( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin

( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin
Takut Kehilangan


__ADS_3

" Dimas maaf kan Saya, tolong jangan penjarakan Saya. Surya tolong Saya, kamu Mau anak kita lahir di penjara, kamu Mau Ibu nya di penjara sama anak kita nanti."


" Untuk itu maaf Siska, Saya terpaksa akan ambil anak kita, Saya tidak ingin anak Saya tumbuh dengan wanita kejam seperti kamu, semua nya terlambat coba kalau kamu waktu itu menuruti apa kata Saya, mungkin tidak akan seperti ini." Ucap Surya.


" Tolong Saya sadar sekarang, Saya janji Mau menuruti apa kata kamu." Ucap Siska dengan berlinang air mata.


" Semudah itu kah, kamu sudah menghilangkan nyawa anak Saya, dan membuat istri Saya masih koma sampai sekarang. Bila terjadi sesuatu dengan istri Saya, tak segan - segan Saya minta suntik mati kamu." Ucap Dimas geram.


" Maaf kan Saya Dimas, Saya menyesal."


" Kamu menyesal, sedangkan status kamu masih istri Saya, walau kita memang baru hitungan jari melakukan hubungan suami istri, dan kamu berkali - kali dengan Surya hingga berlanjut kamu menikmatinya dan sampai hamil, apa otak kamu waras saat itu." Ucap Dimas.


" Kenapa saat itu Saya mabuk dan pergi ke night club karena Saya frustasi sama pernikahan kita, kamu hanya berikan sentuhan hangat pada Annisa, sedangkan Saya tidak, dan kamu bukanlah Dimas yang dulu, karena Annisa semua nya berubah." Ucap Siska geram.


" Kamu tahu kenapa Saya pilih Annisa, dia nggak seperti kamu, kamu matrealistis sosok Annisa di saat jatuh dia akan selalu ada sedangkan kamu di saat jatuh kamu akan lari, benar kan kenyataannya seperti itu." Ucap Dimas.


" Ta - tapi Saya bukan tipe seperti itu." Ucap Siska.


" Sudahlah Siska, benar kata Bunda kamu bukan yang terbaik."


" Siska, Saya minta kamu sadar dan bagaimana pun kamu Ibu dari anak Saya tapi anak kita maaf dia akan ikut Saya dan tak mungkin dia akan tumbuh sama kamu disini." Ucap Surya.


" Nggak Surya kamu nggak boleh ambil dia."


***


Hiks... hiks... hiks....


" Hey.. berisik kamu." Bentak teman satu sel Siska.


Namun Siska tak menghiraukan dan hanya menangis sesenggukan, hingga membuat teman yang menegurnya merasa sangat kesal.


" Kamu tuli ya, di bilang berisik jangan nangis terus." Bentak nya.


Siska mendongak ke atas melihat wanita teman satu sel nya sudah berkacak pinggang di depan nya.


" Maaf Saya sedang sedih."


Cuih


Wanita itu meludah di wajah Siska hingga membuat Siska kesal.


" Dasar cengeng, buat apa nangis kamu itu tetap penjahat ya penjahat buat apa di tangisi."


Siska pun berdiri dan menatap tajam ke arah wanita yang meludahinya.


" Kamu pikir siapa meludahi Saya hah.., kamu pikir Saya binatang." Ucap Siska mencengkram lengan wanita tersebut.


" Kamu berani sama Saya? " Ucap nya.


" Ya Saya tidak takut sama kamu." Ucap Siska.


" Kamu pikir siapa Saya hah.. " Ucap nya sambil menjambak rambut Siska.


" Kurang ajar." Siska pun menjambak rambut wanita tersebut, hingga perkelahian pun terjadi.

__ADS_1


" Brengsek kamu." Ucap Wanita tersebut.


Aaaaarrrrgg


Plaaaak


" Kamu yang brengsek." Ucap Siska.


Aaaarrrrrkkkhhh


Aaaarrrrrkkkhhh


Plaaaak


Aksi jambak menjambak terjadi, pukul memukul pun terjadi diantara mereka berdua.


Buuuuughhh


Aaaaarrrrgg


Siska memercing kesakitan saat wanita itu memukul perut Siska dengan sangat keras.


Aaarrrgghh


Hahaha hahaha


" Rasakan."


Buuuuggghhh


Siska pingsan dan tergeletak di lantai sel tahanan, dengan tiba - tiba darah yang keluar dari celah celana nya.


" Lihat dia keguguran." Teriak teman satu sel lain nya.


" Tolong....!!! "


" Tolong...!!!


Para sipir penjara berlarian saat mendengar suara minta tolong, dengan Sigap tubuh Siska mereka gotong.


******


Shakira dari balik kaca melihat mamah nya masih terbaring, dan hanya bunyi dari alat EKG, tangis Shakira tak henti yang melihat mamah nya masih memejamkan mata.


" Sayang, sudah jangan nangis terus." Ucap Dimas sambil mengusap air mata Shakira.


" Papah, apa mamah akan bangun?" Tanya Shakira.


" Pasti bangun sayang, mamah hanya masih betah di alam mimpi." Jawab Dimas.


" Papah, mamah nggak akan meninggal dunia kan? "


Dimas memeluk tubuh Shakira, ada setitik air mata jatuh.


" Kita berdoa sayang, semoga mamah cepat bangun."

__ADS_1


" Kalau Mamah bangun pasti sedih, adik bayi sudah pergi ke surga."


" Kita sama - sama kuat kan mamah sayang."


*****


" Bunda saya takut dengan kejiwaan Annisa kalau dia keguguran, saya takut Bunda dia menjadi stres."


Ibu Riana memeluk tubuh Dimas yang sedang duduk di sampingnya di depan ruang ICU.


" Kita harus pelan - pelan sayang beritahu Annisa, semoga dia kuat mendengar apa yang terjadi."


" Jujur Bunda Saya takut."


" Bunda juga sama sayang, semoga Annisa kuat."


******


Dimas masih terus setia menemani Annisa, setelah selesai Shalat Isya Dimas membaca ayat suci Al - Quran sambil tangan Kiri nya memegang tangan Annisa.


Dimas menitikkan air mata Saya membaca bait demi bait ayat suci Al - Quran, seperti mendengar suara Dimas mengaji Annisa menggerakkan jemarinya dan itu di rasa kan oleh Dimas.


Dimas pun menyudahi membaca Al - Quran, dan segera mendekati tubuh Annisa.


" Sayang, kamu dengar suara Abang." Bisik Dimas di telinga Annisa.


Jemari tangan itu mengeratkan genggaman tangan Dimas, dan senyum Dimas mengembang saat Annisa merespon nya namun dengan mata yang masih terpejam.


" Alhamdulillah sayang." Dimas mencium kening Annisa.


Mata Annisa membuka dan menatap ke arah Dimas yang sedang menatap wajahnya, dan seutas senyum Annisa terlihat saat suami nya berada di Sisi nya.


" Bang. "


" Iya sayang."


" Annisa nyenyak tidur nya, dan masih ingin tidur lagi."


" Apakah mimpi panjang kamu seolah tak ingin bangun kembali? "


" Mimpi yang sangat indah."


" Mimpi apa sayang kalau Abang boleh tahu?"


" Berlari di hamparan ilalang yang sangat luas, sambil membawa layang - layang terbang dengan seorang anak kecil laki - laki yang sangat menggemaskan. Dia terus tersenyum bahagia, dan terus memanggil mamah."


Mata Dimas berkaca - kaca saat mendengar cerita dari Annisa, dan terlihat wajah istri nya sangat berbinar saat menceritakan nya.


" Abang tahu, dia juga memanggil Papah tapi Abang nggak ada, dia menangis terus memanggil Papah tapi Abang tetap tak ada. Annisa coba gendong dia, tapi tak bisa Annisa gendong malah dia berlari sambil membawa layang - layang itu."


Hiks... hiks.. hiks..


Dimas tak kuasa menahan tangis nya, dan memeluk erat tubuh Annisa.


" Bang kandungan Annisa baik - baik saja kan, calon anak kita sehat kan Bang? "

__ADS_1


__ADS_2