
Annisa menggeliatkan tubuhnya bagai cacing yang menari - nari dimana Dimas bermain nakal di sekitar tubuhnya.
Tak henti menyerang sama - sama saling bergulat saat sama - sama dengan nafsu yang bergejolak.
" Bang." Suara Annisa yang merengek manja di telinga Dimas.
" Ya sayang, Abang selesaikan dulu." Ucap Dimas sambil menciumi leher Annisa.
Annisa yang mencapai ******* mencengkram rambut cepak Dimas, begitu pun juga dengan Dimas yang telah mencapai puncak dia tembakkan di dalam wadah kenikmatan.
Dimas tersenyum puas dengan mencium kening Annisa, begitu pun Annisa yang langsung menyembunyikan wajah nya di dada Dimas yang bermandi keringat.
" Makasih, I love you."
" I love you too."
Dimas pun beralih berbaring di samping Annisa, dan menarik tubuh polos Annisa ke dalam pelukannya.
" Kita nggak menyangka melewati nya dengan saling suka sama suka, tidak seperti pertama dan kedua." Ucap Dimas.
" Apa rasa nya berbeda? "
" Jelaslah disini kita sadar melakukan dengan cinta."
" Bang, apa mulai sekarang tubuh Abang akan berbagi? "
Pertanyaan Annisa membuat Dimas menatap ke arah Annisa yang sedang menatap nya.
" Abang akan talak Siska, mulai sekarang tubuh ini hanya untuk kamu."
Annisa mengeratkan pelukannya, dan memejamkan matanya tak sanggup menatap esok apakah benar akan di jadi kan wanita satu - satu nya atau akan ikhlas berbagi suami.
" Jangan pikir kan masalah rumah tangga kita, saat ini fokus untuk calon anak kita, kamu juga masih dalam pantauan Dokter jiwa, Abang tidak mau kejiwaan kamu terganggu. Kamu harus bisa mengendalikan ini semua, demi anak kita Sayang."
*******
" Mana Dimas? " Tanya Siska dengan nada tinggi pada kedua mertuanya.
" Siska kamu yang sopan kalau tanya pada orang yang lebih tua." Ucap Sisil kesal.
__ADS_1
" Saya kesini cari suami Saya dari saat setelah Resepsi sampai sekarang dia belum pulang, dan pulang hanya untuk mandi saja." Ucap Siska kesal.
" Kalian pasti menyembunyikan sesuatu kan, Saya sengaja tidak di kasih tahu."
" Apa Dimas tidak cerita sama kamu? " Tanya Ibu Riana.
" Annisa hamil anak nya, Saya paham pasti kalian mendukung si pelakor itu dari pada istri sah nya."
" Eh Siska, kami lebih mendukung Dimas sama Annisa dari pada sama kamu, dari gaya kamu Saja yang borjuis dan hanya ambisi yang besar dari pada Cinta, bahkan hanya materi yang bisa di jadi kan luluh nya kamu. Segitunya harga sebuah perasaan manusia walau hanya dengan iming - iming materi kamu diam." Ucap Sisil.
" Mba Sisil kita perempuan, kita nggak munafik dengan materi, mba juga sama kan. Itu hak Saya Mau Saya apakan uang pasangan kita, apa hanya bermodal Cinta Saja semuanya mba Sisil pasti tidak munafik kalau Bang Dito hanya seorang pemulung pasti tak akan Mau bersanding."
" Pemulung lebih mulia dari pada seorang pencuri, pemulung hanya profesi untuk bisa makan, kalau Cinta kita tulus kondisi apa pun kita akan bahagia."
" Siska kamu duduk dan jangan emosi, maaf kami memang salah sebagai orang tua Dimas, tapi kami pun ada hal yang mendukung ini semua. Ada cucu kami, dan dari awal kami tidak suka sama kamu karena sikap kamu, coba kalau sikap kamu tidak seperti itu, Dimas kenapa bisa mudah berpaling dari kamu, karena sikap kamu." Ucap Pak Ibrahim.
" Tapi ini tidak adil bagi Saya Ayah Saya nggak bisa terima."
" Kamu harus terima Siska." Ucap Dimas yang datang bersama Annisa.
Siska langsung berdiri dari duduk nya, dan menatap tajam ke arah Annisa.
" Semua ini gara - gara kamu Annisa, kalau saat itu kamu tidak hadir di antara kami, hubungan kita tidak seperti ini."
" Jadi kamu pilih dia karena kamu kecewa sama Saya dan karena sikap saya, itu semua nggak adil buat Saya, pokoknya Saya tidak Mau berbagi suami sama pelakor itu." Tunjuk Siska pada Annisa.
" Saya memang pelakor saat ini, tapi saat Saya masih jadi istrinya kamu juga seorang pelakor. Kita sama - sama merasakan jadi pelakor, suami Saya dulu memang salah, hanya emosi yang ada di kepalanya. Kamu tahu dia sangat tulus mencintai kamu, sampai dia sulit untuk mencintai Saya. Tapi apa dari hidup bersama pura - pura masih jadi sepasang suami istri suami kamu bisa menilai sendiri."
" Pokoknya Saya tidak terima." Siska menyerang Annisa dengan menarik kerudungnya hingga kerudung yang menutupi rambutnya.
Aaakkkkh
" Dasar wanita perusak, Saya tidak terima." Siska yang marah dan terus menarik rambut Annisa.
" Siska cukup." Ucap Dimas sambil berusaha menarik tangan Siska dari rambut Annisa.
" Dia perusak dasar pelakor kamu."
" Cukup Siska." Bentak Dimas namun Siska masih tetap menjambak rambut Annisa hingga Annisa menjerit.
__ADS_1
Sisil pun membantu menarik tangan Siska hingga Annisa terdorong dan terjatuh tersungkur mengenai kedua lututnya.
Aaaawwww
" Annisa." Dimas langsung menolong Annisa yang kesakitan.
" Siska kamu benar - benar hampir akan membunuh calon anak saya."
" Dia pantas mendapatkan itu semua." Ucap Siska dengan nafas yang naik turun.
" Mulai saat ini kamu Saya tal.... "
Bruuugh
Tubuh Siska tumbang jatuh ke lantai tepat di samping sisil, dan dengan segara Sisil menolong Siska yang ada di samping nya.
" Siska." Ucap Annisa.
" Siska bangun, kamu jangan bercanda." Ucap Sisil.
Annisa dengan kedua lututnya yang sakit, di Papah Dimas mendekati Siska yang tiba - tiba pingsan.
****
Dokter pun memeriksa kondisi Siska yang masih terbaring lemah, dan Dokter keluarga pun menatap ke arah Dimas.
" Pak Dimas, selamat istri Bapak hamil."
Seketika tubuh Dimas melemas dan menatap ke arah Annisa yang sedang menatap lurus ke arah Siska yang tengah terbaring.
" Nanti untuk lebih lanjut Pak Dimas untuk cek ke Dokter kandungan."
" Terima kasih Dok."
Dokter tersebut pun keluar di antar oleh Pak Ibrahim, kini Ibu Riana dan Sisil menatap tajam ke arah Dimas.
" Annisa maaf kan Abang, sungguh ini di luar kendali."
" Siska hamil pantas dia istri Abang, dia juga berhak di penuhi nafkah batin.Saya ikhlas Bang, Saya ikhlas bila pernikahan Saya sama Abang sebatas nikah siri, mungkin ini takdir saya."
__ADS_1
" Abang memilih kamu."
" Siska hamil Bang, nggak mungkin Abang ceraikan dia, dan Abang tahu anak nya juga butuh Abang, anak yang Saya kandung juga butuh Abang."