Watching You

Watching You
Kita Kapan


__ADS_3

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral.


Suasana akan menjadi tenang dan damai pada saat acara berlangsung.


Tetapi ...


Pada saat pernikahan Regan dan Belda semua seketika berubah, Regan yang gugup dan terus menerus diomeli Gea karena kantong matanya membuat Javir dan yang lainnya tertawa ngakak mengiringi Regan masuk kedalam rumah Belda.


Regan berjalan diiringi dengan Ara dan Abra dikanan dan kirinya, dibelakang ada Bilqis dan Chaka tepat didepan Javir dan Gea yang berjalan beriringan.


Dibelakang Javir dan Gea ada Aslan dan Zia, lalu Alaric dan Yesi baru Mela dan Resa.


"Kalau sampe dia gagal gue tabok dia depan orang" gerutu Gea.


Javir yang berdiri disampingnya tertawa kecil, meraih tangan Gea dan menggenggamnya mencoba menenangkan perempuan itu.


Terasa Gea balas menggenggam tangannya cukup erat, membuat Javir menoleh menatap kearahnya tidak percaya, dia pikir Gea masih marah padanya.


Senyum Gea mengembang sambil melirik Javir membuat Javir semakin bahagia melihatnya.


Regan duduk didepan penghulu, sedangkan para pengiringnya duduk di kursi yang telah disediakan. Perempuan dan laki-laki berpisah, tetapi tatapan mata Javir terus saja tertuju pada Gea.


Tepat saat Regan mengucapkan ijab qobol, mata mereka bertautan cukup lama hibgga Gea yang pertama kali memutuskan tautan mata mereka dan berdiri hendak menjemput Belda dilantai atas.


"Bentar lagi diantara kalian siapa yang nyusul?" Tanya Sean.


Mengerti jika pertanyaan itu untuk Aslan, Alaric dan dirinya, Javir tersenyum lebar penuh percaya diri.


Tangan Aslan menutup wajah Javir, "jangan kepedean nanti jatuh" ejeknya.


Javir kesal menepis tangan Aslan, "loe jangan ngomon sembarangan dong, do'a kek gue ..."


"Loe yang tertua, tapi loe udah kalah start sama yang termuda diantara kita" kali ini giliran Alaric yang mengejeknya.


"Gue pastj nyusul secepatnya" ucap Jabir dengan percaya diri.


Alaric dan Aslan dengan bersamaan malah menghela nafas dan menggelengkan kepala dengan kompak.


Javir yang kesal sudah tidak tahan dengan ledekan keduanya, berdiri dan memilih pergi dari sana.


Baru saja beberapa langkah kakinya seketika sangat berat untuk kembali melangkah saat melihat Gea berjalan didekat Belda yang berjalan menju kearannya hendak menghampiri Regan yang masih duduk didepan penghulu dan Pak Damar.


Belda berjalan perlahan melewati Javir, saat Gea hendak melewatinya, tangan Javir menggenggam tangan Gea erat menghentikan wanita itu agar berdiri di sampingnya.


Kepala Gea mendongak menatap Javir yang menatapnya begitu dalam.


"Kita kapan?" Tanya Javir lembut, "kata Al gue yang tertua tetapi malah keduluan Ar yang termuda" Javir mengatakannya tetap dengan mata menatap Gea.


Gea tertawa kecil, menautkan jemari mereka berdua. "Punya modal berapa?, gue mau lebih mewah dari ini" ucap Gea lirih.


Mata Javir terbelalak, dia tidak menyangka dengan apa yang dia dengar.


Gea mengangkat tangan kirinya sambil berkata "mau yang baru dan pesta pastinya."


Lagi-lagi Javir terkejut melihat cincin pilihan Gea untuk pertunangan mereka sepuluh tahun lalu melingkar di jari Gea.


"Masih ingetkan impian pesta pertunangan dan nikahan gue?" Tanya Gea.


Penglihatan Javir mengabur ...


Begitu cepat hingga Gea oleng, Javir menarik Gea dalam pelukannya dan memeluknya erat.


Air mata Javir tak terbendung, dia mencium puncak kepala Gea sebelum membenamkan wajahnya dipundak Gea.


"Je jangan kayak anak kecil deh" omel Gea.


"Biarin" ucap Javir lirih.


Gea tertawa kecil, membalas pelukan Javir dan menepuk-nepuk punggungnya pelan. "Loe nangis karena di ejek Al sama As?, jangan ..."


Kalimat Ge aterhenti kala Javir semakin mempererat pelukannya.


"Gue udah biasa dengerin ocehan mereka, gue nangis karena gue bahagia gak nyangka akhirnya kita bebtar lagi nikah."

__ADS_1


Ge ngakak melepas pelukan Javir, "siapa yang bilang langsung nikah, loe harus ngelamar gue, lalu tuna ..."


"Terserah" Javir kembali memeluk Gea, "yang penting gue udah berhasil buat loe mau nikah. Tinggal gimana caranya mempercepat semuanya, karena Ayah pasti buat gue muter-muter."


^-^


Dari rumah Belda semua pergi menuju hotel Raja, karena malam akan ada acara resepsi pernikahan Regan dan Belda akan di gelar di Ballroom hotel mereka.


Dua pasang mata sejak tadi menatap Javir, pria itu tersenyum dan tampak bahagia sejak tadi membuat Aslan dan Alaric bingung sendiri, padahal saat berangkat kerumah Belda dia tampak cemberut, sedih bahkan terlihat bermuram durja.


"Ok semua siap"


Gea tiba-tiba masuk kekamar tempat ganti pria bersama dengan Bilqis, Ara dan juga Vera.


"Aduh ... Ini kenapa malah yang pria belum selesai" gerutu Ara sambil menghanpiri Abra den membantunya berpakaian.


"Laki-laki tampa perempuan kan kerjanya pasti gak kelar-kelar Bunda" Abra mencoba membela diri.


Aslan dan Alaric masih menatap Javir.


Mereka berdua bahkan saling lirih kala melihat Javir berjalan perlahan menghampiri Gea dengan dasi ditangannya.


"Belajar pasangin dasi calon suami" ucap Javir.


Tangannya menyodorkan dasi hitam pada Gea.


"An**r"


"Uwweeek ..."


Aslan dan Alaric langsung bergidik mendengar ucapak Javir pada Gea barusan.


Gea sendiri malah tertawa kecil, mengambil dasi dari tangan Javir dan membantunya memasangkan dasi itu.


"Calon istri apaan maksudnya?" Tanya Vera berdiri tepat disamping Javir.


Javir menyengir, menjulurkan tangan pada Vera hendak bersalaman "apa kabar Mami mertuan" sapanya.


Plak ...


Aslan dan Alaric langaungbtertawa ngakak melihat penolakan Vera pada Javir.


"Calon-calonan, ngadep ke Ayah sama Papi aja gak berani" sindir Ara.


"Bukannya gak berani Bunda" bantah Javir, "tapi An masih belum siap, tapi sekarang dia ..."


"Jangan banyak omong ayo cepet keluar"


Gea membungkam mulut Jabir dan memelototinya.


Tatapan mata Jabir berubah sendu.


Tangannya menggenggam tangan Gea tang menutupi mukutnya dan perlahan menurunkannya, dia menatap Gea dalam.


"Maksud dari perkataan kamu tadi apa kalau ..."


"Bisa tahu waktu kan?" Potong Gea dengan lembut.


Javir menghela nafas pasrah, "terus kita kapan?" cicitnya.


"Kapan-kapan tapi tidak untuk dua tiga bulan ini. Paham!."


Itu suara lantang, tegas dan tak terbantahkan dari seorang kepala keluarga Ganendra.


Kepala Javir menoleh pada Abra dan langsung lemas seketika, tatapan Abra yang tajam membuatnya semakin lemas dan pasrah.


Gea tertawa kecil merangkul lengan Javir dan menepuk bahunya pelan.


"Tapi Yah ..."


"Ayah tahu kamu udah kebelet nikah tapi pikirin dulu perasaan orang tua" potong Abra dengan suara berang.


Suasana seketika menegang.

__ADS_1


Aslan dan Alaric perlahan berjalan kepinggir mengerti dengan situasi yang tercipta saat ini, mereka berdua bahkan menatap Ara mengharap wanita itu akan mencairkan suasana.


Abra mengambil sepatunya dan membawanya keluar dari ruangan itu tampa mengatakan apapun lagi.


Semua yabg berada disana menghela nafas.


Perlahan Ara berjalan menghampiri Javir dan Gea, berdiri didepan merwka berdua dengan senyum lebar dibibirnya.


"Ayah bukan bermaksud mau menghalangi kalian" ucap Ara, "tetapi bagaimanapun ... Melepas seorang anak itu sulit. Terutama seorang putri yang selalu dia jaga dengan nyawanya" Ara menggenggam tangan Gea, "sejak melihat kamu dan Javir di akad Ar tadi, Ayah udah tahu keputusanmu."


"Dia juga sempat bicara masalah kalian sama Mami dan Papi dimobil tadi" ucap Vera mengelus kepala Gea, "jadi Je sekarang harus berusaha meyakinkan Ayahmu."


^-^


Ara menoleh kekanan dan kekiri mencari keberadaan Abra.


Sebentar lagi Regan dan Belda akan tiba, tetapi Abra belum juga muncul dan langgilan darinya tidak dia angkat.


Langkah kaki Ara terhenti saat melihat Abra duduk di kursi taman hotel.


Pria itu duduk sambil mendongakkan kepala menatap kepuncak bangunan hotel Raja Throne. Sesekali menghela nafas dan tersenyum kecil.


Ara perlahan menghampirinya, duduk berjongkok didepannya dan menyentuh kaki Abra membuat Abra terperanjat kaget.


"Kenapa sepatunya gak di pakek?" Tanya Ara lembut, "apa gak dingin?."


Tangan Ara mengambil kaos kaki Abra dan mulai memakaikannya di kaki Abra satu persatu dengan telaten.


"Sebentar lagi Gea nyusul Ar" ucap Abra lirih.


Ara hanya merespon dengan anggukan.


"Tapi sepertinya As juga berencana segera menyusul Ar"


"Sepertinya begitu."


"Kalau mereka nikah, rumah pasti akan semakin sepi karena mereka jarang pulang dan pasti akan sangat jarang mengunjungi kita"


"Mereka tidak akan seperti itu" bantah Ara lembut.


Ara duduk disebelah Abra dan ikut menatap bangunan yang menjulang tinggi didepannya.


"Selama ini, meski mereka punyah rumah sendiri mereka selalu menginap dirumah kita. Meski mereka menikah, mereka tetap akan ingat dimana rumah mereka." Ara menggenggam tangan Abra erat, "lagi pula, kerusuhan mereka tidak bisa mengalahkan celotehan Bilqis Yah."


Abra tertawa kecil mendengarnya, "dia tidak masuk kedalam daftar tukang rusuh Bunda."


Ara ikut tertawa kecil.


"Sepertinya dalam setahun kita harus melepas tiga anak kita sekaligus" ucap Abra sambil berdiri perlahan, dengan tangan menggenggam tangan Ara erat.


"Anak adalah tutipan Ayah, kapanpun kita harus siap untuk melepas mereka berumah tangga bukan?".


"Ah ... Tidak terasa kita semakin tua" keluh Abra.


Tidak jauh dari sana ada Gea yang berdiri mendengarkan percakapan mereka berdua.


Perlahan senyun Gea terukir dibibirnya.


Ayahnya bukannya tidak setuju atau menentang, tetapi dia belum siap untuk melepas anaknya.


Pernikahan Regan dan Belda memang terbilang cukup cepat dan tampa rencana sebelumnya, jadi Gea bisa maklum jika Ayahnya yang terbiasa dikelilingi anaknya masih keberatan melepas anaknya secara mendadak berturut-turut.


Gea melangkah keluar dari persembunyiannya, menghadang langkah Abra dan Ara yang hendak berjalan masuk kedalam hotel.


"Meski An menikah, An tetap anak Ayah" ucap Gea lirih.


Abra tersenyum mendengarnya.


Tangannya terulur mengelus rambut Gea, membuat Gea semakin berkaca-kaca dan menghambur kedalam pelukannya.


Dibanding dnegan Regan, Gea sejak bayi sudah bersama dengan Abra, bahkan Abra hang mengurus semuanya tampa bantuan Vira ibu kandungnya.


Ara bahkan dapat memahami, jika Abra lebih perhatian pada Gea dari pada Regan anak laki-laki mereka berdua.

__ADS_1


^-^


__ADS_2