
Tangan Gea mencengkram ponsel ditangannya dengan erat, terus saja berjalan tidak menghiraukan permohonan Javir untuk tidak menemui Liza.
Hingga saat langkah Gea hampir mencapai pintu kamar inap Danil, Javir berdiri menghadang langkahnya.
"Loe gak mau dengerin kata-kata gue?" Tanya Javir menatap Gea dengan tatapan memelasnya.
Gea yang menatap kelain arah perlahan mengarahkan tatapannya pada Javir.
"Gue gak inget kapan gue melakukannya dengan dia" ucap Kavir dengan suara lirihnya, "meski dia sudah menceritakan panjang lebarpun gue gak pernah merasa pernah melakukan hal itu." Tangan Javir perulur penyentuh pipi Gea, "gue gak mau loe bertanya apapun itu sama dia karena nantinya loe akan tersakiti."
"Udah kok" ucap Gea lirih.
"An" Javir menggenggam tangan Gea, "kita tunggu tes DNAnya dulu, please. Loe udah janji akan selalu percaya sama gue, gue udah bilang bukan kalau apapin yang terjadi tujuan akhir gue hanya berahir di loe. Jadi gue gak mungkin ngelakuin itu, please ... percaya sama gue An, please."
Gea menghela nafas dan membalas genggaman tangan Javir.
Degup jantung Javir yang semula bergemuruh perlahan meredah, Javir mengangkat tangan Gea yang dia genggam dan menciumnya.
"Thanks " ucapnya sangat lirih.
Gea menarik tangannya dari genggaman tangan Javir dan menyerahkan ponsel Danil.
Belum juga mengatakan sesuatu, Yeai tiba-tiba keluar dari dalam kamar Danil sambil mengomel.
"Kurang ajar, untung anak loe gue jaha bukan berterima kasih malah marah-marah" omelnya menatap kedalam ruangan Danil.
Kening Gea mengerut mendengarnya.
Yesi berputar badan dan menghentikan omelan panjangnya setelah melihat Gea dan Javir disana
Tangan Yesi menunjuk keaeah ruang inap Danil, "boleh gak gue bubgkan mulut ularnya pakek pengepelan?" Tanya Yesi dengan kesal.
Gea terkekeh mendengarnya.
"Silahkan, gue akan ngilangin rekaman cctv kalau dia nuntuy loe" ucap Javir sekenanya.
"Dia Ibu anak loe Je."
"An" tegur Javir, "gue udah bilang ..."
"Ya" potong Gea sambil berjalan menjauh, "masuk duluan sana."
Javir menghela nafas, dia enggan masuk, tetapi lirikan mata Gea memaksanya untuk masuk terlebih dahulu.
Liza yang berada disisi Danil langsung berbalik badan, tatapan matanya berubah marah menatap Javir.
"Apa loe mau ngebunuh anak gue?" Tanya Liza dengan berang bahkan tidak perduli dengan Danil yang tersadar dan menatap kearah mereka.
Gea yang baru saja masuk kedalam ruangan Danil melihat Danil yang menatap keduanya dengan tatapan sedihnya.
"Gue udah bilang jika gue gak maksa loe buat tanggung jawab, tapi loe malah mau ngebunuh dia?."
"Gue gak pernah berfikir ke ..."
"Gue gak tahu loe sepicik ini" potong Liza masih dengan suara menggelegatnya.
"Liza!" Desis Javir penuh penekanan, "gue gak tahu jika dia alergi sesuatu. Seandainya dia bilang gue gak akan kasih dia ..."
"Loe mengalihakan kesalahan loe sama dia?" Tanya Liza, "dia masih kecil Javir."
"Tapi gue bener-bener gak tahu dan dia gak bilang apapun."
"Alasan loe aja!," bentak Liza, "dasar pria ..."
"Anda tidak seharusnya menuduh dia seperti itu" potong Gea tegas, dia sudah tidak tahan lagi dengan tuduhan Liza apada Javir.
Kepala Liza langsung menolehbkearah Gea, bahkan mata Liza menatap Gea memicing seakan mereka-reka Gea siapa.
Gea melepaskan rangkulannya dari legan Yesi dan melangkah mendekati Javir.
__ADS_1
"Siapa loe main ikut campur?" Tanya Liza menatap Gea dari atas kebawah.
"Kami benar-benar tidak tau jika Danil mempunyai alergi" ucao Gea.
Liza terdiam masih memperhatikan Gea.
Javir menghadap Gea menatapnya dalam meski Gea tidka membalas tatapan matanya.
"Oh ... loe perempuan di video itu" ucap Liza dengan nada suara yang tidak enak didengar telinga, "loe mau sekongkol dengan dia buat ngebunuh anak gue?."
"Liza!" Tegur Javir.
"Biar kalian bisa hidup tenang sampe nikah begitu?"
"Saya tidak pernah ..."
"Loe bisa ambil laki-laki bia*ap ini gue gak butih!"
Mata Gea menatap marah pada Liza.
Javir mendengus kesal, tangannya langsung menghalangi Gea yang hendak melangkah maju.
"Jangan salahin kak Angel Bu" ucap Danil lirih.
Liza berbalik badan menghadap Danil, dia melangkah cepat kearah Danil dan mengelus rambutnya.
Tatapan Danil mengarah pada Gea dan Jabir yang berdiri di tempatnya, dia tidak mengjiraukan Liza yang bertanya tentang keadaannya.
"Kamu dikasih apa sama mereka, bilang ke Ibu, gak usah takut" ucap Liza dengan paksa.
Danil mengalihkan perhatiannya pada Liza, menatapnya dengan takut. "Roti strowbery dan susu strowbery" cicit Danil.
"Apa?" Tanya Liza seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Liza berbalik badan kembali menghada Javir dan Gea, "beraninya kalian mem ..."
"Mereka gak salah" teriak Danil, "mereka gak tahu."
Tangannya menunjuk kearah Gea dan Javir, "kamu membela mereka hah!" Bentaknya.
Mata Danil langsung berkaca-kaca, "Ibu."
"Kamu berani membela mereka?, kamu ..."
Gea yang sudah tidak tahan menurunkan tangan Javir yang menghalanginya dan melangkah menghampiri Danil.
Bahkan Gea mendorong Liza menjauh dan mendekap Danil dalam pelukannya.
Mata Liza menatap berang pada Gea.
Tampa takut Gea membalas Liza dengan tatapan berangnya, "jangan pernah bertengkar didepan anak terlebih membentak mereka" desis Gea.
"Dia anak gue, loe gak punya hak untuk ikut campur."
"Gue memang gak punya hak" ucap Gea, kedua tangannya menutup telinga Danil. "Tapi gue gak tahan lihat perlakuan Ibu macam loe."
"Tersah gue mau melakuin dia seperti apa, gue Ibunya. Gue ..."
"Meski loe Ibunya, loe juga gak punya hak buat bentak dan mukul dia. Paham loe!" Bentak Gea.
Javir terkejut mendengar perkataan Gea barusan.
Bahkan Yesi yang berada disana juga terkejut mendengarnya.
"Tidak bisakah kalian berbicara pelan?"
Regan tiba-tiba muncul dan masuk melewati Yesi, Javir bahkan Liza, dengan tenang berjalan menghampiri Danil dan Gea.
Gea melepas pelukannya dan melangkah mundur memberi ruang untuk Regan memeriksa Danil.
__ADS_1
"Apa masih sesak?" Tanya Regan.
Kepala Danil menggeleng pelan.
"Jangan hiraukan mereka, anggap saja suara tawon yang sedang terbang nguwing ... ngwing ... nguwing ..."
Javir melongo mendengar perkatanyan Regan yang sangat amat absurd.
"Bub ..."
Yesi membekap mulutnya agar tidak tertawa ngakak.
^-^
Meski sednag menyetir, Javir tidak melepas genggaman tangannya yang sejak tadi menggenggam tangan Gea.
Mereka pulang menggunakan mobil Regan.
Karena Yesi dan Gea tidak satu arah, Javir bersikeras mau mengantar Gea kerumah keluarga Ganendra.
Meski mereka tidak menciptakan pwrcakapan sedikitpun, Javir merasa lega tidak tertekan seperti sebelumnya.
"Jika ..."
"Gak ada jika dalam urusan Danil dan Liza An" potong Javir.
"Kalau ..."
"Gak ada kalau juga, apa lagi seandainya."
Gea mendengus kesal menyentak tangannya lepas dari genggaman tangan Javir.
Tangan Javir kembali menggepai tangan Gea dan menggenggamnya erat.
Mobil yang mereka kendarai mulai emmasuki pekarangan rumah keluarga Ganendra.
"Apa loe gak bisa kasih gue kesempatan buat ngomong?" Tanya Gea kesal.
"Gak ada kalau loe mau bahas tenyang mereka" jawab Javir tegas.
Javir menghentikan mobilnya tepat didepan rumah, tidak langsung membuka pintu. Bahkan dia mengunci otomasit pintu disamping Gea.
Tangannya menarik tangan Gea meminta peremouan itu menghadapnya.
Dengan perlahan Gea menoleh kearah Javir yang menatapnya dengan tatapan dalam.
"Percaya sama gue An, pleas" pinta Javir.
"Je"
"Bahkan meaki Danil anak gue, gue gak bisa ..." kalimat Javir menggantung.
Tenggorokannya serasa tercekat tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Gue bersumpah loe tujuan terakhir gue."
Gea tersenyim segaris.
Javir menarik Gea dalam pelukannya, "jangan hanya tersenyum An. Katakan sesuatu, jangan hanya tersenyum dan diam."
Diam dan senyum Gea.
Dua hal yang menakutkan bagi Javir, lebih baik Gea memarahinya dari pada dia diam tidak mengatakan apapun.
Dulu ...
Sebelum Gea memutuskan untuk membatalkan rencana pertunangan mereka, Gea tidak membalas pesannya atau mengangkat panggilannya.
Selama Javir mengamati Gea sepuluh tahun terakhir ini, dia sadar jika diam Gea lebih menakitkan dari amarahnya.
__ADS_1
Diam Gea bukan berarti dia tidak pasrah dan tidak mau melakukan apapin, tetapi otak cantiknya pasti sedang berfikir.
^-^