Watching You

Watching You
Kekhawatiran Gea


__ADS_3

Udara yang dingin membuat Javir bergidik dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku mantel yang dia pakai.


Untung saja karena tidak ada penerbangan malam menuju negara ini, mereka ke negara Singapur dulu. Dan beruntungnya disana mereka masih sempat untuk membeli jaket karena tidak ada satupun diantara mereka yang membawa koper apa lagi baju ganti.


Sepuluh tahun lalu mereka pernah memparkan negara itu, bahkan tujuh tahun lalu mereka masih membuat kegaduhan dunia mafia gara-gara Regan menyelamatkan seorang putri mafia yang dikejar oleh musuhnya.


"Jangan ada yang memposting apapun disosial media" ucap Alaric kembali mengingatkan.


Sejak keberangkatan mereka dari Jakarta, Alaric sudah mewanti-wanti mereka semua untuk berhati-hati. Bukan karena Alaric yang berprofesi seorang artis, tetapi karena kedatangan mereka di negara ini pasti membuat goncang-ganjing dunia underground.


Siapa yang tidak mengenal Raja?, penerus Aase kaki tangan keluarga besar mafia klan Romanov di negeri ini.


Meski mereka berempat tidka berniat untuk melanjutkan jejak para orang tua mereka, tetapi entah kenapa pada akhirnya mereka malah dinobatkan sebagai penerus Aase.


"Enggak ... nanti Bunda bisa-bisa mengamuk kalau tahu kita semua kembali kenegara ini" sahut Regan.


"Gue juga gak mau Helen nyusul" timpal Aslan.


Javir malah merentangkan tangan dengan senyum lebarnya, padahal dia yang sangat menentang untuk pergi, tapi malah dia yang terlihat kesenangan.


"Gue mau cari cewek yang bisa diajak jalan dulu, lalu posting di sosmed biar Gea liat lalu kebakar" ucap Javir penuh dengan kesungguhan mengatakannya.


Seketika Regan, Aslan dan Alaric yang berjalan didepan Javir menghentikan langkah mereka bertiga secara serempak, menghadap Javir menatapnya dengan tatapan aneh.


Tidak mengerti dengan ketiga temannya yang menatap padanya, Javir mencoba memperhatikan penampilannya dari atas kebawah lalu menatap mereka bertiga bergantian satu persatu.


"Kenapa?" Tanyanya tidak mengerti, "emangnya ada yang salah sama gue?."


"Yakin loe ... Gea akan kebakar?" Tanya Aslan dengan nada datar tidak yakinnya.


"Kenapa loe Pede banget sih Je" cemoh Alaric.


Regan menghela nafas sambil berjalan menghampiri Javir, menepuk pundak Javir beberapa kali dengan pelan, "bangun bung jabgan ngayal terus ... Dia disana bahkan gak mungkin mikirin loe" ejek Regan dengan suara datarnya lalu kembali meneruskan langkah.


Aslan dan Alaric tertawa ngakak mendengarnya, membuat Javir kesal saja.


Regan mengelurkan ponsel putih miliknya, itu adalah ponsel andalan Regan yang sudah dia dan Javir modifikasi. Tidak akan ada siapapun yang bisa melacak keberadaannya atau menghack ponsep itu.


"Ponsel untuk gue mana yang udah loe modif?" Tanya Alaric yang berjalan disamping Regan.


"Ada di As" jawab Regan singkat.


Aslan mengeluarkan tiga ponsel dari tasnya, dan memberikannya pada Alaric dan Javir.


Regan menjulurkan ranselnya pada Aslan lalu berjalan kearah lain memisahkan diri dari mereka bertiga.


"Ar loe mau kemana?, mobil jemput Al ada disana" teriak Aslan.


"Gue masih mau mampir ke rumah sakit" ucap Regan balik berteriak.

__ADS_1


Tujuh tahun lalu saat Aslan, Javir dan Alaric sudah kembali ke Indonesia, hanya Regan yang masih menetap di negara ini demi menyelesaikan pendidikan kedokterannya.


Javir mengeluarkan ponsel miliknya yang selalu dia gunakan untuk memantau Gea, mengaktifkan suatu perangkat untuk melindungi ponsel itu dari para heacker sehingga dia tetap bisa leluasa memantau Gea.


Terilaht Gea duduk didepan tv dilantai tiga An Angel, menatap kearah tv dengan tajam dan wajah dinginnya.


^-^


Tampa mengatakan apapun Gea melangkah keluar dari mobilnya menuju lantai tiga tampa menghiraukan sapaan semua orang yang menyapanya.


Ponsel Javir tidak bisa dihubungi, bahkan milik Regan, Aslan dam Alaric juga bagitu. Dia tidak bisa menghubungi salah satu dari mereka.


Sampai dilantai tiga, Gea membuka gorden jendela sehingga ada cahaya yang masuk dan menerangi seisi ruangan sebelum dia duduk di sofa tepat didepan tv.


"Gue tahu loe denger" ucap Gea pelan, "meski gue merasa gila berbicara sendiri seperti ini, tapi ini jalan satu-satunya yang terlintas dalam otak gue agar gue bisa ngomong ama loe. Ponsel loe dan yang lainnnya gak bisa gue hubungi, jadi gak masalah kan gue ngomong begini?."


Gea menghela nafas sejenak sebelum duduk dengab tenanag dan bersandar pada sandaran sofa.


"Awal gue berfikir loe kesana karena lari dari masalah kita lagi, jagan salahkan gue berfikir begitu karena itu adalah hobi loe sejak dulu. Tapi disaat gue tahu loe dan mereka kesana karena mau bantu Om Enzo ..." kalimat Gea mengambang, perempuan itu menghela nafas dalam. "Entah kenapa gue merasa ketakutan dan berfikir negatif, please ... Jangan kembali menggila seperti dulu. Kembali kesini dengan selamat bersama mereka, inget ... Kali ini bukan hanya keluarga loe dan gue yang menunggu loe, tapi ada Danil."


Meski Gea tidak berada disamping mereka berempat, Gea mengetahui cerita panjang perjalanan Aase dan Raja di negara itu dari cerita Hana Mummy Alaric.


Dia bahkan berada disana saat dua kelompok mafia memburu mereka berempat karena Regan saat itu menyelamatkan nyawa seorang perempuan yang ternyata adalah salah satu putri dari mafia incaran mafia lain.


"Please Je ... Kalian harus kembali" ucapnya begitu lirihnya.


Tok tok tok ...


Gea menghela nafas menenangkan diri bebrapa saat sebelum berjalan dan membuka pintu lantai tiga.


Didepannya ada Yesi yang berdiri dengan senyum segaris, merentangkan tangan kearahnya tampa banyak bicara.


Perlahan Gea melangkahkan kakinya mendekati Yesi dan masuk kedalam pelukan Yesi.


Tangan Yesi menepuk-nepuk punggung Gea menenangkan sahabatnya itu, pelukan Gea semakin mengerat.


"Mereka pasti balik" ucap Yesi mencoba menenangkan, "Papa bilang mereka pasti kembali dengan selamat, jadi santai saja."


Tidak ada yang bisa mengetahui apa yang terjafi pada Gea kecuali Yesi. Selain temannya, Yesi adalah anak dari sahabat Ayahnya dan Sam adalah salah satu anggota Aase.


^-^


Jangan kalian tanya seberapa lebar senyum Javir saat ini.


Jangan kalian tanya seberapa bahagia Javir.


Bahkan jangan kalian tanya juga, bagaimana orang-orang menatap Javir yang sejak tadi tersenyum tertawa kecil tiba-tiba tampa sebab yang jelas.


Alaric yang berada disampingnya ingin rasanya memukul kepala Javir, tetapi menahan diri karena tidak mau tangan Mummynya malah memukul kepalanya gara-gara dia memukul Javir yang terlihat bodoh kali inj.

__ADS_1


Sejak tadi sudah beberapa kali tangan Aslan memukul pundak Javir mencoba menyadarkan Javir dari kegilaannya malah tidak berhasil.


"Tidak bisa kah kamu menyingkirkan wajah bodohmu itu?" Gerutu Enzo yang duduk disofa tidak jauh dari Javir.


Akhirnya ada juga orang yang menyuarakan isi kepalanya karena merasa terganggu dnegan sneyum lebar Javir.


Bukannya berhenti tersenyum, senyum Javir malah semakin lebar bahkan dia menyengir sehingga kedua mata menyipit.


Alaric berdecak kesal melihatnya, dia semakin kesal melihatnya.


"Gak bisa Dad, Je benar-benar tidak tahu gimana cara nahan diri dari perasaan bahagia yang membuncah ini" ucap Javir dengan nada mendrama tisir.


Tangan Alaric langaung menepuk jidatnya.


"Lo kesambet apa sih?" Tanya Aslan kesal, "Daddy gak pakai penjaga makhluk halus dipintu mension kan?" kali ini Aslan bertanya pada Enzo, "siapa tahu dia kesambut sebelum masuk kesini."


Kepala Enzo menggeleng, "orang-orang Romanov masih banyak, tidak harus memakai makhluk halus untu berjaga."


"Biarin aja" tiba-tiba Hana ikut nimbrung dalam pembicaraan mereka, "dia lagi mengekperesikan kebahagiaannya kenapa kalian yang repot."


"Iya Mam, mereka sebenarnya pada iri" sahut Javir.


"Iri gimana maksud loe?" Tanya Aslan dengan tidak terima, "gue gak iri liat loe gila. Malah gue amit-amit, sumpah."


"Alah ... Bo'ong" cibir Jabir, "kalian pasti iri karena gak ada yang mengkhawatirkan kalian kayak gue" ucap Javir cepat.


Semua menoleh pada Javir dengan kening mengerut.


Javir memeluk bantal sofa yang tadi Alaric lempar padanya, "Gea mengkhawatirkan gue" ucapnya lirih.


Mata Aslan menyipit tidak percaya.


"Jadi kalian salah kalau Gea gak mungkin mikirin gue, dia aja khawatir saat tahu kita kesini, dia minta gue untuk balik dengan selamat karena dia nungguin gue" jelas Javir dengan penuh percaya diri.


"Tau dari mana loe?."


"Dia yang ngomong"


Tangan Javir mengangkat ponselnya dan memperlihatkan layar ponselnya yang sedang memperlihatkan Gea yang duduk didepan tv.


Javir sudah memutar video itu berkali-kali sampai hafal setiap kalimat dan helaan nafas Gea disetiap kata yang diucapkan oleh Gea padanya.


Aslan mendengus, "mungkin Gea lagi kesambet."


"Dia gak sadar diri saat ngomong gituan" ucap Alaric asal.


Kali ini Javir yang melempar bantal di tangannya kearah Alaric dan menatap Aslan dengan tatapan tajam tidak suka.


Kedua temannya seakan tidak suka dengan kebahagiannya, padahal dia tidak pernah menghancurkan kebahagiaan mereka.

__ADS_1


"Kelian kenapa sih gak seneng banget ngeliat sahabat kalian bahagia begini" omel Javir kesal sebelum melangkah pergi dari sana.


^-^


__ADS_2