
Annisa terus menangis, dan saat lembaran terakhir terdapat kembali tulisan yang membuat dadanya semakin sesak.
Teruntuk Annisa....
Annisa, terima kasih sudah Mau mengenal Saya, satu kata untuk kamu Saya bahagia bisa memiliki mu walau sesaat.
Annisa, Saya melepaskan kamu untuk selama - lama nya, semoga kamu bahagia bersama cinta pertama kamu, mungkin raga ini tak ada lagi di bumi saat kamu baca, Saya hanya berharap kamu kuat, kamu bisa hadapi semuanya.
Annisa, kubur lah dalam - dalam Kenangan kita, jangan kamu sesali atau kamu tangisi Saya. Allah lebih sayang Saya, dan Saya bahagia . Jangan pernah terlalu mengingat Saya, ada Dimas yang disamping kamu.
Dia pria baik, walau sering menyakiti kamu tapi percaya lah dia itu sangat sayang hanya karena keadaan saja.
Kubur lah Diary ini di tanah yang masih basah bersama raga yang terbaring di peristirahatan terakhir. Semua Diary yang kamu baca, cukup tahu semua isi hati Saya, dan dengan pergi nya Saya, terkuburnya juga Kenangan indah itu.
Jadilah seorang Pemimpin yang bijaksana, tidak diktator, kamu tunjuk kan bahwa kamu adalah Abdi Negara terbaik, Abdi Negara yang di cintai oleh Semua nya.
Saya bukan lah Abdi Negara terbaik, tapi Saya bangga bisa menjadi Abdi Negara hingga di detik - detik terakhir. Lanjutkan tugas mu, di balik seragam yang kamu pakai ada tanggung jawab yang harus kamu emban.
I love you Abdi Negara Pujaan hati.
Annisa menyeka air matanya, terlihat matahari sudah mulai gelap, Annisa mengambil tas nya dan berlari keluar.
" Mau kemana Yank? " Tanya Dimas saat diri nya bersama dengan Shakira.
" Saya ingin mengubur Diary ini di makam Arka." Jawab Annisa.
" Sudah hampir malam, besok lagi saja kamu juga sedang hamil jangan terlalu lelah."
" Saya harus kubur Diary ini hari ini juga."
" Abang temani kamu."
Annisa pun di antar Dimas menuju ke makam Arka dengan mengendarai mobilnya.
****
Dimas menggandeng tangan Annisa berjalan menuju makam Arka, wangi aroma bunga pun masih tercium di bantu Dimas menggali tanah yang tergunduk hingga 30 centimeter.
Annisa pun memasukan Diary tersebut di dalam tanah, beserta photo diri nya bersama Arka. Annisa pun menutup Diary tersebut hingga menutup.
__ADS_1
Air mata Annisa kembali berlinang Dimas mengusap punggung Annisa, kini tatapannya lurus ke depan di mata Annisa terlihat sosok Arka mengenakan pakaian putih berdiri sambil tersenyum.
" Bang makasih untuk semua Kenangan indah nya, terima kasih untuk cinta nya Abang, kini kita sudah sama - sama menguburnya. Selamat jalan Bang, doa Annisa akan selalu mengantar jalan Abang sampai ke tempat yang paling indah. "
Bayangan Arka di mata Annisa kian menghilang dan hanya wangi bunga yang diterpa angin, dan saat hendak berdiri tubuh Annisa pun tumbang di dekapan Dimas.
" Annisa...!! "
" Yank, bangun yank. " Dimas menepuk pipi Annisa, dan lalu menggendongnya menuju ke mobil.
****
Dimas merebahkan tubuh Annisa di atas tempat tidur, tubuh Annisa demam Dimas pun segera menghubungi Dokter langganan keluarga nya.
" Apakah kamu sangat begitu kehilangan Arka, Saya merasa bersalah dengan Almarhum Arka semasa hidup nya. Apakah saya merebut kamu dari nya, saat ini hati Saya penuh rasa bersalah." Ucap Dimas sambil membelai pipi Annisa yang terasa panas.
30 menit kemudian pun Dokter pun datang dan memeriksa kondisi Annisa, Dokter pun menyuntikkan obat pada selang infus yang.
" Bagaimana Om keadaan istri Saya? "
" Dia kelelahan dan stres, untuk kandungan nya Alhamdulilah sehat. Dan ingat istri kamu katanya punya riwayat kejiwaan saat ini jangan sampai kondisi nya nggak labil kalau sampai terjadi istri kamu terpaksa harus di tangani lebih intensif lagi. "
" Baik om semoga Annisa bisa mengendalikan dirinya dan Saya akan mencoba membuat dia nyaman."
" Baik Om terima kasih."
****
Annisa membuka matanya , saat terbangun melihat Dimas yang tengah tertidur di samping nya dengan memeluk.
Annisa membelai pipi Dimas, seutas senyuman terlihat di wajah Annisa saat memandang suaminya.
Merasa tidur nya terganggu Dimas membuka matanya, dan melihat istri nya tengah tersenyum pada nya.
" Sayang." Dimas langsung mengecek suhu tubuh Annisa yang sudah mulai menurun demam nya.
" Terima kasih Bang, sudah merawat Annisa."
" Kamu kan istri Abang, sudah kewajiban Abang merawat kamu."
__ADS_1
" Maaf kan Annisa kalau terlarut dalam kesedihan, Maaf mungkin membuat Abang cemburu."
" Abang memang cemburu tapi Abang sadar diri bagaimana kamu sama Arka, dia sudah banyak berjasa, justru Abang sangat malu."
" Bang jangan tinggalin Annisa ya, rasa nya sakit saat di tinggal oleh orang yang paling Annisa sayang. Cukup kehilangan Bang Arka, Annisa tidak Mau kehilangan Abang untuk selamanya."
" Kalau takdir untuk memisah kan kita, sebagai manusia bisa apa selain kita harus menerimanya. Cinta Abang sama kamu hanya maut yang memisah kan."
" Sampai mata ini tertutup."
" Sampai mata ini tertutup." Ucap Dimas mencium kening Annisa.
*****
" Maaf Bu mau bertemu sama siapa, jangan masuk begitu saja." Ucap Bi Murni saat Siska memasuki rumah Dimas dan Annisa tanpa salam.
" Mana suami Saya? " Tanya Siska sinis.
" Maksud Ibu siapa? " Tanya Bi Murni kembali.
" Kamu tidak tahu kalau majikan kamu itu istri muda, dan Saya istri tua nya Mana suami Saya Dimas." Jawab Siska.
Siska melihat Shakira berjalan mendekat dan lantas Siska berkacak pinggang dengan angkuhnya.
" Mamah cari Papah? " Tanya Shakira.
" Apa, mamah kamu panggil Saya mamah? " Ucap Siska tertawa mengejek.
" Papah sudah pergi pagi - pagi Apel, mamah ada sedang sakit."
" Siska." Annisa keluar dari kamar nya dan berjalan ke arah Siska.
" Sayang kamu masuk kedalam sama Bi Murni ya."
Shakira pun bersama Bi Murni berjalan memasuki kamar Shakira dan meninggalkan Annisa dan Siska.
" Bang Dimas sudah berangkat kamu lihat jam berapa sekarang, hari ini dia pimpin Apel pagi di Polsek."
" Kalau dia datang kemari suruh dia Pulang, seharusnya kemarin itu jatah dia Pulang ke rumah bukan kemari."
__ADS_1
" Maaf kemarin setelah melayat Saya sakit."
" Alah alsan saja, lama - lama Saya habisi kamu." Siska pun pergi meninggalkan Annisa yang masih berdiri menatap nya.