
Braakkk
Aaarrgghhh
" Kenapa sulit sekali hanya untuk menaruh berkas ini saja." Ucap Dimas sambil mengusap wajah nya dengan kasar.
Di ambilnya rokok mild yang selalu jadi andalan Dimas, di bakarnya rokok yang dia taruh di mulutnya dan dia isap dengan asap yang dia hembuskan ke sembarang.
Dimas memandang berkas pengajuan cerai nya yang berserakan di lantai, lalu dia matikan rokok tersebut dan memungut berkas tersebut yang berserakan di lantai.
" Kenapa hidup saya bisa terjebak hanya karena berkas perceraian yang masih tergeletak di rumah. "
********
Annisa menjatuhkan tubuh nya di atas tempat tidur, lantas memandang sebuah map yang berisi berkas pengajuan cerai nya.
" Kapan Saya bisa terlepas dari ini semua Ya Allah. "
Annisa lalu memandang sebuah photo kecil yang berada di samping vas bunga, photo seorang pria yang sama menggunakan seragam ASN yang menatap Annisa sambil membawa sebuah boneka dan cokelat favorite nya.
Lantas Annisa mengambil ponselnya, dan melakukan panggilan.
" Assalamualaikum Bang." Sapa Annisa.
******
Dimas menunggu di kursi tunggu Puskesmas saat jam Dinas selesai, terlihat dengan seragam Dokternya Siska melangkah mendekati Dimas.
" Tumben kesini? "
" Nggak boleh kalau Saya ajak kamu jalan."
" Bolehlah."
Dimas pun dengan motor nya membonceng Siska pergi ke salah satu rumah makan , saat setelah sampai Dimas dan Siska bertemu dengan Annisa yang sedang memilih makanan ala prasmanan.
" Ibu Camat." Sapa Siska.
" Ibu Dokter sama siapa? "
" Ini sama pacar saya." Ucap Siska sambil menarik tangan Dimas.
Annisa hanya tersenyum kecut pada Dimas yang tersenyum juga ke arah Annisa.
" Sendirian saja." Ucap Annisa sambil membawa piring.
" Bu Camat, kita gabung saja makan sama - sama." Ajak Siska.
Annisa menatap sekilas ke arah Dimas, dan Siska seakan ingin meminta jawaban.
" Terima kasih, Saya nggak mau jadi obat nyamuk." Ucap Annisa.
" Masa obat nyamuk, ya nggak lah. "
" Mungkin Ibu Annisa nggak enak Yank."
" Biasa saja Bu, jangan di anggap gimana gitu."
Mereka pun makan bersama di satu meja, dengan posisi Dimas yang duduk di tengah di apit kedua wanita yang dekat di hidup nya.
" Bu Annisa sudah punya pacar? " Tanya Siska.
" Sudah." Jawab Annisa.
__ADS_1
Uhuk.. uhuk.. uhuk..
" Yank, pelan - pelan dong makannya." Ucap Siska sambil memberikan air minum pada Dimas.
" Maaf keselek." Ucap Dimas.
" Pacar Saya Camat lagi." Ucap Annisa.
" Wah, calon suami istri Camat semua." Ucap Siska.
" Terus kapan nikah? "
" Setelah urusan semua nya selesai, dan kalian kapan menikah? "
" Entah lah, pacar Saya juga menunggu sesuatu yang harus di selesaikan."
*****
" Saya mau bicara sama kamu, sejak kapan kamu punya pacar? " Tanya Dimas saat Annisa berada di depan Toilet.
" Urusan Abang apa, Bang Dimas saja sama Siska." Jawab Annisa.
" Kamu mau cepat Bunda meninggal? "
" Bang, jangan egois dong. Abang yang akan buat Bunda cepat meninggal, Saya perempuan Bang butuh kepastian. Dan sampai kapan Saya harus menunggu sedang kan pacar Saya siap untuk menikahi Saya. Abang sendiri juga sama kan, siska sudah mengajak Abang menikah."
" Abang takut."
" Takut apa Bang, waktu Abang ceraikan Saya tidak takut kenapa sekarang takut. Tolong jangan siksa Saya, dan tolong kita harus putuskan Ikatan tali kita."
******
" Yank, Saya membayangkan Camat mana yang jadi pacar Annisa, Saya sudah membayangkan Annisa saja cantik, pasti calon suami nya juga tampan.'
" Maaf Yank, Saya juga kan ingin semua orang tahu kalau Saya adalah calon menantu dari Pak Bupati, lagian orang belum ada yang tahu tentang pernikahan kalian."
" Terus kamu ngapain bayangin mereka, kalau mau bayangin, bayangkan saja kita yang bersanding di pelaminan." Ucap Dimas menyambar rokok nya.
" Ih Yank, Saya nggak suka ya di depan Saya merokok nggak paham - paham. Dan terus kapan kamu maju ke pengadilan Agama?" Ucap Siska kesal sambil menyambar rokok nya.
******
Upacara bendera hari senin di rutinitas kan, upacara gabungan di Alun - Alun kecamatan. Dimana upacara bendera tersebut di pimpin langsung oleh Annisa.
Seluruh Kepala Desa , dan perwakilan jajarannya pun hadir, tak lupa Babinsa Desa Patra pun hadir.
Dimas memandang tak percaya, mantan istri nya sekarang berdiri di atas podium upacara bendera, dengan memberikan amanat pada peserta upacara bendera hari senin.
" Sudah cantik, pintar, single lagi. " Ucap Pak Bowo yang terdengar di telinga Dimas yang berdiri tidak jauh dari nya.
" Sudah punya calon." Bisik Kepala Desa dari Desa lain.
" Tak jadi kan istri Saya nanti nya, lihat saja nanti." Ucap Pak Bowo.
" Pede banget, kalau iya selera kamu di bawah Saya. " Guman Dimas dalam hati.
*****
" Pak Eko, nanti Bapak yang mewakili Saya rapat di Kantor BPD, soalnya Saya akan ada rapat di kabupaten."
" Baik Bu."
" Untuk SPJ nya bisa minta tolong sama Putri."
__ADS_1
"Siap bu."
Saat hendak akan memasuki Mobil nya, Dimas menghampiri Annisa.
" Mau kemana? "
" Rapat di Kabupaten."
" Rapat apa? "
" Seluruh Camat se kabupaten."
" Iya."
" Saya antar."
" Gila kamu Bang, ini urasan Dinas Ayah nggak akan fokus sama kita."
" Saya akan kesana, bagaimana Ayah tanya kamu datang dan pulang sendiri."
" Jangan keluar dari mobil."
*****
" Rumah yang kamu kontrak dulu kamu masih suka tinggal disana?" Tanya Dimas saat mengemudikan mobil milik Annisa.
" Kadang - kadang, malah sudah Saya beli."
" Maksudnya? "
" Pemiliknya minta Saya membelinya, karena terlilit hutang."
" Kamu kok nggak cerita sama saya."
" Ngapain cerita, suami saja bukan."
" Secara hukum Saya masih suami kamu."
" Secara Agama kita sudah tidak ada ikatan."
" Ya secara Agama kita bukan suami istri."
*******
Acara rapat dengan Bupati pun berjalan lancar, dimana setelah itu acara ramah tamah makan siang bersama.
Di sela - sela makan siang, Annisa mendekati Pak Ibrahim sambil memberikan piring berisi nasi dan lauknya.
" Ayah ini Annisa bawakan buat Ayah." Bisik Annisa pelan.
" Terima kasih, kamu kesini di antar sama Dimas kan? "
" Iya Ayah, mungkin ada di rumah Dinas sekarang. "
Annisa pun lalu beranjak pergi meninggal kan Pak Ibrahim, karena merasa tak enak untuk duduk di samping Pak Ibrahim yang tak semua orang tahu siapa dirinya.
Saat sedang menyapa sesama Camat Annisa di kejutkan seseorang yang memegang tangan Annisa, sadar akan ada yang memegang Annisa tersentak kaget namum kaget nya berubah menjadi sebuah senyuman mengembang.
" Abang..!! "
Dari jauh seseorang memperhatikan interaksi antara Annisa dan pria yang menggandeng tangan yang di sembunyikan di balik punggung pria tersebut.
" Nggak bisa di biarin ini."
__ADS_1