
Annisa pun sudah kembali dari rumah sakit, namun bukan kembali ke rumah Dinas melainkan ke rumah yang dulu saat menjadi pasangan suami istri.
Rumah yang dulu ingin Dimas jual, dia urungkan dan rumah ini tetap dia pertahankan.
" Kenapa kita pulang kesini? " Tanya Annisa.
" Kamu kan sebentar lagi akan jadi istri Saya, nanti malam kita menikah." Jawab Dimas.
Saat turun dari Mobil terlihat kedua kakak Dimas dan kedua kakak iparnya sudah berada di teras depan rumah nya.
" Annisa selamat datang kembali ke rumah ini, kamu akan menjadi bagian dari keluarga ini kembali." Ucap Meli.
Annisa hanya tersenyum kecut, dan menatap kakak - kakak Dimas menyambut nya dengan hangat.
" Baru kali ini ada pelakor yang di sambut sangat hangat oleh keluarga si pria." Ucap Annisa dan mendapatkan tatapan tak suka apa yang di katakan Annisa.
" Annisa kita masuk, kamu istirahat ya." Ucap Dimas yang langsung memapah Annisa masuk kedalam rumah nya.
" Semoga Saja Annisa bahagia." Ucap Sisil.
" Amin, memang ini pernikahan yang salah tapi suatu saat nanti Dimas harus bisa memilih." Ucap Dito.
Dimas membawa Annisa masuk kedalam kamar nya, kamar yang tak pernah sekali pun di tiduri berdua bersama Dimas. Annisa hanya memandang sinis photo pernikahan masa lalunya yang masih terpajang di dinding kamar.
" Nanti kita photo seperti pengantin lain nya, dan nanti kita photo pakai seragam kebanggan kita."
Annisa menatap ke arah Dimas, lalu memalingkan wajah nya kembali sambil menatap ke arah photo tersebut.
" Kenapa kita di pertemukan lagi, dan kenapa saat itu Bang Dimas nekad melakukannya sama saya."
" Karena Abang ingin memiliki kamu kembali, melepas mu adalah penyesalan seumur hidup."
" Tapi Abang kan hari itu memutuskan untuk menikahi Siska, Saya merasakan apa yang di rasa kan Siska."
" Siska tidak tulus mencinta Saya, dia hanya ambisi, dan selalu di ukur dengan materi. Saya salah telah mengucapkan dia tipe wanita idaman. Dan ternyata itu kamu wanita yang selama ini di harapkan, memang Siska Cinta pertama Abang, dia memang sudah membuat hati dan Mata tertutup oleh Cinta nya, tapi entah rasa nya begitu sangat berbeda, apalagi saat tahu wanita yang Abang ceraikan mempunyai anak dari saya." Ucap Dimas sambil mengusap perut Annisa.
" Maaf kan Abang kedua kali menikahi kamu dengan cara seperti ini, selama hidup kamu tak pernah bahagia, hingga kamu menjadi seperti ini. Abang janji akan jadi kan kamu wanita satu - satunya."
" Cinta itu yang dulu Saya rasa kan apakah baru bersambut saat ini di saat rasa itu telah pupus?"
__ADS_1
" Iya rasa itu ada dan Cinta kamu bersambut walau terlambat. Kini giliran kamu yang belajar kembali menerima saya."
*******
Pak Ibrahim dan Ibu Riana pun telah tiba di kediaman Dimas, tampak Ibu Wita pun telah hadir begitu pun Shakira yang dengan senang nya duduk di pangku oleh sang Papah.
Annisa pun keluar kamar bersama Meli dan Sisil dengan sangat cantik mengenakan kebaya putih pengantin, di tambah polesan yang soft membuat wajah wanita keturunan arab itu sangat cantik. Mata Dimas tak berhenti menatap saat wanita yang dicintainya kini akan kembali menjadi istri nya. Pak MP dan Pak Sekmat pun hadir menjadi Saksi pernikahan yang di rahasiakan ini.
Dimas yang hanya mengenakan kemeja warna putih dan peci hitam di kepalanya tak henti memandang wajah cantik calon istri nya.
" Kita akan sama - sama lagi sayang, kita mulai lembaran baru." Ucap Dimas sambil menggenggam tangan Annisa.
" Baik Pak Dimas apa sudah siap? " Ucap Pak Kyai yang akan menikah kan Dimas dan Annisa.
" Siap pak."
" Saya nikahkan engkau dengan Annisa Al Zahra Binti Al Habib Hasan dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
" Saya terima nikah dan kawinnya Annisa Al Zahra dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
Alhamdulilah
Dimas pun tersenyum, dan Annisa pun mencium punggung tangan suaminya yang kini resmi menjadi suaminya kembali secara agama.
Dimas mencium kening Annisa, rasa bahagia dia rasakan saat menikahi Annisa tidak saat menikahi Siska.
Acara pun berlanjut dengan syukuran kecil - kecil an, Annisa yang duduk sambil mengusap perut nya sendiri Dimas pun mendekati nya.
" Kenapa sayang perut nya sakit? "
" Nggak Bang, hanya ingin di usap Saja."
" Abang usap ya, atau mau di kamar? " Ucap Dimas sambil menaik turun kan alisnya.
" Apa aman Bang, kan Annisa baru Saja keluar dari rumah sakit? "
" Iya ya, jadi untuk malam ini nggak ada malam pertama." Ucap Dimas dengan wajah nampak kecewa.
" Annisa Mau tapi takut."
__ADS_1
" Kita pelan - pelan." Bisik Dimas.
Annisa menunduk Malu, wajahnya seketika memerah, Dimas pun sama mereka pun sama -sama tersenyum, senyuman pertama kali di antara kedua nya pun di mulai.
******
Tamu pun semua pulang, bahkan Shakira di ajak bersama dengan kedua kakek Nenek nya walau ada drama yang ingin Shakira malam ini tidur bersama kedua orang tua nya. Namun dengan segala bujuk rayu om dan Tante nya akhir nya luluh.
" Bang, Shakira kenapa harus di bawa dia kan ingin tidur sama kita."
" Sayang, mereka ingin kita nikmati malam ini bersama, besok juga Shakira tinggal sama kita. Sekali an semua barang - barang di rumah Dinas bawa kesini semua." Ucap Dimas sambil memeluk Annisa dari belakang.
" Bang, setelah ini Abang nggak akan tinggalin Annisa kan? "
Dimas mengeratkan pelukannya, dan mencium tengkuk leher Annisa.
" Abang tidak akan tinggalin kamu, tapi untuk saat ini biarkan Abang selesaikan masalah rumah tangga dengan Siska. Maaf untuk saat ini posisi kamu masih jadi yang kedua, tapi di hati kamu yang ada saat ini."
" Apakah Abang akan ceraikan Siska? "
" Iya Abang memilih kamu, Ibu dari anak - anak Abang."
Annisa memegang tangan Dimas yang melingkar di perut nya dengan memeluk dari belakang.
" Makasih Bang, makasih sudah menyambut Cinta Annisa. "
" Maaf Abang baru bisa balas sekarang, Abang akan bayar semuanya."
" Annisa mencintai Abang, walau Annisa tak sempurna cinta Annisa tulus sama Abang."
" Di Mata Abang kamu wanita yang sempurna."
Dimas mendekatkan wajahnya ke Annisa, menempelkan bibir nya dan mencium dengan lembut dan *******. Annisa yang tadinya diam kini membalas ciuman suaminya.
Dimas merebahkan tubuh Annisa, dan mengungkungnya dengan ciuman yang semakin lama semakin panas turun ke leher hingga meninggalkan jejak kepemilikan dan beralih tangan nya membuka kancing piyama Annisa satu persatu beralih bermain di sekitar dada.
" Bang." ucap Annisa pelan.
" Abang akan bermain pelan sayang, Abang akan hati - hati, terasa ingin meledak tak kuat kalau hanya bermain kecil."
__ADS_1