan semuanya, Gea berdiri dari duduknya, menyeka rambutnya dan pergi dari sana begitu saja.


Dilain tempat.


Regan dan Aslan sedang memperhatikan apa yabg terjadi diantara Gea dan Sebastian dari layar leptop milik Regan.


Ternyata sebelum Regan pergi dia meletakkan penyadap dilekukan sofa untuk mendengar apa yang mereka bicarakan, bahkan Regan juga meretes cctv An Angel untuk memperhatikan raut wajah Gea.


Mereka berdua seakan menikmati apa yang sedang mereka lihat dilayar leptop Regan. Seperti menonton film, ditangan Aslan bahkan ada cemilan, dan segelas kopi didasboard mobil.


"Sepertinya Je akan semakin menghilang" ucap Regan lirih.


"Emangnya kenapa?" Tanya Aslan tampa mengalihakn tatapan matanya dari layar leptop.


"Mata dan telinganya berada disini"


Kepala Aslan mengangguk setelah mengerti dengan maksud perkataan Regan.


Mata Javir adalah cctv An Angel yang sudah lama dia retes.


Teliga adalah penyadap suara yang Javir letakkan secara tersembunyi dibeberapa tempat An Angel.


"Lagi-lagi dia mendengarnya" gerut Regan


"Maksud loe?" Tanya Aslan, kali ini menoleh pada Regan.


Sebastian pergi An Angel, sehingga Regan menutup leptopnya.


Tidak ada lagi yang bisa mereka tonton.


"Sebelum Je pergi, gue gak sengaja melihat Javir menonton rekaman video Sebastian sedang mengatakan perasannya pada Gea.


"Apa itu salah satu alasan Je pergi?"


Kepala Regan mengangguk pelan mendengarnya.


Beru saja Regan menyalakan mesin mobil, ponsel Aslan berdering.


Nama Mabel (Mama Bela) muncul dilayar ponselnya.


Aslan menoleh pada Regan sebelum mengangkat panggilan itu dan menloadspeakernya agar Regan ikut mendengar apa yang akan dikatakan Bela.


"Hai Ma" sapa Aslan.


"Hai As" balas Bela.


Terdengar suara Bela penuh kekhawatiran, membuat Aslan dan Regan saling tatap.


Regan yang hendak menjalankan mobilnya pergi dari depan An Angel mengurungkan niatnya.


"Apa Dian ikut Je ke Bali?" Tanya Bela dengan cepat karena panik dan perasaan khawatir menjadi satu. "Bisa Mama minta nomernya?, jika bisa secepatnya?. Atau mungkin kalian mempunyai nomer siapapun yang bisa dihubungi disana?."


"Mama tenang dulu" ucap Aslan lembut, "ada apa?, kenapa Ma?."


Terdengar helaan nafas Bela disebrang.


Kening Regan mengerut menatap Aslan, sedangkan Aslan menaukkan kedua bahunya juga tidak mebgerti apa yang terjadi sebenarnya.


"Mama barusan video call dnegan Danil, tiba-tiba Danil menjerit memanggil Ayah. Lalu ... Lalu Mama gak tahu apa yang terjadi disana, Javir ditelephone gak diangkat, nomer Danil juga gak aktif lagi."


Tatapan mata dan raut wajah Aslan dan Regan berubah seketika.


"Mama tenang, Aslan dan Regan kebali sekarang."


^-^

__ADS_1


__ADS_2