
5 Tahun Yang Lalu Menyakitkan....
Dua minggu setelah kejadian Annisa masuk rumah sakit, Dimas pun sudah kembali Dinas di tempat Yang baru. Begitu pun dengan Annisa Yang semakin sibuk, karena agenda Ibu Bupati Yang sangat banyak.
Hubungan Annisa dan Dimas tidak seperti dulu, kini mereka pun berteman baik. Hingga membuat hati Pak Ibrahim dan Ibu Riana pun sangat senang, terutama Ibu Riana Yang selalu berharap Annisa dan Dimas berjodoh.
" Hari ini ada jadwal apa lagi? " Tanya Ibu Riana.
" Hari ini selesai Bu, dan bisa langsung pulang." Jawab Annisa.
" Kamu tahu jadwal Pak Ibrahim hari ini? "
" Kata Ali, hari ini Sama sedang meluncur pulang ke rumah."
" Kita pulang Annisa. "
" Siap Bu. "
Saat berada dalam mobil Annisa tersenyum saat mendapatkan chat masuk, dan membuat Jaka serta Ibu Riana menatap ke arah Annisa.
" Kamu kayak nya asik sekali? "Tanya Ibu Riana.
" Maaf Bu, maaf. " Jawab Annisa.
Saat Annisa kembali membalas Chat, Ibu Riana tanpa sengaja mengintip isi pesan yang ada di ponsel Annisa. Senyum nya mengembang saat melihat photo Dimas yang di terima nya, dengan segala ekspresi.
Ekhm..
Annisa tersontak kaget, lalu membenarkan duduk nya dan menaruh ponselnya di dalam saku jas nya.
" Hubungan kamu dengan Dimas ada kemajuan? "
" Hanya teman."
" Kamu sudah memaafkan Dimas? "
" Saya sudah melupakan segala tingkah laku buruknya."
" Terima kasih."
******
Dimas memandang photo dan kertas transaksi nya saat Ayah dan Bunda nya baru sempat memperlihatkan, Dimas kini hanya menundukkan Kepala nya saat kedua orang tua nya menatap tajam.
" Itu calon istri kamu? " Tanya Pak Ibrahim.
" Kalian mengikuti kami? " Jawab Dimas balik tanya.
" Jangan - jangan kamu pernah tidur Sama Siska, gaya pacaran kalian saja seperti itu." Ucap Pak Ibrahim.
" Demi Allah Ayah, Dimas walau begitu belum pernah menyentuh Siska." Ucap Dimas.
" Nak, Bunda Sama Ayah hanya ingin yang terbaik untuk kamu ke depan nya. Kamu tahu dia Dokter, sosialita lagi, kamu selalu menuruti keinginan untuk membelikan barang - barang Mahal, apa hidup calon istri kamu akan seperti itu terus menghamburkan uang dengan hidup glamour nya. Bunda hanya ingin pasangan hidup yang terbaik."
" Benar apa yang di katakan Bunda, lihat kedua kakak kamu, mereka mendapatkan yang satu calon istri yang benar - benar akan membawa nama baik suami nya, yang satu calon istri nya itu tidak pernah begini begitu, dan lebih mementingkan masa depan bukan nafsu seperti Siska." Ucap Pak Ibrahim.
" Ayah tahu dari Bunda, saat Ayah tanya langsung pada yang memata - matai kamu Ayah percaya."
" Dimas sangat mencintai Siska, Dimas janji saat sudah menikah nanti pasti Siska akan berubah."
" Nak, Ayah ingin menjodohkan kamu dengan Annisa. "
Dimas menatap Ayah nya yang tiba - tiba mengutarakan niat nya.
" Hah.. Annisa? "
" Bunda setuju kamu menikah Sama Annisa, kamu bisa belajar mencintai nya saat sudah menikah." Ucap Ibu Riana.
" Nggak Bund, Saya nggak Mau. Maaf kan Dimas Ayah Bunda. "
" Nak, kalau kamu tidak Mau kami juga tidak merestui hubungan kamu dengan Siska." Ucap Pak Ibrahim.
" Tapi Dimas mencintai Siska!! "
" Cinta kata kamu, saat kamu ajak nikah calon kamu saja minta Dua tahun lagi, kalau pun ada niat sudah mengatakan jauh hari, dua tahun kamu menunggu belum tentu nikah Sama kamu."
" Siska bukan tipe yang seperti itu Ayah, Siska tipikal wanita idaman Dimas."
" Ayah tetap tidak setuju. "
" Bunda juga sama."
******
" Kopi Bang. " Ucap Annisa
Dimas menyesap rokok nya dengan asap yang dia hembuskan ke sembarang arah.
" Kamu tinggal di rumah petak seperti ini sudah lama? "
" Sudah lama Bang, setelah lulus pendidikan."
" Gaji kamu kan cukup untuk beli rumah mewah."
" Saya masih ingin punya tabungan banyak dulu Bang, Saya belum punya apa - apa."
" Kamu enak ya, hidup tak ada yang mengatur sedang kan saya masih saja di atur."
" Siapa yang mengatur Abang? "
" Ayah Sama Bunda, mereka menyuruh saya menikah Sama kamu."
Uhuk.. uhuk.. uhuk
" Kenapa, jangan pura - pura kaget kamu."
" Maaf Bang."
" Seharusnya kamu senang dapat kabar angin segar, perasaan kamu banyak yang dukung. Sedang kan saya, mereka tidak menyukai Siska."
" Kalau Bang Dimas sangat mencintai Siska kenapa nggak di perjuangkan."
" Kamu bicara begitu hati kamu nggak sakit? "
" Hati saya sudah sakit Bang, mencintai Abang tak di balas juga sudah sangat sakit."
" Kenapa kamu tidak menghindar dari saya? "
" Karena keadaan Bang, mengharuskan saya setiap hari bertemu Sama Abang. Dan kalau saya nggak butuh pekerjaan ini saya mungkin sudah pergi."
" Menurut kamu bagaimana? "
" Apa nya Bang? "
" Mereka ingin kita menikah."
" Menikah harus dengan Cinta Bang, kalau tidak ada rumah tangga kita nggak akan bakal bahagia."
" Benar, saya tidak bisa mencintai kamu."
__ADS_1
" Abang perjuangkan Cinta Abang Sama Siska, tunjukkan pada mereka Siska yang terbaik dan tidak seperti yang mereka kira."
******
" Kamu serius kan Sama saya? "
" Ih.. basi Yank. " Ucap Siska sambil memeluk lengan Dimas.
" Kamu janji ya setelah lulus study kamu kita menikah."
" Tergantung Yank, setelah lulus nanti saya ada kontrak kerja di Salah satu rumah sakit dengan syarat belum menikah ini khusus untuk Dokter muda. "
" Berapa lama? "
" 2 tahun."
" Saya menunggu 4 tahun? "
" Sabar sayang, ini kan demi masa depan."
" 4 tahun Siska."
" 4 tahun kalau di nikmati sebentar."
" 4 tahun sebentar, lama itu."
" Kamu nggak suka? "
" Kalau Saya keburu menikah dengan wanita lain bagaimana? "
" Kamu niat menikah ya dengan wanita lain."
" Apa kamu nggak mikir, kita sudah 5 tahun pacaran, kita sudah bersama selama itu. Saya nggak masalahin tentang kamu yang hidup glamour atau meminta barang branded tapi hanya satu kita menikah, kamu bisa bebas menghabiskan uang suami kamu."
" Saya masih ingin menikmati hidup, bagaimana di traktir pacar yang perhatian."
" Kamu asli nya Cinta Saya Sama Uang nya atau Sama orang nya? "
" Saya Cinta Sama kamu." Ucap Siska.
" Tapi tolong jangan pernah berhenti mencintai Saya, kalau tidak ingin terjadi apa - apa Sama saya."
*******
Praaanngg..
" Ibu...!!! " Teriak Annisa saat melihat Ibu Riana pingsan.
" Tolong... tolong....!!! "
Jaka lalu berlari dan saat melihat Ibu Bupati pingsan langsung menggendong Ibu Bupati keluar dari ruangan nya menuju ke mobil.
" Kamu kemudikan mobil Annisa, dan panggilkan keamanan dan siapkan tenaga medis untuk Ibu Bupati di ruang sakit Daerah." Ucap Jaka.
" Baik. "
Mobil pun melaju kencang, dengan pengawalan Polisi di depan nya. Tak menunggu waktu lama, Tim tenaga medis pun segera menangani kondisi Ibu Riana.
" Bagaimana istri saya? " Tanya Pak Ibrahim saat sudah tiba di rumah sakit.
" Ibu masih di tangani." Jawab Annisa.
Dimas pun sampai saat mengetahui Bunda nya masuk ke rumah sakit.
" Bunda bagaimana? "
" Ibu masih di dalam." Ucap Annisa.
" Bagaimana keadaan istri saya? " Tanya Pak Ibrahim.
" Sebaiknya Kalian lihat kedalam." Jawab Dokter kepala rumah sakit yang menangani Ibu Riana langsung.
Terlihat Ibu Riana yang terpasang banyak alat di tubuhnya, dan Ibu Riana menatap Pak Ibrahim dan Dimas.
" Sayang. " Ucap Pak Ibrahim membelai pipi Ibu Riana.
" Ayah, Bunda ingin minta sesuatu takut Ibu tidak bisa merasakan bahagia."
" Jangan bicara seperti itu, Bunda pasti sembuh." Ucap Pak Ibrahim.
" Annisa. " Ucap lemah Ibu Riana.
" Dimas panggil Annisa." Pinta Pak Ibrahim.
Dimas pun lalu keluar memanggil Annisa, dan terlihat Annisa yang sedang berjaga dengan Jaka, Ali dan beberapa Anggota Polisi yang mengamankan satu lantai rumah sakit.
" Bunda ingin bertemu Sama kamu."
Annisa menatap ke arah Dimas, dan lalu masuk mengikuti langkah kaki Annisa.
" Kemari sayang. " Ucap lemah Ibu Riana.
" Dimas kemari." Ucap Ibu Riana.
Annisa dan Dimas pun lalu mendekati Ibu Riana, dan tanpa di duga Ibu Riana menyatukan tangan Dimas bersama Annisa.
" Menikah lah kalian, Bunda ingin melihat kalian menikah."
" Dimas nggak mencintai Annisa Bund." Ucap Dimas.
" Bunda ingin melihat pernikahan anak bungsu Bunda. "
" Ada Bang Bagas Bund yang belum menikah."
" Bunda ingin melihat kamu menikah dengan wanita yang tepat."
" Siska pilihan Dimas."
" Bunda ingin kamu menikah dengan Annisa."
" Nak, Ayah minta turuti perintah Bunda."
Annisa hanya diam menundukkan Kepala nya, kedua tangan nya meremas ujung pakaian safari nya.
" Dimas akan bicara Sama Annisa." Ucap Dimas yang langsung menarik tangan Annisa keluar.
" Ini bukan akting kalian berdua kan? "
"Maksud Abang, Ibu Riana pura - pura? "
" Iya, pasti kalian sekongkol kan, nggak Lucu tahu."
"Demi Allah Bang, saya tidak seperti itu."
" Kalau ini akal - akalan kamu awas saja."
*****
Ruangan kamar rawat pun di sulap menjadi indah, dimana Annisa yang sudah di sulap menjadi seorang pengantin dadakan dengan pakaian pengantin milik Ibu Riana.
__ADS_1
Dimana penghulu dan saksi pun hadir dari pihak Annisa yaitu Pemimpin Panti.Dimas dengan menggunakan Pakaian pengantin pria yang di sediakan oleh MUA kepercayaan keluarga Pak Ibrahim.
Tampak senyuman Ibu Riana dan Pak Ibrahim tidak dengan Dimas hanya berwajah datar, sedang kan Annisa yang berdiri di samping Ibu Riana tampak tersenyum walau entah hati nya seperti apa, yang mengiyakan permintaan atasan nya.
SAH
Alhamdulilah
Dimas dan Annisa pun resmi menjadi pasangan suami istri sah secara agama dan hukum, yang mereka siapkan beberapa hari atas kerja Sama bawahan Pak Ibrahim.
Annisa pun mencium punggung tangan Dimas, dan mereka pun berphoto bersama, mengabadikan momen pernikahan mereka.
" Dimas minta, pernikahan ini cukup seperti ini, Saya nggak Mau di ekspos media."
" Baik nak, Ayah akan turuti kemauan kamu."
" Dan Dimas minta jangan sekarang mengenalkan Annisa ke umum kalau dia istri Saya, dan Saya minta data privasi."
Annisa hanya menatap sendu ke arah Dimas, dan hati nya tak bisa apa - apa, entah rasanya seperti apa saat ini.
*****
" Bagaimana akting Bunda? "
Mata Annisa terbelalak kaget, begitu pun dengan Pak Ibrahim.
" Bunda jadi nggak sakit? "
" Bunda sakit ayah tapi nggak terlalu parah mungkin lebay, tapi baik - baik saja, Maaf Bunda hanya ingin yang terbaik buat Dimas."
Annisa pun di buat kesal, namun nasi sudah menjadi bubur, kini dirinya sudah sah menjadi istri Dimas.
" Bunda ingin Annisa jadi istri Dimas bukan Siska." Ucap Ibu Riana.
" Bunda , Ayah benar - benar nggak bisa ngomong aksi bunda nekat." Ucap Pak Ibrahim.
" Bunda hanya ingin yang terbaik, kamu bahagia kan Annisa, kamu menyukai Dimas, dia sekarang jadi suami kamu."
Annisa hanya tersenyum terpaksa sambil meremas pakaian pengantin nya.
Dari balik pintu Dimas sudah mengepalkan kedua tangan nya, lalu dirinya masuk dan dengan segera menarik tangan Annisa.
" Kamu mau bawa Annisa kemana? " Tanya Pak Ibrahim.
" Pengantin baru Ayah, kayak tidak tahu saja." Jawab Dimas.
*****
" Sakit Bang..!! " Ucap Annisa saat pergelangan tangan nya di cengkram oleh Dimas.
" Sekarang Saya benar kan ini hanya akting kamu tahu hanya diam saja." Bentak Dimas.
" Sumpah Bang Saya tidak tahu, baru tahu tadi."
Buugh
Tubuh Annisa di dorong ke atas tempat tidur, Annisa memundurkan tubuhnya saat Dimas menatap seakan menerkam nya.
" Saya akan ikuti permainan ini, kamu pun berhasil memiliki Saya. " Ucap Dimas yang melepaskan kancing pakaian nya satu persatu, lalu di lemparkan ke sembarang arah, dan dia pun melepaskan ikat pinggang nya dan membuka celana panjang nya yang hanya menyisakan celana boxer nya.
" Mau apa Bang. " Ucap Annisa takut.
" Saya suami kamu, minta hak nya dong."
" Nggak Bang, Saya nggak Mau. "
" Kamu menolak Saya hah.. Saya suami kamu, bukan nya kamu suka Sama saya." Ucap Dimas yang sudah merangkak di atas tubuh Annisa.
" Jangan Bang, Annisa mohon."
Mmmmpphh.
Dimas mencium paksa bibir Annisa, hingga Annisa tak bisa melawan karena tangan kekarnya menahan tangan Annisa saya berada di atas Kepala nya.
Ciuman Dimas lama - lama menjadi panas, hingga menjalar ke leher dan meninggalkan jejak. Annisa menggeliat saat tangan Dimas sudah menjelajahi tubuh Annisa.
Tersenyum puas saat pelepasan terakhir, hingga berkali - kali menggarap tubuh Annisa yang kini meringkuk lemas dengan tubuh yang di tutupi selimut.
Hiks.. hiks... hiks...
Dimas mengambil rokok nya, lalu dia matikan AC dan merokok di dalam kamar hingga hembusan asap rokok menyelimuti seisi kamar.
Hiks... hiks.. hiks..
" Saya ceraikan kamu."
Tangis Annisa terhenti saat Dimas mengatakan kata cerai, Annisa meremas ujung seprai dan menatap tajam ke arah Dimas.
" Hari ini Saya cerai kan kamu."
" Bajingan kamu, kamu pikir Saya sampah."
" Maaf, Saya kecewa Sama kamu."
Hiks... hiks...
" Saya nggak menyangka setelah meminta paksa hak kamu, sekarang kamu ceraikan saya, dasar brengsek kamu."
" Besok kita urus perceraian kita."
Hisk... hiks... hiks...
Dreeetttt... deeeerrttt
Terlihat panggilan dari Pak Ibrahim dari ponsel milik Dimas, lalu Dimas mengangkat panggilan nya.
" Halo."
#
#
#
" Ayah jangan bohong, saya tahu Bunda Sama Annisa itu akting."
#
#
#
#
" Apa, ini rencana Bunda dan Annisa tidak tahu."
Dimas menjatuhkan ponselnya, lalu memejamkan matanya dengan kedua tangan yang dia kepalkan.
*****
__ADS_1
Annisa dan Dimas pun sudah berada di rumah sakit, saat Pak Ibrahim memberikan kabar bahwa Ibu Riana harus di operasi, karena kondisi yang kritis.
" Ayah harap pernikahan kalian tetap utuh, dan kalian tetap bersama. Bunda kalian ingin melihat kalian bahagia." Ucap Pak Ibrahim.