
Eeegghh..
Annisa menggeliatkan tubuh nya, dan saat membuka mata nya dirinya terkejut saat melihat seseorang berbaring di samping nya.
Annisa pun lalu beranjak bangun, dan menelisik wajah yang sedang tertidur sangat pulas.
" Tumben tidur di kasur Sama saya."
Annisa pun beranjak bangun dari tempat tidur, dan dirinya pun membuka jendela kamar, dan menghirup segar udara pagi, dengan mendengarkan kicauan burung - burung.
" Tutup kembali jendela nya Annisa." Tegur Dimas sambil masih terpejam.
" Sudah pagi Bang, sekarang pukul 5.30 katanya mau pagi - pagi pulang, Abang ada Apel pagi yang pimpin Abang. "
" Masih Ngantuk, tadi malam nggak bisa tidur."
" Suruh siapa nggak tidur. "
" Gimana mau tidur, kamu menginggau sambil nangis."
Annisa lalu segera memandang wajahnya di depan cermin, dan terlihat mata nya sangat sembab.
" Apa benar setiap mata sembab saat tidur saya mengigau Sambil menangis."
*****
" Hati - hati di jalan kalian." Ucap Pak Ibrahim.
" Dimas akan hati - hati bawa menantu kesayangan kalian." Ucap Dimas.
" Alhamdulilah kalian 5 tahun masih bersama, walau awalnya Dimas nggak cinta, tapi sekarang kalian masih tetap bersama." Ucap Ibu Riana.
" Kan kita belajar Bund, untuk belajar saling mencintai." Ucap Annisa.
" Semoga bulan depan saat acara rutin seperti ini, kamu Sundah hamil."
" Doakan saja Bunda." Ucap Annisa tersenyum kecut.
Saat tengah mengemudikan motor nya Dimas menepi motor nya di pinggir jalan.
" Kenapa berhenti Bang? " Tanya Annisa.
Dimas pun turun dari motor nya, begitu pun kita Annisa.
" Kita proses besok berkas perceraian kita."
Annisa hanya diam dan memandang lelaki yang tengah berdiri tepat di depan nya.
" Apa Sudah siap untuk menceritakan semua nya Sama Bunda dan Ayah? " Tanya Annisa.
" Maaf kan Saya, selama ini kamu pasti sangat tertekan. Maaf kan saya, semua nya berawal dari saya." Jawab Dimas.
" Baik, Abang besok maju lah untuk mengajukan perceraian nya."
" Abang akan berikan besok berkas nya."
" Yasudah kita jalan lagi. " Ucap Annisa dan Dimas pun mengemudikan kembali motor nya.
*******
Setelah melaksanakan Apel, Dimas masuk kedalam ruangannya. Dan mendudukkan pantatnya pada kursinya.
Mata Dimas terpejam, dan mengingat apa yang terjadi pagi itu mengingat Annisa dalam tidur nya yang mengigau.
" Maaf kan Saya Annisa, maaf Saya tidak menyangka membuat kamu tambah tertekan seperti ini."
Tok.. Tok... Tok..
" Masuk. "
" Halo... sayang. "
" Halo... juga sayang. "
Siska memeluk tubuh Dimas dan mencium kedua pipinya, lantas duduk di pangkuan Dimas sambil mengalungkan kedua tangan nya.
" Yank, jangan seperti ini nanti ada yang masuk."
__ADS_1
" Biarin saja, mereka dan semua orang juga tahu kita dekat." Ucap Siska.
" Iya dekat tapi mereka nggak tahu kita ini pacaran."
Siska bangkit dari duduk di pangkuan Dimas dan beralih duduk di kursi tepat di meja kerja Dimas.
" Apa kamu masih takut ketahuan dari orang suruhan Ayah kamu? "
" Mereka hanya tahu rumah tangga Saya baik - baik saja, dan Saya Sama Annisa tidak bercerai."
" Kamu kenapa sih nggak dari dulu ceraikan dia secara hukum juga, Saya penasaran sosok Annisa yang di rahasiakan untuk publik di balik Polisi tampan anak bungsu Pak Bupati."
" Kamu tahu ini tidak mudah kamu ucap kan, ini semua juga gara - gara kamu, coba saat itu kamu menerima ajakan nikah, malah kamu tolak, dan Saya untuk menunggu 4 tahun, setelah ini kamu minta kita nikah kamu juga gantian menunggu saat yang tepat juga."
*******
" Maaf Bu. " Ucap Putri salah satu staf.
" Ada apa Bu Putri? " Tanya Annisa.
" Ini ada kiriman bunga untuk Ibu Camat." Jawab Putri.
" Dari siapa? " Tanya Annisa kembali saat melihat bucket Bunga di atas meja.
" Dari Pak Bowo."
" Hah.. Pak Bowo Kades Patra? "
" Benar Bu, tadi anak buahnya yang kirim bunga ini untuk Ibu Camat. "
" Terima kasih ya."
" Sama - Sama Bu."
Setelah Putri keluar, Annisa lalu membuang bunga tersebut di tempat Sampah.
" Ih... jadi ngeri Saya." Ucap Annisa sambil bergidik.
******
" Sayur nya bagus - bagus Pak, semua terawat dan nggak ada satu pun yang terkena hama." Ucap Annisa.
" Alhamdulilah Bu, kami setiap hari memantau kebun sayur milik swadaya Desa kami." Ucap Kepala Desa Martalaksana.
" Saya sangat bangga menjadi Camat Patra, dari beberapa Desa ada desanya yang memiliki hasil usaha sendiri, ada yang berternak dan Desa ini kebun sayur dimana hasil nya di jual di koperasi Desa."
" Tidak hanya itu Bu, untuk warga kurang mampu kami berikan secara gratis."
" Alhamdulilah Pak, berkah ya pak."
******
" Bu ada tamu?" Ucap Bi Asih.
" Siapa? "
" Pak Bowo."
" Hah.. Kades itu."
" Iya Bu, ada di teras sedang duduk."
Annisa lalu dengan malam menuju teras depan rumah, dimana terlihat Pak Bowo sedang duduk di kursi teras.
" Pak Bowo."
" Bu Annisa."
" Ada perlu apa ya Pak? "
" Hanya ingin berkunjung saja."
" Berkunjung, maaf ya pak soalnya Saya nggak terbiasa menerima tamu malam hari kecuali urusan dinas yang mendadak."
" Maaf bila membuat Annisa terganggu, mas kemari hanya ingin berkunjung sebagai pria dewasa."
" Pria dewasa maksud Pak Bowo apa ya? "
__ADS_1
" Panggil Saya Mas, mas Bowo."
" He.. Mas Bowo ya. "
" Saya menyukai kamu Annisa, Saya jatuh cinta Sama kamu."
" He... maaf ya Pak, maaf banget Bapak kan sudah punya istri. "
" Tenang saja, istri - istri Saya akan setuju kalau saya menikah lagi. Dan apalagi yang dinikahi saya seorang Camat cantik lagi."
" Hmmm.. maaf Pak saya sudah punya..."
" Maaf mengganggu." Tiba - tiba Dimas datang dengan secara tidak langsung menyelamatkan dirinya.
" Pak Babin, kita bisa ketemu disini ya kebetulan banget." Ucap Pak Bowo.
"Saya kebetulan patroli Sama teman, mampir sebentar kesini." Ucap Dimas.
" Maaf Pak Bowo Saya ada perlu Sama pak Dimas dulu."
Annisa berjalan menjauh dari Pak Bowo dan di ikuti oleh Dimas.
" Tolong Saya, dia malam - malam datang ngapelin saya."
Hahahahah..
Dimas tertawa dan dengan segera menutup mulutnya, dengan masih menahan tawa.
" Tolongin Saya cepat, bantu gimana kek."
" Selera janda kayak kamu terlalu tinggi."
" Ih... nyebelin tahu, Saya masih belum jadi janda secara hukum Saya masih istri kamu."
" Lantas Saya harus bilang Sama Pak Bowo kamu istri Saya, lantas dia bakalan percaya."
" ssstt nyebelin tahu, buru bantu saya."
" Iya. "
" Eh tunggu, Bang Dimas bisa langsung kemari kok bisa? "
" Mau tahu saat lewat depan kantor kecamatan, dari jauh saya lihat kamu sedang mengobrol Sama tuh Kepala Desa."
" Makasih."
" Sama - sama."
Dimas pun berjalan mendekati Pak Bowo yang masih setia duduk di kursi dengan aroma Perfume yang sangat menyengat hidung.
" Pak Bowo maaf, Saya ingin bersama Bapak mengecek warga Desa Patra yang melaksanakan Siskamling. " Ucap Dimas.
" Sekarang Pak? "Tanya Pak Bowo.
" Sekarang, kebetulan hari ini jadwalnya Desa Patra." Jawab Dimas.
" Baik saya pamit kalau begitu." Ucap Pak Bowo.
*******
" Bang, kita langsung menyerahkan berkas ini atau kita bertemu dulu sama Ayah dan Bunda?"
" Kalau kita bertemu sama Ayah dan Bunda, apakah reaksi mereka akan Marah?"
" Apalagi Bang kalau tahu sejak 5 tahun kita sudah cerai secara Agama."
" Jadi bagaimana? "
" Tanya sama Saya, Abang saat itu berfikir nggak kalau Abang menceraikan Saya setelah menikmati tubuh Saya, Abang ingat kan. Setelah kejadian itu Saya benci sama Abang, Saya bisa mencoba tetap komunikasi sama Abang hati Saya ini aslinya benci sama Abang."
" Maaf saat itu Saya kira kamu juga ikut dalam sandiwara nya Bunda."
" Jujur Bang, Saya saat itu nggak tahu apa - apa, hati Saya hancur dimana malam itu Abang merenggut paksa kesucian Saya, dan setelah itu Abang buang Saya seperti sampah."
" Maaf kan Abang, maaf..!! "
" Sudah 5 tahun, kata maaf terus yang Abang ucapkan, kalau di hitung sudah berjuta kata maaf."
__ADS_1