( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin

( Cinta Abdi Negara) Untuk Mu Sang Pemimpin
Melepaskan Mu


__ADS_3

" Bunda.. maaf kan Dimas."


Isak tangis di dalam ruang perawatan saat Ibu Riana tak sadarkan diri setelah apa yang dia dengar tentang Fakta yang terjadi.


" Hiks... hiks... Bunda, maaf kan Annisa juga Bund, maaf kan semua Salah Annisa."


Ibu Riana hanya diam menutup mata nya dengan berbagai alat medis di pasang di seluruh tubuh nya.


Pak Ibrahim hanya diam menatap istri nya yang diam tak bersuara, hanya suara alat detak jantung yang berbunyi.


" Bangun kamu brengsek. " Ucap Dito saat memasuki ruang rawat Ibu Riana, dan Dito langsung menyeret tubuh Dimas keluar.


Buughh


Buugghh


" Brengesek kamu Dimas, kalau sampai Bunda kenapa - napa Saya nggak akan maaf kamu." Bentak Dito yang sudah emosi.


Buughh


Eeeghhh


" Maaf kan Saya Bang, maaf. " Ucap Dimas.


Aaaaarrrrggh


" Jangan Bang!!! " Ucap Bagas saat mengetahui Kakak tertuanya akan menghantam wajah Dimas.


" Walau Dimas Salah, dia adik kita Bang, adik kandung kita. Jangan buat masalah baru, Bunda sedang kritis." Ucap Bagas kembali.


Dimas hanya diam duduk di lantai dengan wajah yang sangat kacau, dengan tubuh yang sangat sakit akibat pukulan Kakak nya Dito dan Pak Ibrahim.


Annisa keluar dari kamar rawat, melihat Dimas yang hanya diam dengan penuh penyesalan dan tubuh yang kesakitan.


" Kamu pantas di hukum Dimas, ulah kamu itu membuat kerugian tahu." Bentak Dito.

__ADS_1


" Sudah Bang, dia sudah menyesali perbuatannya." Ucap Bagas.


" Saya gemas sama dia, membuat Annisa di Siksa. Kalau nggak mencintai Annisa jangan kamu Siksa dengan Ikatan pernikahan yang gagal, dia punya masa depan, namun karena Ikatan yang belum putus dia jadi tersiksa."


******


Annisa mengobati luka yang ada di tubuh Dimas, semua membiru termasuk wajahnya. Satu kamar rawat di rumah sakit, Annisa minta untuk mengobati sendiri luka yang ada di tubuh Dimas.


" Kenapa kamu obati luka Saya, sedangkan Saya tak bisa mengobati luka kamu." Ucap Dimas yang memunggungi Annisa yang sedang mengoles salep di punggung Dimas.


" Luka Saya memang lebih sakit dengan luka yang Abang rasa sekarang, tapi luka yang Saya rasakan itu sakit nya seperti yang Abang rasakan sebuah pukulan yang sangat keras."


" Apakah setelah kita sudah ketuk palu, kita apakah bisa seperti ini, ngobrol,pergi bersama walau ke rumah Ayah Bunda? "


" Saya akan tetap bersilahturahmi sama Pak Ibrahim dan Ibu Riana, mereka sudah seperti orang tua Saya Bang, Saya tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua."


" Maaf kalau Saya bukan yang terbaik, kamu pasti menyesal mencintai pria pengecut seperti Saya."


" Menyesal pasti ada, rasa benci juga pasti ada, hingga sampai sekarang."


" Maaf kan saya."


******


" Selamat siang semuanya, langsung saja saya Firman juru bicara dari Pak Ibrahim mendampingi Dimas dan Annisa untuk menjelaskan berita yang sedang kencang beredar. Disini sudah ada Dimas dan Annisa, akan menjawab semua pertanyaan kalian semua. "


" Selamat siang semuanya, Saya akan menjawab pertanyaan kalian semuanya tentang pemberitaan yang sedang hot nya, hari ini Saya akan berterus terang tentan perihal pernikahan kami." Ucap Dimas sambil berusaha tetap tersenyum.


" Saya menikahi Annisa sejak 5 tahun yang lalu, mungkin ini yang membuat masyarakat geram melihat apa yang kalian lihat. Kita tidak selingkuh, tapi memang kita sudah tidak cocok, dan secara Agama kita sudah cerai tapi secara hukum negara kita masih pasangan suami istri. Disini tidak ada yang nama nya pelakor atau pebinor, meraka bukan orang ke tiga yang merusak, tidak ada kaitannya. Terima kasih. " Ucap Dimas yang lalu langsung beranjak pergi meninggal kan banyak pertanyaan yang belum di lontarkan."


" Ibu Annisa tolong kasih pejelasan lagi? " Tanya Salah Wartawan.


" Sudah di jelaskan ya sama Bang Dimas, intinya kita sudah tidak cocok." Ucap Annisa singkat.


******

__ADS_1


Dimas mengisap rokok nya, hingga terlihat beberapa batang di asbak, Annisa pun yang tiba di rumah nya melihat Dimas dengan penampilan yang sangat kacau.


" Saya akan keluar dari rumah ini sekarang." Ucap Annisa.


" Iya. " Ucap Singkat Dimas.


Annisa lalu mendekati Dimas dan mengambil rokok yang ada di mulutnya, lalu Annisa mematikan puntung rokok nya.


" Jangan sakiti tubuh Abang dengan ini, tubuh Abang sudah sakit jangan di tambah lagi."


" Kenapa marah nya kamu, masih tetap seperti ini, Saya orang yang sangat jahat."


" Jahat nya Abang memang sudah Saya simpan di hati, tapi bagaimana juga Abang pernah ada di hati saya."


" Maaf untuk semua kesalahan Abang, dan maaf kan Abang."


" Ini ucapan pertama Bang Dimas menyebut diri Abang di depan Saya dengan sebutan Abang."


******


Dimas menatap kosong kamar Annisa, semua barang miliknya kini telah di bawa, dan melihat sedih dengan photo meraka menggunakan seragam Abdi Negara yang berbeda.


" Saya sekarang akan benar - benar kehilangan kamu. "


******


Annisa membelai rambut panjang Shakira, gadis kecil ini tengah tertidur pulas sambil memeluk bonekanya. Annisa pun melihat di atas nakas, adalah photo dirinya dan Dimas.


" Mamah tidak akan menyembunyikan identitas Papah kamu sayang, walau mamah membenci Papah kamu, dia tetap Papah kamu."


Air Mata pun keluar dari sudut kedua kelopak mata nya, Annisa membungkam mulutnya agar isakan tangis nya tidak terdengar.


******


Dimas berdiri di depan pengadilan Agama dengan membawa berkas cerai nya, dengan menatap lurus dengan hati yang terasa sakit.

__ADS_1


" Yah memang saat itu Saya emosi, saya sudah janji untuk melepaskan kamu saat yang tepat, memang ini waktu yang tepat, waktu 5 tahun yang di tunggu - tunggu."


Dimas pun melangkah menuju Pengadilan Agama.


__ADS_2