( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin

( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin
Luka Yang Memberikan Tekanan Batin


__ADS_3

" Ibu mana ya, tadi perasaan sudah datang." Ucap Bi Asih mencari Annisa.


Aaaarrrgghh


Bi Asih mendengar suara erangan, dan mencari sumber suara tersebut, namun terdengar sumber suara tersebut berasal dari kamar Ibu Camat.


Aaarrrgh


" Bu, Ibu..!! " Bi Asih mencoba mengetuk pintu namun tak di buka dan semakin terdengar jelas hingga membuat Bi Asih semakin cemas.


Tok... Tok... Tok...


" Ibu, buka bu pintu nya. "


Tok... Tok... Tok...


Bi Asih pun keluar mencari pertolongan, dan melihat salah satu Anggota Pol PP sedang duduk di depan pos.


" Pak tolongin Ibu Camat. " Teriak Bi Asih panik.


" Kenapa Bi? " Tanya Anggota POL PP tersebut.


" Tolong Ibu Camat ada di dalam kamar di kunci, seperti nya terjadi sesuatu. " Ucap Bi Asih.


Anggota POL PP tersebut berlari kedalam mengikuti langkah Bi Asih yang cepat, saat sudah di depan pintu kamar Annisa, POL PP tersebut mendobrak pintu kamar Annisa.


Terlihat Annisa sedang meremas perut nya yang kesakitan.


" Ya Allah Ibu." Teriak Bi Asih.


" Ibu Annisa." Teriak POL PP tersebut.


" Pak cepat bawa ibu ke rumah sakit."


" Ya Bi cepat panggil Pak Djarot untuk mengemudikan Mobil Dinas."


" Baik Pak." Ucap Bi Asih yang lari keluar mencari Pak Djarot.


Bi Asih pun mencari Pak Djarot saat itu Pak Djarot sedang duduk dan dengan segera mengambil kunci Mobil dan membawa Annisa ke rumah sakit.


" Bi coba hubungi keluarga nya." Ucap Bani Anggota POL PP yang membantu menolong Ibu Annisa.


" Siapa ya Pak, Ibu nggak punya siapa - siapa." Ucap Bi Asih.


" Bani kamu hubungi Pak MP Eko dia hadir di Resepsi Pak Dimas sampai kan Saja untuk di sampai kan ke salah satu keluarga mantan suaminya." Ucap Pak Djarot.


" Baik Pak." Ucap Bani lalu dengan segera menghubungi Pak Eko.


*****


Keluarga besar Kantor kecamatan Patra Pun sedang menikmati jamuan hidangan Resepsi pernikahan Dimas dan Siska. Meraka pun melihat anak kecil yang masih setia duduk di kursi pengantin sedang kan kedua orang tuanya menyambut tamu undangan.

__ADS_1


Dreettt Dreeeettt


Pak Eko melihat ponsel nya yang bergetar, ternyata Bani yang menelepon.


" Assalamualaikum Bani." Sapa Pak Eko.


" Walaikumsalam, Pak tolong kasih tahu keluarga Ibu Camat kami akan bawa dia ke rumah sakit Daerah."


" Ibu Camat kenapa? "


" Kami tidak tahu, dia tergelatak di lantai sambil mengerang kesakitan."


" Baik, nanti Saya sampaikan."


Pak Eko pun menutup panggilan tersebut, lalu mengedarkan pandangannya, dan tidak mungkin untuk memberi tahu pada Dimas. Saat itu terlihat Ajudan Pak Ibrahim yang sedang mengobrol dengan seseorang, Pak Eko pun mendekati nya.


" Maaf permisi Pak Ali." Ucap Pak Eko.


" Iya gimana Pak? " Tanya Ali.


" Saya ada pesan bahwa Ibu Annisa masuk rumah sakit, sekarang dalam perjalanan ke rumah sakit." Jawab Pak Eko.


" Terima kasih Pak Informasinya." Ucap Ali.


Ali pun menyampaikan pesan tersebut pada kedua kakak Dimas yang kebetulan sedang mengobrol dengan Ali, dan Ali pun berbisik ke Pak Ibrahim.


Semua pun kaget, dan kedua kakak Dimas pun meninggal kan acara tersebut menuju ke rumah sakit. Dimas yang melihat nya bertanya pada Bunda nya.


Pak Ibrahim pun kemudian berbisik ke telinga Dimas, dan Dimas pun membulatkan matanya saat mengetahuinya.


" Ayah nggak sedang bercanda kan?" Bisik Dimas pelan.


" Annisa hamil anak kamu, Dito dan Sisil Saksinya, sekarang Annisa masuk rumah sakit."


" Annisa kenapa? "


" Ayah tidak tahu, setelah acara ini curilah waktu untuk kamu." Ucap Pak Ibrahim.


" Kita tunggu kabar dari mereka." Ucap Ibu Riana.


******


" Apa Dok, pasien mencoba menggugurkan kandungan nya? " Ucap Bagas dan membuat semua orang kaget.


" Benar, Pasien meminum obat penggugur kandungan, tapi jangan khawatir Ibu dan calon bayi nya selamat. Hanya kondisi pasien yang masih sangat lemah. Dan kondisi pasien pun mengalami stres berat hingga kondisi tekanan darahnya meningkat di harapkan untuk di buat nyaman kondisi pasien nya." Ucap Dokter yang menangani Annisa.


" Terima kasih Dok." Ucap Bagas.


" Semua gara - gara Dimas, Annisa harus menanggung beban berat." Ucap Dito mengepalkan kedua tangan nya.


" Kita harus paksa Dimas menikahi Annisa, mereka harus menikah." Ucap Bagas.

__ADS_1


******


" Pegalnya." Ucap Siska sambil memijat kakinya.


" Mau kemana Yank, sudah ganti pakaian? " Tanya Siska saat melihat Dimas sudah berganti pakaian.


" Ada urusan sebentar sama Ayah, kalau Mau istirahat duluan saja." Ucap Dimas sambil mengecup kening Siska dan pergi meninggal kan Siska di dalam kamar.


" Yank. " Panggil Siska yang tak di hiraukan oleh Dimas.


******


Dimas berlari menuju ke arah kamar rawat Annisa, setelah menanyakan pada Bagas kakak nya, dan saat memasuki kamar rawat terlihat Annisa masih memejamkan matanya, tatapan mata dari kedua kakak nya pun mengarahkan pada Dimas.


" Dimas kamu tahu Annisa kenapa masuk rumah sakit? " Ucap Dito sambil mencengkram bahu adik nya.


" Dia hamil anak Saya Bang." Ucap Dimas.


" Benar Hamil, kamu tahu apa yang dia lalukan, dia ingin gugurkan anak kalian, dan Dokter bilang apa coba, dia stress berat. Kamu harus tanggung jawab, buat Annisa bahagia."


" Saya akan menikahi nya."


" Cerai kan juga Siska."


" Nggak Bang, Saya nggak bisa ceraikan Siska begitu Saja dengan kabar ini pasti dia akan shok dan marah besar."


" Baik, sementara nikahi dia secara agama ke depan nya kamu urus rumah tangga kamu. Kami akan menjadi saksi pernikahan kalian. Ali tolong urus semuanya, mereka harus segera menikah dan tolong kamu hubungi orang terdekat Annisa untuk menjadi saksi pernikahan ini, dan jangan sampai bocor tentang pernikahan kalian." Ucap Dito.


Dimas pun mendekati Annisa, dan mengusap pelan wajah natural Annisa yang tampak pucat.


" Maaf kan Saya Annisa, Saya janji akan bahagia kan kamu dan di kehamilan kedua ini Saya akan selalu ada."


Annisa pun perlahan membuka matanya, dirinya melihat sekeliling putih, dan Dimas yang kini sedang menatap nya.


" Sayang kamu sudah sadar." Ucap Dimas.


Hiks... hiks... hiks...


Annisa pun tiba - tiba menangis, dan Dimas pun segera mengusap air matanya.


" Ssstt.. jangan nangis Abang ada disini, Abang sudah tahu semuanya."


" Maaf kan Saya, kehamilan ini Saya tidak Mau Bang, hiks.. hiks..saya tidak ingin selalu di anggap orang ketiga hiks... hiks...."


" Anak kita masih ada, Abang akan nikahi kamu dan dari dulu kamu bukan orang ketiga. Abang janji akan jadi kan kamu wanita satu - satu nya di hidup Abang." Ucap Dimas menggenggam erat tangan Annisa.


Hiks... hiks... hiks....


" Saya nggak mau anak ini Bang...!!! " Teriak Annisa sambil memukul - pukul perut nya.


" Hentikan Annisa, kamu bisa lukai anak kita." Bentak Dimas.

__ADS_1


" Saya nggak mau dia ini hidup, Saya nggak mau hidup sama Abang..!! "


__ADS_2