( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin

( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin
Sebuah Perhatian


__ADS_3

" Bu sudah waktu nya Upacara bendera, hari ini dari perwakilan Puskesmas, SD, SMP, SMA hingga kepala desa ikut melaksanakan Upacara." Ucap Pak Sekmat Eko.


" Rutin ya setiap hari senin, dan untuk minggu depan dari pendidikan perwakilan siswa nya 5 orang dan untuk pengibar bendera giliran Saja dari paskibra SMP dan SMA." Ucap Annisa.


" Baik Bu."


Namun Annisa tiba - tiba duduk kembali di kursinya sambil memijat kedua pelipisnya.


" Ibu Camat sakit? " Tanya Pak Sekmat Eko.


" Hanya pusing efek sedang hamil Pak." Jawab Annisa.


" Biar Saya yang jadi pembina Upacara hari ini."


" Nggak apa - apa Pak, nanti juga hilang pusing nya."


" Beneran Ibu kuat? "


" Kuat Pak tenang Saja."


Peserta Upacara pun telah berbaris di lapangan kantor kecamatan, Annisa pun berdiri menjadi pembina Upacara. Bendera pun telah di kibarkan terik matahari mengarah ke arah nya saat pagi ini yang sangat cerah hingga matahari pagi menerpa wajahnya.


Dari jauh Siska pun hadir, dia menatap dari jauh Annisa dan Suaminya pun tak jauh berdiri dari Siska.


Annisa pun memberikan amanat isi pesan dari Upacara hari senin. Senyum nya masih terlihat walau rasa kepala yang pusing dan mual.


" Sekian isi amanat dari Saya di Upacara pengibaran bendera merah Putin ini Saya ucapkan banyak terima kasih." Ucap Annisa dengan wajah yang terlihat sangat pucat dan sesekali memijat pelipisnya.


Dimas yang melihat nya sangat cemas terlihat sekali Annisa berpegangan pada salah satu tiang yang ada di samping nya dan berusaha untuk berdiri tegap.


" Kayaknya Annisa nggak beres, wajahnya pucat apa dia sakit." Ucap Siska dalam hati dan langsung menatap Dimas yang terlihat bersiaga dengan apa yang terjadi pada Annisa.


" Annisa seperti nya nggak baik - baik Saja." Ucap Dimas dalam hati.


Upacara pun di bubarkan, peserta Upacara pun kembali ke tempat nya masing - masing. Annisa berjalan dengan sedikit menahan rasa pusing Dimas berjalan mendekati namun Siska menahan Dimas.


" Mau kemana sayang, antar Saya kembali ke Puskesmas. "


Dimas menatap Annisa yang masih berjalan namun saat Dimas akan menemani Siska kembali ke Puskesmas terdengar suara orang berlarian dan saat melihat Annisa pingsan.


"Annisa." Dimas segera berlari tak pedulikan Siska.


" Hiiis cari perhatian Saja. " Ucap Siska kesal.


" Yank, bangun." semua Mata saling memandang dengan sebutan Dimas untuk Annisa dan dengan segera menggendong tubuhnya.


" Siska, tolong Annisa." Ucap Dimas cemas namun Siska menatap kesal terhadap Dimas yang menggendong Annisa yang tak sadarkan diri di bawa masuk ke dalam rumah Dinas.


Dimas membaringkan Annisa di atas tempat tidur dengan terpaksa Siska pun memeriksa kondisi Annisa.


" Bagaimana Annisa? " Tanya Dimas.


" Dia hanya capek, dan wajar dengan kondisi yang terjadi pada ibu hamil." Jawab Siska dengan wajah yang datar.

__ADS_1


" Alhamdulilah, saya takut terjadi kenapa - napa."


" Dasar manja."


" Dia nggak manja memang Kondisi nya sedang nggak enak, saya juga lihat tadi Annisa bagaimana."


" Pak ini teh manis hangat untuk ibu." Ucap Bi Asih sambil menyerahkan segelas teh manis hangat pada Dimas.


" Terima kasih Bi."


" Sama - Sama Pak." Ucap Bi Asih lalu pergi meninggalkan ketiganya di dalam kamar.


Saat Bi Asih menuju ke arah Dapur dari pintu belakang Sundah terdapat Pak Sekmat dan Pak MP tengah berdiri.


" Bi sini." Panggil Pak Sekmat Eko.


" Ada apa Pak? Tanya Bi Asih mendekat.


" Mereka bagaimana? " Tanya kembali Pak Sekmat Eko.


" Maksudnya Bapak sama Ibu." Jawab Bi Asih.


" Iya di dalam kondisi nya aman." Ucap Pak Sekmat Eko.


" Aman Pak, tapi terlihat wajah Ibu Dokter seperti marah begitu."


" Marah juga pantas suaminya panik plus khawatir sama Istri mudanya jadi cemburu." Ucap Pak MP Ahmad.


Sedangkan di dalam kamar Siska tampak kesal, Dimas yang terus menggenggam tangan Annisa sambil mengusap perut nya.


Annisa sedikit menggeliat sambil memegang pelipisnya.


" Sayang apa masih pusing?" Tanya Dimas panik.


Annisa menatap Dimas yang tampak panik sedangkan Siska yang menatap penuh kemarahan.


" Bang Annisa sudah nggak apa - apa hanya capek." Ucap Annisa.


" Abang antar pulang sekarang atau mau istirahat di disini dulu? "


" Istirahat disini saja dulu." Ucap Annisa.


" Eh Annisa kamu pingsan saya yang tolong kamu, dan ini nggak gratis loh." Ucap Siska.


" Terima kasih Siska kamu sudah menolong saya, dan saya akan bayar berapapun yang kamu minta."


" Siska kamu apaan sih." Ucap Dimas kesal.


" Hanya cukup membayar suami kita, hari ini dia ikut sama saya lagian kamu sudah sadar dan sudah baikan jadi sudah saat nya dia pergi."


" Siska saya ingin menemani Annisa disini, dia belum pulih kalau butuh sesuatu bagaimana jadi tolong kamu kembali ke Puskesmas dan saya di sini dulu."


" Nggak kamu harus antar saya ke Puskesmas."

__ADS_1


" Bang, Annisa nggak apa - apa dan ada Bi Asih jadi Bang Dimas antar Siska ke Puskesmas dan Bang Dimas harus Dinas, saya nggak mau pekerjaan kalian terganggu karena saya." Ucap Annisa.


" Tuh kan dia saya setuju, jadi kita pergi sekarang."


" Bang pergilah nanti kalau ada apa - apa saya hubungi Abang." Ucap Annisa.


" Kalau begitu Abang Dinas dulu, Abang pergi." Ucap Dimas mencium kening Annisa lalu pergi bersama dengan Siska.


****


" Saya nggak suka ya tadi kamu perlakukan dia seperti itu, apa lagi di depan anak buahnya."


" Dia kan istri Saya dan berhak memberikan perhatian sama dia."


" Pokoknya Saya nggak suka titik."


Dimas pun hanya diam dan tak ingin melanjutkan nya perdebatan dengan Siska.


******


" Bu makan dulu, Saya buatkan bubur untuk ibu." Ucap Bi Asih sambil menaruh mangkuk di atas nakas samping tempat tidur.


" Saya ingin rujak saja Bi, enak saya lihat bubur."


" Ibu lagi ngidam rujak."


" Iya Bi saya ingin rujak jambu air yang dari pohon di depan rumah Dinas kantor kecamatan."


" Baik Bu saya suruh orang dulu yang ambil."


" Makasih ya Bi."


Annisa pun lalu memeriksa ponselnya setelah Bi Asih pergi, lalu terlihat ada chat dari Dimas.


❤ My Suami


Mah, gimana masih pusing dan mual?


Annisa tersenyum saat membaca chat dari Dimas yang perhatian pada diri nya.


Me


Sudah nggak, sekarang lagi minta sama Bi Asih untuk bikin rujak Jambu Air.


Chat pun di balas kembali oleh Dimas, dan Annisa membaca dengan tersenyum.


❤ My Suami


Nanti Pulang nya bareng sama Abang, sekarang istirahat jangan mikiri pekerjaan.


Me


Mamah tunggu.

__ADS_1


Seutas senyuman di wajah Annisa sambil mengusap perut nya.


" Semoga saja kita ini ya nak menjadi sumber kebahagiaan Papah kamu, dan kita tetap bersama." Annisa kembali mengusap perutnya yang masih sedikit rata.


__ADS_2