
Apa kalian tahu bagaimana rasanya kebahagiaan yang membuncah?
Itu yang dirasakan Javir hari ini.
Sejak kejadian Danil menghilang dan berakhir berada di An Angel, anak itu sudah berani berpendapat atau mengutarakan keinginannya pada Javir, bahkan diantara anak iti dan Gea seakan tidak ada lagi batas.
Danil tidak segan-segan telefonan dengan Gea, pulang dari sekolah ke An Angel. Dan terkadang Danil juga meminta Javir untuk diantar kerumah keluarga Ganendra untuk mengerjakan Pekerjaan Rumah yang diberikan gurunya bersama dengan Bilqis, Chaka dan terkadang ada Gea disana.
Dan hal yang paling membahagiakan bagi Javir saat mereka berjalan-jalan bersama disaat week end, tetapi disetiap kebahagiaan pasti ada sesuatu yang menyedihkan ....
Bilqis dan Chaka selalu saja ikut kemanapun mereka bertiga pergi.
Gea pasti akan dimonopoli oleh Chaka dan Danil, sedangkan si cerewet Bilqis tidak membiarkannya meninggalkan gadis kecil itu.
Malam semakin larut, Javir memutuskan untuk memaksa ketiga anak itu pulang karena besok mereka harus sekolah yang ditolak mentah-mentah oleh si kembar. Tetapi disaat Gea yang memintanya ... Merek malah seperti bebek begitu gampang digiring oleh pemiliknya.
"Sepertinya sudah ada yang begitu siap menjadi seorang ibu."
Kepala Javir langsung berputar sembilan puluh derajat mendengar suara yang tidak asing untuknya.
Sebastian berdiri disana, tepat dibelakang Gea bersama seseorang yang juga dia kenal.
"Ibu!"
Danil berlari menghampiri Liza dan memeluknya.
Kening Jabir mengerut melihat Sebastia yang bersama Liza, saat melirik pada Gea ternyata Gea juga menatap keheranan pada mereka berdua.
Terasa tangannya ada yang menggenggam sehingga Javir menunduk dan menemukan Bilqis sedang menggenggam tangannya dan Chaka menggenggam tangan Gea.
Tatapan Bilqis menatap tidak suka pada Sebastian.
"Lagi-lagi ketemu Om" ucap Bilqis dengan judes.
"Dan kali ini bawa Ibu Danil disaat yang tidak tepat" sambung Chaka dengan nada dinginnya.
Sebelah alis JaVir terangkat mendengar perkataan mereka berdua.
Apa sebenarnya mereka mengenal Sebastian?.
Kenapa terasa ada yang aneh disini?.
"Apa kalian megenal dia?" Tanya Gea pada Bilqis dan Chaka menatap mereka bergantian.
Kepala Chaka mengangguk sekali.
Sedangkan Bilqis malah mendenges kesal.
"Enil cari Ibu dirumah kita, tetapi kata Bu Inah Ibu sudah pergi"
Suara Danil menarik perhatian Javir.
"Terima kasih Om sudah mau mempertemukan Danil sama Ibu Danil" icap Danil dengan riang pada Sebastian yang tersenyum padanya.
"Sama-sama" balas Sebastian.
Sebelah tangan Javir yang tidak digenggam Bilqis mengepal menatap Liza yang ternyata sejak tadi menatap kearahnya.
Tatapan mata mereka saling bertautan, tatapan mata Javir yang terkesan tajam, dingin dan menahan amarah membuat Liza menundukkan kepala dan melepaskan belitan tangan Danil di pinggangnya.
"Gak tahu kenapa ternyata Ibu Danil adalah salah satu karyawan gue, jadi gue ma ..."
"Loe tahu apa yang loe lakuin?" Tanya Javir dengan suara rendah seakan mendesis menatap Liza dengan tajam.
"Gue .. Gue gak ta ..."
"Danil ikut Ayah atau Ibu"
Javir tidak menghiraukan perkataan Liza, dia menatap Danil dengan tatapan yang berbanding terbalik dengan tatapannya pada Liza barusan.
Danil mendongakkan kepala menatap Liza yang menatapnya penuh peringatan lalu beralih pada Javir.
"Danil hanya ingin ketemu dengan Ibunya kok Bang" ucap Bilqis, melepas genggamannya dari tangan Javir dan menghampiri Danil. "Danil hanya ingin ketemu tetapi tidak mau ikut dengan Ibunya, dia tetap akan tinggal dengan Abang Je dan kita."
Mata Danil menatap Biqlis sendu sebelum berjalan menjauh dari Liza dan menggenggam tangan Javir.
Tangan Javir mengelus rambut Danil lembut lalu mengangkat wajahnya menatap Gea yang masih menatap Sebastian sekaan kebingungan dengan apa yang terjadi.
"An" panggil Javir, "bisa minta tolong bawa anak-anak ke mobil lebih dulu?" Pinta Javir.
Gea mengangguk pelan.
"Danil, Bilqis dan Chaka ikut Kak Gea ke mobil, Abang nabti nyusul" ucap Javir.
Tangan Gea menggepai tabgan Danil dan memberi isyarat pada Bilqis untuk mengikutinya.
Perlahan mereka menjauh, Javir menoleh menatap pada Sebastian dan Liza yang berdiri tepat didepannya masih menatap kearah Gea dan anak-anak.
__ADS_1
"Dia terlihat sangat ke ibuan" guemam Sebastian dengan mata berbinar masih menatap kearah Gea.
" Apa maksud dari semua ini?" Tanya Javir dengan dingin.
Sebastian tersenyum kecil lalu menoleh menatap Javir, saya tidak mengerti" ucap Sebastian dengan santainya.
Tangan Javir mengepal menatap Liza penuh ancaman menuntut sebuah penjelasan.
"Gue bener-bener gak tahu akan bertemu kalian disini" ucap Liza lirih, "dia ngajak gue untuk membantunya memberi sebua kejutan sama pacarnya, sebagai bawahan gue hanya ..."
"Gea pacar gue!" Potong Javir penuh peringantan menatap Sebastian tajam, "jangan mencoba memancing amarah gue Sebastian" ucap Javir penuh peringatan.
"Apa yang membuat loe marah?, karena gue membawa Liza untuk bertemu dengan anak loe, atau karena gue mengaku pada Liza kalau Gea pacar gue?."
Grap ...
Javir mencengkram kerah baju Sebastian dan mengangkatnya sehingga Sebastian menjinjitkan kaki.
"Ini peringatan dari gue selagi gue masih baik hati, jangan coba-coba memancing amarah gue apapun itu" desis Javir.
"Lagi pula Om kan sudah ditolak Kak Gea dan Ayah, apa masih kurang jelas ucapan Ayah malam itu?."
Kepala Javir menoleh kearah Bilqis yang berdiri tidak jauh dari Javir.
Buru-buru Javir melepas cengkraman tangannya dan melangkah mundur menjauh, dia tidak jngin Bilqis menyaksikan kekerasan.
Bilqis melipat kedua tangannya dan melangkah mendekati Javir, "dia beberpa kali menemui Danil seelum Danil mengilang" lapor Bilqis pada Javir.
Tatapan mata Javir kembali menatap Sebastian dengan tajam.
"Beberapa kali mencoba mendekati Bi dan Aka tetapi tidak kami hiraukan" ucap Bilqis ketus, "lalu beralih mendekati Danil entah apa yang dia katakan."
"Hei ... Kakak tidak mengatakan apapun Bilqis" icap Sebastian dengan lembut.
Bilqis berdecak malas, "kalau Om tidak mengatakan apapun kenapa Danil bisa menghilang waktu itu?."
"Loe bilang apa sama anak gue?" Desis Javir.
"Danil menghilang?" Tanya Liza dengan nada tak percaya menatap Javir.
Javir menoleh pada Liza, "beberapa hari lalu dia mengjolang, dia mencari loe kerumahbkalian dulu lalu pergi menemui Gea di cafenya. Dan sepertinya semua karena atasan loe ini" ucap Javir mulai tenang.
"Gue hanya bertanya apa dia rindu Ibunya atau tidak?, mana tahu gue dia akan ngilang. Lagi pula gue juga janji mau mempertemukan dia dengan Ibunya" Sebastian mencoba membela diri.
"Dengan harapan Danil akan memilih Liza dan kembali tinggal dengan dia?" Tebak Javir.
"Gue gak ngerti dengan jalan otak loe" ucap Javir, "dan gue gak mau tahu. Dan loe Liza" kali ini Javir mebatap Liza tajam. "Gue gak akan maksa Danil untuk tinggal dengan gue, kalau loe muncul lagi dan dia mau tinggal dengan loe, gue angkat tangan sepenuhnya."
Javir menggapai tangan Bilqis dan pergi dari sana.
Dia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Sebastian, bukankah jika Danil memilih kembali pada Liza akan membuka peluang besar untuknya bersama Gea, lalu kenapa dia melakukannya.
"Dia pasti mau mengambil perhatian Kak Gea" ucap Bilqis tiba-tiba.
"Maksudnya?" Tanya Javir menunduk menatap Bilqis tidak mengerti
"Beberapa hari lagi dia pasti akan menemui Kak An dan mengatakan jika dia memang berniat mempertemukan Danil da Ibunya agar Danil kembali lagi pada Ibunya, sehingga Kak An bisa dengan Abang, dan pasti akan mengatakan cinta itu tidka haris memiliki, gue akan bahagia kalau ngeliat loe bahagaia."
Javir ternganga mebdengar penuturan Bilqis, "oh ya?."
Kepala Bilqis mengangguk cepat, "karena dia juga memintaku bekerja sama untuk mempertemukan Danil dan Ibunya."
Langkah Jabir langaung terhenti, dia menahan Bilqis yang akan terus melangkah sehingga Bilqis juga mebghentikan labgkah kakinya dan berbalik badan mebghadapnya.
"Kamu kai tanganny?" Tanya Javir.
"Tidak juga" ucap Bilqis malas, "aku membuat negosiasi dengan Danil, aku akan membantunya bertemu dengan Ibunya tetapi dia harus membantuku mengerjakan setiap PRku. Sedangkan dengan Om itu aku memintanya membelikan sesuati agar mau ikut kerja sama mempertemuakan Danil dan Ibunya."
"Kenapa kamu sudah bisa berfikir licik?."
"Bukan licik Abang ..." keluah Bilqis, "tetapi Bi hanya melakukan seperti patah patah itu ..."
"Apanya yang patah-patah?."
"Itu ... Yang satu kali dayung sampai di dua pulau."
Javir menepuk jidatnya lemas, "satu kali dayung dua pulau terlampaui."
"Ya pokoknya patah-patah itu."
Ya Tuhan ...
Ingin rasanya Javir berteriak meluapkan pa yang dia rasakan didadanya.
Baru saja dia dikejutkan dengan kehadiran Liza, kali ini kepalanya serasa mau pecah dengan apa yang ada di otak kecil Bilqis.
Otak gen keluarga Ganendra benar-benar menakutkan.
__ADS_1
"Sungguh mengejutkan Danil malah mendengar ucapanku memilih tinggal dengan kita, dia dia menyukaiku Bang?."
Lalu apa yang bisa Javir jawab saudara-saudara?.
^-^
Mobil yang dikendarai Javir memasuki pekarangan rumah keluarga Ganendra, terlihat beberapa mobil yang dikenalnya terparkir disana.
"Itu mobil Ar, As sama Al kan?"
Ya ... Itu mobil mereka bertiga.
Javir menganggukkan kepalanya membenarkan.
Baru saja Javir mematikan mesin mobilnya, Art keluarga Ganendra menghampiri mobilnya dnegan langkah tergepoh-gepoh.
Javir keluar dadi mobil menatap mereka demgan kening mengerut.
"Bang Je suruh langsung keruangan kerja Bapak" ucapnya.
Kening Javir mengerut mendengarnya.
"Sepertinya ada sesuatu yang penting" ucap Gea membuat Javir menoleh, "Ayah tidak mungkin mengumpulkan kalian malam-malam."
Javir menghela nafas.
Dengan berat hati dia melangkah memasuki rumah, Abra memang tidak akan mengumpulkan mereka malam-malam, secara dia tahu jika hari minggu adalah hari libur mereka dari segala hal.
Tampa mengetuk pintu Javir membuka pintu ruangbkerja Abra dan melangkah masuk.
Keningnya mengerut saat melihat Malvin juga berada disana, bersama ketiga temannya dan Abra.
"Papa juga disini?, ini ada apa?" Tanya Javir keheranan.
"Kalian berempat akan berangkat malam ini juga untuk membantu Enzo mengatasi para mantan anggota Romanov" ucap Abra dengan tegas.
Berangkat ...
Enzo ...
Berarti malam ini juga dia harus berangkat keluar negeri?
Kepala Javir menatap ketiga temannya yang sepertinya juga terkejut dengan apa yang mereka dengar barusan.
"Semua pekerjaan kalian sudah ada yang menggantikaan" ucap Malvin, "apa ada diantara kalian yang ..."
"Keberatan" ucap Javir dengan lantang sambil mengangkat sebelah tangannya.
Semua orang yang berada disana mengerutkan kening menatap kearah Javir.
Javir menghela nafas, "Je baru datang dari Bali dan harus kembali pergi lagi?. Come on ... Je baru mau memperbaiki hubungan dengan Gea Yah, Pak."
"Lalu?" Tanya Abra dengan nada dingin dan tatapan tajamnya.
"Tidak bisakah ..."
"Tidak bisa!" potong Abra tegas.
Bahu Javir langaung merosot.
"Papa dan Ayah bisa saja pergi Je" ucap Malvin, "tapi apa kalian siap untuk menghendel dua perusahaan raksasa itu?."
Javir menatap ketiga temannya seakan meminta bantuan dukungan dari mereka bertiga.
"Kita berangkat sekarang kan Yah?" Tanya Regan seakan memastikan sekali lagi.
"As siap-siap dulu"
Aslan bahkan berdiri dari duduknya dnegan penuh semangat
"Hei ..." seru Javir pada Regan dan Aslan, "apa kalian juga gak mengerti gue?."
Regan dan Aslan saling tatapan dan tersenyum lebar, menatap Javir dengan tatapan amta berbinar mereka membuat Javir begidik.
"Belda sama Zia ada dinegara gue"
Tiba-tiba Alaric berdiri dan berjalan menghampiri Javir, "jadi jangan berharap mereka mau mendukung loe."
Puk puk puk ..
Alarik menepuk pundaknya sebelum melangkah pergi keluar ruang kerja Abra.
Disusuk Aslan dan Regan yang melangkah riang membuat Javir semakin lemas.
"Pagi yang membahagiakan, sore yang menggembirakan dan kenapa malam malah mengejutkan?" keluhnya.
^-^
__ADS_1